
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Other |
| Author: | Muhamad Najib |
***
Guru Salimin
Amien Rais lahir dari sebuah keluarga religius yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya, adalah pegawai kantor Departemen Agama yang pernah mengenyam pendidikan di Muallimin Muhammadiyah. Sementara sang ibu, Sudalmiyah, adalah alumni Hogere Inlandsche Kweekschool (HIK) Muhammadiyah. Sudalmiyah juga dikenal sebagai seorang guru yang ulet. Dia mengajar di Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) Negeri dan Sekolah Bidan Aisyiyah. Amien merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya adalah Fatimah, dan empat adiknya adalah Abdul Rozak, Achmad Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Asyiah. Berarti Amien merupakan anak laki-laki tertua.
Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang ibu. Bila Amien kecil melanggar, sang ibu tilak segan-segan menghukumnya. Mereka harus bangun pukul 04.00 WIB setiap pagi. Caranya dengan meletakkan jam weker di dekat tempat tidur. Dan ketika bangun, mereka diminta untuk mengucapkan "ashshalatu khairun minan naum" dengan suara keras sehingga terdengar ibunya.
Sang ibu biasanya memberikan imbalan berupa uang 50 sen. Uang tersebut lalu mereka tabung, untuk dibelikan baju baru menjelang lebaran. Besarnya pengaruh Ibu pada pertumbuhan jiwanya, dan kekaguman serta penghormantannya pada sang ibu terlihat dari berbagai kesempatan ketika Pak Amien memberikan ceramah. Nama sang ibu sering kali disebut dan dirujuk. Sewaktu masih hidup, Pak Amien selalu meluangkan waktu untuk menjenguknya. Begitu juga ketika harus mengambil keputusan-keputusan penting dia selalu meminta nasehat dari sang ibu yang tinggal di Kota Solo sampai akhir hayatnya.
Sebetulnya, selain sang ibu ada satu lagi orang yang sangat dihormati sekaligus dikaguminya, walaupun tidak setinggi sang ibu. Dia adalah Anwar Salimin yang akrab dipanggil guru Salimin. Seorang guru mengaji di kampung yang mengajarnya ketika masih kecil. Sang guru adalah hafizh (hafal AI-Quran). Untuk merawat hafalannya, di samping harus sering diulang, dia juga harus menjaga lidah, pendengaran, dan pandangannya dari berbagai hal yang dilarang agama. Yang paling berat dirasakan guru Salimin adalah godaan mata. Saking khawatirnya akan berbagai godaan indrawi, setelah hafal seluruh isi Al-Quran, guru Salimin lalu mengambil keputusan untuk berhenti menikmati keindahan duniawi.
Setiap kali selesai salat, dengan tetap menghadap kiblat dia menengadahkan kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya sembari berdoa dengan khusuk. Kiranya Allah berkenan mengambil miliknya yang sangat berharga dan sangat dicintainya berupa penglihatannya. Setiap kali dia berdoa, matanya berair dan menetes lewat ujung bola matanya, sehingga membasahi sajadah tempat dia bersimpuh. Beberapa saat kemudian dia sering kali merasakan gatal-gatal di matanya, dan secara berangsur-angsur kemampuannya melihat berkurang, sampai satu saat dia tidak bisa melihat sama sekali. Guru Salimin kemudian dikenal sebagai hafizh tuna-netra, dan sampai akhir hayatnya dia berhasil menjaga hafalannya.
Walaupun Guru Salimin sudah lama meninggalkannya, namun pesan-pesannya sering kali muncul di benak Pak Amien, khususnya saat dia menghadapi situasi genting.
***
Kisah seri selanjutnya.... baca sendiri di bukunya ya!
4 comments:
dimana..... :D
apanya dimana?
seri selanjutnya?
ya dibukunya....
apanya dimana?
seri selanjutnya?
ya dibukunya....
iyaa seharusnya saya tambahkan di tulisan akhir
"baca sendiri di bukunya..."
maaf..
btw...di gramedia lagi ada diskon, jadi buku ini cuma 27 rb
tapi seingat saya waktu saya beli di toko buku yasmin di depan masjid UI cuma 20 rb
Post a Comment