Suatu pagi saya dipanggil oleh Bapak saya di ruang tamu. Hari itu hari minggu. Seperti biasa beliau jalan-jalan di pagi hari.
"Duduk sini"
Kata-kata ini mengartikan keseriusan kalau diawali sebelum pelakukan pembicaraan. Maka saya harus bersiap-siap untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya. Entahlah nasihat atau doktrin, karena biasanya beliau akan marah kalau nasihatnya disahutin jadi saya hanya bisa berdiam saja menerima yang baik dan buang jauh-jauh yang buruk.
"Kamu nggak usah ikut nempel-nempel lah! Kan tau sendiri disini banyak orang betawi (Forkabi -red)!"
Masih sebulan sebelum masa kampanye Pilkada DKI Jakarta, tetapi rasanya kampanye sudah dimulai. Spanduk, baliho, poster, stiker sudah bertebaran dimana-mana untuk me'marketing'kan calonnya. Sampai dimulai masa kampanye pun saya tidak ikut nempel-nempel poster untuk salah satu calon pendukung, karena saya disibukkan dengan ujian akhir semester dan sidang kerja praktek. Hanya saja saya menempelkan beberapa di depan rumah.
Beliau berkata demikian karena katanya ada yang dipukuli orang Betawi akibat nempel-nempel poster salah satu pendukung. Tapi saya coba bertabayun ke beberapa orang katanya tidak ada apa-apa. Entahlah Bapak ku ini berbohong atau tidak, tetapi itulah nasihatnya yang paling kenceng.
Ketika dinasehati saya hanya diam saja dan senyum-senyum kecil. Teringat saat Muhammad saw ditanyakan oleh pamannya untuk tidak berdakwah lagi atas permintaan kaum Quraisy yang datang kepadanya. Muhammad berkata kepada pamannya "Seandainya mereka menaruh di tangan saya matahari dan di tangan kiri saya bulan, maka saya tidak akan berhenti (berdakwah-red), sampai kemenangan saya dapatkan atau kematian yang menjemput saya."
Wah rasanya saya ingin katakan kepada Bapak saya, kalau saja bukan karena uang saya melakukan semuanya, kalau saja kebaikan yang saya kejar untuk melakukan semuanya, sampai dipukulin pun tidak akan ada artinya bagi saya, sampai kemenangan saya dapatkan atau memang kematian yang duluan menjemput saya.
Tetapi saya hanya berdiam diri saja. Selain saya sudah menyampaikan hal ini kepada beliau secara tidak langsung, saya pikir mungkin larangannya adalah kasih sayang tersendiri buat saya. Allahu Akbar!!
1 comment:
salut, deh...
caiyooooo :)
Post a Comment