Wednesday, August 08, 2007

Cerita di balik PILKADA Jakarta 2 (Menang Tipis!)

Menang Tipis

 

“Menang tipis!”, ujar saya sambil tersenyum. Saya yang dari tadi pagi sudah di TPS sebagai saksi masih bisa tersenyum ketika ada yang menanyakan bagaimana hasil perhitungan suara siang tadi jam 2.

Pagi tadi dengan memakai baju koko seperti instruksi, saya melangkah gagah ke TPS. Sampai di TPS beberapa anggota KPPS sudah ada di tempat termasuk Ketua KPPS. Tegur sapa untuk menambah keakraban, berhasil mengurangi ketegangan. Jam 7 hampir tiba, semua perlengkapan sudah diperiksa, tetapi saksi dari Fauzi-Prijanto belum datang. Pak RT yang anggota FORKABI mulai menelepon untuk mencari tahu.

”Udaaah... bukan urusan kita, kita kan cuma ngurusin TPS doang!” ujar KPPS 2 yang merasa risih. Pak RT yang juga anggota KPPS bertugas menjaga kotak suara pun memberikan alasannya, tetapi dengan nada bercanda (mungkin) kembali disahut oleh KPPS2.

”Begini ni kalau udah dapet serangan fajar!”, mereka berdua pun tertawa, saya pun ikut tertawa.

Akhirnya saksi dari Fauzi-Prijanto pun tidak datang. Sesumbar dengan nada bercanda ke Pak RT, saya merasa tidak ada temannya, ”Wah nggak ada temen ngorbrolnya nih pak!”.

Jam 7 lewat 1 menit upacara dimulai. Para anggota KPPS di sumpah, kotak suara dibuka dan dikeluarkan segala isinya kemudian dicatat. Banyak toleransi yang saya lakukan, terhadap anggota KPPS yang selalu  menganggap mudah semua permasalahan yang ada, tetapi memang hanya masalah administrasi kecil, sehingga semua itu hanya saya rekam saja, tetapi tidak saya protes. Para pemilih pun sudah ada yang datang. Dan pencoblosan dimulai!

Sepanjang pencoblosan tidak ada permasalahn yang berarti. Sempat ada isu dari saksi bayangan kalau saja warga yang tidak mendapatkan kartu pemilih, bisa melakukan pencoblosan walau tidak terdaftar di DPT (Daftar Pemilih Tetap). Tetapi apa daya, ketua KPPS tidak menyetujui, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa terlebih saya sudah membuat kesepakatan/perjanjian tersendiri tentang masalah ini, bahwa warga yang tidak mendapatkan kartu pemilih bisa melakukan pencoblosoan apabila terdaftar di DPT. Kesepakatan itu sudah ditandatangani bersama sehari sebelum pencoblosan. Tetapi tetap hal itu coba di konfirmasi ke kelurahan dan hasilnya nihil, warga yang tidak terdaftar di DPT tidak dapat melakukan pencoblosan.

Ada dua orang yang datang hanya dengan membawa KTP dan tidak terdaftar di DPT. Satu orang yang merasa bingung, tinggal lama di situ, istrinya dapat kartu pemilih, tetapi dia tidak dapat, padahal saat pemilu dia mendapat kartu pemilih. Ada lagi yang datang, sama seperti yang tadi, lucunya lagi dia sempat menceramahi KPPS terutama yang mendata warga.Ada lagi dua orang yang melaporkan salah seorang keluarganya sakit, tetapi mempunyai kartu pemilih. Sampai akhirnya salah satu anggota KPPS dan saya sebagai saksi mendatangi rumahnya, dengan membawa kertas suara, alat pencoblosan, tinta, dan tak lupa surat mandat pendamping pemilih sebaga bukti bahwa pemilih dapat mencoblos dengan didampingi oleh orang yang dipilihnya.

Setelah ishoma, tidak ada lagi pemilih yang datang. Dari 396 yang terdaftar, hanya 304 yang menggunakan hak pilihnya, 148 laki-laki dan 156 perempuan. Jam 1 pun tiba. Setelah bersiap-siap pada kondisi perhitungan suara, kotak suara pun dibuka. Perhitungan pun dimulai. Tak ada kejanggalan sama sekali dalam perhitungan suara. Hal-hal yang ditakutkan seperti di Pilkada Banten, tidak ada yang terjadi. Hasilnya pun 300 suara sah dan 4 tidak sah karena ada yang tidak di tusuk juga ada yang ditusuk di kedua kandidat. Awalnya suara Fauzi-Prijanto memimpin, dan kemudian susul menyusul. Hal ini yang membuat saya yang dari tadi merasa rileks saja menjadi tegang, terlebih anak-anak kecil yang berteriak “Weeee….”, ketika Nomor 2 disebut dan “Huuuuu…”, ketika nomor 1 disebut. Tetapi akhirnya saya ikutan teriak bareng-bareng dengan tetap memperhatikan untuk meredam ketegangan itu. Ada ibu-ibu yang nyeletuk tapi terdengar serius (menurut saya) kalau saja sendainya Fauzi-Prijanto menang nanti akan mendapat beras dari Pak RT. Dan hasilnya menang tipis, Adang-Dani 143 dan Fauzi-Prijanto 157. Pak RT yang dari tadi juga terlihat tegang ketika perhitungan sudah mulai sumringah. Telepon kesana kemari melaporkan hasil kemenangannya. Dan celetukan itu terdengar lagi.

“Nanti jangan lupa ambil beras dari Pak RT, Fauzi-Prijanto menang!”, sambil beres-beres celetukan itu terdengar serius seperti menagih janji (kembali menurut saya). :)

9 comments:

NoviKhansa Utami said...

tipis banget, ya beda suaranya

di sini sampe 50 suara bedanya.... 150-an banding 200-an....

aris isnandar said...

di tps ane, Adang-Dani menang tipis ...

Dudi Iskandar said...

di TPS bang dani 423 lawan 54

Yosi Molina said...

kalau ini mah "menang tebal" bukan "menang tipis"
Insyallah pilkada JKT membawa berkah Allah tuk PKS.
Amin

dian onasis said...

beras ternyata lebih menarik daripada janji calon gubernur...^_^ inilah realita hidup di Indonesia.. tapi apapun itu, salut buat PKS... lebih dari 40% suara didapat... what a great achievement !!

Sugeng HR said...

otsukaresamadeshita.......shikanai na

mirzah abdulaziz said...

wah gitu ya...hmmm astagfirullah..apa daya kita tidak bisa dan tidak boleh melakukan hal2 kecurangan.... :) tetap semagat guys... 2009 insyaAllah menanti

Ibnu Alwi said...

artiin dong bang....

Dany Wicaksono said...

saya mah gak kuat ikut perhitungan hingga akhir, kalah telak. Sampe2 serombongan anak kecil bilang begini, "Fauzi mulu nih, adangnye gak ada !!" Lalu mereka meninggalkan tps, kejadian yang bikin saya senyum ketika sedih ^_^