
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/00253378/semangat.kebangsaan.yang.harus.terus.dipelihara
"Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/00253378/semangat.kebangsaan.yang.harus.terus.dipelihara
Memang semangat kebangsaan pada tahun 1908 itu belumlah dalam pengertian seperti semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana yang dipahami pada tahun 1945 ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
Tentang kebangsaan Indonesia itu digambarkan secara menarik dalam perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane di dalam buku Polemik Kebudajaan yang diterbitkan Perpustakaan Perguruan Kementerian PP dan K Djakarta, 1954.
Sanusi Pane mengatakan, ”Tuan STA menjebut, bahwa dalam zaman Modjopahit, Diponegoro, Teungku Umar, belum ada ke-Indonesiaan. Pikiran ini kurang benarnja pada pendapatan kami. Ke-Indonesiaan pada waktu itupun sudah ada, ke-Indonesiaan dalam adat, dalam seni. Hanya natie Indonesia belum timbul, orang Indonesia belum sadar bahwa mereka sebangsa”.
Pada masa itu, semangat kebangsaan barulah pada tingkat semangat beberapa mahasiswa STOVIA asal Jawa untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda melalui cara-cara damai, dengan antara lain memperjuangkan kemajuan pendidikan.
Memang di STOVIA pada masa itu sudah ada mahasiswa yang datang dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Ambon, Manado, dan Timor. Namun, karena pada waktu itu faham kebangsaan Indonesia belum dikenal, mahasiswa-mahasiswa itu tidak dilibatkan dalam pembentukan Boedi Oetomo.
"Dari Nestapa Menuju Bangsa"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/01115281/dari.nestapa.menuju.bangsa
Di tangan Tjokroaminoto, Serikat Islam berkembang dengan empat unsur penting, yaitu bahwa Islam mengajarkan ide demokrasi dan persamaan derajat, Islam adalah dasar bagi pendidikan budi pekerti rakyat, menolak diskriminasi, serta setiap warga negara memiliki hak untuk terlibat dan berpartisipasi dalam kehidupan politik.
"Globalisasi dan Lahirnya Kekerasan"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/01111560/globalisasi.dan.lahirnya.kekerasan
Para cendekiawan Indonesia seperti Syafi’i Ma’arif, Nurcholish Madjid (alm), Abdurrahman Wahid, Din Syamsuddin, dan tokoh lainnya yang intens terlibat dalam dialog antaragama dan kebudayaan tak hentinya menggarisbawahi bahwa Islam kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi.
"Boedi Oetomo dan Nagazumi"
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/01124582/boedi.oetomo.dan.nagazumi
Judul bukunya (Akira Nagazumi) Fajar-Menyingsingnya Nasionalisme Indonesia itu sering dinilai tidak tepat sebab Boedi Oetomo belum merupakan sebuah organisasi yang memperjuangkan cita-cita kebangsaan Indonesia seperti yang pada 1945 diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta.
Namun, Bung Hatta sendiri dalam tulisannya di majalah Star Weekly 17 Mei 1958 untuk memperingati 50 tahun Pergerakan Nasional mengatakan, apabila diukur dengan pengertian sekarang tentang apa yang disebut ”perjuangan politik dan pergerakan kebangsaan”, Boedi Oetomo memang belum memenuhi syarat untuk diberi nama ”Pergerakan Nasional”.
baca seterusnya di Liputan Khusus Kompas, 100 tahun kebangkitan Nasional
http://www.kompas.com/kompascetak.php/indexsec/read/liputankhusus/245
dari semua yang diungkapkan penulis di liputan khusus kompas, terlihat jelas bahwa terbentuknya Boedi Oetomo pada tahun 1908 tidak pantas untuk dijadikan momentum Kebangkitan Nasional, mereka seperti membuat penulisan untuk mendoktrin pembaca agar menerima saja bahwa terbentuknya Boedi Oetomo tahun 1908 layak dijadikan sebagai momentum Kebangkitan Nasional dengan berbagai alasan-alasannya yang masih bisa terus dibantah, layaknya Guru Sejarah saya di kelas II SMA yang mendoktrin muridnya untuk menerima terbentuknya Boedi Oetomo sebagai momentum Kebangkitan Nasional, kalau tidak nilai sejarah saya akan jelek.
No comments:
Post a Comment