"Apa motivasi lo untuk hidup di dunia ini?", seperti itu bunyi smsnya. Akhirnya dia mempercayakan saya untuk menjawab tentang hal ini.
Awalnya saya pikir dia salah sms, karena jarang sekali dia menggunakan kata "lo" di smsnya, "Beneran nih nanya nya? Mau tau apa?", saya balik bertanya, sekaligus memastikan bahwa dia tidak salah sms.
"Ya beneran lah, masa boongan!", balas dia. Dikirain "masa ya iya dong!", hampir saya mau balas "Duren aja dibelah bukan dibedong".
Akhirnya lima sms saya kirim demikian ;
"Motivasinya tidak ada!!! Wong dilarang cinta dunia kok. Tapi mau gimana lagi, sudah hidup di dunia. Maunya sih cepat mati, biar hidup kekal di akhirat, tapi bunuh diri itu dosa. Jadi.."
SMS pertama saya kirim. Agak lama saya kirim sms selanjutnya, biar penasaran.
"Jadi tinggal satu harapannya/motivasinya, yaitu masuk surga, hidup nikmat kekal di dalamnya. Bagaimana caranya? Jadikan dunia itu sebagai ladang amal untuk mengumpulkan bekal ke akhirat. Apa lagi? Raih ridha Allah. Caranya? Jadikan setiap perbuatan itu menjadi ibadah. Jadikan setiap ibadah sebagai sarana untuk mendapat ridha Allah, kasih sayang Allah, rahmat Allah. Terus lakukan perbaikan terus menerus. Dan yang juga penting mati dalam keadaan husnul khatimah. Pada akhirnya arti hidup ini bukan pada bagaimana bisa nyaman, aman, dan tentram. Tetapi bagaimana kita bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Allah memiliki segalanya. Kalau sudah dekat dengan Allah, apa sih yang tidak mungkin?"
SMS itu berakhir dengan pertanyaan. Biar dia terusik jiwanya. Biar usikan itu membukakan hatinya untuk menerima hidayah-hidayah Allah.
"Wahai Ali, sungguh sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang karena
dakwahmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah." (HR. Bukhari-Muslim)
Senang saya, bersyukur. Insya Allah sms ini tidak jauh berbeda seperti yang saya kirimkan kepada seorang teman.
No comments:
Post a Comment