Logika, apa sih logika? Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.1] Lebih lanjut logika adalah sesuatu yang masuk akal. Dalam hukum fisika, maka apabila ada aksi maka pasti ada reaksi, sebaliknya apabila ada reaksi pasti sebelumnya ada aksi. Tidak jauh berbeda dengan hukum sebab akibat, apabila ada akibat pasti ada sebabnya, begitu juga sebaliknya suatu penyebab pasti menghasilkan akibat. Cara berpikir yang sederhana bukan? Penuh logika bukan?
Lalu bagaimana dengan hidup ini? Apakah memang benar tidak bisa dilogikakan? Apakah hidup ini tidak masuk akal? Memangnya buat apa Anda hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar dalam otak saya sampai dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup ini memang penuh dengan logika.
Hidup ini harus bisa dilogikakan....
Saya ingin menceritakan kejadian sore tadi ketika saya melewati sungai Ciliwung. Saya melihat sebuah gelondongan kayu besar terbawa arus sungai. Tiba-tiba gelondongan kayu tersebut terpotong-potong dengan sendirinya menjadi potongan-potongan kayu. Kemudian potongan-potongan kayu tersebut membentuk sebuah pondasi di sungai. Beberapa potongan kayu menjadi lantai, tiang, jendela, pintu, dinding kayu, dan akhirnya membentuk sebuah rumah. Rumah yang beratapkan kayu pula. Rumah itu sangat indah dan terlihat kokoh berdiri tegak di atas sungai. Hebatnya rumah itu jadi dengan sendirinya. Terbentuk dengan sendirinya tanpa ada yang membuat. Apakah Anda percaya dengan cerita saya? Pasti tidak. Karena tidak mungkin rumah itu jadi dengan sendirinya menjadi rumah yang seperti digambarkan tadi. Haruslah ada yang membuatnya, haruslah ada yang merancangnya bukan?
Begitu juga dunia ini. Pasti ada yang merancangnya, ada yang mendesainnya, ada yang membuatnya, ada yang mengaturnya. Sehingga terciptalah kehidupan di bumi ini. Pasti ada Zat yang melakukan itu semua. Mungkinkah manusia? Tidak mungkin. Karena tidak mungkin Zat yang menciptakan dunia dan isinya ini sama dengan makhluk ciptaan-Nya. Ya kita percaya. Pasti ada yang lebih berkuasa dari pada manusia yaitu Tuhan. Pasti ada Tuhan yang menciptakan semua ini. Bisa dilogikakan bukan. Tuhan yang kita miliki pasti lebih mengetahui segala sesuatu dari apa yang kita ketahui. Tuhan yang kita miliki pasti lebih berkuasa dari setiap orang yang berkuasa di muka bumi ini. Tuhan yang kita miliki tidak perlu turun ke muka bumi ini untuk mengatur manusia yang diciptakan-Nya karena dia berkuasa atas segala sesuatunya. Tuhan yang kita miliki tidak perlu tersiksa menebus dosa setiap hamba-hambaNya, karena Dia hanya cukup mengampuni dosa hambaNya saja. Masuk akal bukan?
Hidup ini penuh dengan logika....
Ketika seorang Andrie Wongso menjadi seorang Motivator No.1 di Indonesia, apakah itu berawal dari seorang pemalas yang menjalani hidupnya? Tentu tidak. Dia meyakini bahwa sukses adalah miliknya dan action adalah sebuah kekuatan untuk menjadikan impian menjadi kenyataan. Tidak ada tindakan maka tidak ada yang terjadi. Awalnya kuli panggul, mencoba menjadi pemain film laga di Taiwan, usaha serabutan, sampai menjadi motivator sekarang ini adalah sebuah proses yang panjang yang pasti dijalani dengan sebuah tujuan yang jelas. Dijalani dengan penuh semangat untuk mengejar target-target dan impian. Walau kita tahu semua itu yang mengendalikan adalah Tuhan. Tapi ingat, Tuhan pun berkata bahwa Dia tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu mau merubahnya. Dan Andrie Wongso mengerti hal ini, dia tidak akan berubah menjadi sukses, kalau dia hanya berdiam diri saja merenungi setiap mimpi-mipinya. Lalu apakah sukses itu terjadi begitu saja? Itulah proses yang harus dijalani.
Hidup ini tak mungkin tak berlogika.....
Ketika seorang teman mengatakan bahwa hidup ini tak bisa dilogikakan, maka secara tidak langsung itu akan membentuk sebuah frame berpikir orang-orang pemalas. Yang mau semuanya serba instan, serba sim salabim. Apakah mungkin kita bisa masuk sebuah perguruan tinggi terkemuka apabila kita malas-malasan dalam menghadapi ujian masuk perguruan tinggi? Pasti harus ada yang diusahakan. Pasti ada proses yang harus dijalani. Misal, mulai dari mendaftar sebagai peserta ujian, mengetahui nomor urut peserta, survey lokasi ujian, datang ke tempat ujian itu sendiri, mengisi ujian dengan cara yang tepat, melihat hasil ujian, dan segalanya terus berlanjut. Satu dari langkah tersebut tidak dijalani, pasti berbeda pula hasil dari semua proses tersebut. Katakanlah dia tidak melihat atau acuh terhadap hasil ujian tersebut karena perasaan yang pesimis, padahal dia termasuk orang yang lulus dalam ujian tersebut, apa mungkin dia bisa menjalani proses selanjutnya? Pasti sudah lain cerita.
Jadi teringat, ketika seorang teman wanita bernadzar untuk memakai jilbab jika ia masuk perguruan tinggi negeri. Tetapi usaha yang dilakukan nol, bahkan menjawab soal ujian dengan asal-asalan. Tentu hal ini tidak sebanding dengan harapannya. Hasilnya pun nol besar. Tidak ada proses yang dijalani. Berdoa tanpa ikhtiar, tidak ada rumusnya. Ikhtiar itu mutlak nilainya.
Saya mencoba merunut-merunut bagaimana saya bisa masuk kedalam perguruan tinggi negeri sampai saya setuju dengan orang yang berpendapat bahwa hidup ini memang penuh dengan pilihan. Awalnya tentu saya berusaha dengan belajar yang maksimal. Sampai saya diputuskan oleh seorang pembimbing bahwa kemampuan saya tidak akan masuk ke perguruan tinggi negeri di Jakarta atau UI. Tapi saya berusaha lebih maksimal. Dengan memperkirakan hasil try out yang terus mengalami kenaikan, saya memilih dua pilihan yang dua-duanya berada di UI, tentu dengan strategi. Yaitu dengan memilih pilihan yang kurang diminati oleh pemilih ditahun sebelumnya tetapi pilihan itu tetap yang saya sukai. Akhirnya memang nilai saya tetap mengalami kenaikan, tapi tidak sesuai harapan karena tidak memenuhi target untuk mendapat pilihan pertama. Tetapi strategi saya berhasil, ternyata peminatnya masih sedikit seperti tahun sebelumnya sehingga saya mendapat pilihan pertama walau dengan nilai yang pas-pasan. Semua penuh logika bukan? Apakah ini suatu hal yang tanpa proses?
Hidup ini tak bernilai jika tak berlogika
Seorang yang saya hormati mengatakan dengan tegas, ”hidup ini memang tak bisa dilogikakan”. Dia bercerita suatu kejadian di kantornya ketika banyak tanggungan atau katakanlah hutang (utang atau hutang sih?-red) yang harus dibayar pada waktunya. Awalnya dia merasa menyadari banyak orang kaya yang stress karena kekayaannya, padahal banyak orang juga stress karena ingin kaya. Karena dia juga merasakan, ketika omzet perusahaannya mencapai ratusan juta, tapi dia sendiri tidak pernah melihat uang sejumlah itu di depan matanya. Uang masuk ke rekening, atau lewat perantara, atau masuk bendahara, atau dijadikan pinjaman, kemudian uang itu keluar melalui gaji pegawai, tanggungan lain, atau hutang-hutang, sehingga dia hanya mengatur uang itu tanpa melihat bentuk uang itu sendiri. Sampai ketika dia harus mengeluarkan uang untuk tanggungan-tanggungan itu tetapi uang yang masuk belum juga ada, sehingga ia ketar-ketir telepon kesana-kemari sampai akhirnya tanggungan itu terlunasi juga. Hebatnya dia melakukan itu hanya dengan sebuah alat di genggaman tangannya, sambil melakukan kegiatan lain di puncak. Pertanyaannya adalah apakah ini sesuatu yang tak bisa dilogikakan?? Kecuali dia tidak berusaha untuk melunasi tanggungannya dengan menelepon kesana-kemari kemudian hutang itu terlunasi dengan sendirinya, maka saya setuju bahwa hidup ini memang tak bisa dilogikakan.
Sampai disini sebenarnya tulisan ini sudah selesai dibuat dari minggu yang lalu. Namun ada yang terganjal di dalam pikiran saya bahwa tetap akan ada orang yang menganggap di dalam hidup ini sesuatu yang tak bisa dilogikakan. Akhirnya saya pun sharing dengan beberapa teman tentang ’hidup yang tak bisa dilogikakan’ ini, kemudian merenunginya, berpikir sejenak, menganalisis, sampai saya menyimpulkan bahwa pernyataan akan sesuatu hal yang tak bisa dilogikakan itu akan tetap ada. Entahlah tentang hidup yang tak bisa dilogikakan atau tentang hal lainnya, hal itu akan tetap ada. Tergantung dari sudut mana mereka berpikir. Tergantung sampai batas mana tingkat ilmu dan wawasan yang mereka miliki. Tergantung seberapa besar keinginan mereka memecahkan misteri-misteri yang ada. Tergantung seberapa jauh mereka menganalisa suatu hal yang tak bisa dilogikakan tersebut. Misalnya, ketika dahulu orang mengatakan tidak mungkin untuk terbang, tetapi sekarang dengan terus mencari cara untuk terbang dengan ilmu yang juga terus dikembangkan, akhirnya manusia bisa terbang bahkan melebihi kecepatan suara. Ketika dahulu orang menganggap tidak mungkin untuk pergi ke belahan dunia lain tanpa membawa uang kontan tetapi cukup dengan membawa sebuah kartu saja sudah bisa berbelanja di belahan dunia lain itu dan sekarang kenyataannya amatlah mudah. Ketika pengikut Muhammad diawal-awal dakwahnya hampir kembali murtad karena ketidakpercayaan mereka bahwa Muhammad saw telah melakukan Isra Miraj, tetapi seorang Abu Bakar ra langsung mempercayai begitu saja, tentu dengan tingkat keimanan yang pasti berbeda, juga tentu dengan cara berpikir yang penuh dengan logika. Anda percaya?!?
Maka saya berani menyatakan bahwa sesuatu hal yang terjadi pasti bisa dilogikakan oleh akal kita, sampai waktu yang akan memisahkan segalanya. Bahkan keberadaan jin yang ada di sekitar kita, malaikat yang tidak terlihat oleh kita, surga dan neraka yang tidak pernah kita rasakan, keberadaannya pun masih bisa dilogikakan.
Ternyata hidup ini memang harus bisa dilogikakan!
1] http://id.wikipedia.org/wiki/Logika
No comments:
Post a Comment