Sunday, July 29, 2007

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Emha Ainun Nadjib
Tuhan Tak Punya Negara

Misalkan pada suatu hari Anda membuat pakaian, lengkap, dari sepatu, topi, celana, hingga baju, dan segala lambangnya persis seperti yang dikenakan Panglima ABRI, padahal anda sama sekali tidak dikenal sebagai anggota militer.
Atau, sama dengan kostum kebesaran Bung Karno de­ngan segala tumpukan tanda jasa di bajunya, kemudian Anda memakainya, keluar rumah, pergi ke kantor atau jalan-jalan di mal, maka Anda telah menciptakan dua kemungkinan.
Pertama, semua orang menyimpulkan Anda tidak bisa mengatasi stres gara-gara krisis moneter, hingga beberapa saluran saraf di otak Anda mengalami disorganisasi. Atau akan kacau-balau dan atasan di kantor akan merapatkan Anda untuk segera di PHK. Kedua, aparat bersegera men­curigai, menghampiri, dan menangkap Anda. Bahkan, pun seandainya yang Anda pakai sekadar kostum prajurit ber­pangkat paling rendah.
Tetapi tak akan ada risiko seperti itu kalau yang Anda pakai kostum seperti yang dikenakan Imam Khomeini, meskipun Anda sama sekali bukan seorang imam, apalagi
seorang ayatullah. Bahkan, Anda sama sekali merdeka untuk pada suatu sore memakai kostum seperti para habib atau aulia. Anda bebas sama sekali jika malam hari sesudahnya berganti dengan jeans dan kaos oblong, lantas esok paginya berganti lagi dengan kostum Pangeran Diponegoro, siangnya seperti Maulana Makdum Ibrahim, sorenya lagi persis Abu Jahal yang brukut khas Arab.
Kalau demi penampilan Anda di panggung atau televisi sebagai perfomer atau presenter Anda berganti-ganti pakaian seperti itu, lantas ada orang yang menggerundel dan menyebut Anda sakit jiwa -pasti itu orang tidak kenal dunia panggung sandiwara yang sedang Anda peragakan serta belum mendengar referensi tentang kemerdekaan berpakai­an- kecuali yang berkaitan dengan militer.
Negara punya kekuasaan hampir mutlak atas Anda, sementara Tuhan tak punya negara. Tuhan tidak diperkenankan oleh hamba-hamba-Nya untuk secara formal mengatur kehidupan manusia. Tuhan dilarang menerapkan nilai dan hukumNya pada sistem nilai negara. Tuhan dicekal memanifestasikan aspirasiNya ke dalam pasal-pasal hukum formal negara.
Kalau peraturan negara dilanggar, pelanggarnya di­hukum. Kalau peraturan Tuhan dilanggar, secara resmi manusia dilarang menghukum pelanggarnya. Tuhan hidup abadi sendirian, dan benar-benar sendirian, dalam arti umat nanusia menganggap political will-Nya pun sangat ber­bahaya jika diterapkan dalam formalisme kehidupan ma­nusia. Bahkan, kebanyakan pimpinan umat beragama yang menyembahNya pun amat sangat mengkhawatirkan kalau-kalau ada di antara manusia punya gagasan untuk menerapkan hukum Tuhan dalam konteks negara.
Tuhan bersemayam di luar negara. Hanya saja Ia adalah "Maha Penyelundup" yang luar biasa. Ia lathif, maha lembut, frekuensi kehadiranNya dalam kehidupan manusia sedemi­kian tak terasa oleh manusia itu sendiri.
Negara memilih nilai dan hukum yang garis-garisnya sangat jelas, transparan, dan melegalisasi dirinya sendiri sedemikian rupa. Nilai dan kekuasaan Allah hanya gamblang bagi yang memiliki mata pandang atasnya. Tapi yang pasti, kuasaNya tak diperbolehkan memiliki legalitas apa pun di dalam negara.
Secara de jure Tuhan kalah berkuasa atas manusia dibanding pencipta manusia sendiri, meski secara de facto Tuhan sangat berkuasa, sangat menentukan, dan sangat berkehendak-dalam formula dan perspektif min haitsu la yahtasib: di luar tata hitungan manusia.
Simbol dan imaji kekuasaan negara sangat baku, di­sakralkan, dan dipertahankan dengan berbagai macam legi­timasi-dan itu semua tidak boleh dilanggar oleh siapa pun. Sementara lambang dan citra Tuhan, umpamanya yang muncul melalui tanda-tanda kesalehan, kealiman, kekhu­suskan, dan kejujuran -namun ia bisa dilanggar oleh siapa pun- tak ada legalitas formal pada manusia untuk sah mengurusi pelanggaran itu.
Maksud saya, bendera merah-putih tak boleh Anda potong-potong dan dijadikan celana pendek, tak boleh dihina sedikit pun. Gambar presiden dan pemimpin di antara manusia tidak boleh diremehkan. Sementara tanda ke­musliman dan kesalehan religius -yang pada periode sejarah tertentu diwakili peci, sarung, surban, dan sajadah- bisa diremehkan oleh siapa pun saja, meski ia tak ada kaitannya dengan kemusliman, kesalehan, dan kekhusyukan Islam.
Dalam pertandingan olahraga saja, umpamanya SEA Games, kalau Anda bukan warga negara Indonesia, Anda dilarang ikut bertanding mewakili atau atas nama negara Indonesia. Tetapi pakaian yang biasanya dikenakan para ulama, sufi, habib, aulia, boleh sewaktu-waktu dipakai oleh bukan Muslim, oleh orang yang dalam kenyataan hidupnya tidak mengutamakan Tuhan, bahkan oleh bandit sekalipun. Jilbab juga tak boleh dibatasi untuk hanya dipakai oleh orang muslimah.
Kita boleh pakai peci, meskipun sehari-hari kita nyopet. Kila boleh pakai surban, meskipun kita penjahat. Kita boleh menyelempangkan sajadah di badan, meski kita koruptor besar.
Dengan kata lain, kalau ada orang pakai emblem pegawai negeri di bajunya, insya Allah ia memang anggota Korpri. Tapi kalau ada orang yang bagian atas kepalanya ditutupi peci, tak ada jaminan ia santri.
Kalau ada orang berkostum tentara, insya Allah ia memang anggota ABRI. Sedang kalau ada orang menaruh ikat di kepalanya sebagaimana Syekh Ali Syamsu Zen gurunya Prabu Joyoboyo, tidak berarti ia memiliki kadar kealiman keagamaan tertentu yang biasanya ditandai oleh ikat semacam itu.
Kalau ada orang membawa bedil dan berpakaian se­ragam, insya Allah ia bukan anggota suatu kesatuan militer. Namun, kalau ada orang memakai baju panjang sebagaimana yang dulu dipakai Sayidina Ali, silakan jangan meng­hubungkannya dengan nilai tauhid, akhlak, istiqamah, zu­hud, atau apa pun sebagaimana selama berabad-abad nilai-­nilai itu ditandai oleh kostum-kostum tertentu. Pakaian orang sekarang tidak mewakili kepribadiannya, tidak memiliki sambungan dengan kenyataan hati dan realitas perilakunya.
Ini juga berlaku bagi pakaian nasionalisme, patriotisme, atau heroisme karena kekuasaan negara ternyata juga tidak menjamin bahwa tiga isme itu merupakan substansi ke­hidupannya.

Dan Pancasila itu....

Setelah membaca tulisannya Emha Ainun Nadjib yang berjudul Tuhan Tak Punya Negara, saya jadi teringat ketika masa SMP. Waktu itu masih ada yang namanya P4 diawal-awal sekolah. P4 dan pelajaran PPKn ternyata setali tiga uang. Mata pelajaran ini membingungkan bagi saya. Seperti dipaksakan, oleh yang mengajar dan oleh yang membuat pelajaran ini. Tak ada sama sekali aplikasi yang terjadi pada pemerintahan yang berjalan. Hukum seperti tidak berjalan, yang terjadi hanyalah sebuah toleransi yang kebablasan. Serba nggak apa-apa. Korupsi nggak apa-apa, kolusi nggak apa-apa, dan nepotisme nggak apa-apa. Lebih-lebih setelah jatuhnya Orde Lama, malah tambah gila kebablasannya. Serba terbuka. Korupsi terbuka, kolusi terbuka, dan nepotisme terbuka tanpa rasa malu-malu ditambah nggak apa-apanya itu.

Terus yang namanya jiwa muda, masih SMP. Hati ini tergelitik, terusik. Belajar yang namanya PPKn, tertulis di dalam bukunya, bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. Pancasila adalah ideologi bangsa. Pancasila adalah pedoman bagi kehidupan bangsa. Apa iya? Kok bangsanya masih semrawut. Mulai lah saya cari tahu kesana kemari, baca buku ini buku itu. Sampai begadang menelaah apa sih ideologi itu. Apa sih pancasila itu?

Sampai suatu malam Bapak saya yang suka inspeksi malam-malam masuk kedalam kamar mendapati anaknya belum tidur sedang membaca buku dan disekitarnya buku berserakan. Saya pun menanyakan ideologi kepadanya. Saya pun menanyakan Pancasila kepadanya. Dan jawabannya tidak seperti yang saya harapkan. Bahkan beliau kalah berdebat dengan saya. Merasa terpojok, beliau malah mengalihkan pembicaraan, ”Sudah nggak usah ngomongin gituan, shalat subuh aja masih kesiangan!”. Nah lho, saya sudah tidak berkutik lagi.

Pada intinya beliau mengatakan bahwa Pancasila itu sudah tidak bisa diganggu-ganggu lagi sebagai ideologi bangsa, karena negara kita negara majemuk, yang beragam. Namun saya mengungkapkan kalau saya setuju Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa bukan ideologi bangsa karena kita sebagai manusia yang berTuhan, percaya bahwa Tuhan kita adalah Allah swt dan utusannya adalah Muhammad saw yang merisalahkan Al-Quran dan Sunnah Rasul sebagai pedoman hidup kita, sebagai sumber dari segala sumber hukum. Hal ini kewajiban sebagai umat Muslim. Kalau yang dijadikan sumber dari segala sumber hukum selain AlQuran dan Sunnah berarti urutannya adalah kita tidak menjalankan risalahNya, berarti kita tidak seutuhnya mengimani Allah swt dan kita diragukan sebagai manusia berTuhan. Artinya itu bertentangan dengan Pancasila sila pertama yang berbunyi KeTuhanan yang Maha Esa. Aneh kan?

Kita disuruh mengikuti Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa, sebagai sumber dari segala sumber hukum. Di dalam sila pertama disebutkan Ketuhanan yang Maha Esa, agar kita taat menjalankan ajaran agama kita. Artinya saya harus taat kepada Tuhan saya, Allah swt, untuk mengikuti Al Quran dan Sunnah RasulNya sebagai pedoman hidup, sebagai sumber dari segala sumber hukum. Bentrok kan? Ust. Jafar melaksanakan hukum rajam di Ambon malah di tahan. Mana yang harus diikuti?

Tentu yang lebih kuat adalah aturan Tuhan untuk diikuti. Nah pada saat saya ungkapkan hal inilah orang tua saya mengatakan hal tadi.

Saya mulai asah lagi pengetahuan saya tentang tauhid, tentang hidup ini dan sering saya ceritakan kepada teman saya. Sampai pernah saya dikira ikut NII. Bahkan dibeberapa kesempatan saya masukkan dalam materi lomba pidato saat kelas 3 SMP dan kelas II SMA. Dibawah ini saya lampirkan pidato yang pernah saya buat saat kelas II SMA.


 ***

PIDATO PADA HARI KESAKTIAN PANCASILA


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Yang saya hormati Wakil Kepala Sekolah,

Yang saya hormati pula Bapak/Ibu guru,

Dan yang saya cintai anakku sekalian

Puji dan syukur kita selalu limpahkan kepada Allah swt karena dengan nikmat-Nya kita masih bisa berdiri tegap untuk mengikuti upacara ini dan dengan rahmat-Nya kita masih diliputi oleh suasana yang cerah ini juga dengan hidayah-nya pulalah kita masih berada pada jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh Allah swtt yang jauh dari kebatilan dengan jaminan yang nyata dan indah yaitu surga. Tak lupa salawat dan salam kita limpahkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah membawa umat manusia dari kebatilan kepada jalan yang benar dan dari sikap teladannya kita masih terjaga dari kesyirikan, semoga kita mendapat syafaatnya di akhirat kelak. Amin!

Anakku sekalian,

Yang telah kalian ketahui bahwa kita semua mengadakan upacara di sini ialah untuk memperingati Hari kesaktian Pancasila, l Oktober 2002. Dengan begitu, bangsa Indonesia telah memperingati Hari kesaktian Pancasila selama kurang lebih 36 tahun. Untuk itu saya sebagai pembina upacara, ingin mengajak kalian untuk merenungi, apa sebenarnya fungsi Pancasila bagi bangsa kita ? Dan apa kesaktian Pancasila itu ? Ini adalah suatu pendapat saya mengenai fungsi Pancasila yang mungkin sangat bertentangan sekali dengan kenyataan yang ada. Itulah sebabnya mengapa saya hanya mengajak kalian untuk merenunginya bukan mengajak kalian untuk berdemonstrasi atau memprotes atas perbedaan pendapat yang ada.

Anakku sekalian,

Pancasila sebagai dasar negara dibuat oleh bangsa Indonesia pada sidang BPUPKI bukan untuk dijadikan sebagai suatu faham ataupun suatu ideologi bahkan dijadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum karena Pancasila dibuat untuk dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa dari perbedaan-perbedaan yang ada, misalnya perbedaan agama, perbedaan faham yang dianut, perbedaan suku, adat istiadat, perbedaan hukum dalam adatnya tersebut dan masih banyak perbedaan yang lainnya. Dan memang, bangsa Indonesia membentuk negara ini hanyalah untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut sehingga terhindar dari penjajahan bangsa lain yang dapat memecah belah bangsa dan bangsa Indonesia dapat hidup dengan aman dan damai.

Kemudian, menurut saya Pancasila mulai dijadikan suatu faham oleh pemerintah Indonesia pada saat pergantian Orde Lama menjadi Orde Baru yang sempat diwarnai oleh pemberontakan PKI karena bangsa Indonesia tidak pernah menjadikan Pancasila sebagai suatu faham, bangsa Indonesia hanya diracuni oleh pemerintah Orde Baru dengan faham Pancasilanya seperti halnya pemerintah Orde Lama yang dipimpin aleh Bung Karno meracuni bangsa Indonesia dengan faham NASAKOMnya.

Lalu, mengapa saya katakan "pada saat pergantian Orde Lama menjadi Orde Baru" karena, menurut saya pemerintah saat itu tidak bisa menghancurkan faham komunis di Indonesia tetapi hanya bisa membubarkan partainya dan menghukum orang-orang yang melakukan pemberontakan tersebut sehingga mereka membentuk faham Pancasila sebagai dasar negara untuk dalih bahwa faham komunis sangat bertentangan dengan faham Pancasila. Padahal, tanpa ada faham Pancasila pun, penganut masing-masing agama di Indonesia pasti akan menentang komunis karena komunis menentang Tuhan dan tidak beragama. Namun, kita lihat orang-orang kamunis itu berasal dari orang-orang yang beragama. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena menurut saya disiplin hukum pada masing-masing agama tidak diterapkan sehingga terjadi penyelwengan-penyelewengan, murtad, dan sebagainya. Seandainya disiplin hukum pada masing-masing agama diterapkan pada penganutnya maka faham komunis tak akan tumbuh subur pada orang-orang tersebut karena telah dibentengi oleh iman dan kepercayaan agamanya masing-masing dan faham komunis akan hilang dengan sendirinya. Misalnya saja, sebagian umat Islam di Indonesia kini ingin menerapkan syariat Islam bagi pemeluknya sehingga selain menambah keimanan, kepercayaanya juga akan terjaga dari pengaruh faham-faham yang bertentangan dengan keyakinannya dan mereka yakin penerapan syariat Islam bagi pemeluknya tidak bertentangan dengan Pancasila karena Pancasila hanyalah suatu alat pemersatu bangsa sebagai dasar negara. Sekarang, bagaimana dengan Hari Kesaktian Pancasila? Menurut saya kesaktian Pancasila disini ialah mempertahankan Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa dari penyalahgunaan. Jadi, Hari Kesaktian Pancasila kita peringati untuk mengingatkan kita bahwa Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa bukan suatu faham ataupun ideologi.

Saya rasa cukup sekian pendapat saya melalui pidato ini.Dan kembali saya mengharapkan agar pendapat ini janganlah dijadikan sebagai suatu protes atas pendapat lain yang sudah ada melainkan dijadikan sebagai renungan atau suatu kritikan untuk saling memperbaiki dari penyalahgunaan, tentunya dalam fungsi Pancasila. Saya harap pidato ini bermanfaat bagi kalian semua dan bagi bangsa dan negara ini. Semoga negara kita ini menjadi aman dan damai kembali. Amiin.

Apabila terdapat kesalahan kata harap dibukakan pintu maafnya. Terima kasih atas perhatian kalian. Wassalamualaikum Warahmatultahi Wabarakatuh.


Jakarta, 1 Oktober 2002

Firmansyah

Kelas II-4


Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:Hernowo
Di halaman pertama buku ini tertulis kata-kata semangat, “Buku Simpel nan praktis yang ditulis dalam obrolan ini akan membuat Anda berteriak sangat keras, Wow Aku Bisa !”
Dan ternyata, kata-kata itu layak saya ajukan kepada Anda. Setelah saya selesai membaca buku ini, maka kata-kata di dalamnya memang simpel, memang praktis, serasa mengobrol dengan penulis, dan sering kali saya merasa Wow Aku Bisa!
Tulisan di dalam buku ini benar-benar mengalir dan menggerakan. Menggugah dan memberikan gagasan. Berbeda, Berdaya, sekaligus Bebas! (meminjam kata-kata Pak Hernowo)
Berlebihan nggak sih?
Tidak. Saya menyatakan apa yang benar-benar saya rasakan setelah membaca buku ini. Buku sebelumnya yang saya baca, Mengikat Makna yang juga ditulis oleh Pak Hernowo membuat saya ingin membaca buku beliau yang satu ini. Ibaratnya, setelah saya baca buku ini, Mengikat Makna menata ulang pemikiran saya tentang membaca, menulis dan segala hal yang baru saya ketahui, sedang buku ini mem-push untuk terus melakukan, melakukan, dan melakukan apapun yang bisa memajukan diri saya. Ya menulis, membaca, belajar, dan lebih banyak lagi.
TETAPI teori hanyalah teori, semuanya seperti itu. Semua buku seperti itu, kalau tidak ada tindakan lebih lanjut dari pembaca, tidak akan ada yang terjadi.
****
Buku Yang Mengalir
1.Buku yang dapat menyajikan materi yang ingin disampaikan kepada para pembacanya secara bercerita.
2.Berkaitan dengan bagaimana seorang penulis dapat menemukan gaya khas menulisnya atau bagaimana dia dapaat menunjukkan karakternya.
3.Broses pencapaiannya dapat membangun kepercayaan diri yang tinggi.
Ngerti nggak? Kalo gak ngerti baca ndiri bukunya karena penjelasan di bukunya lebih menarik dari kesimpulan diatas.
Buku Yang Menggerakkan
Buku yang menggerakkan adalah buku itu mampu memberikan dampak kepada pemmbacanya. Dampak tersebut, terutama, berkaitan dnegan pikiran seorang pembaca. Apabila sebuah buku mampu menggerakkan seorang pembaca, artinya pembaca buku tersebut kemudian terdorong untuk memiliki ”pikiran baru” atau, sebutlah, gagasan baru.
Buku Yang Mengalir sekaligus Menggerakkan
Salah satu kriteria buku yang bergizi tinggi adlah buku yang mengalir sekaligus menggerakkan. Kenapa? Pertama, sebuah buku bergizi tinggi tidak boleh membebani para pembacanya. Kedua, apabila seseorang sudah diberi keasyikan atau kesenangan dalam menikmati sebuah teks yang mengalir, seorang pembaca akan dengan mudah menyerap manfaat sebuah buku.
Buku Yang Tertata
Buku yang tertarat berarti soal penyusunan teks. Di samping soal reasoning (penalaran) atau hal-hal yang menyangkut logika-yang dibangun oleh otak kiri-seorang penulis perlu sekali memperhatikan koherensi dan komposisi tulisannya. Untuk menjadi penulis yang berhasil memiliki deretan teks yang koheren, Anda perlu berlatih secara tekun. Sedangkan komposisi teks artinya, penulis sebelum dia menulis secara mengalir dan menggerakkan, dan berusasha keras untuk membuat seluruh teksnya berkaitan -sebelum semuanya itu mewujud- dia sudah membayangkan terlebih dahulu komposisi dari ”isi” bukunya.
Buku Yang Berkarakter
Apabila si penulis buku menyadari benar keberadaannya yang unik, yang lain sama sekali dengan orang lain, tentulah buku yang ditulisnya akan berkarakter. Kesadaran semacam ini merupakan modal utama untuk membuat buku yang bergizi tinggi. Mengapa modal utama? Sebab tiga syarat sebelumnya –mengalir, menggerakkan, dan tertata- dapat digolongkan sebagai syarat yang dapat dicapai atau dapat diraih apabila seorang penulis buku mau dan mampu membiasakan diri menulis. Sementara, syarat untuk menjadikan sebuah buku itu berkarakter merupakan syarat yang sudah melekat dengan dirinya sejak dia dilahirkan ke dunia. Buku yang berkarakter juga dapat dipastikan dapat digolongkan sebagai buku yang mengandung bahan-bahan orisinil (baca: asli, tulen).
Di dalam buku ini dijelaskan juga bagaimana sebuah buku perlu memperhatikan sinergi antara bahasa kata dan bahasa rupa, sehingga bisa memaksimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan bagi pembaca. Juga dibahas bagaimana menyiapkan gagasan. Dari memunculkan gagasan, mengolah, dan menata gagasan sampai mengemas gagasan itu sendiri. Sampai pada akhirnya terciptalah sebuah buku yang menggugah.
Pada penutup di tuliskan, ”Saya ingin menutup buku ini dengan sebuah dorongan: menulislah! Segeralah ekspresikan pikiran dan perasaan Anda dalam kalimat-kalimat yang merupakan ciptaan Anda sendiri. Bebaskan diri Anda ketika mengeluarkan apa saja yang layak Anda keluarkan. Deretkan tulisan-tulisan Anda yang mencerminkan karakter diri Anda dalam sebuah pola. Sentuhlah dengan keinginan, kemauan, keunikan, dan gairah Anda. Saya berdoa semoga Anda dapat menyusul saya untuk membuat buku!”

Seminar "Menjadi Guru dan Keluarga Pembelajar"




Sabtu 30 Juni 2007
di Moderatori oleh Asma Nadia

Saturday, July 28, 2007

sampai dipukulin pun tak ada artinya....

Suatu pagi saya dipanggil oleh Bapak saya di ruang tamu. Hari itu hari minggu. Seperti biasa beliau jalan-jalan di pagi hari.
"Duduk sini"
Kata-kata ini mengartikan keseriusan kalau diawali sebelum pelakukan pembicaraan. Maka saya harus bersiap-siap untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya. Entahlah nasihat atau doktrin, karena biasanya beliau akan marah kalau nasihatnya disahutin jadi saya hanya bisa berdiam saja menerima yang baik dan buang jauh-jauh yang buruk.
"Kamu nggak usah ikut nempel-nempel lah! Kan tau sendiri disini banyak orang betawi (Forkabi -red)!"
Masih sebulan sebelum masa kampanye Pilkada DKI Jakarta, tetapi rasanya kampanye sudah dimulai. Spanduk, baliho, poster, stiker sudah bertebaran dimana-mana untuk me'marketing'kan calonnya. Sampai dimulai masa kampanye pun saya tidak ikut nempel-nempel poster untuk salah satu calon pendukung, karena saya disibukkan dengan ujian akhir semester dan sidang kerja praktek. Hanya saja saya menempelkan beberapa di depan rumah.
Beliau berkata demikian karena katanya ada yang dipukuli orang Betawi akibat nempel-nempel poster salah satu pendukung. Tapi saya coba bertabayun ke beberapa orang katanya tidak ada apa-apa. Entahlah Bapak ku ini berbohong atau tidak, tetapi itulah nasihatnya yang paling kenceng.
Ketika dinasehati saya hanya diam saja dan senyum-senyum kecil. Teringat saat Muhammad saw ditanyakan oleh pamannya untuk tidak berdakwah lagi atas permintaan kaum Quraisy yang datang kepadanya. Muhammad berkata kepada pamannya "Seandainya mereka menaruh  di tangan saya matahari dan di tangan kiri saya bulan, maka saya tidak akan berhenti (berdakwah-red), sampai kemenangan saya dapatkan atau kematian yang menjemput saya."
Wah rasanya saya ingin katakan kepada Bapak saya, kalau saja bukan karena uang saya melakukan semuanya, kalau saja kebaikan yang saya kejar untuk melakukan semuanya, sampai dipukulin pun tidak akan ada artinya bagi saya, sampai kemenangan saya dapatkan atau memang kematian yang duluan menjemput saya.
Tetapi saya hanya berdiam diri saja. Selain saya sudah menyampaikan hal ini kepada beliau secara tidak langsung, saya pikir mungkin larangannya adalah kasih sayang tersendiri buat saya. Allahu Akbar!!

Thursday, July 19, 2007

Seminar The World Business Mastery 2007

Start:     Sep 1, '07 01:00a
End:     Sep 1, '07 5:00p
Location:     PRJ Kemayoran Hall C1 Jakarta
info lengkapnya di brosur ini
http://fireman0410syah.multiply.com/photos/album/25

Seminar The World Business Mastery 2007




Sebuah komentar untuk Seminar The World Personality Mastery 2007

Sebuah komentar untuk Seminar The World Personality Mastery 2007
http://fireman0410syah.multiply.com/calendar/item/10005

    Seminar ini dibawakan oleh Mr. James Gwee yang mungkin sudah banyak yang mengenalnya karena sebagai Indonesia’s Favorite Trainer, dia pernah menjadi bintang iklan pada salah satu produk oli/pelumas. Banyak teman yang sudah ilfeel atau acuh ketika saya mengajak mereka untuk mengikuti seminar ini. Selain karena biayanya yang besar, juga mungkin menganggap seminar in setali tiga uang dengan MLM (multi level marketing). Mereka yang trauma dengan MLM merasa alergi untuk membicarakan bisnis, marketing, apalagi mengikuti seminar semacam ini. Walau sebagian dari mereka ada yang biasa saja menanggapi seminar ini dan juga ada yang tertarik dengan seminar ini. Saya sendiri bukannya tidak suka dengan MLM. Mungkin itu salah satu cara bagi beberapa orang untuk mendapatkan uang. Tetapi semangat yang mereka (pelaku MLM) miliki kadang mengaburkan tujuan hidupnya sendiri sebagai manusia yang berTuhan. Atau cara-cara yang digunakan seringkali meresahkan orang-orang yang diajak untuk menjadi downline, seperti memaksa kalau kata teman saya.
    Apapun itu, seminar ini saya ikuti bukan karena saya sedang membangkitkan semangat untuk mencari downline, tetapi untuk menambah kemampuan saya dalam komunikasi, berinteraksi, dan yang paling penting bagaimana bisa memahami orang. Dan Alhamdulillah, pengetahuan saya akan hal di atas tadi bertambah beberapa kali lipat. Asal kita mampu mengikat gagasan, memahaminya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka seminar bukanlah tinggal seminar. Tapi seminar bisa dijadikan percikkan api semangat yang bisa membakar apa saja sehingga menimbulkan api yang lebih dahsyat lagi. Seminar ini sebenarnya memang lebih ditujukan untuk para sales agar berhasil menjual produknya secara cepat ke pelanggan. Karena seorang sales pasti berhubungan langsung dengan cutomer.    Artinya saya memang memerlukan ilmu ini di dunia kerja nantinya. Bukan berarti cita-cita saya nanti hanya jadi sales, tetapi perusahaan mana yang tidak menjual produknya? Bahkan seorang pemimpin pun harus mempunyai kemampuan berkomunikasi. Namun, percayalah isi seminar ini sebenarnya dapat digunakan untuk membina hubungan yang lebih baik diantara keluarga, kerabat, tetangga, bahkan orang yang tidak kenal sekalipun. Karena seminar ini diintisarikan dari orang-orang yang menciptakan buku berisikan bagaimana kita mengenal diri kita dan bagaimana akhirnya kita mengenal orang lain dan dari kedua itu tercipta komunikasi yang salaing memahami. Sebut saja bukunya Allan Pease Why Men Don’t Listen and Women can’t Read Maps, atau bukunya Dr. John Gray Men are From Mars, Women are from Venus, begitu juga bukunya Florence Littauer Personaltiy Plus, buku-buku ini diciptakan benar-benar bukan untuk bisnis dan marketing apalagi sales. Namun para pelaku bisnis mengerti betul bahwa kemampuan komunikasi bisa meningkatkan perusahaannya. Satu hal lagi mengapa saya ingin mengikuti seminar ini adalah dengan kita memiliki kemampuan berkomunikasi, berinteraksi dan memahami orang dengan baik maka insya Allah kita akan mampu memikat objek dakwah. Tahu bukunya Abbas AsSiisy Bagaimana Menyentuh Hati? Dibuku ini banyak diberikan contoh berkomunikasi dengan baik dan pelajaran-pelajaran yang diambil dari Al-Quran sehingga orang bisa terpikat kepada kita, terkesan kepada kita, dan akhirnya mau menerima ajakan kita untuk kembali mengingat Tuhannya dan menjalani hidup ini untuk menggapai ridhaNya. Di buku ini dikisahkan bagaimana Mush’ab bin Umair berhasil mengajak penduduk Madinah untuk menerima ajakannya sehingga Madinah akhirnya menjadi tempat hijrah dan pusat pemerintahan yang menguasai jazirah Arab. Sedang dalam seminar ini, insya Allah akan menjadi pelengkap bukunya Abbas AsSiisy dan akhirnya Islam bisa disampaikan secara indah dan menawan karena memang pada hakikatnya Islam itu indah dan menawan, hanya saja umat sudah penat, tersengat asap kendaraan bermotor, kebakaran hutan, bahkan kebakaran jenggot sampai-sampai untuk makan saja susah, tidur aja susah, sampai buang air kecil aja bayar, terus iya....iya.....iya..... kerjaannya cuma nonton Tukul doang. Akhirnya beginilah umat Islam di Indonesia yang katanya mau dibanggakan. (sudah deh emosinya, saya memang harus banyak belajar)

    The World Personality Mastery 2007 diintisarikan dari 7 World Personality Wizards yaitu Allan Pease, John Gray, Florence Littaeur, Dale Carnegie, Larry King, Leil Lowndes, dan Oprah Winfrey. Sebagian besar adalah penulis buku Best Seller Beberapa saya akan ceritakan disini, dan sisanya baca sendiri dibuku mereka atau tulisan-tulisan mereka. Karena memang ini gunanya seminar. Ketika waktu kita sudah banyak tersita untuk mengurusi dunia yang fana ini sampai akhirnya tidak sempat untuk belajar lagi atau membaca buku, maka ada orang yang mau dibayar mahal untuk mengintisarikan beberapa hal penting dari pengalaman orang atau dari buku-buku yang bergizi.
***
    Larry King mengatakan orang yang sukses tidak selalu yang terbaik dalam pendidikannya, tidak selalu cerdas dan pintar, tidak harus good looking, tetapi orang yang sukses punya keahlian lebih dalam berinteraksi dengan seseorang. (kok jadi inget tukul lagi ya)

    Komunikasi terjadi ketika ada yang send message dan receivernya. Message ini bisa berupa verbal (word & intonation), ekspresi wajah, atau body language. Orang akan mendengarkan dan percaya pada kita jika, pertama, orang itu suka pada kita. (sebelum dilanjutkan, kadang hal-hal yang dibicarkan disini sederhana atau biasa, tetapi seringkali terlupa bahkan diacuhkan, jadi cobalah untuk memperhatikan dan memahaminya, itu juga kalau mau)
    Seganteng apapun si Primus kalau orang tidak suka dia, maka tak ada yang mau mendengarkan apalagi percaya sama dia. Tetapi sebaliknya Tukul, sejelek apapun dia (saya tidak bermaksud menyinggung atau punya motivasi untuk menyakiti perasaan orang lain, just kidding, just for laugh-kok jadi ikutin Tukul ya) sekali lagi, sejelek apapun dia kalau orang suka pasti banyak yang mendengarkan bahkan banyak perusahaan yang menggunakannya sebagai bintang iklan untuk menawarkan produknya. Jadi kalau mau orang mendengarkan dan percaya pada kita maka buat orang itu suka pada kita.

    Kedua, orang respect pada kita. Bagaimana supaya orang respek ke kita salah satunya adalah kita harus punya pengalaman dan wawasan. Di ajak berbicara ini masuk, berbicara itu nyambung. Tutur kata kita sopan, teratur, bahkan bijak. Sehingga yang awalnya kita melayani seseorang untuk kita dengarkan keluhannya atau ceritanya, maka selanjutnya kita bisa bawa arus pembicaraan itu untuk mendengarkan bahkan percaya pada kita.

    Ketiga, kita punya kesamaan. Coba perhatikan, kadang orang cepat akrab dengan kita hanya karena orang itu punya kesamaan hobi dengan kita. Atau misalnya ketika kita mengomentari masalah politik kemudian ada orang yang mendengar mempunyai kesamaan pendapat dengan celetukan atau komentar kita tadi, tidak lama mungkin kita akan menjadi akrab dengan orang itu, dan banyak contoh lain. Kita akan menjadi cepat akrab dengan orang yang mempunyai kesamaan dengan kita.

    Kata Oprah Winfrey “NoBody gets to the top alone”. Orang pintar tidak akan disebut orang pintar kalau tidak ada orang bodoh. Bukan berarti orang pintar ada karena ada orang bodoh. Orang kaya tidak akan disebut kaya kalau tidak ada orang miskin. Bukan berarti orang kaya ada karena ada orang miskin. Kalau semua jadi penguasa siapa yang menjadi bawahannya? Kalau semua orang jadi presiden siapa yang jadi rakyatnya? Sekarang bagaimana dengan yang ini, kalau kita berhasil membuat orang lain sukses apakah kita otomatis menjadi sukses? Menurut saya, ya. Karakter ini yang harus dibangun!

    The Law of Attraction, coba anda lihat kupu-kupu yang indah di taman. Kalau kita suka kita akan menangkapnya, mengejarnya, sampai bahkan jaring merusak keindahannya. Kalau kita mendapatkannya kita malah mengurungnya. Ketika kupu-kupu itu berhasil lepas maka dia akan menceritakan kepada kupu-kupu yang lainnya kalau saja di taman tersebut tidak aman. Maka lama kelamaan taman itu tidak pernah ada kupu-kupu lagi.

    Kalau kita mau orang datang ke acara kita, ke seminar kita, ke majelis kita, atau bahkan suka pada ‘produk’ kita, maka jangan mengajak mereka dengan memaksa atau meneror mereka tetapi tebarilah taman itu dengan lebih banyak bunga-bunga yang indah dan jangan ganggu kupu-kupu yang datang. Kupu-kupu yang datang dan tidak terganggu itu akan mengatakan ke kupu-kupu yang lain sehingga banyak kupu-kupu akan memenuhi taman itu. Buat acara kita menarik atau ‘produk’ kita sebagai sebuah solusi, layani yang datang,
beri kepuasan pada pelanggan, maka orang akan tertarik.

    Sebuah pelajaran dari Dale Carnegie dalam berinteraksi dengan orang, bahwa sikap dasar seseorang  untuk mengkritik, mengkomplain atau mengeluh itu bisa dilakukan oleh orang bodoh sekalipun. Jadi perlu karakter dan self control untuk memahami dan memaafkan orang. A great man shows his greatness by the way the treats little men. Jika kita menginginkan sesuatu dari seseorang maka penuhi keinginannya. Hargai orang maka orang akan menghargai kita. Menghargai harus penuh dengan apresiasi. Apreciation is not flattery. Apreciation, tulus, dari hati, unselfish, universally admired. Flattery, tidak tulus, from the teeth, ada maunya, universally condemned. Latihlah untuk berikan apresiasi kecil pada setiap orang setiap harinya dengan jujur dan tulus, dan lihatlah kejutannya.
   
You can make more friends in 2 months by becoming interested in other people, than you can in 2 years by trying to get other people interested in you.

    Kuncinya pusatkan perhatian pada orang lain, jangan pada diri kita. Give and take, jangan take and give. Berikan apa yang orang mau, maka kita akan mendapatkan apa yang kita mau. Tetapi jangan berharap apa yang kita mau datang dari orang yang kita berikan, bisa jadi yang kita mendapatkan yang kita mau itu dari orang lain.

    Di bukunya Florence Littauer Personaltiy Plus (saya yakin sudah banyak yang tahu), manusia memiliki empat kepribadian, sanguinis populer, melankolis sempurna, koleris kuat, phlegmatis damai. Dari empat kepribadian ini masing-masing kita memiliki satu kepribadian yang menonjol yang memiliki kekuatan dan kelemahan. Apabila kita bisa mengerti kekuatan dan kelemahan dari setiap orang, maka kita akan bisa saling menghargai dan memahami. Dari sikap saling menghargai dan memahami itu kita akan mampu memiliki ikatan persaudaraan serta interaksi yang kuat.

    Dan masih banyak lagi informasi-informasi penting di dalam seminar ini yang tidak semua bisa saya tuliskan disini. Satu hal yang paling menarik adalah di bagian akhir ketika membahas bukunya Allan Pease dan Dr. John Gray yang telah saya sebutkan tadi. Yang Insya Allah akan saya bahas pada kolom yang berbeda.

    Pada akhirnya semua ini adalah untuk mengenali diri kita sehingga kita juga bisa mengenali orang lain. Dari sini kita bisa membentuk interaksi yang saling mendengarkan dan mempercayai dengan tiga prinsip yang telah saya sebutkan di atas tadi. Bahwa orang akan mendengarkan dan percaya pada kita jika orang suka pada kita, orang respek pada kita, dan ada satu kesamaan yang kita miliki dengan orang itu.

    Saya tidak berani menjanjikan hal yang besar pada Anda, tetapi jika tulisan ini hanya dianggap sebagai pengetahuan saja yang kalau selesai baca Anda mengatakan oooooohhh.....hanya itu, tidak ada actionnya maka pengetahuan ini akan sekedar menjadi pengetahuan saja. Tetapi jika pengetahuan ini ada tindakan selanjutnya maka kalau kata Tung Desem Waringin, “Learn and Action! Miracle Happen...!!”


Tuesday, July 17, 2007

Kisah-kisah Pembawa Berkah

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Haidar Bagir
Kok, Ada Mobil Alergi ice cream?


lni adalah kisah nyata yang terjadi antara pelanggan General Motors dan eksekutif layanan-pelanggan (customer-care executive) General Motors.
Sebuah komplain telah diterima oleh Divisi Pontiac General Motor:
"Ini untuk kedua kalinya saya melayangkan surat kepada Anda, dan saya tidak menyalahkan Anda bila Anda belum juga menjawab saya. Soalnya, saya memang seperti kedengaran konyol, tapi faktanya memang kami sekeluarga punya tradisi suka makan ice cream setelah makan malam (cuci mulut), setiap malam. Tapi jenis ice cream begitu banyak. Setiap malam, setelah kami makan, seluruh keluarga memilih jenis ice cream mana yang harus kita beli dan saya mengendarai mobil ke toko untuk membelinya.
Belakangan saya membeli sebuah mobil Pontiac baru, dan sejak itu perjalanan saya ke toko menimbulkan problem. Anda tahu, setiap kali saya beli ice cream rasa vanilla, ketika saya menstater kembali mobil saya sehabis dari toko itu, mobil saya tak mau jalan. Tapi, jika saya membeli jenis ice cream lain, mobil saya baik-baik saja.
Saya ingin Anda tahu bahwa saya serius
menanyakan hal ini, tak peduli kedengarannya ko nyol :
"Apa yang menyebabkan mobil Pontiac saya tidak jalan ketika saya membeli ice cream rasa vanilla, tapi baik-baik saja setiap kali membeli jenis ice cream lainnya?"
Dapat dimengerti kalau President Pontiac meragukan surat ini, tapi bagaimanapun ia tetap mengirimkan seorang enjiner untuk mengeceknya. Tak dinyana, enjiner itu begitu surprise disambut baik orang itu, seseorang yang sukses dan tentunya berpendidikan baik dalam lingkungan yang baik pula. la berjanji akan menemui orang itu segera setelah waktu makan malam, sehingga mereka pun bisa langsung mengendarai mobil menuju toko ice cream. Malam itu juga ice cream vanilla dibelinya, dan benar saja! Setelah mereka kembali ke mobil, mobil itu tak jalan.
Sang enjiner sampai mengulanginya selama lebih dari 3 malam. Malam pertama, mereka membeli rasa coklat. Mobil mereka baik-baik saja. Malam kedua, mereka membeli rasa strawberry. Mobil pun baik-baik saja. Malam ketiga mereka membeli rasa vanila. Mobil praktis tidak jalan.
Kini, sang enjiner, sebagai makhluk logis, tak mau percaya bahwa mobil orang itu alergi terhadap ice cream rasa vanilla. Karenanya, ia berencana akan tetap mengun­jungi orang itu selama problem belum terpecahkan. Dan untuk mengakhiri problem ini, ia mulai mengambil catatan: ia mencatat seluruh jenis data: waktu pemakaian, jenis gas, waktu jalan dan pulang, dan seterusnya.
Dalam waktu singkat, ia menemukan petunjuk: orang itu membeli rasa vanilla dalam waktu yang lebih cepat. dibanding ketika membeli rasa lainnya. Kenapa?
jawabannya terletak pada tata ruang toko itu. Vanilla, karena rasa yang paling laku, diletakkan di rak bagian depan toko agar bisa cepat diambil. Sementara seluruh rasa lainnya diletakkan di bagian belakang, di sebuah counter yang perlu waktu cukup lebih lama untuk mengambilnya.
Kini, pertanyaan untuk enjiner itu adalah kenapa mobil tidak mau jalan ketika distater kembali dalam waktu yang lebih cepat. Waktu terlalu cepat itulah yang menjadi problem, bukan ice cream rasa vanilla.
Aha! (Eureka!)
Segera sang enjiner mengajukan jawabnya: "Kunci Asap": Ini terjadi setiap malam, tapi waktu yang lebih lama ketika membeli rasa lainnya membuat mesin mobil itu cukup mendingin terlebih dulu untuk distater kembali. Ketika orang itu membeli vanilla, mesin masih terlalu panas bagi kunci asap untuk menghilangkan asap.
Bahkan problem-problem yang kelihatan gila sekalipun terkadang benar-benar nyata, dan seluruh problem baru tampak sederhana ketika kita telah menemukan solusinya dengan kepala dingin.
Ingat :
Jangan sekadar berkata "mustahil" tanpa memberikan upaya serius...
Selidikilah kata "mustahil" itu dengan ekstra hati-hati...Anda pun akan tahu "sisi-sisi kemungkinannya".


TErnyata
Hidup ini Memang Harus Bisa Dilogikakan
http://fireman0410syah.multiply.com/journal/item/22

Doktor Cilik Hafal & Paham Al-Quran

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Dina Y Sulaeman
The Wonderful Profile of Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i
Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Quran


Saat-Saat Menakjubkan di Dalam dan di Luar Negeri

Gedung bergaya Victoria itu berdiri dengan anggun diteduhi oleh pepohonan oak berusia tua. Suasana asri beralaskan rumput hijau dan bermandikan warna-warna pastel yang menghiasi gedung itu pastilah memberikan kesegaran pikiran kepada para siswa dan mahasiswa yang menuntut ilmu di dalamnya. Gedung itu adalah Hijaz College Islamic
University, terletak di jantung wilayah Kerajaan Inggris, sekitar 32 kilometer dari kota Birmingham. Di gedung itulah, pada bulan Februari 1998, seorang lelaki cilik berusia 7 tahun menjalani ujian doktoral. Lelaki cilik itu datang dari sebuah negeri yang sangat jauh, Negeri Persia. Di negerinya sendiri, dia sudah sangat terkenal sejak usianya baru 5 tahun.
Kini di sebuah negeri berperadaban Barat, lelaki cilik itu menjalani
ujian selama 210 menit, dalam 2 kali pertemuan. Ujian yang harus
dilaluinya meliputi 5 bidang : menghafal Al-Quran dan menerjemahkannya
ke dalam bahasa ibu, menerangkan topik ayat Al-Quran, menafsirkan dan
menerangkan ayat Al-Quran dengan menggunakan ayat lainnya dari
Al-Quran, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran, dan
metode menerangkan makna Al-Quran dengan metode isyarat tangan. Di
sela-sela ujian, saat istirahat, dia bermain-main di halaman gedung,
layaknya seorang anak kecil berusia 7 tahun. Seorang doktor, salah
seorang anggota tim penguji, mendatangi lelaki ciliki itu untuk
mengeluhkan kepalanya yang terasa pusing. Si lelaki cilik bermata
bundar dengan bulu mata lentik itu memegang dahinya, membacakan doa,
lalu kembali bermain.
Setelah ujian selesai, tim penguji memberitahukan bahwa nilai yang
berhasil diraih lelaki cilik itu adalah 93. Menurut standar yang
ditetapkan Hijaz College Islamic University, peraih nilai 60-70 akan
diberi sertifikat diploma, 70-80 sarjana kehormatan, 80-90 magister
kehormatan, dan di atas 90 doktor kehormatan. Tepat pada tanggal 19
Februari 1998, lelaki cilik itu pun menerima ijazah Doktor Honoris
Causa dalam bidang "Science of The Retention of The Holy Quran".

Lelaki cilik itu bernama Sayyid Muhammad Husein Tabataba'I (gelar
Sayyid menunjukkan kalau dia keturunan Rasulullah SAW). Husein datang
ke Inggris 2 pekan sebelum akhirnya dia menerima ijazah Doktor Honoris
Causa itu. Selama 2 pekan itu, Husein diundang dalam berbagai acara
Qurani. Situs BBC online memberitakan bahwa sekitar 13.000 Muslim
Inggris datang menemui Husein di Islamic Centre yang berlokasi di
barat laut London. Dalam pertemuan-pertemuan itu, berbagai pertanyaan
diajukan kepadanya. Husein menjawab semuanya dengan lancar. Dia memang
sudah terbiasa dengan forum semacam itu sejak usianya masih 5 tahun.
Biasanya, hadirin akan menyebutkan potongan sebuah ayat dan bertanya,
"Ayat ini dimana letaknya dalam Al-Quran?" Atau, hadirin menyebutkan
makna/arti sebuah ayat dan menanyakan, "Apa bunyi ayat yang saya
maksudkan?". Sebagian yang lain menanyakan pertanyaan sederhana,
misalnya, "Engkau memiliki berapa orang paman?". Husein selalu
menjawab dengan menggunakan ayat Al-Quran sehingga pertanyaan tadi
dijawabnya dengan 2 ayat, "Sudah sampaikan kepadamu kisah Musa" (QS 79
: 15) dan "Muhammad itu adalah utusan Alloh" (QS 48 : 29). Yang
dimaksud Husein, dia memiliki 2 paman, 1 bernama Musa dan 1 lagi
bernama Muhammad.

Acara Penyambutan Sepulang dari Inggris
Setelah kembali dari Inggris, rumah keluarga Tabataba'i ramai
dikunjungi para tamu yang ingin memberikan selamat atas keberhasilan
Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i meraih gelar Doktor Honoris Causa.
Dalam pertemuan itu, lagi-lagi para hadirin menanyakan berbagai hal
kepada Husein. Berikut ini beberapa catatan dari Tanya jawab yang
terjadi pada saat itu.

Tanya (T) : Bagaimana ujian yang kamu lalui (di Inggris?)
Husein (H) : "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS.
Alam Nasyrah : 60
T : Apa tanggapan orang-orang di sana (Inggris) dalam acara-acara Qurani-mu?
H : "Mereka tertawa" (QS. Al-Muthaffifin : 34). [maksud Husein,
orang-orang di Inggris yang menemuinya merasa senang/gembira].
T : Jika kamu ditanya orang, 'buat apa engkau pergi datang ke
Inggris?' Apa jawabanmu?
H : "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu" (QS. Al-Maidah : 67) [yang dmaksud Husein adalah dia ke
inggris untuk menyampaikan ayat-ayat Al-Quran].
T : Engkau belum lulus SD, bagaimana mungkin bisa mendapat gelar Doktor?
H : "Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang
diberikan-Nya kepada mereka" (QS. Ali-Imran : 1700 [maksudnya, semua
itu adalah karunia Alloh].
T : Bagaimana ilmu itu diajarkan?
H : "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami" (QS.
Al-Ankabut : 69) [maksud Husein, bila manusia berusaha mencari dengan
sungguh-sungguh, maka Alloh akan membuka jalan ilmu baginya].
T : Kapan engkau akan menikah?
H : (sambil tersenyum) "Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur
baligh, maka hendaklah mereka meminta izin" (QS. An-Nur : 59) [maksud
Husein dia akan menikah jika umurnya sudah baligh].
T : Jika seseorang mendzalimi dan memukulmu, apa yang kaulakukan?
H : "Dan dalam qishash itu ada hidup bagimu" (QS. Al-Baqarah : 179).
[maksudnya, Husein akan membalas pukulan itu].
T : Apakah kamu pernah marah?
H : "Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatanmu" (QS. Al-Anfal : 46) [maksud Husein, dia
berusaha untuk tidak marah/tidak bertengkar].

Sejak usianya 5 tahun, wajah Husein yang innocent sering menghias
layar televisi Iran, serta tampil di berbagai koran dan majalah.
Foto-fotonya dijual di toko-toko buku, baik dalam bentuk poster atau
stiker. Di televisi, matanya yang bundar dan lebar, khas ras Persia,
selalu menatap kamera televisi dengan penuh percaya diri. Biasanya,
dia tampil mengenakan gamis (baju panjang hingga ke mata kaki) dan
dilapisi abaa (mantel hitam khas para ulama Iran). Dengan gaya bahasa
anak-anak dan sedikit cadel dia menjelaskan hukum-hukum Islam,
misalnya tentang kewajiban sholat. Tangannya pun turut digerakkan ke
udara, untuk memberi penekanan pada kalimat-kalimat tertentu. Secara
fasih dia mengutip ayat-ayat Al-Quran, dan langsung menerjemahkannya
ke dalam bahasa Persia, bahasa nasional Iran. Tata bahasa Persia yang
digunakannya untuk menerjemahkan ayat-ayat itu adalah tata bahasa yang
cenderung sastrawi dan menggunakan rima.
Selain tampil di televisi, Husein juga diundang dalam berbagai
majelis Qurani, baik di dalam maupun di luar negeri. Majelis Qurani
juga secara rutin diselenggarakan di rumah keluarga Tabataba'I setiap
Jumat sore dan orang-orang dari berbagai penjuru Iran berdatangan
untuk menemuinya. Seseorang bertanya kepadanya, "Bagaimana pendapatmu
tentang budaya Barat?". Husein menjawab, "(Mereka) menyia-nyiakan
sholat dan memperturutkan hawa nafsunya." (QS. Maryam : 59). Ada lagi
yang berkata, "Coba sebutkan ayat mengenai dirimu sendiri." Husein
menjawab, "Sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak
dapat melihat" (QS. Al-Anfal : 48) [sambungan ayat ini :
"sesungguhnynya aku takut kepada Alloh"; yang dimaksud Husein adalah :
dia "melihat" Alloh dan dia takut pada-Nya].
Kemampuan Husein yang menakjubkan dalam menguasai ayat-ayat Al-Quran
membuat para hadirin di majelis-majelis Qurani terkagum-kagum. Dalam
sebuah majelis Qurani di sebuah masjid di London, para hadirin bahkan
berbaris panjang dan bergiliran menyalami tangan Husein dan
menciumnya. Sepulang dari Inggris, Husein ditanya orang, "Apa
tanggapan orang-orang di sana (Inggris)? Husein menjawab, "Mereka
tertawa (QS.A-Muthaffifin : 34)". [maksud Husein, orang-orang di
Inggris yang menemuinya itu merasa senang dan gembira].

Biarpun Doktor Tapi Tetap Anak Kecil
Meski sudah meraih gelar Doktor Honoris Causa, sifat-sifat anak kecil
masih tetap melekat dalam dirinya. Dalam kunjungannya ke Mekkah, dalam
sebuah majelis Qurani, Husein tertarik pada kabel mkrofon yang ada di
hadapannya. Dia berulang-ulang menarik-narik kabel itu dan akhirnya
mencopotnya hingga terlepas. Di lain kesempatan, dia menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari para hadirin sambil memainkan
mobil-mobilannya. Saat bermain bersama saudara-saudaranya pun, Husein
cilik juga menggumamkan ayat-ayat Al-Quran. Ketika menaiki
mobil-mobilannya, ia berkata, Mereka (duduk) di atas dipan-dipan
sambil memandang". (QS. Al-Muthaffifin : 23).
Husein mengaku, di tengah keluarganya, dia tidak diperlakukan
istimewa. Ketika ditanya, "Jika engkau berbuat kesalahan, apa sikap
ayahmu?". Husein menjawab, "Barang siapa yang mengerjakan keburukan,
niscaya akan diberi pembalasan dengan setimpal." (QS. An-Nisa : 123).
Seseorang juga pernah bertanya kepadanya, "Apa perbedaan antara engkau
dan saudara-saudaramu?". Husein menjawab, "Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun di antara mereka". (QS. Al-Baqarah : 136).
Husein terkadang juga bertengkar dengan saudara-saudaranya. Uniknya,
saat bertengkar pun, Husein mengucapkan ayat-ayat Al-Quran. Ketika
saudara laki-lakinya berusaha memukulnya, Husein segera berteriak
"Selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah
aku dari kaum yang dzalim". (QS. At-Tahrim : 11). Kejadian yang sama
pernah terulang, ketika saudara perempuannya juga hendak memukulnya.
Husein melarikan diri dari kejaran saudarinya itu, lalu terjatuh ke
lantai. Dia berteriak "Wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari
belakang". (QS. Yusuf : 25).
Namun, Husein kecil sudah mengerti masalah hijab. Suatu hari, dia dan
keluarganya diundang makan malam oleh sebuah keluarga. Dalam kebiasaan
sebagian orang Iran, acara jamuan makan malam dilakukan secara
terpisah antara laki-laki dan perempuan. Para bapak akan berkumpul di
satu ruangan, dan para ibu akan berkumpul di ruangan lain. Ketika
bosan duduk di ruangan bersama para bapak, Husein pun keluar ruangan
dan melihat-lihat ruangan lain di rumah itu. Tuan rumah
mempersilakannya masuk ke ruangan para ibu. Husein pun masuk sebentar
lalu segera keluar lagi dengan wajah kesal. Dia berkata kepada tuan
rumah, "Katakan kepada para perempuan itu agar menjaga hijab mereka."
Suatu hari, dalam sebuah jamuan makan, adik Husein, Baqir, nyeletuk,
"Aku ingin jadi pemimpin para ulama". Tak lama kemudian, Baqir
menyelonjorkan kakinya dan tanpa sengaja menendang piring buah (jamuan
makan dilaksanakan di atas karpet bukan di meja makan). Husein
menegur, "Kalau kamu ingin jadi pemimpin ulama, mengapa kamu tending
piring ini?"
Ayah Husein bertanya dengan bergurau, "Kamu kan sudah belajar fiqih
sedikit. Nah, apa hukumnya menendang piring?" Husein menjawab dengan
gurauan pula, "Tidak ada hukumnya, kan dia belum baligh" .
Masalah baligh ini pun sempat menjadi perdebatan antara Husein dan
seseorang ketika dia diundang ke Suriah. Seorang ibu merasa gemas pada
Husein kecil dan dia mendatangi Husein untuk menciumnya. Husein
berkata, "Jangan pegang aku." Tapi si ibu tetap mendekati Husein dan
menciumnya. Husein terlihat kesal. Seseorang berkata, "Tidak apa-apa,
kamu kan belum baligh, tidak apa-apa dicium perempuan bukan muhrim".
Husein menjawab, "Saya belum baligh, tapi kan dia sudah!".
Masih tentang masalah baligh. Suatu hari Husein dan ayahnya diundang
ke rumah seorang pejabat tinggi di sebuah Negara Teluk. Di
tengah-tengah percakapan di antara para hadirin laki-laki, tuan rumah
mempersilakan Husein pergi ke ruangan tempat para hadirin perempuan.
Husein pergi sebentar ke sana dan kembali lagi. Tuan rumah bertanya,
"Bagaiamana, engkau sudah melihat mereka (hadirin perempuan)?". Husein
menjawab, "Saya ke sana, tapi tidak melihat mereka [maksud Husein, dia
menundukkan pandangannya]". Tuan rumah kembali bertanya, "Apa engkau
mau kupilihkan seorang perempuan cantik di antara mereka untuk menjadi
istrimu?" Husein menjawab cerdas, "Ketika aku mencapai usia baligh,
mereka sudah menjadi perempuan-perempuan tua yang telah terhenti, yang
tiada ingin kawin". (QS. AN-Nur : 60). Husein berkali-kali ditanya
orang, mana yang lebih ia sayangi, ibu atau ayahnya. Sambilm melirik
ayahnya, dia pernah menjawab, "Tidak masuk kepada golongan ini dan
tidak kepada golongan itu". (QS. An-Nisa : 143). Maksudnya, dia tidak
condong kepada ayahnya, tidak pula kepada ibunya, baginya keduanya
sama-sama dicintainya. Namun di lain kesempatan, Husein pernah
menjawab, "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun (QS. Luqman : 14).
Maksud Husein, dia lebih menyayangi ibunya.



Kunjungan ke Arab Saudi
Di Arab Saudi, selain menunaikan ibadah haji, Sayyid Muhammad Husein
Tabataba'i juga diundang hadir ke berbagai acara Qurani. Dalam
pertemuan dengan para qari Al-Quran asal Libanon, Husein diuji dengan
berbagai pertanyaan, di antaranya, "Apa pendapatmu tentang ulama?".
Husein menjawab, "Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara
hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir : 28). Husein ditanya
lagi, "Jika engkau memiliki pertanyaan ilmiah, kepada siapa engkau
akan bertanya?". Husein menjawab, "Maka tanyakanlah olehmu kepada
orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Anbiya
: 7). Selanjutnya, berikut ini sebagian Tanya jawab yang terjadi pada
saat itu :
Tanya (T) : Apa pakaian yang kau sukai?
Husein (H) : "Pakaian takwa itulah yang paling baik (QS. Al-A'raf : 26)
T : Apa hadiah terbaik dari ayah kepada anaknya?
H : "Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama"
(QS. At-Taubah : 122) [maksud Husein, seorang ayah haruslah mendidik
anaknya di bidang agama sebaik mungkin].
T : Jika ayahmu marah, apa yang dia lakukan?
H : "Apabila mereka marah, mereka memberi maaf". (QS. Asy-Syura : 37)
T : Apakah engkau bersikap baik kepada ayah-ibumu?
H : "Kami Perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua
orang ibu bapaknya". (QS. Al-Ahqaf : 15)
Suatu saat, Husein diundang makan malam oleh keluarga Kerajaan Arab
Saudi di sitana saudara Raja Fahd. Ketika memasuki istana yang sangat
megah itu, Husein berkali-kali berkomentar dengan menggunakan
ayat-ayat Al-Quran. "Kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu
naik ke langit". (QS. Al-Isra : 93), kata Husein. Ketika Husein
menatap sedemikian banyak makanan yang tersaji di atas meja makan, dia
berkata, "Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan oleh
hati dan sedap mata" (QS. Az-Zukhruf : 71). Dalam jamuan makan itu,
beberapa ulama juga diundang hadir. Husein dengan polos berkata kepada
para ulama tersebut, "Bertakwalah kepada Alloh" (QS. Al-BAqarah :
282). Salah seorang ulama yang hadir, bernama Abdurrahman, menjawab,
"Dia menasihati kita. Menurut saya, sudah menjadi kehendak Alloh bahwa
kita dinasihati Allah melalui lidah anak ini."


Ketika Si Doktor Cilik itu Sudah Berusia 16 Tahun
Saat ini, Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i sudah berusia 16 tahun.
Dia kini sedang menuntut ilmu agama di hawzah (semacam institut agama
Islam negeri) di tingkat 8 (artinya setara dengan tahun akhir S1, bila
Husein lulus tingkat 8, dia berhak mendapatkan ijazah sarjana).
Pada tanggal 5 Oktober 2006 lalu, harian terkemuka Iran, Kayhan,
menurunkan wawancara eksklusif dengan Sayyid Muhammad Husein
Tabataba'i. Berikut petikan wawancaranya :
Kayhan (K) : Dimana engkau selama ini?
Husein (H) : Saya tidak kemana-aman, saya di sini, sibuk dengan pelajaran saya.
K : Sekarang, jika orang melihatmu di jalan, apa mereka mengenalimu?
H : Tidak, karena mereka ingat wajah saya ketika berusia 5-6 tahun.
Menurut saya, begini lebih baik. Ada yang bilang, "Dalam
ketidakterkenalan ada kenyamanan".
K : Sekarang, apa yang sedang engkau pelajari?
H : Saya tidak membatasi diri pada pelajaran tertentu, namun saya
lebih tertarik mempelajari buku-buku tentang akhlak dan agama.
K : Mengapa engkau tidak lagi muncul di televisi?
H : Sejak beberapa waktu lalu, program pelajaran saya semakin padat
dan saya sedikit sekali mempunyai waktu untuk kegiatan lain.
K : Selama ini apakah engkau juga pernah mengajar?
H : Ya, saya pernah menjadi pengajar juga.
K : Metode penghafalan Al-Quran yang muncul saat engkau kecil dulu
(metode isyarat), apakah saat ini cukup berkembang di masyarakat?
H : Prinsip menghafal Al-Quran sejak zaman dahulu hingga sekarang
tidak ada perubahan, yaitu dengan membaca dan mengulang, dengan
mendengar, atau dengan menulis. Namun metode atau cara mengajarkan di
kelas, akan terus mengalami perkembangan. Metode baru ini (metode
isyarat) Alhamdulillah sangat efektif. Dengan penuh penghormatan
kepada metode lama, saya menyambut segala bentuk metode baru.
K : Sebagian orang meyakini bahwa engkau di masa kecil tertekan
karena pada saat engkau seharusnya menikmati masa kecil malah
diharuskan mempelajari Al-Quran.
H : Ya, banyak yang mengira demikian, namun sama sekali tidak benar.
Saya cukup menikmati masa kecil saya. Saya masih ingat, dalam sebuah
majelis Qurani yang dihadiri kaum perempuan, saya menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka sambil bermain mobil-mobilan. Pada usia 8
tahun, saya dan teman-teman (mereka jumlahnya 50 orang) pergi kemping.
Pagi-pagi, setelah sholat Subuh, mereka smeua tidur dan saya mencoreng
muka mereka dengan arang. Ke-50 teman saya itu tidak tahu sampai
sekarang siapa yang membuat wajah mereka hitam (tersenyum).
K : Selama ini mengapa engkau menjauh dari masyarakat?
H : Saya tidak tahu apa yang Anda maksudkan dengan 'menjauh'. Saya
selalu berada di tengah masyarakat dan sering hadir dalam berbagai
acara Qurani di berbagai kota.
K : Apa definisi Al-Quran bagi seorang remaja?
H : Saya pikir, pandangan seorang remaja terhadap Al-Quran haruslah
seperti pandangannya terhadap minyak wangi. Ketika kita keluar rumah,
tentu kita selalu ingin wangi dan menggunakan minyak wangi. Kita juga
harus berusaha mengharumkan jiwa dengan membaca dan menghayati
AL-Quran. Seorang remaja harus menyimpan Al-Quran di dadanya supaya
sedikit demi sedikit perilaku dan pembicaraannya dipengaruhi oleh
Al-Quran.
K : Menurutmu, untuk mencapai hal seperti ini (pengenalan yang baik
terhadap Al-Quran di kalangan remaja), apa yang sudah dilakukan
(pemerintah/masyarakat)?
H : Menurut saya, hingga kini belum dilakukan langkah yang mendasar
terkait dengan Al-Quran, hanya terfokus pada kegiatan-kegiatan klise.
Saya tidak mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah
dilakukan tidak baik, namun tidak cukup. Selama Al-Quran tidak menjadi
prioritas utama pemerintah dan masyarakat, AL-Quran tidak akan
bersemayam di hati para remaja. Kita berkewajiban menggunakan segala
fasilitas untuk memperkenalkan hakikat Al-Quran dan penerapannya dalam
kehidupan kepada masyarakat. Di antara fasilitas yang sangat
berpengaruh adalah melalui film dan telebisi. Namun, hal ini jangan
dilakukan hanya terbatas pada bulan Ramadhan saja. Salah satu tanda
akhir zaman adalah orang-orang tidak lagi beribadah kepada Alloh
selain di bulan Ramadhan.
K : Bukankah kita sudah memiliki stasiun radio Qurani dan satu
channel khusus Al-Quran?
H : Ya, saya pikir, salah satu berkah dari pemerintahan Islam adalah
berdirinya radio dan televisi Qurani ini. Namun, tidak berarti
channel-channel televisi dan stasiun radio yang lain tidak punya
kewajiban dalam memasyarakatkan Al-Quran, terutama channel 3 yang
dikhususkan untuk para muda.
K : Bagaimana dengan internet?
H : Internet memiliki sebuah "bahasa bersama" di dunia, karenanya,
internet merupakan sebuah jembatan komunikasi yang sangat tepat untuk
menyebarluaskan pemahaman agama. Kita juga harus memanfaatkan
fasilitas yang sangat kuat ini dengan semaksimal mungkin.
K : Bagaimana kalau saya mengajukan pertanyaan 1 kata?
H : Silakan
K : Sedih?
H : Orang yang selalu bersama Al-Quran tidak akan pernah merasa sedih.
K : Hawa nafsu?
H : Kita harus berhati-hati menghadapinya, terutama nafsu amarah.
K : Kematian?
H : Jembatan yang akan mengantarkan manusia baik ke surga
K : Dosa?
H : Api yang kalau pun hanya didekati saja, panasnya sudah sangat terasa
K : Pencerahan agama?
H : Kebangkitan agama
K : RAM215?
H : Salah satu bagian dari hardware computer
K : Saya tidak sangka engkau mengetahuinya
H : Oya?!
K : Internet?
H : Fasilitas terbaik untuk menyebarluaskan Islam
K : Menunggu?
H : Kerja dan aktivitas
K : Syahid?
H : Lilin
K : CInta?
H : Hati orang mukmin
K : Energi nuklir?
H : Hak semua bangsa
K : Olah raga?
H : Perlu bagi semua orang
K : Menonton sepakbola atau bermain?
H : Keduanya, saya menonton dan bermain sepakbola
K : Parameter kehidupan?
H : Rasulullah Sholalloohu 'Alayhi Wa Salam
K : Musik?
H : Saya mendengarkannya (sambil tertawa), tentu saja musik yang
terkait dengan Al-Quran.
K : Syair (puisi)?
H : Saya membacanya, tapi tidak terlalu
K : Gulestan-e Sa'di (buku syair karya penyair sufi Iran, Sa'di Shirazi)?
K : Kitab ketiga yang saya hafal (kitab pertama : Al-Quran).
K : Buku terakhir yang dibaca?
H : Akhlak dalam Al-Quran, karya Ayatullah Makarim Shirazi
K : Apa perbedaan antara Sayyid Muhammad Husein 10 tahun yang lalu
dengan hari ini?
H : Semakin banyak saya membaca dan semakin jauh saya berjalan, saya
semakin menemukan bahwa saya semakin "miskin" dan semakin
"membutuhkan".
K : Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus 'ahaa (Alloh tidak akan
Membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya—Qs. Al-Baqarah
: 286).
H : Menurut saya, untuk mencapai tujuan dan kemajuan, kita harus
memandang bahwa kewajiban kita lebih besar daripada kemampuan yang
kita miliki).

Tumbuh Besar di Tengah Lantunan Al-Quran
Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i terlahir ke dunia pada tanggal 16
Februari 1991di kota Qom, sekitar 135 kilometer dari Teheran, ibukota
Iran. Husein adalah anak ketiga dari 6 bersaudara. Orangtua Husein
menikah ketika mereka masing-masing berusia 17 tahun dan setelah
menikah keduanya bersama-sama berusaha menghafal AL-Quran. Tekad itu
akhirnya tercapai 6 tahun kemudian, ketika mereka berhasil menghafal
30 juz Al-Quran. Dalam proses menghafal Al-Quran itu, kedua orangtua
Husein membentuk kelompok khusus penghafalan AL-Quran. Dalam kelompok
itu, secara teratur dan terprogram, orangtua Husein dan rekan-rekan
mereka yang juga berkeinginan untuk menghafal Al-Quran bersama-sama
mengulang hafalan, mengevaluasi, dan menambah hafalan. Orangtua Husein
juga mendirikan kelas-kelas pelajaran Al-Quran yang diikuti oleh para
pecinta Al-Quran.
Seiring dengan kegiatan belajar dan mengajar Al-Quran orangtuanya
itulah, Husein dan saudara-saudarinya tumbuh besar. Husein pun sejak
kecil selalu diajak ibunya untuk menghadiri kelas-kelas Al-Quran.
Meskipun di kelas-kelas itu Husein hanya duduk mendengarkan, namun
ternyata dia menyerap isi pelajaran. Pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein
sudah menghafal juz ke-30 (juz'amma) secara otodidak, hasil dari
rutinitasnya mengikuti aktivitas ibunya yang menjadi penghafal dan
pengajar Al-Quran, serta aktivitas kakak-kakaknya dalam
mengulang-ulang hafalan mereka. Melihat bakat istimewa Husein, ayahnya
(Sayyid Muhammad Mahdi Tabataba'i) pun secara serius mengajarkan
hafalan Quran juz ke-29. Dalam proses belajar, ayah Husein biasa
memberikan hadiah sebagai pembangkit semangat, misalnya, "Jika kamu
berhasil menghafal surat ini, ayah akan memberimu hadiah."
Setelah Husein berhasil menghafal juz ke-29, dia mulai diajari
hafalan juz pertama oleh ayahnya. Awalnya, ayahnya menggunakan metode
biasa, yaitu dengan membacakan ayat-ayat yang harus dihafal, biasanya
setengah halaman dalam sehari dan setiap pecan, jumlah hafalan pun
ditingkatkan. Namun, tak lama kemudian, ayah Husein menyadari bahwa
metode seperti ini memiliki 2 persoalan. Pertama, ketidakmampuan
Husein Tabataba'i untuk membaca Al-Quran, membuatnya sangat tergantung
kepada ayahnya dalam usaha mengulang-ulang ayat-ayat yang sudah
dihafal. Kedua, metode penghafalan Al-Quran secara konvensional ini
sangat 'kering' dan tidak cocok bagi psikologis anak usia balita.
Selain itu, Husein tidak bisa memahami dengan baik makna ayat-ayat
yang dihafalkannya karena banyak konsep-konsep yang abstrak, yang
sulit dipahami anak balita.
Untuk menyelesaikan persoalan pertama, Husein pun mulai diajari
membaca Al-Quran, agar dia bisa mengecek sendiri hafalannya. Untuk
menyelesaikan persoalan kedua, ayah Husein menciptakan metode sendiri
untuk mengajarkan makna ayat-ayat Al-Quran, yaitu dengan menggunakan
isyarat tangan. Misalnya, kata Alloh, tangan menunjuk ke atas, kata
yuhibbu (mencintai), tangan seperti memeluk sesuatu, kata sulh
(berdamai), dua tangan saling berpegangan. Ayah Husein biasanya akan
menceritakan makna suatu ayat secara keseluruhan dengan bahasa
sederhana kepada Husein kemudian dia akan mengucapkan ayat itu sambil
melakukan gerakan-gerakan tangan yang mengisyaratkan makna ayat.
Metode isyarat ini ternyata semakin hari, semakin menarik perhatian
Husein. Setelah beberapa waktu berlalu, Husein semakin lancar memahami
makna isyarat tangan yang diperagakan ayahnya. Setiap kali ayahnya
membuat isyarat dengan tangan atau suatu ayat, Husein dengan cepat
mengucapkan ayat yang dimaksudkan ayahnya itu. Metode ini sedemikian
berpengaruhnya pada kemajuan Husein dalam menguasai ayat-ayat
Al-Quran, sehingga dengan mudah dia mampu menerjemahkan ayat-ayat itu
ke dalam bahasa Persia (bahasa sehari-hari orang Iran) dan mampu
menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari.
Ayahanda Husein menceritakan, "Sebelum kelahiran Muhammad Husein,
saya dan ibunya bertekad untuk menghafal Al-Quran bersama-sama. Selama
hamil dan menyusui, ibunya dalam sehari membaca minimal 1 juz
Al-Quran". Para ahli psikologi juga menyatakan bahwa jika pada masa
kehamilan ibu memperdengarkan musik atau membacakan buku, akan memberi
pengaruh positif bagi anak. Tentu saja membacakan Al-Quran kepada bayi
pasti akan memberikan pengaruh positif yang lebih besar lagi mengingat
bahwa Al-Quran adalah kalam Ilahi dan petunjuk hidup yang paling
sempurna.
Ayahanda Husein mengenang, "Suatu saat, beberapa dokter datang ke
rumah kami untuk menemui Husein. Mereka mengatakan, 'Menurut teori,
bayi dalam perut ibu sejak 5 bulan sudah bisa mendengarkan suara ibu.
Karena itu jika ibu dalam masa kehamilan dan menyusui secara teratur
membacakan hal-hal khusus kepada anak, misalnya ayat Al-Quran, syair,
atau lagu, maka ketika anak itu mencapai usia belajr, dia akan mampu
mempelajari hal-hal yang didengarnya di waktu janin/bayi itu beberapa
kali lebih cepat daripada anak lainnya. Kami meyakini, cepatnya
kemampuan anak Anda dalam mempelajari Al-Quran adalah pengaruh dari
kegiatan ibunya membacakan Al-Quran ketika masa kehamilan'.
Ketika ditanyakan kepadanya apakah Husein anak yang sitimewa,
ayahanda Husein menjawab, "Setiap anak bisa saja dididik untuk
memiliki kemampuan seperti Husein. Namun, tentu saja, pra-kondisi dan
kondisinya haruslah lengkap. Misalnya, sebagaimana pernah saya
ceritakan, sejak sebelum masa kehamilan saya dan ibunda Husein sudah
mulai menghafalkan Al-Quran. Selama masa kehamilan dan menyusui,
ibunda Husein juga teratur membacakan Al-Quran untuk Husein. Begitu
pula, sejak kecil, Husein sudah dibesarkan dalam lingkungan yang cinta
Al-Quran. Selain itu, keberadaan seorang guru yang menguasai Al-Quran
dan tafsirnya, serta penuh kasih sayang, juga berperan dalam
mengembangkan kemampuan seorang anak di bidang Al-Quran. Sangat
mungkin banyak anak-anak lain yang sebenarnya memiliki kemampuan
seperti Husein, namun karena ketiadaan guru yang baik, potensinya
terabaikan begitu saja."
Pada kesempatan lain, ayahanda Husein pernah mengatakan, "Bila
orangtua menginginkan anaknya menjadi pecinta Al-Quran dan lebih lagi,
menghafal Al-Quran, langkah pertama yang harus dilakukan adalah, si
orangtua terlebih dahulu juga mencintai Al-Quran dan rajin membaca
Al-Quran di rumah. Husein sejak matanya bisa menatap dunia, telah
melihat Al-Quran, mendengarkan suara bacaan Al-Quran, dan akhirnya
menjadi akarab dengan Al-Quran."

Penuturan Ibunda Husein
Ibunda Husein pernah menuturkan sebagai berikut, "Selama masa
kehamilan, saya selalu berdoa kepada Alloh agar dikaruniai anak yang
saleh dan pintar. Ketika Husein lahir, saya selalu berwudhu dulu
sebelum menyusuinya. Saya juga sangat rajin pergi ke masjid dan
membaca Al-Quran. Pendidikan anak harus dilakukan jauh sebelum anak
lahir, dengan cara mencari pasangan yang berasal dari keturunan yang
baik. Saya selama hamil selalu berusaha menghafal, membaca, dan
memahami Al-Quran. Ketika saya sedang menyusuinya, saya juga selalu
membacakan Al-Quran untuknya. Saya juga mengajaknya ke kelas-kelas
Al-Quran dimana saya menjadi pengajarnya. Saya meyakini bahwa semua
kegiatan saya yang terkait dengan Al-Quran telah memberi pengaruh
besar kepada Husein. Selain itu, saya juga menjauhi acara-acara yang
diisi dengan musik tidak islami, bercampur baur antara laki-laki dan
perempuan, atau berbagai bentuk perilaku tidak islami lainnya.
Perilaku-perilaku yang tidak islami akan mengeraskan hati kita."


Disarikan sari buku "The Wonderful Profile of Husein Tabataba'i-Doktor
Cilik Hafal dan Paham Al-Quran" , Dina Y. Sulaeman. Pustaka Iman, 2007


Sunday, July 15, 2007

Kenangan di Salam UI 3


Arya Sandiyudha dan Bagus

Acara Salam Press
SPACE (Palestina Center)
dan ada tamu dari Amerika

Kenangan di Salam UI 2


biar nyeker juga yang penting olah raga

Acara Reksal
Workhsop Fotografi
PMB UI

Kenangan di Salam UI 1


jagoan kastrat (Bagus) sedang menunjukkan buku yang diterbitkan salam press

Acara Salam Press
Acara Reksal
Tamu dari London
dan Tamu dari LDK UPN

Friday, July 13, 2007

Woii Masa Depan masih panjang...

Jaraknya masih 1 kilometer, lampu sen mobil itu tidak menyala tetapi terlihat ingin menyalip dari jalur paling kiri. Saya beri sinyal dengan memainkan lampu jauh. Di jalan tol Serpong malam itu, saya tetap waspada. Bapak hanya menatap. Ibu mengesankan keresahan. Sepupu saya memberi peringatan awas. Adik saya malah berteriak kegirangan, seru katanya tetapi malah menambah kegelisahan seisi mobil. Mobil yang saya kendarai dengan kecepatan hampir 150km/jam akhirnya masih bisa saya kendalikan. Ternyata mobil itu benar-benar menyalip dan baru memberi lampu sen ke kanan setelah roda depannya benar-benar masuk ke jalur paling kanan. Herannya mobil itu menyalip dengan kecepatan rendah, tidak seperti mobil-mobil yang lain yang akan menyalip ke jalur kanan. Mobil yang saya kendarai akhirnya dalam hitungan detik menurunkan kecepatannya. Bahkan hampir menabrak, hanya berjarak kurang lebih setengah meter saja. Tiba-tiba dari bangku paling belakang kakak saya berteriak, ”Masa depan masih panjang woii...” dengan marahnya dia berucap.

Dia yang paling resah sejak tadi, tetapi saya acuhkan supaya pulang tidak larut malam dan memang tabiat saya yang masih belum bisa berubah untuk menurunkan kecepatan mobil saat berkendaraan apalagi jalan tol terlihat lowong. Saya hanya tersenyum kecut mendengarnya. Bahkan hati saya tertawa. Tidak saya ladeni ucapannya. Saya akui saya salah dalam berkendara. Harus diakui pula itu hal yang tak terduga. Tetapi hal yang ingin saya bahas disini tentang teriakan kakak saya itu.

Saya yakin dia akan ingat betul kata-katanya itu, dan saya akan ingat dengan kuat pula kata-katanya itu, untuk senjata makan tuan. Apalagi, bicara masa depan berarti bicara kematian. Itu hal yang paling dekat. Dalam hati saya berpikir apa bedanya mati di masa depan nanti dengan mati sekarang. Sekali lagi, saya akui saya salah. Artinya kalau saya mati dalam kecelakaan, mati konyol namanya. Tetapi takdir siapa yang duga? Saya pulang pergi kemanapun setiap harinya mengendarai motor dengan kecepatan rata-rata hampir 100 km/jam dan saya bersyukur tidak terjadi apa-apa. Kecelakaan motor yang saya alami selalu berada di bawah 60 km/jam. Jadi ketika berkendara pelan malah sering terjadi kecelakaan. Bukan berarti saya meminta kepada Tuhan untuk mendapat kecelakaan motor ketika saya berada di 100 km/jam. Tetapi kematian, Tuhan yang menentukan. Bukan juga saya menganggap bahwa dengan kematian sudah ditentukan waktunya kemudian saya seenaknya saja bermain dengan nyawa saya sendiri, tentu bukan. Kalau kata teman saya, ”Orang ini mendesain kematiannya di atas motornya sendiri”. Heh... saya hanya tertawa mendengar ucapannya itu tetapi saya suka.

Jadi sebenarnya yang mau saya bicarakan adalah ketika orang hanya bicara kematian pada keadaan yang berbahaya saja. Tetapi ketika keadaan aman, nyaman, atau sehat, seakan-akan kematian itu berada jauh di balik bumi sana, tau dimana.

Kakak saya ini tidak lama baru sembuh dari paru-paru basah. Satu tahun mengalami perawatan sampai dianggap sembuh total oleh dokter. Sukanya mandi malem, kena kipas, kalau malem susah disuruh makan, dan suka tidur di lantai padahal tempat tidurnya lebih rapi dari saya. Sehari setelah kejadian di tol itu, dia masih juga suka tidur di lantai. Biasanya saya mendorong-dorongnya dengan kaki sampai dia bangun dan tertidur lagi di lantai. Tetapi kali ini tidak. Saya sudah punya senjata ampuh. Nah ini yang saya maksud senjata makan tuan. Baru saja dia merebahkan badannya di lantai, saya langsung berteriak ”Woii masa depan masih panjang... apa bedanya mati sekarang dengan mati pelan-pelan gara-gara tidur di lantai?”

Seperti yang saya duga, dia masih ingat dengan kata-katanya itu. Merasa serba salah, dia kembali terbangun. Rasa kantuknya sangat kuat. Tetapi perasaan bersalahnya lebih kuat lagi. Dan pembenarannya akan kata-kata tadi membuat dia menguatkan diri untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar ke atas tempat tidur. Bahkan di malam selanjutnya pun dia tidak berani lagi tidur di lantai, kalau pun malas ke kamar dia akan tidur di atas kursi di ruang tamu. Maklum kamarnya di lantai atas, bersebelahan dengan kamar saya.

Masa depan dan kematian merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalau kata teman saya ketika saya tanyakan bagaimana caranya mendapat surga dan ridha Tuhan, ya dengan bekerja seolah akan hidup selamanya dan beribadah seolah akan mati besok. Kalau Anda memahami betul kata-kata ini maka kombinasi antara bekerja dan beribadah benar-benar akan menggairahkan hidup Anda. Saya jamin itu, tentu dengan tujuan yang tadi, untuk mendapat surga dan ridhanya Tuhan. Tetapi saya pikir kenapa beribadah seolah besok akan mati. Kalau bekerja seolah akan hidup selamanya, saya setuju. Kita harus punya target-target hidup yang dahsyat, kalau perlu keluar dari cara pandang berpikir kebanyakan orang, penuh imajinasi, atau irasional sekalipun, maka otak bawah sadar kita yang berperan 88 % mengendalikan tubuh kita akan membawa kita mencapai target-target tersebut, dibanding dengan targetan yang standar atau masuk akal yang hanya bisa dimengerti oleh otak sadar kita yang hanya berperan 12 % dalam mengendalikan diri kita. Jadi kita akan bekerja dengan penuh semangat, penuh gairah, dan kita bisa mempunyai 1001 rencana untuk menggapai impian. Sedang beribadah, jangan berpikir seolah matinya besok. Karena ini yang membuat orang-orang, kalau kata Humas FUSI, ”Sholat kok injury Time?” Sholat kok tidak tepat waktu, sholat kok di akhir waktu. Ya karena cara berpikir tadi, masih sempet kok, kan matinya besok.

Ketika saya menyadari hal ini, saya pikir ini cara berpikir orang lalai, yang insya Allah akan masuk kategori orang-orang lalai dalam surat Al-Ma’un ayat 4-5, ” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”. Maka apabila kematian telah menjadi teman sehari-hari kita, kita akan menjadi powerfull dalam ibadah, Insya Allah.

Lucunya seringkali kita masih mengelak. Untuk sholat ajalah, tidak usah bicara yang lain.

”Nanti aja sholat di rumah..”

”Tanggung nih tugas belum selesai..”

”Kan Isya masih lama, jadi selesaikan aja dulu rapatnya....”

”Itu dia, padahal sudah dibangunkan sama jam weker, tapi malah tidur lagi sehabis mematikan jam weker. Jadi telat deh sholat subuhnya...”

Ketika saya beri komentar, ”Nanti kalau keburu mati bagaimana?” Maka dengan cepat mereka menjawab dengan menatap, ”Serem amat ngomongnya...”

Ya memang seperti itu. Kematian lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Ketika kita menunda-menunda maka siapa yang tahu satu detik lagi kita akan mati?

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang zalim yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 44, ” Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim (termasuk zalm terhadap diri sendiri-red) : "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." (Kepada mereka dikatadakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa (mati-red) ? dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan." ”

Ada komentar dari orang yang merasa kehilangan, ”Baru semalem melihat Taufik Safalas di TV, tapi pagi ini sudah meninggal.”

So what gitu lho....itu takdir. Tidak semua kematian perlu proses tua, tidak semua kematian perlu proses sakit dan dirawat dulu. Ingat, kematian itu lebih dekat dari urat nadi kita, bisa jadi satu detik lagi kita akan mati. Dan saya yakin Anda pasti punya cerita lebih seru lagi tentang kematian selain cerita Taufik Safalas tadi.

Jadi kalau perlu diubah, beribadahlah seolah satu detik lagi akan mati. Maka kita akan selalu bergegas dalam ibadah, bergairah dan semangat dalam beribadah, dan setan akan gerah melihat kita.

Apakah Anda tahu setelah kematian ada apa? Pasti tahulah. Ya masa depan tadi. Masa depan bukannya hanya berbicara dalam konteks dunia saja tok. Harus memandang akhiratnya juga. Mau kaya di dunia untuk apa diakhiratnya. Mau sukses di dunia juga harus dipikirkan untuk apa diakhiratnya. Jadi ketika kita paham betul kematian sangatlah dekat dengan kita, maka siapkanlah segalanya kalau-kalau ANDA MATI SETELAH MEMBACA TULISAN INI. Siapkanlah Bapak dan Ibu Anda kalau Anda mati bagaimana. Siapkanlah Istri Anda kalau Anda mati bagaimana. Nah, ini yang paling penting, siapkanlah anak Anda kalau Anda mati bagaimana. Rasanya enak kalau masih belum punya anak, belum punya beban untuk menghidupi anak, apalagi kalau kita mati maka kita tidak terasa berat karena tidak punya tanggungan. Tetapi bisa jadi lebih enak kalau sudah punya anak. Karena kalau kita mati dan kita sudah berhasil menyiapkan anak kita menjadi anak yang saleh, maka tidak ada yang masih mengalir kebaikan dalam diri kita setelah mati kecuali tiga hal, salah satunya adalah doa anak yang saleh.

Mudah-mudahan kita mati dalam khusnul khotimah. Amin ya Rabbal alamin. Dan untuk mengenal lebih jauh tentang kematian dan misterinya, saya referensikan buku ini, ringan dibaca tetapi tetap bergizi. (kalau memang Anda ilfeel sama wajahnya ambil saja ilmunya maka Anda tidak akan rugi dua kali)

Ibnu Alwi
(terima kasih untuk seorang kawan
yang mengingatkan saya untuk melakukan setiap apa yang saya katakan)







  


Ketika tubuhmu Kaku

ketika tubuhmu kaku
membeku
dan membisu
apakah kamu tahu
semua terharu
tapi tak ada gunanya
kecuali ilmumu yang bermanfaat
hartamu yang diamalkan
dan doa anakmu yang saleh

siapkan kematianmu
tuliskan namamu di beranda mayit
hidupkan hatimu dengan masa depanmu
hadirkan surga dan neraka di depan mata mu

 

Zikrul Maut Mengingat Mati, Menghidupkan Hati

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Abdullah Gymnastiar
Allah swt berfirman dalam surat Al-A’raaf ayat 34, “Dan setiap umat mempunyai batas waktu (ajal), maka apabila telah dating ajal mereka, mereka tidak akan dapat mengundurkannya sesaat pun, dan mereka tidak pula memajukannya.”
Rasulullah bersabda : Perbanyaklah kalian mengingat mati, sebab seorang hamba yang banyka mengingat mati, maka Allah akn menghidupkan hatinya, dan Allah akan meringakan baginya, sakitnya kematian.” (HR. Dailami)

Tentang Cinta Dunia

Ciri orang yang cinta dunia, jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh sesuatu yang dicintainya itu. Kedua, takut kehilangan, entah itu harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas.

Perbanyak Taubat

Tiga langkakh untuk taubat yang sebenar-benarnya
1. Mulai belajar menyesali perbuatan kita
2. Secara jujur dan terus terang kita memohon ampunanNya
3. Adanya keinginan untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.
Pertanda taubat kita diterima atau tidak biasanya akan tampak dari perubahan yang terjadi dalam diri kita. Pertama kita menjadi senang mencari ilmu agama. Kedua, kita menjadi semakin senang berbuat kebaikan.
Semakin banyak kita bertobat, insya Allah, kita akan semakin siap untuk berpulang padaNya

Zikrul Maut

Adalah salah satu upaya untuk menghidupkan hati kita. Dengan kata lain, orang-orang yang sangat jarang ingat mati, berpeluang hatinya mengeras karena akrab dengan kemaksiatan.
Rasulullah bersabda, beramallah di dunia seakan-akan kamu bakal hidup selamanya dan berdoalah untuk akhirat, seakan-akan kamu bakal mati besok.
Faktor penyebab kita takut mati karena kita belum menganl indahnya perjumpaan dengan Allah kelak. Kita tidak siap menghadapi kematian karena kita merasa bekal kebaikan kita belum cukup.
Marilah kita mencoba menyiapkan kain kafan untuk diri kita sendiri. Atau, cobalah untuk menghiasi rumah kita dengan sesuatu hal yang dapat mengingatkan kita pada kematian.

Bersiap Diri Menjemput Ajal

Ajal sudah ditetapkan oleh Allah ketika kita di dalam kandungan; yaitu ketika usia empat bulan di dalam perut ibu.
Sebuah riwayat menyebutkan, menjelang ajal, kalau kita calon ahli kubur, kita bisa melihat malaikat maut yang mendatangi kita, meski orang-orang di sekitar kita tidak melihatnya.
Sebagian hadis mengatakan, saat nyawa dicabut, sakitnya seperti empat ratus sayatan pedang.
Beruntunglah orang-orang yang bagus persiapannya ketika hidup. Orang-orang yang keitka hidup indah akhlaknya, cemerlang memelihara diri, dan banyak bertobat, maka amalan shalat akan mendampinginya di atas. Shaum akan mendampinginya di sebelah kiri. Zakat di sebelah kanan. Sehingga kubur itu menjadi saat yang indah, dan sangat lapang.

Wahai sahabat, bersiapalah. Kai kafan selalu siap menyambut tubuh kita, mungkin besok lusa semuanya akan berakhir. Mudah-mudahan Allah yang Maha Mendengar menolong kita untuk melihat adanya kematian, meyakini adanya siksa kubur, dan meyakini bahwa kita harus menolong orang tua kita, baik hidup maupun wafat, dengan doa dan keshalihan kita. Amiiin.

”Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali 'Imran(3):145)
”Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." ”(QS. Al Jumu’ah (62): 8)

Monday, July 02, 2007