Cerita di balik PILKADA Jakarta
“Saya mah milih Fauzi Bowo aja”, cerita Bapak saya menirukan perkataan seorang pedagang kaki lima yang beliau tanyakan tentang siapa yang mau dia pilih dalam Pilkada DKI Jakarta nanti. Dia memilih Fauzi Bowo dengan alasan kalau Adang Daradjatun menang nanti dia bisa terkena penggusuran karena
“Kan Benahi Jakarta Pak, nanti saya kena dibenahi lagi. Jadi nggakj bisa dagang!”
Ironis memang, Jakarta mau dibenahi, tapi ada orang yang tidak mau dibenahi karena maunya sendiri. Tapi inilah omongan wong cilik, yang di dalam pikirannya mungkin hanya berpikir untuk mencari makan saja.
“PKS itu bersih lho...kalo menang wah gawat”
Ini lebih ironis lagi. Yang ngomong orang Departemen Aparatur Negara. Wong bersih kok gawat. Maklum aja, selama ini dia...ups. Saya juga nggak tau dia ngapain.
“Sekolah digratisin lho...nanti proyeknya juga digratisin lagi. Bagian kita?!?!”
Eng ing eng...nadanya bercanda sih tapi punya makna yang amat dalam. Maklum yang ngomong karyawan sebuah konsultan yang langganan dapet proyek untuk renovasi sekolah.
“Bapak sih tetap milih Fauzi.....”, terus diam.
Kalau yang ini bapak saya yang ngomong. Tapi tidak menjelaskan apa-apa. Langsung saja saya celotehi,”Memangnya siapa yang naikin gaji guru sampai tertinggi di DKI Jakarta di banding wilayah lain? Ya karena PKS menang di Jakarta”. Saya mencoba menjelaskan kalau dari awal Fauzi Bowo (2002) tidak bisa menaikkan gaji guru di Jakarta (walau keputusan akhir bukan di tangan dia), tetapi sejak PKS memenangkan Pemilu di Jakarta (2004), kesejahteraan guru meningkat toh. Walau belum sepenuhnya, tetapi ini sebuah indikasi awal untuk kesejahteraan selanjutnya. Tapi maklum lah Bapak saya ngomong gitu, Bapak ku yang seorang guru ini sudah seperti di doktrin dari PGRi yang sepakat untuk memilih Fauzi Bowo.
“Iiiih....gua nanti mau coblos Adang ah. Gua mau liat dia bisa buktiin janjinya. SMA gratis boo...”
Kalau ini teman saya yang ngomong yang semangat mendengar janji-janji Adang ketika kampanye.
“Fauzi juga janjiin gitu tau” balas saya. Tapi dia mengatakan kalau Fauzi Cuma menjanjikan aman dan nyaman doang. Entah siapa yang benar. tapi saya yakin kalau saya yang benar.
“Saya pilih Adang dong!”, kata seorang karyawan kantor lagi.
“Biar anaknya sekolah gratis ya pak?” balas saya. Dan memang dia mengharapkan seperti itu.
Ada lagi cerita dari teman saya ketika mengajak Ibu-ibu tetangga untuk kampanye PKS.
“Aduh dek, gimana ya saya jadi bingung?!?”
“Kenapa bu?terserah ibu mau jadi ikut atau nggak?”
“Gini aja deh, sudah terlanjur dapet 20 rb nih, ga enak, sekarang saya ikut kampanye Fauzi tapi nanti coblos Adang deh?”
Terang saja teman saya mempersilahkan, karena memang dari awal teman saya itu sudah menyerahkan keputusan kepada ibu tersebut dan tentunya dia yakin kalau ibu itu pasti akan mencoblos Adang.
Dan masih banyak cerita lain di PILKADA DKI Jakarta ini yang lucu-lucu, yang aneh-aneh, yang serius. Karena kebetulan di sekitar saya ada Guru, PNS, pejabat, Koruptor, Kader PKS, simpatisan, wong cilik, KPPS, dll. Saya hanya bisa tertawa, tersenyum, merenggut, dan kadang memanas-manasi. Tapi arus tetap saya bawa ke arah yang benar (menurut saya). :)
5 comments:
itu baru dua calon ya..udah meriah gitu komen orang2..apalagi kalau banyak... atauuuu jangan2 malah gak komen apa2 kalau rame calonnya ya ???? ^_^
kalau ada 3 calon, gw yakin adang-dani menang:-)
yup !! secara berdua aja , beda tipis ya antara adang ama foke.. padahal adang cuma didukung PKS doank.. hebat euy !!
Ini bukan kekalahan, tp kemenangan yg tertunda. Adang harus banyak membuktikan eksistensinya lagi kepada masyarakat. Masih banyak peluang....
wah....kalau kata para analis...
malah sebaliknya tuh...
Post a Comment