Jaraknya masih 1 kilometer, lampu sen mobil itu tidak menyala tetapi terlihat ingin menyalip dari jalur paling kiri. Saya beri sinyal dengan memainkan lampu jauh. Di jalan tol Serpong malam itu, saya tetap waspada. Bapak hanya menatap. Ibu mengesankan keresahan. Sepupu saya memberi peringatan awas. Adik saya malah berteriak kegirangan, seru katanya tetapi malah menambah kegelisahan seisi mobil. Mobil yang saya kendarai dengan kecepatan hampir 150km/jam akhirnya masih bisa saya kendalikan. Ternyata mobil itu benar-benar menyalip dan baru memberi lampu sen ke kanan setelah roda depannya benar-benar masuk ke jalur paling kanan. Herannya mobil itu menyalip dengan kecepatan rendah, tidak seperti mobil-mobil yang lain yang akan menyalip ke jalur kanan. Mobil yang saya kendarai akhirnya dalam hitungan detik menurunkan kecepatannya. Bahkan hampir menabrak, hanya berjarak kurang lebih setengah meter saja. Tiba-tiba dari bangku paling belakang kakak saya berteriak, ”Masa depan masih panjang woii...” dengan marahnya dia berucap.
Dia yang paling resah sejak tadi, tetapi saya acuhkan supaya pulang tidak larut malam dan memang tabiat saya yang masih belum bisa berubah untuk menurunkan kecepatan mobil saat berkendaraan apalagi jalan tol terlihat lowong. Saya hanya tersenyum kecut mendengarnya. Bahkan hati saya tertawa. Tidak saya ladeni ucapannya. Saya akui saya salah dalam berkendara. Harus diakui pula itu hal yang tak terduga. Tetapi hal yang ingin saya bahas disini tentang teriakan kakak saya itu.
Saya yakin dia akan ingat betul kata-katanya itu, dan saya akan ingat dengan kuat pula kata-katanya itu, untuk senjata makan tuan. Apalagi, bicara masa depan berarti bicara kematian. Itu hal yang paling dekat. Dalam hati saya berpikir apa bedanya mati di masa depan nanti dengan mati sekarang. Sekali lagi, saya akui saya salah. Artinya kalau saya mati dalam kecelakaan, mati konyol namanya. Tetapi takdir siapa yang duga? Saya pulang pergi kemanapun setiap harinya mengendarai motor dengan kecepatan rata-rata hampir 100 km/jam dan saya bersyukur tidak terjadi apa-apa. Kecelakaan motor yang saya alami selalu berada di bawah 60 km/jam. Jadi ketika berkendara pelan malah sering terjadi kecelakaan. Bukan berarti saya meminta kepada Tuhan untuk mendapat kecelakaan motor ketika saya berada di 100 km/jam. Tetapi kematian, Tuhan yang menentukan. Bukan juga saya menganggap bahwa dengan kematian sudah ditentukan waktunya kemudian saya seenaknya saja bermain dengan nyawa saya sendiri, tentu bukan. Kalau kata teman saya, ”Orang ini mendesain kematiannya di atas motornya sendiri”. Heh... saya hanya tertawa mendengar ucapannya itu tetapi saya suka.
Jadi sebenarnya yang mau saya bicarakan adalah ketika orang hanya bicara kematian pada keadaan yang berbahaya saja. Tetapi ketika keadaan aman, nyaman, atau sehat, seakan-akan kematian itu berada jauh di balik bumi sana, tau dimana.
Kakak saya ini tidak lama baru sembuh dari paru-paru basah. Satu tahun mengalami perawatan sampai dianggap sembuh total oleh dokter. Sukanya mandi malem, kena kipas, kalau malem susah disuruh makan, dan suka tidur di lantai padahal tempat tidurnya lebih rapi dari saya. Sehari setelah kejadian di tol itu, dia masih juga suka tidur di lantai. Biasanya saya mendorong-dorongnya dengan kaki sampai dia bangun dan tertidur lagi di lantai. Tetapi kali ini tidak. Saya sudah punya senjata ampuh. Nah ini yang saya maksud senjata makan tuan. Baru saja dia merebahkan badannya di lantai, saya langsung berteriak ”Woii masa depan masih panjang... apa bedanya mati sekarang dengan mati pelan-pelan gara-gara tidur di lantai?”
Seperti yang saya duga, dia masih ingat dengan kata-katanya itu. Merasa serba salah, dia kembali terbangun. Rasa kantuknya sangat kuat. Tetapi perasaan bersalahnya lebih kuat lagi. Dan pembenarannya akan kata-kata tadi membuat dia menguatkan diri untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar ke atas tempat tidur. Bahkan di malam selanjutnya pun dia tidak berani lagi tidur di lantai, kalau pun malas ke kamar dia akan tidur di atas kursi di ruang tamu. Maklum kamarnya di lantai atas, bersebelahan dengan kamar saya.
Masa depan dan kematian merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalau kata teman saya ketika saya tanyakan bagaimana caranya mendapat surga dan ridha Tuhan, ya dengan bekerja seolah akan hidup selamanya dan beribadah seolah akan mati besok. Kalau Anda memahami betul kata-kata ini maka kombinasi antara bekerja dan beribadah benar-benar akan menggairahkan hidup Anda. Saya jamin itu, tentu dengan tujuan yang tadi, untuk mendapat surga dan ridhanya Tuhan. Tetapi saya pikir kenapa beribadah seolah besok akan mati. Kalau bekerja seolah akan hidup selamanya, saya setuju. Kita harus punya target-target hidup yang dahsyat, kalau perlu keluar dari cara pandang berpikir kebanyakan orang, penuh imajinasi, atau irasional sekalipun, maka otak bawah sadar kita yang berperan 88 % mengendalikan tubuh kita akan membawa kita mencapai target-target tersebut, dibanding dengan targetan yang standar atau masuk akal yang hanya bisa dimengerti oleh otak sadar kita yang hanya berperan 12 % dalam mengendalikan diri kita. Jadi kita akan bekerja dengan penuh semangat, penuh gairah, dan kita bisa mempunyai 1001 rencana untuk menggapai impian. Sedang beribadah, jangan berpikir seolah matinya besok. Karena ini yang membuat orang-orang, kalau kata Humas FUSI, ”Sholat kok injury Time?” Sholat kok tidak tepat waktu, sholat kok di akhir waktu. Ya karena cara berpikir tadi, masih sempet kok, kan matinya besok.
Ketika saya menyadari hal ini, saya pikir ini cara berpikir orang lalai, yang insya Allah akan masuk kategori orang-orang lalai dalam surat Al-Ma’un ayat 4-5, ” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”. Maka apabila kematian telah menjadi teman sehari-hari kita, kita akan menjadi powerfull dalam ibadah, Insya Allah.
Lucunya seringkali kita masih mengelak. Untuk sholat ajalah, tidak usah bicara yang lain.
”Nanti aja sholat di rumah..”
”Tanggung nih tugas belum selesai..”
”Kan Isya masih lama, jadi selesaikan aja dulu rapatnya....”
”Itu dia, padahal sudah dibangunkan sama jam weker, tapi malah tidur lagi sehabis mematikan jam weker. Jadi telat deh sholat subuhnya...”
Ketika saya beri komentar, ”Nanti kalau keburu mati bagaimana?” Maka dengan cepat mereka menjawab dengan menatap, ”Serem amat ngomongnya...”
Ya memang seperti itu. Kematian lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Ketika kita menunda-menunda maka siapa yang tahu satu detik lagi kita akan mati?
Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang zalim yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 44, ” Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim (termasuk zalm terhadap diri sendiri-red) : "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." (Kepada mereka dikatadakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa (mati-red) ? dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan." ”
Ada komentar dari orang yang merasa kehilangan, ”Baru semalem melihat Taufik Safalas di TV, tapi pagi ini sudah meninggal.”
So what gitu lho....itu takdir. Tidak semua kematian perlu proses tua, tidak semua kematian perlu proses sakit dan dirawat dulu. Ingat, kematian itu lebih dekat dari urat nadi kita, bisa jadi satu detik lagi kita akan mati. Dan saya yakin Anda pasti punya cerita lebih seru lagi tentang kematian selain cerita Taufik Safalas tadi.
Jadi kalau perlu diubah, beribadahlah seolah satu detik lagi akan mati. Maka kita akan selalu bergegas dalam ibadah, bergairah dan semangat dalam beribadah, dan setan akan gerah melihat kita.
Apakah Anda tahu setelah kematian ada apa? Pasti tahulah. Ya masa depan tadi. Masa depan bukannya hanya berbicara dalam konteks dunia saja tok. Harus memandang akhiratnya juga. Mau kaya di dunia untuk apa diakhiratnya. Mau sukses di dunia juga harus dipikirkan untuk apa diakhiratnya. Jadi ketika kita paham betul kematian sangatlah dekat dengan kita, maka siapkanlah segalanya kalau-kalau ANDA MATI SETELAH MEMBACA TULISAN INI. Siapkanlah Bapak dan Ibu Anda kalau Anda mati bagaimana. Siapkanlah Istri Anda kalau Anda mati bagaimana. Nah, ini yang paling penting, siapkanlah anak Anda kalau Anda mati bagaimana. Rasanya enak kalau masih belum punya anak, belum punya beban untuk menghidupi anak, apalagi kalau kita mati maka kita tidak terasa berat karena tidak punya tanggungan. Tetapi bisa jadi lebih enak kalau sudah punya anak. Karena kalau kita mati dan kita sudah berhasil menyiapkan anak kita menjadi anak yang saleh, maka tidak ada yang masih mengalir kebaikan dalam diri kita setelah mati kecuali tiga hal, salah satunya adalah doa anak yang saleh.
Mudah-mudahan kita mati dalam khusnul khotimah. Amin ya Rabbal alamin. Dan untuk mengenal lebih jauh tentang kematian dan misterinya, saya referensikan buku ini, ringan dibaca tetapi tetap bergizi. (kalau memang Anda ilfeel sama wajahnya ambil saja ilmunya maka Anda tidak akan rugi dua kali)
Ibnu Alwi(terima kasih untuk seorang kawan
yang mengingatkan saya untuk melakukan setiap apa yang saya katakan)
No comments:
Post a Comment