| Start: | Jun 29, '07 10:00a |
| End: | Jul 7, '07 7:00p |
| Location: | Plasa Gedung A Komplek Depdiknas RI (Jl. Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta Pusat - samping Pertokoan Ratu Plasa) |
Saturday, June 30, 2007
Festival Buku Diskon 2007 di Library@Senayan
Sunday, June 24, 2007
Aku yang tak pernah berubah
Ada yang terbuka mengatakan bahwa dia tidak suka padaku karena perbuatanku yang bla bla bla. Ada yang berusaha menegur dengan halus tentang ketidaksukaannya padaku. Ada yang secara langsung, menusuk langsung ke dalam hati, ada juga yang dengan candaan. Ada yang menggunakan kalimat retoris yang akhirnya membuat aku berdebat dengannya. Pada intinya mereka semua menyayangiku dengan menegurku.
Seringkali perbuatan yang aku kira hanya luapan emosiku sesaat ternyata berbekas cukup lama pada teman-temanku, terpendam, bagai api dalam sekam, dan ketika sekam itu terbuka sedikit saja, maka meledak-ledaklah emosi itu keluar.
“Lain kali kalo ane punya koran ga akan kasih pinjem ke ente”
Bingung juga ketika seorang teman mengatakan ini kepada ku. Tanpa ekspresi!
Setelah ku tanya alasannya, tahulah aku bahwa dia kecewa terhadap sikap ku yang tidak amanah menjaga koran yang kupinjam dari temanku yang lain. Tanpa kusadari pula ternyata aku orang yang keras kepala juga. Sudah tahu aku salah masih membantah pula.
“Kaya ente pernah ngasih pinjem koran aja Her.”
Terdiam beberapa saat. Berkecamuk juga dalam hati ini, apa yang baru saja kuperbuat. Dan akhirnya kusadari, bahwa aku salah. Dan ku tahu karena ada yang memberitahu secara tidak langsung. Aku yang tidak bisa menjaga barang. Aku yang tidak mau mengalah. Aku yang egois yang hanya memikirkan diriku sesaat, tidak melihat kepentingan orang lain. Tak ku baca sikapnya dari awal yang memang tanpa ekspresi, akan ketidaksukaannya terhadap sikapku dari tadi. Melempar-lempar koran, memaki-maki koran, dan puncaknya ketika seorang teman sedang membaca koran, aku pukul korannya.
Tak kusadari sifatku ini. Aku yang tak pernah berubah.
Teringat ketika seorang teman membawa cartridge printer yang akan dia isi dengan tinta. Aku memperlakukannya dengan seenak hati, walau ku tahu tak melewati batas kewajaran sehingga tidak akan merusak cartridge itu. Tapi aku lupa bahwa dia menjaganya dengan sangat hati-hati, dan aku bukan malah menyamakan hati, malah menghardiknya. Apakah ini aku yang tak pernah berubah?
Setiap kejadian setiap pelajaran. Setiap ku ambil hikmahnya. Tak pernah menyatu dalam jiwa untuk setiap kejadian berikutnya. Belajar dari masalah. Berbuat yang lebih baik lagi. Ah, apakah aku harus dikucilkan dulu baru bisa merasa seperti ini? Apakah aku harus merasakan penderitaan dulu, baru bisa merasakan kenikmatan yanhg sebenarnya? Apakah aku bisa memotivasi orang lain dengan jiwaku yang seperti ini? Aku yang sombong, aku yang tak pernah berubah. Aku yang selalu mempelajari diriku dan gagal untuk memperbaikinya. Aku yang merasa sudah tahu bahwa aku telah mengetahui yang sebenarnya, ternyata hanyalah manusia yang perlu diberi tahu tentang apa yang harus ku tahu dan tentang apa yang tidak ku tahu.
Friday, June 22, 2007
Hidup ini Memang Harus Bisa Dilogikakan
Logika, apa sih logika? Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.1] Lebih lanjut logika adalah sesuatu yang masuk akal. Dalam hukum fisika, maka apabila ada aksi maka pasti ada reaksi, sebaliknya apabila ada reaksi pasti sebelumnya ada aksi. Tidak jauh berbeda dengan hukum sebab akibat, apabila ada akibat pasti ada sebabnya, begitu juga sebaliknya suatu penyebab pasti menghasilkan akibat. Cara berpikir yang sederhana bukan? Penuh logika bukan?
Lalu bagaimana dengan hidup ini? Apakah memang benar tidak bisa dilogikakan? Apakah hidup ini tidak masuk akal? Memangnya buat apa Anda hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar dalam otak saya sampai dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup ini memang penuh dengan logika.
Hidup ini harus bisa dilogikakan....
Saya ingin menceritakan kejadian sore tadi ketika saya melewati sungai Ciliwung. Saya melihat sebuah gelondongan kayu besar terbawa arus sungai. Tiba-tiba gelondongan kayu tersebut terpotong-potong dengan sendirinya menjadi potongan-potongan kayu. Kemudian potongan-potongan kayu tersebut membentuk sebuah pondasi di sungai. Beberapa potongan kayu menjadi lantai, tiang, jendela, pintu, dinding kayu, dan akhirnya membentuk sebuah rumah. Rumah yang beratapkan kayu pula. Rumah itu sangat indah dan terlihat kokoh berdiri tegak di atas sungai. Hebatnya rumah itu jadi dengan sendirinya. Terbentuk dengan sendirinya tanpa ada yang membuat. Apakah Anda percaya dengan cerita saya? Pasti tidak. Karena tidak mungkin rumah itu jadi dengan sendirinya menjadi rumah yang seperti digambarkan tadi. Haruslah ada yang membuatnya, haruslah ada yang merancangnya bukan?
Begitu juga dunia ini. Pasti ada yang merancangnya, ada yang mendesainnya, ada yang membuatnya, ada yang mengaturnya. Sehingga terciptalah kehidupan di bumi ini. Pasti ada Zat yang melakukan itu semua. Mungkinkah manusia? Tidak mungkin. Karena tidak mungkin Zat yang menciptakan dunia dan isinya ini sama dengan makhluk ciptaan-Nya. Ya kita percaya. Pasti ada yang lebih berkuasa dari pada manusia yaitu Tuhan. Pasti ada Tuhan yang menciptakan semua ini. Bisa dilogikakan bukan. Tuhan yang kita miliki pasti lebih mengetahui segala sesuatu dari apa yang kita ketahui. Tuhan yang kita miliki pasti lebih berkuasa dari setiap orang yang berkuasa di muka bumi ini. Tuhan yang kita miliki tidak perlu turun ke muka bumi ini untuk mengatur manusia yang diciptakan-Nya karena dia berkuasa atas segala sesuatunya. Tuhan yang kita miliki tidak perlu tersiksa menebus dosa setiap hamba-hambaNya, karena Dia hanya cukup mengampuni dosa hambaNya saja. Masuk akal bukan?
Hidup ini penuh dengan logika....
Ketika seorang Andrie Wongso menjadi seorang Motivator No.1 di Indonesia, apakah itu berawal dari seorang pemalas yang menjalani hidupnya? Tentu tidak. Dia meyakini bahwa sukses adalah miliknya dan action adalah sebuah kekuatan untuk menjadikan impian menjadi kenyataan. Tidak ada tindakan maka tidak ada yang terjadi. Awalnya kuli panggul, mencoba menjadi pemain film laga di Taiwan, usaha serabutan, sampai menjadi motivator sekarang ini adalah sebuah proses yang panjang yang pasti dijalani dengan sebuah tujuan yang jelas. Dijalani dengan penuh semangat untuk mengejar target-target dan impian. Walau kita tahu semua itu yang mengendalikan adalah Tuhan. Tapi ingat, Tuhan pun berkata bahwa Dia tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu mau merubahnya. Dan Andrie Wongso mengerti hal ini, dia tidak akan berubah menjadi sukses, kalau dia hanya berdiam diri saja merenungi setiap mimpi-mipinya. Lalu apakah sukses itu terjadi begitu saja? Itulah proses yang harus dijalani.
Hidup ini tak mungkin tak berlogika.....
Ketika seorang teman mengatakan bahwa hidup ini tak bisa dilogikakan, maka secara tidak langsung itu akan membentuk sebuah frame berpikir orang-orang pemalas. Yang mau semuanya serba instan, serba sim salabim. Apakah mungkin kita bisa masuk sebuah perguruan tinggi terkemuka apabila kita malas-malasan dalam menghadapi ujian masuk perguruan tinggi? Pasti harus ada yang diusahakan. Pasti ada proses yang harus dijalani. Misal, mulai dari mendaftar sebagai peserta ujian, mengetahui nomor urut peserta, survey lokasi ujian, datang ke tempat ujian itu sendiri, mengisi ujian dengan cara yang tepat, melihat hasil ujian, dan segalanya terus berlanjut. Satu dari langkah tersebut tidak dijalani, pasti berbeda pula hasil dari semua proses tersebut. Katakanlah dia tidak melihat atau acuh terhadap hasil ujian tersebut karena perasaan yang pesimis, padahal dia termasuk orang yang lulus dalam ujian tersebut, apa mungkin dia bisa menjalani proses selanjutnya? Pasti sudah lain cerita.
Jadi teringat, ketika seorang teman wanita bernadzar untuk memakai jilbab jika ia masuk perguruan tinggi negeri. Tetapi usaha yang dilakukan nol, bahkan menjawab soal ujian dengan asal-asalan. Tentu hal ini tidak sebanding dengan harapannya. Hasilnya pun nol besar. Tidak ada proses yang dijalani. Berdoa tanpa ikhtiar, tidak ada rumusnya. Ikhtiar itu mutlak nilainya.
Saya mencoba merunut-merunut bagaimana saya bisa masuk kedalam perguruan tinggi negeri sampai saya setuju dengan orang yang berpendapat bahwa hidup ini memang penuh dengan pilihan. Awalnya tentu saya berusaha dengan belajar yang maksimal. Sampai saya diputuskan oleh seorang pembimbing bahwa kemampuan saya tidak akan masuk ke perguruan tinggi negeri di Jakarta atau UI. Tapi saya berusaha lebih maksimal. Dengan memperkirakan hasil try out yang terus mengalami kenaikan, saya memilih dua pilihan yang dua-duanya berada di UI, tentu dengan strategi. Yaitu dengan memilih pilihan yang kurang diminati oleh pemilih ditahun sebelumnya tetapi pilihan itu tetap yang saya sukai. Akhirnya memang nilai saya tetap mengalami kenaikan, tapi tidak sesuai harapan karena tidak memenuhi target untuk mendapat pilihan pertama. Tetapi strategi saya berhasil, ternyata peminatnya masih sedikit seperti tahun sebelumnya sehingga saya mendapat pilihan pertama walau dengan nilai yang pas-pasan. Semua penuh logika bukan? Apakah ini suatu hal yang tanpa proses?
Hidup ini tak bernilai jika tak berlogika
Seorang yang saya hormati mengatakan dengan tegas, ”hidup ini memang tak bisa dilogikakan”. Dia bercerita suatu kejadian di kantornya ketika banyak tanggungan atau katakanlah hutang (utang atau hutang sih?-red) yang harus dibayar pada waktunya. Awalnya dia merasa menyadari banyak orang kaya yang stress karena kekayaannya, padahal banyak orang juga stress karena ingin kaya. Karena dia juga merasakan, ketika omzet perusahaannya mencapai ratusan juta, tapi dia sendiri tidak pernah melihat uang sejumlah itu di depan matanya. Uang masuk ke rekening, atau lewat perantara, atau masuk bendahara, atau dijadikan pinjaman, kemudian uang itu keluar melalui gaji pegawai, tanggungan lain, atau hutang-hutang, sehingga dia hanya mengatur uang itu tanpa melihat bentuk uang itu sendiri. Sampai ketika dia harus mengeluarkan uang untuk tanggungan-tanggungan itu tetapi uang yang masuk belum juga ada, sehingga ia ketar-ketir telepon kesana-kemari sampai akhirnya tanggungan itu terlunasi juga. Hebatnya dia melakukan itu hanya dengan sebuah alat di genggaman tangannya, sambil melakukan kegiatan lain di puncak. Pertanyaannya adalah apakah ini sesuatu yang tak bisa dilogikakan?? Kecuali dia tidak berusaha untuk melunasi tanggungannya dengan menelepon kesana-kemari kemudian hutang itu terlunasi dengan sendirinya, maka saya setuju bahwa hidup ini memang tak bisa dilogikakan.
Sampai disini sebenarnya tulisan ini sudah selesai dibuat dari minggu yang lalu. Namun ada yang terganjal di dalam pikiran saya bahwa tetap akan ada orang yang menganggap di dalam hidup ini sesuatu yang tak bisa dilogikakan. Akhirnya saya pun sharing dengan beberapa teman tentang ’hidup yang tak bisa dilogikakan’ ini, kemudian merenunginya, berpikir sejenak, menganalisis, sampai saya menyimpulkan bahwa pernyataan akan sesuatu hal yang tak bisa dilogikakan itu akan tetap ada. Entahlah tentang hidup yang tak bisa dilogikakan atau tentang hal lainnya, hal itu akan tetap ada. Tergantung dari sudut mana mereka berpikir. Tergantung sampai batas mana tingkat ilmu dan wawasan yang mereka miliki. Tergantung seberapa besar keinginan mereka memecahkan misteri-misteri yang ada. Tergantung seberapa jauh mereka menganalisa suatu hal yang tak bisa dilogikakan tersebut. Misalnya, ketika dahulu orang mengatakan tidak mungkin untuk terbang, tetapi sekarang dengan terus mencari cara untuk terbang dengan ilmu yang juga terus dikembangkan, akhirnya manusia bisa terbang bahkan melebihi kecepatan suara. Ketika dahulu orang menganggap tidak mungkin untuk pergi ke belahan dunia lain tanpa membawa uang kontan tetapi cukup dengan membawa sebuah kartu saja sudah bisa berbelanja di belahan dunia lain itu dan sekarang kenyataannya amatlah mudah. Ketika pengikut Muhammad diawal-awal dakwahnya hampir kembali murtad karena ketidakpercayaan mereka bahwa Muhammad saw telah melakukan Isra Miraj, tetapi seorang Abu Bakar ra langsung mempercayai begitu saja, tentu dengan tingkat keimanan yang pasti berbeda, juga tentu dengan cara berpikir yang penuh dengan logika. Anda percaya?!?
Maka saya berani menyatakan bahwa sesuatu hal yang terjadi pasti bisa dilogikakan oleh akal kita, sampai waktu yang akan memisahkan segalanya. Bahkan keberadaan jin yang ada di sekitar kita, malaikat yang tidak terlihat oleh kita, surga dan neraka yang tidak pernah kita rasakan, keberadaannya pun masih bisa dilogikakan.
Ternyata hidup ini memang harus bisa dilogikakan!
1] http://id.wikipedia.org/wiki/Logika
Monday, June 18, 2007
Sore Itu Di Jalan Yang Amat Panjang
Aku berpikir sejenak, ”saatnya kah kutanyakan sekarang?”. Aku menunggu saat-saat seperti ini. Saat ketika kami -aku, Ibu, dan Ayahku- tidak memikirkan yang baru saja dikerjakan dan tidak memikirkan apa yang akan kami kerjakan. Pikiran kami hening, hanya berpikir tentang apa yang sedang kami lakukan sekarang. Bagaimana aku bisa mengetahui yang seperti ini? Ah, memang irama hidup yang membuat kami saling mengenal satu sama lain dalam anggota keluarga walaupun diantara kami tidak ada yang bicara
”Ayah”, kupecah suasana. ”Boleh nggak Armin nikah?”
Ayahku menoleh ke arahku tanpa ekspresi. Ibuku yang duduk dibelakang Ayahku juga menoleh ke arahku, aku tak melihatnya tapi aku bisa merasakannya karena jarakku dengannya tak terlalu jauh. Wajar saja sikap mereka seperti itu, aku baru saja dinyatakan lulus kuliah setelah aku selesaikan skripsi minggu lalu dan tiga minggu lagi aku akan wisuda.
”Mau menikah sama siapa?”, pertanyaan Ayahku datar, tidak menolak, tidak juga menerima, masih menganggap aku bercanda mungkin.
”Ya belum ada lah, kalau sudah diizinin, baru Armin cari calonnya. Jadi boleh nggak?”
”Coba tanya Mamah tuh! boleh nggak?”
”Boleh Mah?”, sebenarnya tanpa disuruh pun aku akan menyakan juga kepada Ibuku kalau Ayahku sudah menjawab boleh atau tidaknya, tetapi bahkan belum dijawabpun aku sudah disuruh bertanya.
”Boleh-boleh aja kalau Ayah bilang boleh. Sudah tanya kakakmu Min?”
Sudah kusiapkan segalanya sampai kudapat kesempatan seperti saat ini. Aku memang punya satu kakak perempuan bertaut satu tahun umurnya dariku. Dia tidak ikut di liburan kali ini. Istilah yang saya pakai, dia lebih suka”jaga rumah” dari pada ikut berpergian.
Aku sudah tanyakan hal ini kepada kakakku karena kutahu hal ini akan menjadi sebuah pertanyaan kelak. Pertanyaan yang dia ajukan pun sama seperti Ayahku, tentunya dengan jawaban yang sama pula. Sampai akhirnya kujelaskan semua, dia pun mengijinkan, ”Boleh aja kalau Ayah dan Mamah bilang boleh.”
***
Aku tak pernah pacaran. High quality jomblo kata orang-orang. Apapun yang mereka katakan, aku punya alasan tersendiri mengapa aku melakukan itu. Aku memang dekat dengan beberapa wanita, tetapi hanya sebatas teman. Sebagaimana laki-laki yang lain aku pun punya hasrat dan suka dengan beberapa wanita. Namun setiap orang punya ilmu dan wawasan yang berbeda, punya hati dan perasaan yang berbeda, dan punya pemahaman dan pendapat yang berbeda. Ya, sampai ku putuskan aku akan pacaran kalau sudah menikah, pacaran dengan istriku tentunya. Ku cari ilmu dan wawasan untuk persiapan, ku pupuk kepercayaan orang tua, ku bangun usaha untuk menghidupi keluarga ku kelak, sampai ku siap untuk mendapatkan pendampingku.
”Kamu yakin Min?”, tanya temanku memastikan.
Aku hanya tersenyum, ku rasa sudah berulang kali menjelaskan semuanya, memastikan segalanya. Aku akan menikah dengan wanita pilihanku. Tetapi aku ingin melewati proses itu. Aku ingin proses ta’aruf (mengenal) itu kulalui, karena tak sepenuhnya kukenal dirinya. Aku ingin temanku ini membantuku dalam proses ini karena dia kupercayai untuk memutuskan juga apakah wanita ini layak bagiku.
Wanita ini sudah ku kenal sejak SMA, tetapi hanya setahun. Aku tidak terlalu mengenal dirinya, tetapi aku tahu tabiatnya yang sangat berbeda dari wanita lainnya. Lembut, santun, bicara seperlunya, tentulah sangat berbeda dengan wanita kebanyakan. Sempat kunyatakan perasaanku kepadanya. Hebatnya dia tidak menolak dan tidak menerima. Sampai aku pun ingin melupakannya.
Ya, aku manusia yang punya akal. Bertambah ilmu dan wawasan, sudah seharusnya bertambah pula tingkat iman dan ketaqwaan. Aku berubah, dan kuharap memang perubahan itu ke arah yang lebih baik. Aku menyesali beberapa hal dalam hidupku, dan akupun menyadari beberapa hal yang harus kulakukan.
Selama perubahan itu pula aku tetap menjaga komunikasi dengannya, dengan fasilitas SMS tanpa pernah mendengar suaranya. Awalnya sebulan beberapa kali, kemudian sebulan hanya sekali, sampai akhirnya setahun mungkin hanya tiga kali aku berkomunikasi dengannya. Aku pun tahu perubahan yang ada pada dirinya. Perubahan yang lebih baik pastinya. Perubahan yang tanpa pengaruhku tentunya.
”Dia memang layak untukmu!”, kali ini temanku yang memastikan.
Penilaianku tak salah, tetapi aku akan tetap melakukan ta’aruf itu. Aku harus mengenalnya sejauh mungkin. Aku ingin mengikuti Nabiku, aku ingin menikahinya karena agamanya. Walau aku tahu perubahan yang ada pada dirinya, tetapi aku tidak mengetahui sepenuhnya.
Sekali lagi aku memastikannya, aku akan menikahinya. Kemudian bertemu dengan keluarganya, menentukan hari, tanggal, dan menentukan segalanya. Aku pun melangsungkan akad nikah dan kemudian hidup bahagia bersamanya.
”Dan itu hanya impian?” adikku yang pria ini bertanya sinis.
”Ya, seperti yang kau tahu.”
”Ya, kenapa? Kenapa kakak masih belum menikah? Bukankah indah impian itu?”. Dia bertanya dengan penuh hasratnya, menyesali keputusan yang telah kuambil. Di umurku yang sudah berkepala tiga ini, aku masih juga belum memutuskan untuk menikah. Bahkan adik-adikku mendahuluiku.
”Kamu ingat di sore itu di jalan yang amat panjang, di jalan tol dari Anyer menuju Jakarta. Kamu tertidur pulas.”
”Memangnya apa yang terjadi di dalam mobil itu?”, suaranya kini pelan dan berbicara perlahan.
”Kukira Ayah akan mengizinkanku untuk menikah... Tetapi ternyata tidak. Ayah bilang aku harus mapan dulu agar aku bisa menghidupi anak dan istriku kelak. Selain itu aku dilarang mendahului kakak dengan berbagai alasan-alasannya. Aku beri penjelasan sebisa mungkin di dalam mobil itu tetapi tidak berhasil. Beberapa haripun aku melakukan pendekatan kepadanya juga tak berhasil. Sampai kuputuskan untuk menghormati Ayah, karena aku sangat berharap mendapat restu darinya. Tetapi apalah arti kemapanan itu. Sampai sekarang aku masih belum merasa mapan atas apa yang aku miliki. Aku merasa selalu sibuk untuk mengejar kemapanan itu. Aku merasa tak ada waktu selain untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Sampai aku memang lupa dengan impianku itu. Sampai aku tak lagi memikirkan itu lagi. Sampai ada yang mampu menjelaskan kepadaku untuk apa aku harus menikah??!?”
***
Cerpen ku yang keempat
saran dan kritiknya ya...
Wednesday, June 06, 2007
Seminar "The Personality Mastery 2007"
| Start: | Jun 16, '07 09:00a |
| End: | Jun 16, '07 5:00p |
| Location: | Jitec - MAngga Dua Squae lt.8 |
jaga iman, tingkatkan taqwa
berlindung kepada Yang Maha Membolak-balikkan Hati
baru ikut seminar kayak gini
http://img231.imageshack.us/img231/5223/thepersonalitymastery20mx4.jpg
Tuhan tidak akan merubah suatu kaum, kalau kaum itu tidak mau merubahnya
Carilah Ilmu walau sampai ke negeri Cina
Positive Business Ideas

| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Business & Investing |
| Author: | James Gwee |
http://tamanfirdaus.multiply.com/journal/item/18?mark_read=tamanfirdaus:journal:18&replies_read=12