Sunday, June 24, 2007

Aku yang tak pernah berubah

Jika tak ada mereka, teman-temanku yang mengingatkanku akan diriku, mungkin tak ada yang ku ketahui tentang diriku. Mungkin aku akan termasuk orang yang tidak tahu apa yang aku tidak tahu.

Ada yang terbuka mengatakan bahwa dia tidak suka padaku karena perbuatanku yang bla bla bla. Ada yang berusaha menegur dengan halus tentang ketidaksukaannya padaku. Ada yang secara langsung, menusuk langsung ke dalam hati, ada juga yang dengan candaan. Ada yang menggunakan kalimat retoris yang akhirnya membuat aku berdebat dengannya. Pada intinya mereka semua menyayangiku dengan menegurku.

Seringkali perbuatan yang aku kira hanya luapan emosiku sesaat ternyata berbekas cukup lama pada teman-temanku, terpendam, bagai api dalam sekam, dan ketika sekam itu terbuka sedikit saja, maka meledak-ledaklah emosi itu keluar.

Lain kali kalo ane punya koran ga akan kasih pinjem ke ente”

Bingung juga ketika seorang teman mengatakan ini kepada ku. Tanpa ekspresi!

Setelah ku tanya alasannya, tahulah aku bahwa dia kecewa terhadap sikap ku yang tidak amanah menjaga koran yang kupinjam dari temanku yang lain. Tanpa kusadari pula ternyata aku orang yang keras kepala juga. Sudah tahu aku salah masih membantah pula.

“Kaya ente pernah ngasih pinjem koran aja Her.”

Terdiam beberapa saat. Berkecamuk juga dalam hati ini, apa yang baru saja kuperbuat. Dan akhirnya kusadari, bahwa aku salah. Dan ku tahu karena ada yang memberitahu secara tidak langsung. Aku yang tidak bisa menjaga barang. Aku yang tidak mau mengalah. Aku yang egois yang hanya memikirkan diriku sesaat, tidak melihat kepentingan orang lain. Tak ku baca sikapnya dari awal yang memang tanpa ekspresi, akan ketidaksukaannya terhadap sikapku dari tadi. Melempar-lempar koran, memaki-maki koran, dan puncaknya ketika seorang teman sedang membaca koran, aku pukul korannya.

Tak kusadari sifatku ini. Aku yang tak pernah berubah.

Teringat ketika seorang teman membawa cartridge printer yang akan dia isi dengan tinta. Aku memperlakukannya dengan seenak hati, walau ku tahu tak melewati batas kewajaran sehingga tidak akan merusak cartridge itu. Tapi aku lupa bahwa dia menjaganya dengan sangat hati-hati, dan aku bukan malah menyamakan hati, malah menghardiknya. Apakah ini aku yang tak pernah berubah?

Setiap kejadian setiap pelajaran. Setiap ku ambil hikmahnya. Tak pernah menyatu dalam jiwa untuk setiap kejadian berikutnya. Belajar dari masalah. Berbuat yang lebih baik lagi. Ah, apakah aku harus dikucilkan dulu baru bisa merasa seperti ini? Apakah aku harus merasakan penderitaan dulu, baru bisa merasakan kenikmatan yanhg sebenarnya? Apakah aku bisa memotivasi orang lain dengan jiwaku yang seperti ini? Aku yang sombong, aku yang tak pernah berubah. Aku yang selalu mempelajari diriku dan gagal untuk memperbaikinya. Aku yang merasa sudah tahu bahwa aku telah mengetahui yang sebenarnya, ternyata hanyalah manusia yang perlu diberi tahu tentang apa yang harus ku tahu dan tentang apa yang tidak ku tahu.

No comments: