Tuesday, December 23, 2008
yang Kau minta
Tuhan ... maafkan aku
aku tak selalu memenuhi apa yang Kau minta
http://www.kemudian.com/node/223406
Satu
Kurang apa aku?
sampai kau meninggalkan aku.
Sepatu?
aku punya.
Baju?
aku punya.
Buku?
tidak terkira.
Uang saku?
jangan ditanya.
Tapi kau punya kepala seperti batu,
jawabnya.
kau punya hati sekeras kayu,
resahnya.
Imanmu pun aku ragu,
sinisnya.
cintamu bukan hanya kepada Yang Satu,
geramnya.
bukan kepada Yang Menciptakan aku,
marahnya.
Thursday, December 18, 2008
Engkau menguji cintaku
dan saat ku ungkap akan Bidadari Surgaku
saat ku harapkan cintailah Cinta
dan saat ku putuskan tentang Aku dan 4 Kekasihku
Engkau menguji cintaku
kepada Mu
Engkau menguji cintaku
yang hanya untuk Mu
ku relakan seseorang yang kucintai
asal Engkau tetap mencintaiku
http://www.kemudian.com/node/223507
Skenario-Mu
SkenarioMu ya Allah
menghujam bumi
menembus cakrawala
luar biasa...
SkenarioMu ya Allah
menembus ruang waktu
melewati ribuan zaman
luar biasa...
SkenarioMu ya Allah
menundukkan aku
bersimpuh kepadaMu
luar biasa
SkenarioMu ya Allah
meyakinkan aku
untuk menyebut
laa haulaa walaa quwwata illaa billaaah
Wednesday, November 19, 2008
Si Parmin bingung, kok tidak kaya-kaya...
(Rahasia Sedekah) Dialog Ust. Yusuf Mansyur dengan Security POM Bensin

| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Agak panjang, tapi percaya deh enak kok dibacanya ….
SEMOGA BERMANFAAT
Banyak yang mau berubah,
tapi memilih jalan mundur.
Andakah orangnya?
Satu hari saya jalan melintas di satu daerah. Tetidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya: “Nanti di depan ke kiri ya”.
“Masih banyak, Pak Ustadz”.
Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya pengen pipis.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti. “PakUstadz!”. Dari jauh ia melambai dan mendekati saya.
Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.
“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja…”. Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.
“Saya ke toilet dulu ya”.
“Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?”
“Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?”
“Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz”.
Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang “berhentiin” saya. Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya.
Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, “Ok, ntar habis dari toilet ya”.
***
“Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?”, tanya saya membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.
“Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?”
“Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu. Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya”.
“Wah, ustadz langsung nembak aja nih”.
Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah. Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.
“Udah shalat ashar?”
“Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama saja”.
“Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga ibadah?”
Sekuriti itu senyum aja.
Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah. Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah.
“Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini”, saya mengejar.
“Ya, kurang lebih dah”.
Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang ‘alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu. Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.
“Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari senang”.
Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih begitu. Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara?
Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.
Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.
Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, “Terus, mau berubah?”
“Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga serius?”
“Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya”.
“Ngebut gimana?”
“Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampe keduluan Allah”.
Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini. Kan aneh. Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.
“Yang kedua,” saya teruskan. “Yang kedua, keluarin sedekahnya”.
Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. “Pak Ustadz, pegimana mau sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan”.
“Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?”
“Satu koma tujuh, Pak ustadz”.
“Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang sering sebut orang kecil, itu udah gede”.
“Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz”.
“Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?”
“Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz”.
“Koq bisa?”
“Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe ketemu angka 1,7jt”.
“Terus, kenapa masih kurang?”
“Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak”.
“Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga perlu?”
“Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz”.
“Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot”.
Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu. Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.
“Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?”
“Mau Ustadz. Saya benahin dah”.
“Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin. Ikutan semuanya ngebenahin shalat”.
“Siap ustadz”.
“Tapi sedekahnya tetap kudu loh”.
“Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada”.
“Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq”.
“Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya”.
Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal itu mah.
Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, “Kang, kalo saya unjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?”. Si sekuriti mengangguk. “Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?”. Sekuriti ini ngangguk lagi. “Selama saya bisa, saya akan jalanin,” katanya, manteb.
“Gajian bulan depan masih ada ga?”
“Masih. Kan belum bisa diambil?”
“Bisa. Dicoba dulu”.
“Entar bulan depan saya hidup pegimana?”
“Yakin ga sama Allah?”
“Yakin”.
“Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau”.
Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya. Trmasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al Qur’an. Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat Jum’at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!
Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja dan ada gajinya.
Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan dengan tingginya harga,. Ga kebagian.
***
Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu koma tujuh. Semuanya.
“Mana bisa?” kata komandannya.
“Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani”.
Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.
Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama ownernya ini pom bensin. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu, “Buat sedekah katanya Pak”, begitu kata komandannya.
Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya. Termasuk dinanti oleh bos nya.
“Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya”, begitu lah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.
Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya. Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya. Malah tambah cerah muka nya.
Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.
Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.
Suatu hari bos nya pernah berkata, “Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma”.
Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.
Berhasil kah?
Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah.
Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.
“Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren”.
Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada.
Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga trlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan.
Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.
Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia aman. Ga perlu kasbon.
Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini.
Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?
Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah.
Saudara-saudaraku sekalian. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya.
Subhaanallaah, masya Allah.
Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia. Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar.
Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya? Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta KuliahOnline saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh.
Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah ini. Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak, sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal saleh. Persis seeperti yang kemaren-kemaren juga dijadikan statement esai penutup.
Kepada Allah semua kebenaran dan niat dikembalikan. Salam saya buat keluarga dan kawan-kawan di sekeliling saudara semua. Saya merapihkan tulisan ini di halaman parkir rumah sakit Harapan Kita. Masih di dalam mobil. Sambil menunggu dunia terang. Insya Allah hari ini bayi saya, Muhammad Yusuf al Haafidz akan pulang ke rumah untuk yang pertama kalinya. Terima kasih banyak atas doa-doanya dan perhatiannya. Mudah-mudahan allah membalas amal baik saudara semua.
Dari semalam saya tulis esai ini. Tapi rampungnya sedikit sedikit. Ini juga tadinya bukan esai sekuriti ini yang mau saya jadikan tulisan. Tapi ya Allah jugalah yang menggerakkan tangan ini menulis.
Semalam, file yang dibuka adalah tentang langkah konkrit untuk berubah. Lalu saya lampirkan kalimat pendahuluan. Siapa sangka, kalimat pendahuluan ini saja sudah 10 halaman, hampipr 11 halaman. Saya pikir, esai ini saja sudah kepanjangan. Jadi, ya sampe ketemu dah di esai berikutnya. Saya berhutang banyak kepada saudara semua. Di antaranya, saya jadi ikut belajar.
Semalam saya ikutan tarawih di pesantren Daarul Qur’an internasional. Sebuah pesantren yang dikemas secara modern dan internasional. Tapi tarawihnya dijejek 1 juz sekali tarawih. Masya Allah, semua yang terlibat, terlihat menikmati. Ga makmumnya, ga imam-imamnya, ga para tamu dan wali santri yang ikut. Semua menikmati. Jika ada di antara peserta KuliahOnline yang pengen ikutan tarawih 1 juz ini, silahkan datang saja langsung ya. Insya Allah saya usahakan ada. Sebab saya juga kebagian menjadi salah satu imam jaganya. Ya, kondisi-kondisi begini yang saya demen. Saya kurangin jadwal, tapi masih tetep bisa ngajar lewat KuliahOnline ini. Dan saya masih sempet mengkader ustadz-ustadz muda untuk diperjalankan ke seantero negeri. Sementara saya akhirnya bisa mendampingi para santri dan guru-guru memimpin dan mengembangkan pesantren Daarul Qur’an ini.
Ok, kelihatannya matahari sudah mulai kelihatan. Saya baru pulang juga langsung dari TPI. Siaran langsung jam 5 ba’da shubuh tadi. Istri saya meluncurnya dari rumah. Doakan keluarga kami ya. Saya juga tiada henti mendoakan saudara dan jamaah semua
Monday, November 10, 2008
Apa motivasi lo untuk hidup di dunia ini?
Awalnya saya pikir dia salah sms, karena jarang sekali dia menggunakan kata "lo" di smsnya, "Beneran nih nanya nya? Mau tau apa?", saya balik bertanya, sekaligus memastikan bahwa dia tidak salah sms.
"Ya beneran lah, masa boongan!", balas dia. Dikirain "masa ya iya dong!", hampir saya mau balas "Duren aja dibelah bukan dibedong".
Akhirnya lima sms saya kirim demikian ;
"Motivasinya tidak ada!!! Wong dilarang cinta dunia kok. Tapi mau gimana lagi, sudah hidup di dunia. Maunya sih cepat mati, biar hidup kekal di akhirat, tapi bunuh diri itu dosa. Jadi.."
SMS pertama saya kirim. Agak lama saya kirim sms selanjutnya, biar penasaran.
"Jadi tinggal satu harapannya/motivasinya, yaitu masuk surga, hidup nikmat kekal di dalamnya. Bagaimana caranya? Jadikan dunia itu sebagai ladang amal untuk mengumpulkan bekal ke akhirat. Apa lagi? Raih ridha Allah. Caranya? Jadikan setiap perbuatan itu menjadi ibadah. Jadikan setiap ibadah sebagai sarana untuk mendapat ridha Allah, kasih sayang Allah, rahmat Allah. Terus lakukan perbaikan terus menerus. Dan yang juga penting mati dalam keadaan husnul khatimah. Pada akhirnya arti hidup ini bukan pada bagaimana bisa nyaman, aman, dan tentram. Tetapi bagaimana kita bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Allah memiliki segalanya. Kalau sudah dekat dengan Allah, apa sih yang tidak mungkin?"
SMS itu berakhir dengan pertanyaan. Biar dia terusik jiwanya. Biar usikan itu membukakan hatinya untuk menerima hidayah-hidayah Allah.
"Wahai Ali, sungguh sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang karena
dakwahmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah." (HR. Bukhari-Muslim)
Senang saya, bersyukur. Insya Allah sms ini tidak jauh berbeda seperti yang saya kirimkan kepada seorang teman.
Indonesia Book Fair 2008
| Start: | Nov 12, '08 10:00a |
| End: | Nov 16, '08 |
| Location: | Main Lobby & Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Senayan |
* Book Launching
* Book Review
* Book Signing
* Talkshow
* Mini LIbrary
* Best Seller Book Corner
* Painting on T-shirt
* Pementasan Seni Kebudayaan Propinsi Sumatra Barat
* Storytelling untuk anak-anak
* Kids Creativity Corner
* Sumbangan Buku untuk Propinsi Sumatra Barat
* Lomba Menggambar & Mewarnai untuk anak-anak
* dll
Reuni Akbar SMAN 38 Lenteng Agung, Jakarta Selatan
| Start: | Jan 11, '09 |
| Location: | Balairung Universitas Indonesia (UI) |
Reuni Akbar
Panitia Reuni Akbar SMAN 38 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengundang para alumni angkatan 1979 hingga 2008 untuk hadir pada pelaksanaan Jumpa Alumni pada Ahad, 11 Januari 2009, di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok. Tiket seharga Rp 100 ribu per lembar bisa dibeli di sekretariat sementara Ikatan Alumni SMAN 38 (Ikatila) di De BlueZ Resto, Jl Raya Pasar Minggu No 57, Jakarta Selatan (samping Indomobil/Volvo). Bisa juga melalui nomor telp 797.0772, contact person Zaenal Abidin (Zaerul), Ikatila 1989. HP 0856 9221 8244. Tiket juga bisa dibeli di SMAN 38.
Ketua SC/Pengarah,
Selamat Ginting,
Ikatila 1986,
HP 0813 8000 2366;
Sekretaris OC
Cipta Wibawa,
Ikatila 2002,
HP 0813 8431 3984;
Kontak Person
Agus Rial (1988) 0816 1661 036,
Eko Suroyo (1991) 0812 8026 894,
Endro Adiwirawan (1992) 0812 9903 283, Mohamad Imam (1993) 0812 9019 962.
Ketua OC/Pelaksana
Mohammad Ary Fonda, Ikatila 1993
HP 0813 1090 6425;
*bisa jg liat di:
http://www.republika.co.id/koran/0/10526.html
Sunday, November 02, 2008
Wednesday, October 29, 2008
inikah jawaban Tuhan?
“Ya Allah bingung nih saya harus gimana?”, ba’da dzuhur tadi saya mengadu. Minta pun bingung, kata-kata susaaaaah banget keluarnya. Takut salah minta. Kepala ini saya angguk-anggukan layaknya orang stress. Mungkin orang akan merasa aneh melihatnya. Ujung-ujungnya minta yang terbaik. Minta petunjuk. Kalaupun tidak dikabulkan permintaan yang saya minta, saya minta dikasih tau secepatnya hikmah yang bisa saya ambil. Masjid itupun saya tinggalkan.
Tidak disangka seorang yang berjas santai. Mengenakan batik. Berkacamata. Tidak terlihat seperti sosok orang alim yang berpakaian putih-putih, memakai sorban, dan kopiah. Tetapi justru kata-katanya membolak-balikkan hampir seluruh paradigma berpikir saya. Beberapa ayat dikeluarkan. Beberapa hadits disebutkan. Beberapa hikmah dia ceritakan selama menjalani hidupnya. Inikah jawaban atas doa yang saya minta? Entahlah. Sesaat saya menjadi tenang dan kemudian resah kembali. Permasalahannya adalah ada jawaban yang saya temukan pada perkataannya. Tetapi orang ini memiliki tingkat pemahaman tentang kehidupan yang bagus sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, hanya saja amalannya dalam menjalankan ibadah wajib bisa dibilang jelek (cukup berat saya mengatakan amalannya ’biasa’ saja). Biar keresahan ini yang menuntun saya kembali ke jalan yang Allah ridhai.
Tuesday, October 28, 2008
Bergabung dengan saya di Twitter
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
http://twitter.com/i/76e86a274277b9c9600e3ae8e2b57fd8585d4a62
Thanks,
-The Twitter Team
About Twitter
Twitter is a unique approach to communication and networking based on the simple concept of status. What are you doing? What are your friends doing—right now? With Twitter, you may answer this question over SMS, IM, or the Web and the responses are shared between contacts.
This message was sent by a Twitter user who entered your email address. If you'd prefer not to receive emails when other people invite you to Twitter, click here:
http://twitter.com/i/optout/ab0358c1e95856747c081679ec6c52cf28f210bf
Saturday, October 11, 2008
Saturday, October 04, 2008
tentang kecelakaan itu...
Jumat, tanggal 29 Agustus 2008, tepat pukul 10.30 WIB saya menyelesaikan interview di PT.KOJO, Gedung Wisma Pondok Indah. Hari itu adalah hari wisuda saya, rencananya pukul 15.30 di Balairung UI. Rencananya pula saya lebih dulu ke UI untuk foto-foto bersama teman-teman, baru kemudian keluarga saya akan menyusul untuk menghadiri wisuda saya yang hanya’formalitas’ itu.
“Mah, iman pergi dulu. Nanti pulang lagi ambil mobil.”, sambil saya cium tangan Ibu saya lalu saya raih tas di atas meja. Jam 9 pagi itu saya terburu-buru agar tidak terlambat untuk interview. Alhasil karena lupa menutup tas, hampir semua isi tas jatuh berserakan di lantai.
“Hati-hati man, jangan buru-buru!”. Ibuku menasehati seperti biasanya, begitu pula saat kunaiki sepeda motor ku, “Jangan ngebut, hati-hati naik motornya.”
Tapi apa mau dikata, saya sudah telat, pukul 09.30 saya sudah sampai di gedung Wisma Pondok Indah
Selesai interview entah kenapa, di parkiran Wisma Pondok Indah itu hati saya senang sekali. Entah karena merasa sukses melewati interview itu atau karena saya akan di wisuda hari ini. Tepatnya bukan karena wisudanya, tapi karena momentum wisuda inilah saya berhasil membuat Bapak saya pulang cepat, Ibu saya tidak kerja, kakak saya izin kerja dan adik laki-laki saya pulang dari asrama, sedang dua adik saya lagi pulang dari sekolahnya. Setelah bertahun-tahun, saya berhasil mengumpulkan mereka untuk foto bersama, rencananya di Balairung UI sebelum wisuda. Keluar dari parkiran itu jalan raya terlihat lenggang dan saya bisa lenggang kangkung menaiki motor dengan kecepatan yang maksimal sambil bershalawat dengan berteriak. Entahlah, itulah ekspresi keriangan saya di atas motor. Kalau Anda ingin meluapkan perasaan dengan menaiki puncak gunung dan berteriak di sana, kalau saya tidak, saya punya motor. Hehe.
Saat sampai TB Simatupang saya terdiam, berpikir untuk tidak terburu-buru pulang ke rumah, mengambil mobil, dan shalat Jumat di MUI mengingat waktu yang sudah tidak memungkinkan. Saya berencana ulang untuk pergi bersama keluarga saja dari rumah pukul 13.30. Tapi saya usahakan saat itu untuk cepat sampai di rumah, barangkali rencana awal masih bisa dikerjar. So, kecepatan motor masih maksimal, entahlah berapa kecepatan saya waktu itu. Yang pasti ada 3 motor termasuk saya yang berkecepatan sama seperti saya.
Setelah melewati Citos tinggal 1 motor lagi yang berkecepatan sama seperti motor saya. Motor itu dinaiki oleh 2 orang berada di sisi kanan jalan. Sedang saya ada di belakangnya di sisi kiri jalan sehingga saya bisa memperhatikan motor itu. Kurang lebih 10 meter sebelum gerbang Balai Kerajinan tepatnya di seberang gedung Tripatra, kondisi jalan sedikit berkelok ke kiri sepertinya yang membuat motor itu ke tengah jalan, masih dengan kecepatan yang sama, juga saya masih dengan kecepatan yang sama. Tapi apa daya, ada lubang yang ditutup tidak sempurna. Motor itu menghindari lubang itu dengan tiba-tiba ke sisi kiri jalan yang akan saya lewati, sayangnya tanpa dengan kecepatan yang sama. Dan akhirnya dengan tiba-tiba melambatnya motor itu tentu saya bisa menabraknya karena kecepatan kami berbeda. Maka saya berusaha mengerem motor saya agar tidak menabraknya. Tapi semua yang serba mendadak ini tidak menghasilkan sesuatu yang baik, takdir sudah tertulis, usaha saya tidak berguna saat itu. Motor saya tidak stabil dan mulai miring ke kiri. Saya yakin akan jatuh. Kondisi trotoar lebih tinggi, agar saya tidak terjatuh di jalan dan terlindas kendaraan lain terus kepala saya bisa terbentur trotoar, lebih baik saya sedikit melompat ke atas trotoar. Ternyata ada pohon kecil yang memang sudah pasrah menerima saya menghantamnya. Perut sebelah kiri saya terhantam pohon kecil ini.
jalan agak berkelok (lihat garis tengah jalannya, klik untuk zoom)
posisi lubang dan pohon

lubang yang harus dihindari

pohon kecil yang setia menanti (terlihat motor baru saja menghindari lubang)
Saat itu saya mati rasa seketika, tidak sampai sedetik kemudian saya merasakan perut saya sakiiiit sekali. Ooh ini ya sakratul maut, “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah”. Eh selesai mengucapkannya ternyata saya belum mati. Aduuh, sakiiiit sekali. Saya mencoba menatap ke atas, ternyata sudah banyak orang mengitari saya. Saya kembali memejamkan mata sambil menahan rasa sakit tak terhingga.
Saya kira saya akan menjadi episode selanjutnya yang akan mati sebelum bulan Ramadhan, seperti Harry Elektro’03. Beliau yang saya kenal memang orang baik, mungkin tidak akan merasakan nikmatnya bulan Ramadhan, tapi itu lebih baik selagi masih muda, dosa belum menumpuk karena tergerus oleh arus dunia yang akan memasukkan kita ke jurang neraka. Apalagi di dunia konstruksi yang begitu dahsyatnya dan belum banyak tersentuh KPK. Tapi saat saya berpikir apa saya akan masuk surga kalau mati sekarang? Waduuuh, istighfar saya sejadi-jadinya.
“kenapa tuh pak, kok bisa jatuh?”
“kasih minum tuh!”
Banyak orang berkomentar dan bertanya-tanya.
“diangkat aja pak, angkat ke pos satpam!”
Nah lho, pos satpam dipikiran saya saat itu sempit dan sumpek. Wah, jangan sampai saya diangkat ke sana.
“diangkat ya mas?”, seseorang menanyakan kepada saya.
“jangan dulu pak, di sini aja dulu.”jawab saya sambil meringis kesakitan.
“wah, patah kali tuh tulangnya.”
“bawa ke rumah sakit aja.”, komentar yang lain lagi.
“ke rumah sakit aja ya mas, ke fatmawati?”, tanya seseorang lagi.
Saya pun mengiakan, dan saya diangkat ke dalam taksi. Awalnya saya berusaha bangkit, barangkali ini hanya sugesti dan rasa sakit akan berkurang seperti biasanya saya terjatuh dari motor. Tapi kali ini berbeda, saya merasa benar-benar ada yang patah. Saya hanya menekuk badan saya seperti kucing tidur dan tidak berani bergerak lagi. Rasa sakit tak terhingga pun masih saya rasakan walau sudah di dalam taksi di atas kursi empuknya. Dua orang mengantar saya, satu satpam dan satu lagi berpakaian biasa.
Sampai di UGD, tak lama dokter menghampiri dan kemudian menyuruh suster untuk memasang oksigen dan infus, siksaan pertama di mulai. Jarum suntik pertama dimasukkan di lengan saya, untung tidak terlalu terasa sakit, karena rasa sakit di perut lebih hebat dari pada suntikkan jarum itu. Pak satpam yang tadi mulai sibuk menghubungi keluarga saya.
“Mas kakaknya nih nelepon?”
“Iman, ini bener iman?”, kakak saya waswas di ujung telepon.
“Iya bener.”
“Iman, gak papa?”
“Iya, gak papa. Kasih tau bapaknya pelan-pelan ya!”, saya khawatir keluarga di rumah terlalu resah. Bagaimana tidak, mereka sedang bersiap untuk hadir ke wisuda saya, malah mendengar saya di UGD.
Tiba-tiba ada seseorang yang telepon.
“Firmannya lagi di UGD Fatmawati!”, kira-kira pak satpam itu menjawab demikian dan menyerahkan HP ke saya, “Ada temennya nih yang nelepon.”
Saya liat ternyata yang menelepon teman saya, tanpa saya jawab saya kembalikan lagi telepon itu sambil memberi isyarat jangan kasih tahu saya di sini.
“Firmannya lagi di kamar mandi, udah dulu ya.”, kira-kira seperti itu jawabannya sambil mematikan HP. Kemudian saya melarangnya untuk menerima telepon kecuali dari kakak saya.
Kebetulan saya sering ke UGD, saya tahu kondisi UGD tidak boleh dimasuki oleh penjenguk. Maka saya tidak mau kabar kecelakan saya diketahui oleh teman-teman. Apalagi mereka semua sedang kumpul-kumpul di acara wisuda. Pasti kabar akan cepat menyebar, kalau sudah begitu pasti UGD akan penuh, dan banyak suster yang ngomel-ngomel. Saya hanya menghindari hal itu. Tapi apa mau dikata, kabar saya pun diketahui teman-teman. Penuhlah malam itu di UGD oleh teman-teman dan berulangkali suster dan satpam di UGD tersebut menegur kami. Tapi terima kasih, sudah datang menjenguk dan mendoakan saya di lorong rumah sakit itu.
Jam 12 kurang, Bapak dan adik saya tiba. Setelah mengurus administrasi, saya suruh mereka untuk shalat Jumat dulu. Sebelum mereka datang, saya sendirian dan ditanyakan oleh suster dimana keluarganya. Saya pun sempat dibolak-balik badan saya di ruang rontgen bahkan disuruh duduk, padahal rasa sakit masih tak terkira, tapi toh saya bisa melakukannya walau tidak sampai 10 detik. Kemudian Ua’ saya dan anaknya datang, rencana mereka juga mau menghadiri wisuda saya, tetapi akhirnya datang ke rumah sakit.
Penyiksaan kemudian berlanjut, setelah berkali-kali ditanyakan oleh suster, saya belum kencing juga, kemaluan saya akhirnya dipasang kateter. Untung yang memasangkannya seorang pria. Wuiih, saudara-saudara, sakitnyaaaa. Ngiluuuu. Luar biasa. Maaf ya, saya kasih liat gambar ilustrasinya.

kateter
Dan ternyata kencing yang keluar memang disertai dengan darah.
“Tunggu, saya mau minum dulu!”, tetapi tetap saja selang itu dimasukkan ke dalam hidung saya.
Aduh sulit saya mengungkapkan sakitnya, sampai saya menaikkan pinggul saya berkali-kali dan menghentakkan kaki saya. Untung ada yang memegang kaki saya. Saya seperti kambing yang sedang disembelih lehernya.
“Tarik napas dalam-dalam mas.”, saya dibimbing agar selangnya bisa masuk
Dan akhirnya selang itu lancar masuk sampai ke lambung, setelah terhambat di kerongkongan. 
bayangkan kalau selang itu masuk ke kerongkongan Anda
Coba lah Anda bayangkan sendiri, kalau selang itu masuk melalui hidung Anda ke dalam lambung. Dan memang 1 botol lebih cairan yang keluar lewat selang itu, belum lagi bersamaan dengan muntah yang keluar lewat mulut. Warnanya pun bervariasi, hitam, hijau, dan coklat kemerahan, terakhir cairan yang keluar sudah bening.
Tidak lama kemudian saya di rontgen lagi. Alhamdulillah dari semua hasil rontgen tidak ada patah tulang. Tetapi karena ada darah di kencing saya maka saya akan di USG. Baru tengah malam saya di USG. Hasilnya pun nihil, tidak ada luka dalam. Analisa yang mungkin adalah ada iritasi di ginjal karena benturan saat kecelakaan. Tetapi tidak sampai menyebabkan luka yang berarti sehingga tidak perlu dilakukan operasi. Saya pikir, ini baru iritasi, bagaimana kalau ada luka dalam beneran? Bagaimana rasa sakitnya? Allahu Akbar Yang Menciptakan tubuh ini dengan sempurna.

syukur tidak mengenai tulang, tapi mengenai perut sebelah kanan saya. akibatnya ginjal kanan saya luka.
Dari siang sampai malam saya di UGD, dari kecelakaan sampai saat itu pula lah saya tidak tidur dan masih dalam keadaan sadar, tidak pingsan. Di ruang UGD itu malaikat Izrail sepertinya sempat mampir, karena ada yang meninggal juga karena kecelakaan motor. Ada juga yang masuk dengan berlumuran darah di kepalanya juga karena kecelakaan, hal yang sama dilakukan kepadanya, dipasangi kateter dan selang dari hidungnya. Orang tuanya sempat meminta dicabut selang itu karena tidak tega melihat anaknya muntah, tapi dokter tidak mau ambil resiko. Jika orang tuanya tetap meminta dicabut, maka harus menandatangani surat pernyataan bahwa dokter tidak bertanggung jawab apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Saya pun sempat meminta selangnya dicabut saja. Bagaimana tidak, rasa sakit diperut seperti hilang begitu saja karena beralih ke rasa sesak di dada akibat ada selang dari hidung sampai lambung saya. Belum lagi rasa eneg yang tidak terkira, kalau sudah sampai puncak, maka pasti saya akan muntah dengan hebat. Tetapi karena tidak mau ambil resiko akhirnya saya pasrah, 4 hari selang itu ada di tubuh saya, begitu juga dengan kateternya.
Takut ada pencemaran di dalam tubuh saya maka darah saya selalu diperiksa. Selama hampir 5 hari di rumah sakit mungkin tidak kurang dari 10 kali tangan kiri saya ditusuk untuk diambil darahnya. Saya yang biasanya tidak mau disuntik kalau ke dokter, saat itu hanya pasrah merasakan tangan saya ditusuk-tusuk jarum, apalagi kalau tusukan pertama tidak mengenai pembuluh darah. Waduuh...
Dan ternyata saudara-saudara, kita ini memang pantas disebut manusia yang penuh dengan dosa karena sering khilaf disana-disini. Apalagi yang namanya syukur nikmat. Terutama pada hal-hal yang mubah. Seperti melihat, menulis, berjalan, mendengar, yang kalau nikmat itu tidak diberikan sehari saja. Wah, rasanya seperti mau kiamat dunia. Saat itu saya tidak boleh makan dan minum supaya darahnya tidak tercemar saat mau diperiksa. Jadi makanan hanya lewat infus saja. Kalau puasa cuma sehari aja mungkin masih bisa menahan rasa haus dan lapar di tenggorokan, tapi saya hampir tiga hari tidak boleh makan dan minum. Saat bibir kering, hanya diolesi oleh madu dan air, seringkali saya curi-curi untuk memasukkan ke dalam mulut, bukan setetes atau dua tetes tapi sejilat atau dua jilatan, itupun rasanya sudah luar biasa. Ketika senin sore saya sudah boleh makan, wah rasanya luaar biasa.
Selasa siang 2/09 saya sudah pulang ke rumah. Yang jenguk datang silih berganti, bahkan ketika saya sudah naik taksi sampai Tanjung Barat ternyata ada yang menelepon dari seorang teman yang sudah sampai di rumah sakit untuk menjenguk saya. Akhirnya dia menyusul ke rumah. Hari Sabtunya 30/08 Didit Ahmad Sipil ’99 pun sempet menjenguk. Saat itu saya tidak bisa bicara, karena masih ada selang di tubuh saya. Jadi dia hanya berbicara dengan ibu saya. Dan ternyata dia yang mendahului saya minggu depannya.
Musibah merupakan ujian untuk orang yang beriman dan adzab untuk orang yang bermaksiat kepada Allah. Bagi saya musibah yang satu ini adalah teguran. Barangkali ada yang pernah mengutuk saya di jalan, atau saya mendzalimi pengendara lain atau bahkan pejalan kaki. Bisa jadi teguran ini karena kurangnya rasa syukur saya terhadap fasilitas yang saya miliki. Saya beristighfar akan hal itu. Tapi saya juga menganggapnya sekaligus ujian buat saya. Allah ingin melihat apakah saya bersabar atau tidak melewati musibah itu. Bukankah orang beriman itu akan bersyukur jika diberi nikmat dan bersabar jika mendapat musibah. Saya bersyukur rata-rata penjenguk saya orang-orang yang shaleh yang mengingatkan demikian. Ada sms-sms yang terus mendoakan, ada teman-teman yang mendoakan di lorong rumah sakit, ada kiai yang juga datang mendoakan, bahkan ada orang Turki yang datang dengan seteko air minum yang sudah dibacakan 125 Yasin. Nah lho.. Alhamdulillah saya hanya bergantung pada Allah.
Ini merupakan momen yang luar biasa buat saya, banyak hikmah di dalamnya, banyak perubahan yang diakibatkannya. Dan mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran juga buat yang lain.
Dan setelah bertahun-tahun, jadi juga foto keluarganya.

http://fireman0410syah.multiply.com/photos/album/70/Foto_Keluarga_dan_Wisuda
Friday, October 03, 2008
Tuesday, June 24, 2008
satu lagi- trailer Sang Murabbi 9 menit (NEw) (Siapa yang mau beli Filmnya??)

kisah perjalanan dakwah seorang murabbi
http://kr.youtube.com/watch?v=CtwkwLUG6AI
FILM SANG MURABBI : PENAWARAN UNTUK PEMESANAN VCD ATAU DVD
http://zul3.multiply.com/journal/item/15/FILM_SANG_MURABBI_PENAWARAN_UNTUK_PEMESANAN_VCD_ATAU_DVD
Thursday, June 12, 2008
Cimanggis Green Residence II mulai dipasarkan
Cimanggis Green Residence II, per hari Kamis tanggal 5 Juni 2008 sudah mulai dipasarkan, dengan harga promosi sampai dengan "pembeli ke 15" mulai dari Rp 186.600.000,- untuk tipe standar 36/72 satu lantai, Rp 226.250.000,- untuk tipe standar 45/85 satu lantai, Rp. 312.500.000,- untuk tipe standar 65/110 satu lantai dan Rp. 399.250.000 untuk tipe standar 90/113 dua lantai.
Design rumah di Cimanggis Green Residence 2 ini, masih mengikuti design rumah di Cimanggis Green Residence 1 dan Kelapa Dua Green Residence. Fasilitas-fasilitas yang kami sediakan di perumahan ini adalah :
1. Club House
2. Swimming Pool
3. Mini cafe
4. Masjid
5. TPA (Taman Pendidikan Al Quran)
6. Jalan Paving Blok
7. Keamanan 24 jam
8. Drainase ramah lingkungan
9. Taman
Brosur lengkap masih dalam proses untuk dicetak, tetapi jika anda berminat untuk membeli rumah di sini dengan harga promosi sudah dapat kami layani. Untuk mendapatkan informasi selengkapnya anda dapat menghubungi kantor-kantor pemasaran kami sebagai berikut, 021 7111 0840, 021 8774 2008 (Cimanggis 2), 021 8774 5200 (Cimanggis 1), 021 70649 749 (Kelapa Dua), 021 778 40060 (Juanda), 021 994 0760 (Ciracas).
Untuk mendapatkan price list silahkan anda download dari sini (klik kanan dan "save target as"): price list CGR-2.
http://mnh962.googlepages.com/HargaCGR2-0406.pdf
Untuk mendapatkan site plan silahkan anda download dari sini (klik kanan dan "save target as"): site plan CGR2
http://mnh962.googlepages.com/Siteplan.pdf
Yang perlu di ingat adalah bahwa harga promosi ini berlaku sampai dengan pembeli yang ke 15, tidak ada batasan waktu tetapi batasan jumlah pembeli (sampai pembeli ke 15).
Green Life siap dipasarkan

Green Life ini adalah produk ke lima dari Relife Realty, berlokasi di Jalan Penganten Ali X, menempati lahan seluas +/- 9.400 m2. Direncanakan akan dibangun sebanyak 50 unit rumah untuk kalangan menengah ke atas ber lantai dua. Fasilitas yang akan disediakan meliputi, taman, masjid, kolam renang, club house. Kami menyediakan 3 tipe rumah berlantai dua yaitu tipe 68/96, tipe 92/112 dan tipe 126/128. Dibawah ini adalah site plan yang bisa dijadikan acuan untuk memilih tempat yang anda sukai. Maaf, site plan ini masih belum dibuat yang berwarna, tetapi dalam waktu dekat ini akan kami ganti dengan yang berwarna dan lebih menarik. At least anda sudah dapat memilih tempat/kavling yang anda sukai. (silahkan klik pada gambar untuk memperbesar)
Sampai hari ini, meskipun belum soft launching tetapi sudah ada 4 kavling yang confirmed dibooking seperti dalam price list dibawah ini. Rencana soft launcing akan dilaksanakan pada awal Juli mendatang. Kami menawarkan pada 10 pembeli pertama dengan harga discount seperti price list dibwah ini. Jika 10 pembeli pertama sudah tercapai kami akan menyesuaikan price list ini ke harga harga normal. Untuk keterangan lebih lanjut bisa hubungi team pemasaran kami di nomor: 021 7759 444 dan 021 994 90760 dengan Ferdinan Alamsyah.
Marketing office:
Jl. Penganten Ali X Ciracas, Jakarta Timur
phone 021 994 90760
PIC: Ferdinan Alamsyah
Monday, June 02, 2008
Powers of 10

Liat postingannya bundaelly
"Tak Selebar Daun Kelor"
http://bundaelly.multiply.com/photos/album/71/Tak_Selebar_Daun_Kelor
saya jadi ingin posting video ini
kayaknya sudah banyak juga temen2 yang sudah tau
selamat menikmati....
sebuahrefleksibahwakitatidakadaapa-apanya
Tuesday, May 20, 2008
Sudah dari tahun 1954 Momentum Kebangkitan Nasional diperdebatkan...

http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/00253378/semangat.kebangsaan.yang.harus.terus.dipelihara
"Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/00253378/semangat.kebangsaan.yang.harus.terus.dipelihara
Memang semangat kebangsaan pada tahun 1908 itu belumlah dalam pengertian seperti semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana yang dipahami pada tahun 1945 ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
Tentang kebangsaan Indonesia itu digambarkan secara menarik dalam perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane di dalam buku Polemik Kebudajaan yang diterbitkan Perpustakaan Perguruan Kementerian PP dan K Djakarta, 1954.
Sanusi Pane mengatakan, ”Tuan STA menjebut, bahwa dalam zaman Modjopahit, Diponegoro, Teungku Umar, belum ada ke-Indonesiaan. Pikiran ini kurang benarnja pada pendapatan kami. Ke-Indonesiaan pada waktu itupun sudah ada, ke-Indonesiaan dalam adat, dalam seni. Hanya natie Indonesia belum timbul, orang Indonesia belum sadar bahwa mereka sebangsa”.
Pada masa itu, semangat kebangsaan barulah pada tingkat semangat beberapa mahasiswa STOVIA asal Jawa untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda melalui cara-cara damai, dengan antara lain memperjuangkan kemajuan pendidikan.
Memang di STOVIA pada masa itu sudah ada mahasiswa yang datang dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Ambon, Manado, dan Timor. Namun, karena pada waktu itu faham kebangsaan Indonesia belum dikenal, mahasiswa-mahasiswa itu tidak dilibatkan dalam pembentukan Boedi Oetomo.
"Dari Nestapa Menuju Bangsa"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/01115281/dari.nestapa.menuju.bangsa
Di tangan Tjokroaminoto, Serikat Islam berkembang dengan empat unsur penting, yaitu bahwa Islam mengajarkan ide demokrasi dan persamaan derajat, Islam adalah dasar bagi pendidikan budi pekerti rakyat, menolak diskriminasi, serta setiap warga negara memiliki hak untuk terlibat dan berpartisipasi dalam kehidupan politik.
"Globalisasi dan Lahirnya Kekerasan"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/01111560/globalisasi.dan.lahirnya.kekerasan
Para cendekiawan Indonesia seperti Syafi’i Ma’arif, Nurcholish Madjid (alm), Abdurrahman Wahid, Din Syamsuddin, dan tokoh lainnya yang intens terlibat dalam dialog antaragama dan kebudayaan tak hentinya menggarisbawahi bahwa Islam kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi.
"Boedi Oetomo dan Nagazumi"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/01124582/boedi.oetomo.dan.nagazumi
Judul bukunya (Akira Nagazumi) Fajar-Menyingsingnya Nasionalisme Indonesia itu sering dinilai tidak tepat sebab Boedi Oetomo belum merupakan sebuah organisasi yang memperjuangkan cita-cita kebangsaan Indonesia seperti yang pada 1945 diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta.
Namun, Bung Hatta sendiri dalam tulisannya di majalah Star Weekly 17 Mei 1958 untuk memperingati 50 tahun Pergerakan Nasional mengatakan, apabila diukur dengan pengertian sekarang tentang apa yang disebut ”perjuangan politik dan pergerakan kebangsaan”, Boedi Oetomo memang belum memenuhi syarat untuk diberi nama ”Pergerakan Nasional”.
baca seterusnya di Liputan Khusus Kompas, 100 tahun kebangkitan Nasional
http://www.kompas.com/kompascetak.php/indexsec/read/liputankhusus/245
dari semua yang diungkapkan penulis di liputan khusus kompas, terlihat jelas bahwa terbentuknya Boedi Oetomo pada tahun 1908 tidak pantas untuk dijadikan momentum Kebangkitan Nasional, mereka seperti membuat penulisan untuk mendoktrin pembaca agar menerima saja bahwa terbentuknya Boedi Oetomo tahun 1908 layak dijadikan sebagai momentum Kebangkitan Nasional dengan berbagai alasan-alasannya yang masih bisa terus dibantah, layaknya Guru Sejarah saya di kelas II SMA yang mendoktrin muridnya untuk menerima terbentuknya Boedi Oetomo sebagai momentum Kebangkitan Nasional, kalau tidak nilai sejarah saya akan jelek.



