Siang itu seperti biasa Si Parmin pergi ke masjid untuk shalat Dzuhur. Resah rasanya kalau adzan memanggil dia tidak langsung pergi ke masjid. Apalagi kalau dia tidak mendengar adzan, rasanya seperti dicampakkan. Shalatnya belum tentu khusyu dan mendapat pahala yang besar tapi pahalanya ke masjid pasti dihitung tiap langkahnya. Dia selalu ingat apa yang disabdakan RasulNya.
“Barangsiapa yang pergi menuju masjid untuk shalat berjama’ah, maka satu langkah
akan menghapuskan satu kesalahan dan satu langkah lainnya akan ditulis sebagai
satu kebajikan untuknya, baik ketika pergi maupun pulangnya.” (HR. Ahmad).
Tidak seperti kemarin Si Parmin (P) terlihat bingung, targetnya banyak yang tak tercapai. Kali ini tentang kekayaan. Dia mengadu kepada Tuhannya setelah shalat. Selesai dari doa dan pengaduannya dia tertidur dan bermimpi bertemu seorang pak Tua (T) dalam tidurnya.
P : Saya bingung pak Tua
T : Kenapa?
P : kok saya gak langsung kaya seperti si fulan?
T : memang kamu sekarang belum kaya?
P : belum
T : gaji kamu berapa ?
P : 1,9 jeti
T : kurang?
P : gak sih
T : tidakkah kamu bersyukur dengan yang segitu?
P : sangat bersyukur
T : terus?
P : masih mau lagi
T : itu namanya ga bersyukur !
P : tapi saya ingin kaya supaya bisa lebih dermawan kok
T : maksud kamu, supaya orang mengatakan bahwa kamu dermawan?
P : bukan, saya tidak butuh pujian, segala puji hanya milik Allah swt tapi seperti sabda Rasulullah saw ”Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari). Saya ingin amal jariyah saya banyak ketika saya meninggal.
T : sudah bersedakah hari ini?
P : belum
T : terus?
P : Saya biasanya bersedekah tiap jumat.
T : kenapa tidak tiap hari? Katanya mau amal jariyahnya banyak? Atau jangan-jangan kamu seperti yang Allah swt firmankan di Quran surat Al Fajr ayat 15-20 ; “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”
P : tidak pak Tua, saya tidak seperti itu.
T : buktikan!
P : caranya?
T : bukankah telah sampai cerita Si Ucup kepadamu?
P : Pak Yusuf Latief?
T : Bukan! Yang kumaksud si Yusuf Mansur
P : tentang security itu? (baca kisahnya disini)
T : siapa lagi?
P : terus?
T : kapan kamu gajian lagi?
P : tanggal 25
T : sedekahkan semua!
P : semua?
T : iya, bukankah kau ingin menjadi dermawan
P : tapi saya pikir saya sudah cukup dengan bersedakah tiap hari Jumat.
T : kurang, setelah kamu sedekahkan semua, kamu harus tetap bersedekah setiap hari! Kalau dengan gaji segitu aja kamu cuma bersedekah seminggu sekali untuk apa Allah harus menambah rezki padamu? untuk apa Allah menambah kekayaanmu?
P : lalu saya makan apa bulan depan?
T : bukankah Allah swt berfirman “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”(Adz Dzaariyaat:58) “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Al 'Ankabuut:60). “dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan” (An Najm:48 ). Tidakkah ingat apa yang dikatakan temanmu, ketika dia sudah tidak dikirimi lagi uang dari orangtuanya, bayar kosan sudah nunggak 2 bulan, sedang dia belum berpenghasilan, lalu kau tanyakan bagimana dia bisa makan? Dengan yakin dia mengatakan, yang kasih rezki Allah kok. Kau pun gemetar mendengarnya kan? Sekarang ada berapa uangmu?
P : 1,1 jeti di tabungan, 100 ribu di dompet.
T : kamu masih tinggal bersama orang tua, kamu masih makan numpang mereka, rezkimu disitu. Setiap hari kamu juga dikasih makan dari kantor, rezkimu disitu. Sehari ongkosmu 10 ribu, untuk 40 hari kedepan, kamu hanya menggunakan 400 rb. Masih ada sisa untuk sedekah setiap harinya 10 ribu, tidak akan terasa selama 40 hari kamu sudah bersedekah 400 rb. Masih ada 400 rb! Bisa digunakan untuk yang lain.
P : saya harus menabung untuk bayar kuliah S2?
T : kapan?
P : bulan depan.
T : Allah akan berikan lewat jalan yang lain.
P : saya harus bayar kursus English?
T : kapan?
P : bulan depan juga
T : Allah akan berikan pada saatnya.
P : saya mau beli hp juga. HP saya sudah butut?
T : selagi alarmnya masih bisa membangunkanmu shalat subuh, kamu tidak perlu beli hp lagi. Untuk apa?
P : yang ada kameranya?
T : kamu sudah punya kamera. Buat apa lagi? Buat gaya? Tidak takutkah kamu menjadi sombong karena itu?
P : saya mau beli laptop?
T : untuk apa? Di rumah ada 4 komputer, jaringan internet unlimited. Di kantor ada 8 komputer, pake yang mana saja yang kamu suka. Apa lagi? Karena kanan kirimu punya laptop? Bukankah kamu sudah rasakan laptop hanya memberatkan pundakmu? Kalau saatnya kamu memang benar-benar memerlukan, Allah akan berikan.
P : bukankah tidak merencanakan sesuatu itu sama saja dengan merencanakan kegagalan?
T : lalu?
P : saya berencana menikah berarti saya harus mempersiapkan mahar saya, saya mau pergi haji sedang ongkos kesana mahal sekali, saya ingin punya rumah untuk tempat tinggal keluarga saya berarti saya harus membayar cicilan. Bukankah saya harus menabung untuk itu?
T : akan Allah anugerahkan kau wanita yang penuh barakah. Seorang wanita yang penuh barakah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Kau tidak perlu bingung memikirkan mahar untuk menikahinya. Tentang pergi haji, ketika saatnya Allah memanggilmu ke rumahNya, Allah akan memampukanmu sehingga kau akan mampu untuk pergi haji. Ketika keluargamu sudah membutuhkan rumah tinggal sendiri, Allah akan mempermudah membuatkannya. Seperti mudahnya Allah membangun bumi dan langit beserta isi-isinya. Yakinlah.
P : begitu mudahnya kau mengatakan itu semua?
T : Ingatlah , “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (Faathir : 5)
Dan Allah berfirman, “Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu amalan yang lebih Aku cintai dari pada amalan-amalan yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, dan Aku adalah penglihatannya yang dengannya dia melihat, dan Aku adalah tangannya yang dengannya dia meraih sesuatu dan kakinya yang dengannya dia melangkah. Dan apabila dia meminta kepadaku maka sungguh Aku akan mengabulkannya, dan apabila dia meminta perlindungan kepadaku, maka sungguh Aku akan memberinya perlindungan.”
Dan jangan lupa, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku dan Aku bersama dengannya ketika ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun ingat kepadanya di dalam hati-Ku. Jika ia ingat kepadaku dalam lingkungan khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya dalam lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Jika ia mendekati-Ku sejengkal, Aku mendekatinya pula sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendekatinya sambil berlari"
Nah, jangan lupa juga shalat dhuha yang telah diajarkan kepadamu.
P : kalau gitu saya cukup berdoa dan beribadah?
T : tidak, bagimu apa yang kamu usahakan. Tapi sedekahmu akan mempercepat apa yang kamu harapkan. Bukankah telah sampai kepadamu firman Allah swt?
“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Al Baqarah:202)
“...bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan,...”( An Nisaa':32)
“Dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS. Yusuf : 88).
“Dan kamu tidak membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah : 272)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Al Baqarah:261)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Al Baqarah:261)
QS Saba’ ayat 39,: “Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”
QS At-Taghabun [64]: 17: “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.”
Sekarang sudah Allah contohkon melalui security yang diceritakan si Ucup. Kenapa kau tidak coba?
P : tapi pak Tua, teman saya ada yang nyeletuk? “Ada kok orang yang tidak bersedekah tapi tetap kaya!”
T : temanmu atau kamu?
P : teman saya kok
T : Ingatlah Allah swt berfirman “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.”(At Taubah:79)
Dan telah diceritakan kisah Karun kepadamu, “Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".”(Al Qashash:78-79). Janganlah kamu seperti Karun.
P : I see
T : apanya yang I see?
P : semakin banyak saya bersedekah, amal jariyah saya semakin banyak semakin banyak pula bekal saya untuk ke akhirat. Kemudian saya bertambah kaya karena ridha Allah swt kepada saya. Karena cinta Allah swt kepada saya. Karena rahmat Allah swt kepada saya.
T : yapz.
Si Parmin terbangun. Kini si Parmin tidak bingung lagi. Tidak takut lagi miskin karena bersedekah. Ia tidak akan melupakan pengalaman mimpinya itu.
seringkali termotivasi tidak ada artinya kalau tidak aksi
jadi tunggu apa lagi?
Ibnu Alwi
(kalau sudah dekat dengan Allah, apa sih yang tidak mungkin?)
4 comments:
Iya benar, seringkali kita lupa bahwa Alloh SWT sudah menjamin rezeki kita sehingga berat bagi kita utk bersedekah padahal itu baik buat kita
terima kasih sharing-nya pak
sama2
wah, jadi inspirasi nih.. semoga banyak rekan2 multiply yang baca n bisa ambil hikmahnya... mari saling berebutan untuk sodakoh..thanks storynya boz:)
amiin
Post a Comment