SMS dan Perang Uhud
Tanggal 7 Agustus 2007 pukul 22:40 saya mendapat sms yang tertulis, “AMUNISI TERAKHIR utk KMENANGAN: Stiap kader wjib: 1.bc quran min 1juz mlm ini, 2.qyamulail mlai 03.30 dn sling miscall, 3.doakan kmenangan dkwh ini, 4……”, dst. Tanggal 5 Agustus sore pun saya menerima sms serupa itu, yang intinya tawakal kepada Allah. Jadi teringat, sebuah kisah ketika pasukan Amru bin Ash ingin menaklukan Mesir dan memerlukan bala bantuan dari Madinah. Namun bukan bala bantuan yang dikirimkan oleh Khalifah Umar tetapi hanya sebuah
Atau sebuah kisah Perang Badar, ketika sekitar 300 orang kaum Muslimin yang didominasi oleh kaum Anshar berhadapan dengan pasukan kaum Quraisy yang jumlahnya lebih dari tiga kali lipat kaum Muslimin. Sebelum perang itu dimulai, Nabi Muhammd saw berdoa dengan khusyuknya disaksikan oleh Abu Bakar AsSidiq, memohon pertolongan Allah swt atas kaum Muslimin. Dan akhirnya kemenangan pun diraih kaum Muslimin.
Lalu apa hubungannya dengan Pilkada Jakarta? Bahwa sebenarnya ikhtiar itu mutlak adanya. Usaha untuk mendapat kemenangan itu perlu dilakukan sampai titik darah penghabisan. Tetapi ketika segala hal direncankan dan dilakukan maka yang terakhir adalah keputusan berada di tangan Allah. Pasukan Amru bin Ash bisa menang, kaum Muslimin mengalahkan kaum Quraisy di perang Badar, dan Allah menjanjikan "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah : 249), lalu bagaimana kita bisa kalah di Pilkada Jakarta?
Jadi teringat kisah Perang Uhud, sebelum perang segala hal direncanakan, apakah akan bertahan di Madinah atau maju berhadapan di Gunung Uhud. Keputusan pun diambil, perang di Gunung Uhud dengan segala persiapannya. Segala siasat perang dirancang, segala perintah begitu diperhatikan. Sampai pada sebuah peringatan agar pasukan panah yang ada di Gunung Uhud tidak pergi meninggalkan posisinya sampai kemenangan benar-benar diraih. Alhasil kemenangan di raih kaum Muslimin di Perang Uhud, akan tetapi ketika kemenangan belum diraih sepenuhnya dan pengejaran terhadap pasukan Quraisy masih dilakukan, pasukan panah itu meninggalkan posnya hanya karena ingin cepat mendapatkan harta rampasan perang. Pasukan Quraisy yang melihat peluang ini akhirnya kembali menyerang dengan pasukan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, sehingga kaum Muslimin mengalami kekalahan.
Pilkada, Perang Badar, dan Perang Uhud. Semuanya sudah menjadi kisah yang telah berlalu. Menganalisanya bukan menjadi sebuah hal yang tidak berguna kalau kita bisa mengambil beribu hikmah yang terkandung didalamnya. Kita bisa menganggap itu sebagai kekalahan atau kemenangan, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.
6 comments:
ada yang komentar..emangnya saat ini kita sedang perang?kok pilkada ini dibuat seolah2 kita sedang perang...
manjauhi maksiat, setuju sekali, tapi...praktik di lapangan gimana? kampanye ada dangdut, lagu jablay buat kampanye (padahal makna dari jablay saja sudah sangat buruk), banyak dana2 liar kampanye yang disinyalir bukan uang dari sumber yang halal dll.. mungkin ini sebuah teguran atau gimana? kalo ana liat kampanye 2004 PKS begitu idealis tanpa ada hal2 yang melalaikan seperti itu. yang ada adalah nasyid yang menggelorakan semangat. padahal pndukung PKS juga orang2 yang tidak semuanya mengenal islam dengan baik. kalo saya liat sih, ya sama lah dengan masa pendukung sekarang. yang kampenya bawa2 bendera OI dan slank juga. dan hasilnya thn 2004 PKS menang di jakarta..alhamdulillah...
harusnya saat PKS membaur dengan masyarakat, jangan PKS yang terwarnai oleh rakyat yang notabene masih senang dengan hal2 yang melalaikan. tapi rakyat yang diwarnai oleh PKS, saat kampanye putaran terakhir, saya menanti2 nasyid yang bisa membakar semangat orang2 yang sedang kampanye dengan taujih2nya, meskipun yang datang orang2 ammah, tapi kan ini bisa jadi syiar juga bukannya? meskipun hanya 1 nasyid saja, orang2 ammah dah tau kok PKS itu seperti apa, lagu2nya bermutu. tapi sampe saya pulang..gak ada nasyid 1 pun...haduh..yang ada malah lagu sms..tadinya saya pikir nih lagu bakal dipelesetkan, ternyata saya tunggu2 lagunya dari awal sampe akhir gak ada syair yang dipelesetkan untuk kepentingan kampanye...
Allahualam..
‘perang’, bisa diartikan secara luas, melawan hawa nafsu pun bisa dikatakan ‘perang’! jadi tergantung mau lihat perang sebagai apa...
ada yang komentar..emangnya saat ini kita sedang perang?kok pilkada ini dibuat seolah2 kita sedang perang...
‘perang’, bisa diartikan secara luas, melawan hawa nafsu pun bisa dikatakan ‘perang’! jadi tergantung mau lihat perang sebagai apa...
ada yang komentar..emangnya saat ini kita sedang perang?kok pilkada ini dibuat seolah2 kita sedang perang...
***
‘perang’, bisa diartikan secara luas, melawan hawa nafsu pun bisa dikatakan ‘perang’! jadi tergantung mau lihat perang sebagai apa...
manjauhi maksiat, setuju sekali, tapi...praktik di lapangan gimana? kampanye ada dangdut, lagu jablay buat kampanye (padahal makna dari jablay saja sudah sangat buruk), banyak dana2 liar kampanye yang disinyalir bukan uang dari sumber yang halal dll.. mungkin ini sebuah teguran atau gimana?
***
Itulah gunanya evaluasi, makanya diakhir kalimat saya mengatakan ‘bukan suatu hal yang tak berguna jika kita bisa mengambil hikmah didalamnya’. Masalahnya adalah ketika evaluasi hanya bisa menjadi evaluasi, karena hanya jadi bahan omongan doang, bahan ngambekkan doang. Jamaah manusia! Jadi yang penting juga berperan untuk kembali membenahi kembali partai ini sebelum membenahi Jakarta ini.
kalo ana liat kampanye 2004 PKS begitu idealis tanpa ada hal2 yang melalaikan seperti itu. yang ada adalah nasyid yang menggelorakan semangat. padahal pndukung PKS juga orang2 yang tidak semuanya mengenal islam dengan baik. kalo saya liat sih, ya sama lah dengan masa pendukung sekarang. yang kampenya bawa2 bendera OI dan slank juga. dan hasilnya thn 2004 PKS menang di jakarta..alhamdulillah...
harusnya saat PKS membaur dengan masyarakat, jangan PKS yang terwarnai oleh rakyat yang notabene masih senang dengan hal2 yang melalaikan. tapi rakyat yang diwarnai oleh PKS, saat kampanye putaran terakhir, saya menanti2 nasyid yang bisa membakar semangat orang2 yang sedang kampanye dengan taujih2nya, meskipun yang datang orang2 ammah, tapi kan ini bisa jadi syiar juga bukannya? meskipun hanya 1 nasyid saja, orang2 ammah dah tau kok PKS itu seperti apa, lagu2nya bermutu. tapi sampe saya pulang..gak ada nasyid 1 pun...haduh..yang ada malah lagu sms..tadinya saya pikir nih lagu bakal dipelesetkan, ternyata saya tunggu2 lagunya dari awal sampe akhir gak ada syair yang dipelesetkan untuk kepentingan kampanye...
Allahualam..
***
kalau kata orang LSI ketika diwawancarai SCTV mengapa PKS bisa mendapat lebih dari 40% suara, salah satunya adalah karena ‘PKS bisa melewati batas-batas keeksklusifan sebuah ‘partai ideologis’, akan membiarkan judi di jakarta misalnya, dll.’ Mungkin cara kampanye seperti itu salah satu batas yang dilewati. Masalah mewarnai, bagaimana kalau begini; PKS berbaur dulu mengikuti cara-cara yang berlaku di masyarakat, kemudian ketika berhasil memimpin, baru PKS akan mewarnai Jakarta ini. Tapi ternyata ada kehendak lain dari yang di atas.
Allahualam.. pula
Post a Comment