Saturday, December 28, 2013

Mbombo, Bima, NTB














Mbombo tahun 70-80 an



















Mbombo tahun 2004



Perjalanan ke Mbombo















Man, foto dulu doong !!



















Aduh, panas !!!
sungainya kering lagi.......

untung pake topi......
















kalo saya pake payung dong!!!


eh, kalo saya pake jilbab dong!!!





















ngadem dulu ah kakinya !!

















pisangnya ga ada...


















yang dibawah : man, foto dong !! lagi rame nih!!


yang diatas : disini juga difoto dong!!


















yang dipojok : saya kena difoto ga??

















hayo, abis mandi kita makan ayam bakar!!























saya yang bakar ayamnya yah!!
















ayo jangan rebutan !!!





















nyam, nyam, nyam, udah laper nih!!
















saya dibagi dong!!!!





















mandi lagi ah!!!





















awas ada batu !!!
















awas kena kepala orang !!!
















ini singasana ku !!!

Thursday, March 31, 2011

Ketika bersenang-senang bernilai pahala :)

Teringat kisah Sahabat ketika Hanzhalah ra bertemu dengan Abu Bakar ra,

"Wahai Abu Bakr, Hanzhalah telah munafik."

Jelas, saat itu Abu Bakar bingung dengan klaim Hanzhalah tentang kemunafikannya. Hanzhalah pun menjelaskan kenapa demikian, "Ketika kami berada di sisi Rasulullah saw, beliau mengingatkan kami surga dan neraka hingga seakan-akan mata melihatnya. Namun setelah itu, saya pulang menemui keluargaku, dan saya pun tertawa dan bermain-main bersama anak dan isteriku."

Waw, beginilah mereka, para Sahabat Rasulullah yang sangat menjaga keimanannya. Untuk sekedar tertawa dan bermain bersama keluarga saja sangat diperhatikannya, agar tidak melalaikan keimanannya. Abu Bakar pun merasakan hal yang sama sehingga mereka berdua menemui Rasulullah saw.

Beliau pun bersabda, "Wahai Hanzhalah, sekiranya saat kalian berada di rumah-rumah kalian, sebagaimana saat kalian berada di sisiku, niscaya malaikat akan menyalami kalian. Dan saat kalian berada di rumah atau di jalan, maka (ingatlah sewaktu) waktu."[1]

Inilah manusia dengan fitrahnya. Kita bukan malaikat, yang ketika diperintahkan bersujud oleh Allah maka akan bersujud selamanya perintah itu berlangsung, tanpa ada rasa jenuh. Kita ini manusia, yang Allah juga tau kita ini manusia, yang juga butuh kesenangan. Maka ada hal-hal yang wajib sehingga Allah perintahkan, ada hal-hal yang haram sehingga Allah larang, dan ada hal-hal yang mubah sehingga Allah bolehkan.

Kita akan berdosa ketika meninggalkan yang wajib dan mengerjakan yang haram, dan akan mendapat pahala jika mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Namun yang wajib jika dilakukan secara berlebihan bisa menyebabkan kita berdosa. Contohnya, jika kita diperintahkan untuk shalat Magrib 3 rakaat, ya jangan ditambah menjadi 4 rakaat. Bid’ah namanya[2].

Hal yang mubah bisa bernilai pahala tetapi jika berlebihan akan membuat kita dekat dengan dosa[3]. Tertawa atau bersenda gurau dengan dengan keluarga atau teman adalah sesuatu yang mubah karena membuat kita terhindar dari kejenuhan, tetapi jangan dilakukan berlebihan sehingga mematikan hati dan pikiran[4] atau bahkan jatuh ke jurang neraka[5].

Nah ada juga saat ketika bersenang-senang bisa bernilai pahala. Yaitu saat bersetubuh dengan pasangannya yang sudah halal dengan akad nikah[6]. Mau?

Terus kamu kapan Man? Langsung aja deh bertanya sendiri, sebelum ditanya duluan. Jawabnya, “Insya Allah, akan indah pada waktunya!” :)



[1] Hanzhalah berkata; Suatu ketika, kami berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menyebutkan tentang surga dan neraka, hingga seolah-olah mata melihatnya. Setelah itu saya beranjak pulang menemui keluargaku, dan saat itu aku pun tertawa bersama isteri dan anakku. Kemudian aku teringat, akan perasaanku saat berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu aku keluar dan berjumpa dengan Abu Bakr. Aku pun berkata, "Wahai Abu Bakr, Hanzhalah telah munafik." Ia bertanya, "Kenapa bisa begitu?" saya berkata, "Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau mengingatkan kami surga dan neraka hingga seakan-akan mata melihatnya. Namun setelah itu, saya pulang menemui keluargaku, dan saya pun tertawa dan bermain-main bersama anak dan isteriku." Abu Bakar berkata, "Sesungguhnya kami juga melakukan hal yang demikian." Maka aku pun menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menuturkan hal itu pada beliau. Beliau bersabda: "Wahai Hanzhalah, sekiranya saat kalian berada di rumah-rumah kalian, sebagaimana saat kalian berada di sisiku, niscaya malaikat akan menyalami kalian. Dan saat kalian berada di rumah atau di jalan, maka (ingatlah sewaktu) waktu." (HR. Ahmad)

[2] “Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ad-Darimy)

[3] Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.( QS. Al Isra’ (17): 27)

[4] "Berhati-hatilah dengan banyak tertawa sebab ia menyebabkan hati menjadi mati" (HR. Shohih Al Jami)

[5] Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66].

[6] Rasulullah SAW bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Friday, February 25, 2011

[FF] Akan Indah Pada Waktunya 2

“Hei, apa kabar?”, kaget aku disapanya. Sudah telat datang ke nikahan orang, celingak-celinguk ke kanan ke kiri tak ada yang dikenal, eeh atasan lamaku menegurku dari belakang.

“Baik Bu. Ibu gimana?”

Mulailah berbasa-basi menghangatkan pembicaraan. Datar! Membicarakan pekerjaan baru yang kugeluti sampai diajak kembali bergabung ke perusahaannya lagi. Tapi yang  paling mengagetkan pertanyaannya yang satu ini.

“Kamu jadi nikah sama yang dulu?”. Upss, masih ingat saja dia. Mau jawab apa saya?

“Tidak jadi Bu, sudah pisah.”, jawabku tersenyum berharap pembicaraan segera berakhir.

“Wah kurang cinta kamu ya?”

Aku tersentak, “ya nggak gitu juga Bu”, jawabku tetap dengan senyumku.

Dia kembali menyentakku, “atau kamunya juga kurang gigih kali perjuangannya?”

“ya sudah kok Bu”, jawabku singkat, tentu dengan senyumku.

Padahal di dalam hati jawabku panjang, “Aku telah dipertemukan Allah dengannya, maka aku pasti berusaha mencintainya karena Allah. Tapi kemudian takdirNya tidak berakhir seperti yang diharapkan, akupun siap berpisah karenaNya”.

Pembicaraan kemudian berhasil aku giring keluar arena, mulai dari tamu undangan yang ramai dan mulai berpergian, sampai pada makanan yang bervariasi dan sudah habis tak sempat dinikmati. Dan akhirnya saudara-saudara! Aku mohon pamit pulang kepadanya.
Tetapi masih sempat saja dia menyentakku, “terus kapan kamu ngasih undangannya?”

Oalaah, “insya Allah, akan indah pada waktunya!”


[Flash Fiction]
__________________
Penulis        : Ibnu Alwi
Jumlah kata : 200
Sub Tema    : Keluarga, Anak, Percintaan
Kategori       : Dewasa


Seri sebelumnya :
[FF] Akan Indah Pada Waktunya

Wednesday, February 02, 2011

[serial Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya?

Ini tentang hidup, teman. Kita dulu mati kemudian dihidupkan. Kita dulu tiada kemudian diadakan. Dialah Allah Sang Maha Pencipta yang mampu melakukan hal demikian. Aku, beruntung! Karena mengetahui hakikat hidup ini. Sampai pada satu titik, aku sempat kehilangan semangat hidupku ini. Bagaimana tidak, 4 perkara telah ditentukan; rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya[1]. Bagaimana tidak, semua telah ditetapkan sebelum semuanya diciptakan[2]. Semuanya sudah tertulis[3] di dalam Kitab Induk yang nyata[4]. Pena telah diangkat dan tinta telah mengering[5]. Umur kita telah ditentukan[6]. Takdir baik dan buruk siap untuk diberikan[7]. Semua bencana yang akan menimpa telah tertulis[8]. Kita, telah diciptakan beserta apa yang akan kita perbuat[9]. Segala upaya adalah kehendakNya[10]. Persis, 1% usaha kita juga karena kehendakNya! Berarti ini tidak hanya tentang 99% kehendak Allah, tetapi ini tentang 100% kehendak Allah[11].
Ini tidak adil, pikirku. Aku manusia, yang ingin banyak rezekinya, panjang umurnya, berbuat sesukanya, dan selalu bahagia. Lalu bagaimana kalau yang ditentukan bagiku adalah sebaliknya? Yang sedikit rezekinya, pendek umurnya, dan selalu sengsara. Kalau semuanya sudah ditentukan, buat apa lagi aku bersusah payah berusaha? Seperti wayang yang dimainkan dalangnya. Seperti aktor yang diatur sutradaranya. Seperti lakon di atas panggung sandiwaranya. Buat apa lagi aku beramal, jika sudah ditetapkan apakah aku akan di Surga atau di Neraka nantinya[12]?
Sempit, ternyata ini hasil dari pemahaman yang sempit, wawasan yang sempit, dan ilmu yang sempit. Ini hasil dari pemahaman agama yang setengah-setengah, pengetahuan terhadap Al-Qur’an dan Hadits yang hanya sepotong-sepotong. Dan kini, aku bersemangat dalam hidup dengan pemahaman baruku. Pemahaman lama yang terbarukan! Dan semoga ini sempat tertuliskan dan ditakdirkan demikian. Di dalam seri “1% usaha itu harus tetap 100%”



__________________________
[1] "Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya. (HR. Bukhari)
[2] Rasulullah bersabda :”Pertama kali yg diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman : “Tulislah!”. Pena bertanya : “Apa yang akan saya tulis ?”. Allah berfirman : “Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat !”. (Shahih Abu Daud)
[3] " Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al An'am [6] : 59)
[4] Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yasin (36) : 12)
[5] ”Ketahuilah bahwa seandainya umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan sesuatu yang telah dituliskan Allah bagimu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudharat bagimu niscaya mereka tidak akan dapat memberi mudharat melainkan apa yang telah dituliskan bagimu. Pena-pena telah diangkat dan telah kering lembaran-lembaran”. (Shahih Tirmidzi)
[6] “..., kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan,... “. (QS. al-An’am (6) : 60)
[7] ”Tidaklah beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap takdir yang baik atau yang buruk, hingga ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya tidak akan meleset, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan menimpanya”. (HR. Tirmidzi).
[8] “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid : 22)
[9] “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shaffaat : 96)
[10] “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan : 30)
[11] “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS.Yasin : 82).
[12] Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka". (HR. Bukhari)

Seri sebelumnya :
- [seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!

Tuesday, January 18, 2011

[seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!

Ini tentang hidup, teman. Jangan heran jika ada penjahat dan para ahli maksiat, bukannya di azab tetapi malah bisa menikmati hidup yang nikmat. Sekaliber Umar ra pun pernah menangis dalam keraguan melihat raja Persia dan raja Romawi berada dalam kemegahan sedang Rasulullah tidur beralaskan tikar.[1][2]
“Apakah engkau dalam keraguan?”, tanya Rasulullah kepada Umar ra.
“Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan mereka di dalam kehidupan dunia?”, lanjut Rasulullah[3].
Persis, 1% usaha kita sangat ditentukan oleh 99% kehendak Allah swt. Orang kafirpun, asal dia mau usaha, dia juga akan memperoleh kesenangan hidup di dunia.[4] Padahal usaha itu hanya bernilai 1%.
Lalu Anda? Di saat shalat sudah malas ke masjid, atau adzan sudah tak terasa terdengar lagi. Di saat Al-Qur’an hanya dijadikan pajangan, atau mungkin hanya dibaca di bulan Ramadhan saja. Di saat pandangan mata sudah tak terjaga, dan lisan sudah bersilat dusta. Di saat tangan berbuat maksiat dan kaki menuntun ke arahnya. Tetapi malah kenikmatan dunia mudah di dapat atau kesenangan lainnya datang silih berganti, tanpa derita dan tanpa kekecewaan. Dan Anda mau mengatakan “Tuhanku telah memuliakanku[5]”. Jangan terlalu bangga dulu apalagi malah menjadi sombong! Berhati-hatilah! Belum tentu karena 1% usaha Anda yang sudah luar biasa atau karena doa-doa Anda telah dikabulkan. Bisa jadi, 99% kehendak Allah sedang meluaskan rezeki Anda[6], sampai Anda tertipu dengan kesenangan kehidupan dunia![7]
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan–baik golongan ini maupun golongan itu–Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (QS. al-Isra’ (17) : 18-21)

_____________________________
[1] Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)
[2] Dalam riwayat lain disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Maka bercucuranlah air mataku.” Melihat hal itu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?” Aku menjawab, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih mulia daripada mereka, –pent.) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.” (HR. Muslim no. 3675)
[3] Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik- baik) mereka di dalam kehidupan dunia?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)
[4] “Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada mereka dikatakan, ‘Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa haq dan karena kalian berbuat kefasikan’.” (QS. Al-Ahqaf: 20)
[5] Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” (QS. al-Fajr (89) : 14)

[6] Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. ar-Ra’d (13) : 26)
[7] Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. al-Hadid (57) : 20)

Seri sebelumnya :
- [seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya ?

Tuesday, December 28, 2010

[seri Kehidupan] 1% dan 99%

Ini tentang hidup teman. Kadang kita ada di atas, kadang kita ada di bawah. Jika kita menyusuri jalan di siang hari, akan kita temui berjuta-juta manusia dengan segala usahanya untuk mencari nafkah. Ada yang jadi pegawai, ada yang jadi pengusaha. Ada yang lebih suka mandiri, ada yang mau tidak mau menjual harga diri. Ada yang memungut sampah di jalan, juga ada yang memungut uang pungli di persimpangan. Ada yang memungut bayaran di meja kasir, juga ada yang memungut uang di balik meja kerjanya. Ada yang berbicara di seminar-seminar, juga ada yang berbicara sebagai penghubung antara mafia pajak, mafia hukum, mafia kepolisian, dan mafia-mafia lainnya. Ada yang berputus asa, juga ada yang bersemangat mengejar cita-citanya. Ada yang menghalalkan segala cara, juga ada yang menjadikan bekerjanya sebagai sarana ibadahnya. Anda, di posisi yang mana teman?
Banyak di antara kita yang tidak menyukai pekerjaan yang sedang kita jalani, padahal banyak di luar sana sedang mencari pekerjaan dengan jerih payahnya. Saat kita asyik dengan suasana kerja yang sedang kita jalani, sering kali kita lupa bahwa kita harus mensyukurinya. Yakinlah, apa yang kita miliki saat ini hanyalah 1% dari hasil usaha yang kita lakukan. Sedangkan 99%nya adalah pemberian Allah kepada kita. Percayalah, seringkali 1%nya itu menjadi penentu apakah Allah akan memberikan 99%nya lagi kepada kita. Nilai 1% ini relatif, kadang bisa jadi 0%. Karena Allah Maha berkehendak. Karena Allah ingin mengajarkan kepada kita, ini lho Tuhanmu yang memiliki segalanya, yang kamu harus bersyukur atas semua itu. Kamu tidak akan memiliki apa-apa jika Tuhanmu ini tidak mau memberi apa-apa ke kamu.
Di antara kita ada yang baru selesai kontrak kerjanya. Di antara kita ada yang baru mendapat beasiswa full untuk S2nya. Di antara kita ada yang masih tetap dengan semangat pengusahanya. Di antara kita ada yang sudah berpindah-pindah tempat kerjanya. Juga di antara kita, masih ada yang bertanya-tanya, ke depan saya akan tetap kerja di sini atau mencari pekerjaan yang penghasilannya lebih besar? Jarang, di antara kita yang berpikir, apa yang terbaik yang bisa saya berikan untuk perusahaan tempat kerja saya ini? Tetapi yang terpenting, semoga di antara kita sudah memulai berpikir untuk bekerja bervisikan akhirat!

Seri sebelumnya :
- [seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!
- [seri Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya ?

Friday, December 17, 2010

[seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal

Seorang Direktur sebuah konsultan yang kini sudah bergelar Profesor, bercerita kepada saya tentang timnya yang gagal memenangkan sebuah tender, hanya karena sebuah kesalahan kecil sekali. Beliau sangat bijak dalam menasehati timnya yang cukup frustasi seakan dunia ini sudah kiamat.
“Coba perhatikan pohon itu, lihatlah daun-daunnya! Apakah daun itu yang menginginkan menjadi daun? Coba perhatikan lagi, daun-daunnya ada yang tumbuh bersamaan, tapi ada yang gugur terlebih dahulu. Ada yang menguning terlebih dahulu kemudian gugur. Ada yang masih hijau tapi dia sudah gugur. Apakah itu kemauan daun itu? Tentu tidak, itu ketetapan yang sudah dibuat. Kita seperti daun itu. Semuanya sudah ada Yang Mengatur. Hanya saja manusia diberi akal, tidak seperti makhluk yang lainnya.”, begitu nasehatnya.
Sebuah nasehat yang tak akan terlupakan. Inilah salah satu bentuk tawakal yang luar biasa. Introspeksi untuk melakukan perbaikan atas kesalahan yang dibuat memang tetap harus dilakukan. Tetapi menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, Yang Mengatur segalanya, membuat diri kita lebih sabar dan ikhlas, untuk lebih menerima apapun hasil yang kita dapatkan dari usaha yang kita lakukan.
Namun ada kata kunci yang menarik, bahwa kita ini manusia yang diberi akal, tidak seperti tumbuhan atau binatang. Kalau daun tadi tidak bisa memilih apakah dia mau berguguran atau tidak, tetapi manusia masih bisa memilih mau menjadi orang yang gagal seterusnya atau tidak. Akal kita diberi kewenangan itu untuk memilih.
Memang ada ketetapan atau takdir yang tidak bisa kita kompromikan, seberapa besar apapun usaha yang kita lakukan untuk merubahnya, karena Allah berkehendak disitu. Namun banyak sekali ketetapan dibuat dengan peluang-peluang, dimana salah satu peluangnya adalah usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita inginkan, juga karena Allah berkehendak disitu.
Jika mau kaya maka harus kerja, padahal berapa banyak orang bekerja bertahun-tahun tetapi tidak kaya-kaya. Jika mau pintar maka belajar dengan tekun, padahal ada orang yang tidak belajar dengan tekun tetapi bisa sangat pintar sekali, dia jenius!
Kita tidak tau saat dimana kita harus menerima sepenuhnya ketetapan yang telah ditentukan. Kita tidak tau saat dimana kita diberi ketetapan yang memiliki peluang-peluang untuk kita lakukan perubahan disitu. Namun inilah ikhtiar! Allah memberi nilai tersendiri untuk sebuah ikhtiar. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”[1].
Jadi berikhtiarlah, jika ingin memiliki anak yang shalih maka nikahi istri/suami yang shalih. Berikhtiarlah, jika ingin memiliki ilmu yang bermanfaat maka belajarlah, banyak membaca dan sering mendatangi majelis ilmu. Berikhtiarlah, jika ingin banyak sedekah jariah maka harus mempunyai harta yang disedekahkan.[2]
Akhir dari cerita Direktur Konsultan di atas, tidak sampai 1 bulan dari gagalnya tender tersebut, akhirnya perusahaan konsultan tersebut memenangkan sebuah tender dengan nilai proyek 2 kali lipat dari nilai tender yang gagal tersebut. Jadilah maka jadilah. [3]
__________________________________
[1] QS. Ar Ra'd : 11
[2] "Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." (HR. Muslim)
[3] QS. Al Baqarah : 117

Seri selanjutnya :
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!
- [seri Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya ?

Thursday, November 25, 2010

Percakapan yang luar biasa...

Copy paste percakapan melalui laptop, dengan seorang adik yang luar biasa saat mabit di kampus sekitar 1 tahun yang lalu. Tiba-tiba dia mengambil laptop saya dan mengetikkan sesuatu. Ternyata percakapan itu dimulai.

Adik [A] : KADER dakwah itu apa, bang ?

Saya [S] : manusia...kenapa? coba artikan surat al-ashr

[A] : i c...

orang2 yg saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran....

klo ikhwah ? maksudnya apa? :)

[S] : ikhwah itu ikhwan dan akhwat

[A] : hmm.. to the point aja ya bang, saya di kampus bukan ADK (aktivis dakwah kampus)... gapapa kan, yia?

[S] : ga ada yang bilang itu haram. semua orang ada kapasitasnya. contoh, si A ga akan direkomendasikan jadi adk karena ga punya kapasitas. tapi dia harus di kader untuk bekal pulang ke daerahnya...   

[A] : saya mengerti..

[S] : camkan saja point-point ini "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang disekitarnya"

"kejahatan yang terorganisir akan mudah menghancurkan kebaikan" apalagi sebaliknya

"manusia harus beriman, berusaha untuk bertaqwa, dan masuklah ke dalam jamaah" agar tidak menjadi domba tersesat keluar dari gerombolan sehingga mudah dimangsa oleh serigala

"jamaah ini jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. ada kekurangan dan ada kelebihannya" jangan terlalu memikirkan keburukan orang, dan jadikan kelebihan yang antum miliki untuk memberikan kontribusi yang maksimal

 

"kalau ada 1000 orang yang melakukan kebaikan di dunia, maka antum ada didalamnya. kalau ada 100 orang yang melakukan kebaikan di dunia, maka antum termasuk didalamnya. kalau ada 10 orang yang melkukan kebaikan di dunia, maka antum juga didalamnya. pun kalo ada 1 orang yang melakukan kebaikan di dunia, maka antumlah orangnya.

[A] : perkataan umar, kan ? hehe..jadi, apa yg antm coba ingin sampaikan? terangkan dengan kalimat perintah yg zahir....ana kan adik antm fillah...perkataan antm akan ana jadikan rekomendasi... ^^

[S] : ya di atas tadi.pointnya...berikan kontribusi maksimal buat dakwah

dakwah adalah kebaikan terbesar yang ada di muka bumi ini, apapun bentuknya...

[A] : apapun bentuknya...jadi status ana yg bukan ADK ini gapapa kan, ya?

"manusia harus beriman, berusaha untuk bertaqwa, dan masuklah ke dalam jamaah" agar tidak menjadi domba tersesat keluar dari gerombolan sehingga mudah dimangsa oleh serigala ==> aplikasinya bukan ana harus ikut ber'status' ADK kan, ya?

sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang disekitarnya ==> antm sendiri yg sampaikan tadi....

ana agak risau kalau keTIDAK PUNYA-an kapasitas ana ini u/ jadi ADK seperti teman2 adalah sesuatu yg salah...

[S] : gak salah, an ga bilang harus jadi ADK kan. tapi berikan kontribusi terbesar untuk dakwah. that's all

[A] : saya mengerti....terima kasih, bang.

Percakapan itu selesai dengan senyuman kami berdua. Lalu saya Save untuk kenangan. Dan sekarang, saya selalu tersenyum melihat perkembangannya. Semoga kami tetap istiqamah di jalan dakwah. Amin

Thursday, November 04, 2010

Inilah jalan yang lurus itu !!

Ya Allah..."Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus" (Al-Fatihah:6)


QS. Al Baqarah : 2-5

Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12], (yaitu)

1.mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14],

2.yang mendirikan shalat[15],

3.dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang Kami anugerahkan kepada mereka.

4.dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu[17],

5.serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[18].

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung[19]

.

QS.Al An'aam : 151-153

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu:

1.janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,

2.berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,

3.dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka,

4.dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,

5.dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]".

Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

6.Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.

7.Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.

8.Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)[519],

9.dan penuhilah janji Allah[520]. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia,

10.dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[521], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.



________________

[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.


[11]. Tuhan menamakan Al Quran dengan Al Kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.

[12]. Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.

[13]. Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.

[14]. Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghjaib yaitu, mengi'tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, Malaikat-Malaikat, Hari akhirat dan sebagainya.

[15]. Shalat menurut bahasa 'Arab: doa. Menurut istilah syara' ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu', memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

[16]. Rezki: segala yang dapat diambil manfaatnya. Menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari'atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.

[17]. Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada para Rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada Rasul.

[18]. Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. Akhirat lawan dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.

[19]. Ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah mengusahakannya.


[518]. Maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

[519]. Maksudnya mengatakan yang sebenarnya meskipun merugikan kerabat sendiri.

[520]. Maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya

[521]. Maksudnya: janganlah kamu mengikuti agama-agama dan kepercayaan yang lain dari Islam.

Thursday, October 14, 2010

[FF] Akan Indah Pada Waktunya

“Nak, dengarkanlah Bapak!”, suaranya begitu berat dikeluarkannya. Tumor yang tumbuh di pita suaranya membuat dia harus berusaha lebih keras untuk berbicara. Perangpun tak terhindarkan. Batinku bergejolak. Antara perasaan dan logika, antara ketaatanku kepada orang tua dengan prinsip agama yang kuyakini.

“Apa tidak ada perempuan yang lain?”, tanyanya dengan penuh harap.

Aku hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi aku lupa bahwa bangsa ini masih hidup di dalam semangat kesukuannya. Sudah kubaca buku “Personality Plus” karya Florence Littauer. Bahkan sudah kuikuti seminar “The World Personality Mastery” yang dibawakan oleh James Gwee. Tetapi tidak pernah aku temui pelajaran tentang kepribadian yang dilihat dari sukunya berasal.

“Tidak apa bergaul dengan mereka, berorganisasi atau berbisnis dengan mereka. Tetapi bukan untuk dijadikan keluarga Nak!”, lanjutnya.

Aku bernegosiasi. Kubaca buku “Agar Siapa Saja Mau Berdamai Dengan Anda” karya David J. Lieberman. Namun tak sanggup aku mematahkan cara berpikir Bapakku yang sudah terbentuk beku selama puluhan tahun dari pengalaman-pengalaman yang dia dengar atau bahkan yang dia alami sendiri tentang orang-orang di suku itu.

“Terserah jika kamu mau tetap menikahinya”, jawabnya berat.

Ijinnya bukan berarti restunya. Begitu yang terlihat dari wajahnya. Aku hanya takut tidak mendapat ridha dari Tuhanku. Kuputuskan untuk menunda segalanya.

“Akan indah pada waktunya”, pikirku.


__________________
Penulis        : Ibnu Alwi
Jumlah kata : 200
Sub Tema    : Keluarga, Anak, Percintaan
Kategori       : Dewasa

__________________
FF ini diikutkan dalam lomba disini


Photobucket

Wednesday, October 13, 2010

sebelum pergi Ibumu (T_T)

“Assalamualaikum. Mah, iman tadi shalat tarawih full!”, dengan riang saya teriakan lantang sambil memasuki pintu rumah. Saya lihat wajah Ibu saya yang sedang memasak, tersenyum bangga sambil menjawab salam saya dengan melanjutkan pujiannya untuk saya yang saat itu masih belum menginjak bangku SD, “Wah, hebat anak Mamah!”. Takkan saya lupa momen itu. Selain karena memang baru pertamakalinya saya shalat tarawih full sampai witir, juga karena sangat jarang saya lihat wajah bangga dan senyumnya itu. Lebih banyak saya menyusahkannya karena kenakalan saya waktu itu, namun dihadapinya dengan kesabarannya yang tiada tara.

“Dulu waktu kamu masih kecil nih, kalau kamu lagi nangis teriak guling-guling, Mamah kamu tuh cuma ngelus-ngelus kamu aja, nggak pernah pukul kamu”, cerita Teteh saya di Serang. “Udah dong Iman jangan nangis”, sambil meniru ucapan Ibu saya waktu itu.

Hanya sekalinya yang pernah saya ingat, saya dipukul dengan sapu lidi karena tidak mau mandi sore karena memang sudah kelewatan sekali saya waktu itu. Main dari pagi, makan siang susah disuruhnya, tidak mau disuruh tidur siang, sampai puncaknya susah disuruh mandi sore padahal adzan magrib sudah mau berkumandang. Itupun saya terkaget-kaget, “nah lho tumben-tumbenan nih dipukul”. Jadi lebih kencang lagi nangis saya, padahal tidak terasa sakit pukulannya.

Saya terlalu asyik bermain saat kecil dan menerima layanannya di rumah, sampai-sampai saya tidak mau mulai bersekolah di TK. Namun dengan strategi dan kesabarannya membujuk saya, akhirnya saya mau bersekolah. Walau sempat ada beberapa guru TK yang terkena tinju saya di perutnya karena saya menolak untuk belajar di dalam ruangan dengan teman-teman lainnya dan memilih belajar di luar ruangan ditemani Ibu saya. Aneh ya :( Maklum masih kecil.

Saya masih ingat ketika mulai diajari membaca dengan membelikan saya huruf-huruf bermagnet dan menyusun huruf F, I, R, M, A, N, S, Y, A,& H sambil mengejanya dan saya mengikutinya. Saya masih ingat ketika mulai diperkenalkan dengan Iqro dan di ajari membaca Alif, Ba, Ta. Saya masih ingat ketika saya sudah mulai bisa shalat,lalu saya menunjukkannya bagaimana caranya shalat 1 rakaat, 2, 3, dan 4 rakaat dari Takbiratul ihram sampai Salam. Namun seingat saya, saya belum sempat untuk banyak berbakti kepadanya.

Tetapi saya akan selalu mengingat Rasulullah bersabda, “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim). Sehingga tak akan lupa setiap selesai shalat saya berdoa untukmu Mah!, agar Allah swt mengampuni dosa-dosamu, menyanyangimu, sebagaimana saya selalu disayangi di waktu kecil[i]. Walau saya juga masih terus berharap, agar Allah swt mau menerima saya termasuk ke dalam orang-orang yang shalih. Dan saya harap ini adalah bakti saya kepadamu, sehingga kita akan dipertemukanNya di surga kelak. Amiin

Kini, setelah 19 tahun saya lewati, saya pulang dari tarawih di masjid, tanpa perlu ada yang saya banggakan kepada seseorang. Hanya berharap, amal ibadah saya yang belum maksimal ini diterima di sisi Allah swt. dan menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat untuk memasuki surgaNya.

Duhai kawan, beruntunglah engkau yang masih ada Ibu di sampingmu. Masih dapat kau raih ‘surga dibawah telapak kakinya’[ii] dengan berbakti kepadanya[iii]. Masih dapat kau sapa[iv] dan berterima kasih kepadanya atas segala jasa-jasanya[v] walau hanya dengan SMS karena jarak jauh yang memisahkan. Sudahkah kau lakukan? Lakukanlah, sebelum semua terlambat, sebelum pergi Ibumu.


____________________

[i] “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al Isra’:24)

[ii] “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” (HR. Imam Nasa’i dan Thabrani dengan sanad hasan)

[iii] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw lalu bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik mungkin?” Rasulullah saw bersabda: “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, Ahmad)

[iv] “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra’:23)

[v] “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman:14)

Saturday, September 11, 2010

maap maap ye kalo ada salah selama ini......




maap maap ye kalo ada salah selama ini......

Mohon Maaf Lahir Batin, Selamat Hari raya Idul Fitri 1431 H

Thursday, September 09, 2010

maap maap ye kalo ada salah selama ini......

maap maap ye kalo ada salah selama ini......

Mohon Maaf Lahir Batin, Selamat Hari raya Idul Fitri 1431 H

(Firmansyah & justalone :)

Monday, August 30, 2010

I’tikaf Asyrul Awakhir Ramadhan 1431 H

Start:     Aug 30, '10 8:00p
End:     Sep 10, '10 06:00a
I’tikaf Asyrul Awakhir Ramadhan 1431 H
@ Masjid Baitul Hikmah Elnusa

“Membangun dan Memelihara Totalitas Ibadah”

Mari kita Raih Lailatul Qodar dan semangat perubahan menjadi Hamba Pilihan di Masjid Bairul Hikmah Elnusa…

Agenda kegiatan :Kajian Islam kontemporer Ba’da Taraweh :
 Ust. Dr. Ahzami Sami'un Jazuli
 Ust. Ulis Tofa M. Ali, Lc.
 Ust. Asep Sobari, M.A
 Ust. Idrus Abidin, M.A.
 Ust. Dr. Lutfi Fathullah
 Ust. Dr. Ahmad Satori Ismail
 Ust. Ali Mahfud, M.A
 Ust. Bahtiar Nashir, M.A.
 Ust. Fadlan Garamatan (Da’i Pedalaman Papua)
 Uts. Dr. Attabik Lutfi

Imam Qiyamul lail :• Ust. Ahmad sahal Lc. (alhafizh)
• Ust. Khoirul Anwar Bachair, M.Ag (alhafizh)

Muhasabah :• Ust. Ibnu Jarir, Lc.
• Ust. Sukeri Abdillah
• Ust. Edi Abu Marwah (DT)

Kajian dhuha (tafsir):•
Ust. Ahmad Sahal, Lc.

Kajian Ba’da Ashar (Kitab Minhajul Qosidin):•
Ust. Muhit Muhammad Ishaq, M.A.

Pembukaan I’tikaf 30 Agustus 2010
Infaq pendaftaran :
• Selama 10 hari Rp. 135.000,-
• Sehari semalam Rp. 20.000,- (buka dan sahur)
• Semalam Rp. 10.000,- (sahur)

Pendaftaran dimulai tanggal 16 Agustus 2010
Sekretariat : Masjid Baitul Hikmah Elnusa, Jl. TB. Simatupang, Kav. 1b. Jakarta Selatan
CP. Pendafataran :
• Mulyono : 081319457724 / 021-7829511
• Wahid : 087884755345 / 021-7829511
• Hasan : 085226783120 / 021-7829511

Thursday, August 26, 2010

10 jam, 10 juz, 10 ribu pembaca Al-Qur'an




Masjid Agung At-Tiin, TMII

Ahad, 29 Agustus 2010
Pukul 08.00-18.30 WIB

Taujih,
1. Ust. Ahmad Sahal, Lc,
...(Kisah Sahabat berinteraksi dengan Al-Qur'an)

2. Ust. Hartanto, Lc. Al-Hafizh
(Kiat Sukses Berinteraksi dengan Al-Qur'an)

3. Ust. Abdul Aziz A. Rouf, Lc. Al-Hafizh
(Berbagi Pengalaman Menghafal Al-Qur'an)

4. Ust. Ibnu Jarir, Lc.
(Muhasabah dan Doa)

informasi hubungi :
021-7970165/0813-53549575

Infak
Berbuka Puasa Rp.10.000
No. Rek Muamalat 304.17041.22
atas nama Fadlyl Usman

10 jam, 10 juz, 10 ribu pembaca Al-Qur'an

Start:     Aug 29, '10 08:00a
End:     Aug 29, '10 8:30p
Location:     Masjid Agung At-Tiin, TMII
di Masjid Agung At-Tiin, TMII
Ahad, 29 Agustus 2010
Pukul 08.00-18.30 WIB

Taujih,
1. Ust. Ahmad Sahal, Lc,
...(Kisah Sahabat berinteraksi dengan Al-Qur'an)

2. Ust. Hartanto, Lc. Al-Hafizh
(Kiat Sukses Berinteraksi dengan Al-Qur'an)

3. Ust. Abdul Aziz A. Rouf, Lc. Al-Hafizh
(Berbagi Pengalaman Menghafal Al-Qur'an)

4. Ust. Ibnu Jarir, Lc.
(Muhasabah dan Doa)

informasi hubungi :
021-7970165/0813-53549575

Infak
Berbuka Puasa Rp.10.000
No. Rek Muamalat 304.17041.22
atas nama Fadlyl Usman

Saturday, July 31, 2010

Hadiri MABIT & Bedah Buku 'Berbagi Pengalaman Menjadi Hafizh Al-Qur'an'

Start:     Jul 31, '10 8:00p
End:     Aug 1, '10 06:00a
Location:     Masjid Raya At-Taqwa. Pasar Minggu
Hadiri MABIT
1.Palestina Terkini bersama Ust. DR. Muqoddam Kholil, MA (KNRP)
2.Bedah Buku 'Berbagi Pengalaman Menjadi Hafizh Al-Qur'an'
bersama Ust. Hartanto,Lc. Al-Hafizh dan Ust. Fadlyl Usman Baharun.
3.Imam Qiyamullail : Ust. Khairul Anwar,M.Ag. Al-Hafizh.
...Sabtu-Ahad, 31 Juli - 1 Agustus 2010,
Pk.20.00-05.00,
Masjid Raya At-Taqwa. Pasar Minggu

Monday, July 19, 2010

Wanita yang baik tidak selalu untuk laki-laki yang baik, masa sih?

Kadang sulit untuk memulai sebuah tulisan, bahkan juga untuk mengakhirinya. Biasanya selesai dulu tulisannya saya buat, baru judul kemudian saya putuskan. Tetapi kali ini saya memulai tulisan ini dari judulnya. Karena memang ada pertanyaan yang menarik, apa iya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik? Kalau kita lihat di Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 26 memang disebutkan demikian.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”

Tetapi coba lihat konteksnya, di dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid 6 Pustaka Imam Syafii halaman 32 dijelaskan bahwa yang dimaksud laki-laki yang baik dalam ayat ini adalah Rasulullah saw sebagai manusia yang paling baik sedangkan wanita yang baiknya adalah ‘Aisyah ra sebagai isteri Rasulullah saw. ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam pun menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah “ Wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Wanita yang baik hanya layak bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya patut bagi wanita yang baik.”

Perhatikan ! ‘Hanya pantas’, ‘hanya cocok’, ‘hanya layak’, ‘hanya patut’, ini tidak berarti wanita yang baik ‘pasti’ akan mendapat laki-laki yang baik atau sebaliknya. Mau bukti? Pasti semua kenal dengan Fir’aun. “….Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Ad Dukhaan:31). Bahkan dengan beraninya, “(Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi".” (QS. An Naazi´aat : 24).

Tapi coba perhatikan isterinya !

“Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahrim : 11)

Ternyata terbukti, seorang wanita yang baik belum tentu mendapat laki-laki yang baik, lalu perhatikan lagi contoh ini !

Perhatikan bagaimana istri Nabi Luth dibinasakan, “Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS.Al-A’raaf:83). Waw, seorang Nabi mendapatkan istri yang demikian ! Tidak hanya Nabi Luth yang dapat istri seperti itu, tapi juga Nabi Nuh !

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". “ (QS. At-Tahrim : 10)

Ternyata terbukti, seorang laki-laki yang baik belum tentu mendapat wanita yang baik !!

Shalih atau tidaknya seseorang, baik atau tidaknya diri kita, itu urusan kita kepada Allah (“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (Muttafaqun ‘alaihi).) Tetapi jika kita mendapat pasangan yang tidak baik maka sangat mungkin itu adalah ujian dari Allah swt.

Di dalam Al-Qur’an pun disebutkan “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara ISTERI-ISTERIMU dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun : 14)

Juga di dalam Al-Qur’an surat Ali 'Imran ayat 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: WANITA-WANITA, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”

Maka sangat baiklah jika kita berdoa “"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqaan : 74)

Hmmm, menarik bukan? Bahkan di sekitar kita juga banyak contoh yang bisa kita saksikan. Ada wanita shalihah, malah mendapat laki-laki bermasalah. Ada laki-laki yang rajin ibadah, malah sering dikihianati wanita yang banyak berulah. Siapa menyangka, banyak orang beribadah berujung pada kekecewaan. Karena mereka mempunyai tujuan, orientasi, motivasi, atau niat yang salah; Shalat Dhuha agar menjadi kaya, sedekah agar mendapat gaji berlipat atau jadi orang shalih agar mendapat istri/suami shalih. Padahal setiap shalatnya kita selalu bersumpah, dengan doa iftitah “inna shalati wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahirabbil'alamin (Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam). Dan dijelaskan bahwa “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” (H.R. Bukhori no:01 dan Muslim no:1907)

Ini artinya, segala amal ibadah haruslah diniatkan hanya kepada Allah swt. sehingga mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt. Allah menjanjikan balasan itu, tapi tidak selalu semua balasan akan kita terima di dunia ini. Orang-orang yang kecewa itu karena hanya berharap pada balasan yang langsung dia dapat di dunia.

Jadi, kalau mau rajin ibadah, ya beribadahlah karena Allah swt. Kalau mau menjadi orang shalih, ya jadilah orang shalih karena Allah swt. Kita tidak akan MERUGI apalagi KECEWA jika segala sesuatu dikerjakan dengan ‘IKHLAS hanya karena Allah swt’, bukan karena wanita yang ingin dinikahi, atau dunia yang ingin dimiliki.

Pasti semua tahu, beginilah orang-orang shalih menerima balasannya.

“;tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan;”(QS.Saba’:37)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus :9)
[670]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.An-Nahl:97)
[839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
Dan banyak lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Tuesday, July 13, 2010

Tentang Shalat Tepat Waktu

Dari Yahya bin Yazid al-Hanafi berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar. Anas menjawab: "Adalah Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat." (HR Muslim)... See More

Artinya: Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai penduduk Mekkah janganlah kalian mengqashar shalat kurang dari 4 burd dari Mekah ke Asfaan." (HR.at-Tabrani, ad-Daruqutni, hadits mauquf)

Penjelasan detailnya silahkan baca di sini
http://www.mail-archive.com/buletin@usahamulia.net/msg00016.html

coba perhatikan dalil-dalil ini.

“…sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Qs. An-Nisa’: 103)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dia berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, ‘Sholat pada waktunya.’ Aku bertanya, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.” Abdullah bin Masud berkata, ‘Semua itu diceritakan kepadaku oleh Rasulullah SAW dan seandainya aku meminta tambahan niscaya beliau akan menambah untukku.’ (HR. al-Bukhori, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasai)

Dari Ummu Farwah ra, - dia termasuk wanita yang membaiat Nabi SAW – dia berkata, Nabi SAW ditanya, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Sholat di awal waktunya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

“Aku mendengar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sesungguhnya antara seorang lelaki dan kemusyrikan serta kekufuran ialah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim-116)

Dari Ummu Aiman radhiyallahu ’anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Jangan kamu tinggalkan sholat DENGAN SENGAJA. Karena sesungguhnya barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja maka sungguh lepaslah darinya perlindungan Allah ta’aala dan RasulNYa.”(HR Ahmad-26098)

Ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata: “Barangsiapa ingin bertemu Allah ta’aala esok hari sebagai seorang muslim, maka ia harus menjaga benar-benar sholat pada waktunya ketika terdengar suara adzan. Maka sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala telah mensyari’atkan (mengajarkan) kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beberapa Sunnatul Huda (perilaku berdasarkan hidayah/petunjuk) dan menjaga sholat itu termasuk dari Sunnatul Huda. Andaikan kamu sholat di rumah sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti kamu tersesat.” (HR Muslim-1046)

Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim-1046).

silahkan baca lebih lengkap disini
http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/cetak/disiplin-sholat-lima-waktu

memang ada perdebatan antar para ulama tentang shalat di awal waktu dan di akhir waktu (bukan di luar waktunya).

Dari Jabir bin Abdillah r.a, bahwa Rasulullah saw. kedatangan Malaikat Jibril a.s., dan berkata, “Bangun lalu shalatlah”, maka Rasulullah shalat zhuhur ketika matahari bergeser ke arah barat. Kemudian Jibril a.s. datang kembali di waktu ashar dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Maka Rasulullah saw. shalat ashar ketika bayangan benda sudah sama dengan aslinya. Kemudian Jibril a.s. mendatanginya di waktu maghrib ketika matahari terbenam, kemudian mendatanginya ketika isya’ dan mengatakan bangun dan shalatlah. Rasulullah shalat isya’ ketika telah hilang rona merah. Lalu Jibril mendatanginya waktu fajar ketika fajar sudah menyingsing. Keesokan harinya Jibril datang waktu zhuhur dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah shalat zhuhur ketika bayangan benda telah sama dengan aslinya. Lalu Jibril mendatanginya waktu ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah saw. shalat ashar ketika bayangan benda telah dua kali benda aslinya. Jibril a.s. mendatanginya waktu maghrib di waktu yang sama dengan kemarin, tidak berubah. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu isya’ ketika sudah berlalu separuh malam, atau sepertiga malam, lalu Rasulullah shalat isya’. Kemudian Jibril mendatanginya ketika sudah sangat terang, dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Maka Rasulullah shalat fajar. Kemudian Jibril a.s. berkata, “Antara dua waktu itulah waktu shalat.” (Ahmad, An-Nasa’i dan Tirmidzi. Bukhari mengomentari hadits ini, “Inilah hadits yang paling shahih tentang waktu shalat.”)

dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa Rasulullah saw. bersabada, “Waktu zhuhur itu ketika matahari telah bergeser sampai bayangan seseorang sama dengan tingginya, selama belum datang waktu ashar; dan waktu ashar itu selama matahari belum menguning; waktu maghrib selama belum hilang awan merah; waktu isya’ hingga tengah malam; dan waktu shubuh dari sejak terbit fajar sehingga terbit matahari.” (Muslim)

silahkan baca lebih lengkapnya disini
http://www.dakwatuna.com/wap/index-wap2.php?p=1389

biar bagaimanapun shalat di akhir waktu itu diperbolehkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. dan jauh lebih baik shalat di awal waktu.

Abu Dzar radhiyallahu `anhu, dia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, kemudian mu’adzin hendak adzan Zhuhur. Melihat hal itu Nabi shallallahu `alaihi wa sallam berkata, “Tunda dulu sampai cuaca agak dingin.” Ia pun menaati perintah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Setelah menunggu ia hendak adzan kembali, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Tenang, biar agak dingin dahulu.” Hingga kami melihat bayangan itu sudah condong, beliau pun bersabda, “Sesungguhnya panasnya siang hari termasuk hembusan panas neraka Jahannam. Maka apabila siang hari sangat panas, tundalah shalat Zhuhur hingga agak dingin.

penjelasan lebih bagus ada disini
http://muslimah.or.id/fiqh-muslimah/dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

sedangkan shalat di akhir waktu lebih tidak disukai, bahkan banyak yang mengecam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu`anhu dia mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabada (yang artinya), “Itulah shalat orang munafik. Dia duduk menunggu matahari, sampai matahari telah berada diantara dua tanduk setan, baru mengerjakan shalat empat rakaat, tidak mengingat Allah di dalam shalatnya kecuali sedikit.” (HR. Muslim)

coba perhatikan lagi hadits ini

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.' Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, 'Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?', ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)'. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata: 'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama'ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu'. (HR.Bukhari & Muslim)...

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, ter-kecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)'. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)

Dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di dalamnya.
(HR. Muslim)

bukankah adzan itu dikumandangkan tepat pada waktu shalat tiba?

dan bukankah shalat berjamaah yang dimaksud hadits di atas itu adalah berjamaah di masjid pada waktu shalat tiba?

tentu berjamaah di masjid tidak menjadi kewajiban bagi para wanita.

Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian. (HR. Ahmad dan Abu Daud, hadits shahih)

Jika salah seorang dari kalian (wanita) menghadiri mesjid maka janganlah menyentuh wangi-wangian. (HR. Muslim)

Shalat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya lebih utama daripada di bagian tengah rumahnya dan shalatnya di kamar (pribadi)-nya lebih utama daripada (ruangan lain) di rumahnya. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim)

Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) dari rumahnya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, hadits shahih)

penjelasan lebih lengkap ada disini
http://aboen.or.id/sholat-berjamaah.asp

dan perhatikan pahala orang yang shalat tepat waktu.

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Seandainya orang-orang mengetahui pahala menyambut adzan dan shaf awal (barisan pertama dekat imam), kemudian untuk mendapatkannya harus melalui undian, tentu mereka mau mengadakan undian itu. Andaikata mereka mengetahui pahala berlomba berangkat salat, niscaya mereka akan cepat-cepat mendatanginya. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan salat Isya’ dan Shubuh, tentu mereka akan segera mendatangi keduanya berjama’ah), walaupun dengan merangkak.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Barangsiapa membersihkan diri di rumahnya, kemudian berjalan ke sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan satu fardhu, maka langkahnya yang sebelah menurunkan dosa dan yang lain menaikkan derajat.”(HR.Muslim)...

Dari Ubay bin Ka’ab ra., ia berkata: “Ada seorang lelaki dari sahabat Anshar yang saya ketahui tidak ada seorang pun yang rumahnya lebih jauh dari masjid daripada rumahnya. Tetapi ia tidak pernah terlambat salat. Pernah dikatakan kepadanya: “Kalau saja kamu membeli seekor keledai yang dapat kamu kendarai dalam kegelapan dan pada hari yang sangat panas.” Dia menjawab: “Tidaklah menggembirakan seandainya rumahku berada di samping masjid. Sungguh, aku menginginkan dituliskan jalanku menuju masjid dan kepulanganku kembali kepada keluargaku.” Rasulullah saw. bersabda: “Allah telah mengumpulkan untukmu semua itu (pahala berjalan berangkat dan kembali).” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kutunjukkan kepada kalian apa yang menyebabkan Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab: Tentu, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu yang tidak disukai dan memperbanyak langkah ke masjid, serta menunggu salat sesudah salat (sebelumnya). Maka inilah yang dinamakan kewaspadaan dalam memelihara perintah Allah. Hal inilah yang disebut arribaath (ikatan).” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: “Barangsiapa merasa senang apabila bertemu Allah Ta’ala besok (pada hari kiamat) dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia memelihara salat pada waktunya, ketik mendengar suara azan. Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada Nabi Muhammad saw. jalan-jalan petunjuk. Seandainya kalian melakukan salat itu di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjamaah, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi, pasti kalian sesat. Aku benar-benar melihat di antara kita tidak ada yang meninggalkan salat jamaah, kecuali orang-orang munafik yang benar-benar munafik. Sungguh pernah terjadi seorang lelaki diantar ke masjid, ia terhuyung-huyung di antara dua orang, sampai ia diberdirikan dalam shaf (barisan salat).” (HR. Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dikatakan: “Rasulullah saw. telah mengajarkan jalan-jalan petunjuk yakni salat di masjid yang terdengar azannya.

Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang salat Isya' dengan berjamaah, seolah-olah ia mengerjakan salat setengah malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh dengan berjamaah seolah-olah ia mengerjakan salat semalam suntuk.” (HR. Muslim)

Dan di dalam riwayat Turmudzi ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mengerjakan salat Isya' dengan berjamaah, maka ia dianggap mengerjakan salat setengah malam, dan barangsiapa mengerjakan salat Isya' dan Subuh dengan berjamaah, maka ia dianggap mengerjakan salat semalam suntuk.” (HR. Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya manusia mengetahui keutamaan salat Isya' dan Subuh tentu mereka mendatangi keduanya (berjamaah), walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada salat yang lebih berat bagi orang-orang munafik melebihi salat Subuh dan Isya'. Seandainya mereka mengetahui keutamaan kedua salat itu, niscaya mereka mendatangi keduanya (berjamaah), walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan yang pertama kali dihisab pada seseorang nanti di hari kiamat adalah salat. pabila salatnya bagus, maka berbahagia dan beruntunglah ia, tetapi apabila salatnya rusak maka menyesal dan merugilah ia. Apabila di dalam salat fardhunya terdapat suatu kekurangan, maka Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku ini mengerjakan salat sunnat sehingga kekurangan salat fardhunya dapat disempurnakan dengannya.” Kemudian setelah salat itu dihisab barulah amal-amal perbuatan yang lainnya dihisab.” (HR. Turmudzi)

semua hadits ini saya ambil dari buku Riyadhud Shalihin
silahkan kalau mau download
http://www.scribd.com/doc/17567827/Riyadhus-Shalihin-Indonesia-Edition

Tuesday, June 29, 2010

Perusahanku, Perusahaanmu,,,,,

Semua perusahaan ada kekurangan dan kelebihannya. Perusahaan sehebat apapun yang Anda kenal pasti ada kekurangannya sekecil apapun itu. Begitu juga perusahaan tempat saya bekerja, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya, PT. Relife Realty Indonesia dengan semangat Green Development-nya tidak hanya fokus pada pengembangan budaya perusahaan maupun pegawainya yang bersifat duniawi saja, tetapi juga yang bersifat ukhrawi (spiritual)[1]. Sangat terasa ketika dilakukan rapat mingguan pada hari Senin, maka rapat akan dimulai dengan tilawatil Qur’an lalu kemudian pembacaan Kitab Al-Wafi (Syarah Hadits Arbain). Tidaklah mudah untuk membangun budaya spiritual seperti ini, kalau bukan dari semangat setiap pegawainya untuk tetap mengisi jiwanya dengan siraman ruhani. Saling mengingatkan untuk menjalankan shalat berjamaah juga sangat terasa,pun kegelisahaan yang amat sangat apabila ketika rapat masih juga belum selesai sedang adzan mulai berkumandang. Dan tidak asing lagi, jika setiap pagi di salah satu sudut kantor ada saja yang menunaikan shalat Dhuha sebelum memulai aktifitas bekerja.

“Berkah!”, kata seorang mandor baja yang menjadi supplier di salah satu proyek perumahaan kami, yang sudah mendaftarkan dirinya untuk pergi haji dalam waktu dekat ini. “Untung saya sedikit disini, tapi berkah. Tidak seperti ditempat lain. Tidak perlu tipu sana, tipu sini, terpaksa menipu karena sering didzalimi developer.” Rasa puas dia utarakan atas kerjasamanya dengan perusahaan ini.

Begitu juga ketika saya tanyakan kepada salah satu mandor yang biasa mengerjakan infrastruktur jalan. “Apa enaknya kerja di Relife dibanding di developer lain sebelumnya?”

“Kalau di sini orangnya jujur-jujur pak, saya gak ada beban pak, gak perlu bohong”, katanya.

“Bohong bagaimana?”, tanya saya lagi.

Ternyata di tempat dia bekerja sebelumnya, dia harus menandatangani opname tagihan dari proyek ke Kantor Pusat atas volume pekerjaan yang dia lakukan. Hanya saja volume tersebut sudah tidak sesuai lagi karena sudah di markup Site Manager (SM)proyeknya. Misal galian saluran jalan yang dia kerjakan sepanjang 1000 m, lebar 70cm, kedalaman 1 m. Berarti volumenya adalah 700 m3. Sedangkan volume yang ditulis oleh SM-nya di dalam laporan dan harus ditandatangani olehnya adalah 960 m3 dengan panjang 300 m, lebar 80 cm, dan kedalaman 1,2 m. Berarti ada selisih 260 m3 dikalikan dengan Rp. 30.000,-/m3, total yang didapatkan SM-nya Rp. 7.800.000,-. Itu baru galiannya. Belum buangan tanahnya, buis betonnya, atau pekerjaan yang lainnya yang volume yang di-mark-up-nya tidaklah kecil. Atau bisa juga yang di mark-up adalah harga satuannya.

“Minimal tuh pak, selesai proyek, SM-nya bisa beli mobil atau bangun kontrakan!” gemasnya.

“Lho kan, bukan Bapak yang dirugikan?”

“Iya betul, tapi saya harus ikut bohong menandatangani laporan opname-nya. Jadi beban buat saya”, bantahnya.

Betul juga,  pikir saya. Memang SM-nya sendiri yang pernah cerita langsung kepada saya. Ketika sedang membicarakan struktur organisasi, karena ada pengembangan perusahaan untuk bersiap menjadi lebih besar lagi.

“Di sini tuh pak, kita butuh Quantity Surveyor. Yang bertugas untuk mengevaluasi volume material yang akan digunakan. Sehingga antara rencana dan realisasi di lapangan bisa ketauan selisihnya. Sekarang nih, saya bisa aja cepet kaya. Karena tidak ada orang pusat yang mengecek material yang saya gunakan. Saya bisa aja mengumpulkan material-material sisa lalu kemudian saya jual. Atau menambahkan volume pekerjaan di lapangan, walau tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan. Atau menambahkan harga satuan, bersengkokol dengan supliernya agar selisihnya bisa langsung masuk kantong saya.”

Tetapi hal tersebut tidak dilakukannya. “karena ada Iman aja yang bentengin saya!” tegasnya[2].

Inilah nilai kejujuran yang saya rasakan dari para pegawai di perusahaan ini dan usaha manajemen untuk tetap menjaga budaya ini. Di perusahaan ini sangat terbuka untuk saling memperbaiki dan melengkapi. Jika salah ya dikatakan salah untuk segera diperbaiki, jika ada masukan segera disampaikan untuk saling melengkapi. Sangat dinamis, perubahannya sangat cepat untuk berkembang, yang tidak siap tidak akan kuat berada di dalamnya. Saya sendiri sebelum masuk perusahaan ini, diam-diam sudah mengamati sejak perusahaan ini mulai dibangun dari nol.

Di bidang saya sendiri, Quality Control, sangat berbeda dengan yang ada di developer lain. Contohnya, seperti yang diceritakan oleh Manajer Logistik saya saat dia bekerja diperusahaan sebelumnya.

“Biasanya nih, kalau ada QC yang datang ceklist untuk mengontrol kualitas rumah yang selesai dibangun kontraktor. Itu QC-nya gak akan lama kontrolnya, karena langsung di service dengan minuman segar atau makanan yang lezat, bahkan amplop yang memang sudah disiapkan oleh kontraktornya. Kalau QC-nya lagi butuh nih, dia baru agak lamaan ceklistnnya sampai nemuin kesalahan yang cukup besar. Sehingga kontraktor mau gak mau, memberikan isi amplop yang lebih besar lagi. Walau begitu kontraktor diuntungkan karena tidak perlu mengerjakan ulang pekerjaan yang salah tadi.”

Wah, pantas saja kalau kualitas di perumahan lain jadi buruk,yang bahkan di pegang oleh developer ternama sekalipun. Walau saya yakin tidak semua developer demikian.

Ini baru berbicara di bidang Developer Perumahan. Bagaimana pekerjaan di bidang Anda? Apalagi Anda yang sebagai PNS. Pernahkah Anda membayangkan jika semua perusahaan dengan setiap pegawai-pegawainya memiliki kualitas spiritual yang tinggi yang sadar akan Yang Maha Melihat[3] dan malaikat yang mengawasi[4]? Maka tidak akan ada suap menyuap, tidak akan ada yang namanya korupsi. Maka sangat mungkin, jika Khairu Ummah akan terbentuk.[5] Dan sangat mungkin jika umat Muslim ini akan memimpin peradaban dunia ini sebagai Khalifah fil Ardh[6]. Dan semuanya dimulai dari Anda![7] Karena surga adalah balasannya.[8]



 



 

[1] “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan[714].” (QS. Huud:16)   [714]. Maksudnya: apa yang mereka usahakan di dunia itu tidak ada pahalanya di akhirat.

[2] “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah:6-8)

[3] “…Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS.Al-Anfaal:72)

[4] “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),” (QS. Al Infithaar:10-11)

[5] “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (QS.Ali ‘Imran: 110)

[6] “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi…..” (QS. Faathir:39)

[7] “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.At-Taubah:105)

[8] “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan,” (QS.Al-Infithaar:14)








 

Amal Salih dan Calon Istri

Barangkali tulisan ini tidak berguna buat siapapun, tapi sangat berguna buat saya. Karena biasanya dengan tulisan ini, ada perasaan yang ingin saya luapkan entah kepada siapa, ada pikiran yang ingin ditata agar tak kusut terurai burai, ada motivasi yang ingin didapat ketika makna berhasil terikat dan diresapi. Ya, Mengikat Makna! Begitulah Pak Hernowo mengistilahkannya yang beliau jadikan sebagai judul bukunya. Dan beginilah Mengikat Makna yang kadang saya lakukan,,,,

Teringat saat I’tikaf di Ramadhan pertama sejak lulus kuliah, kulontarkan pertanyaan kepada seorang sahabat, yang sudah saya kenal sejak masuk kuliah, 2003 silam. Seorang sahabat yang sangat konsisten menjalankan ibadahnya. Prinsip hidupnya kuat, sejalan dengan apa yang saya yakini, yang membuat saya selalu nyaman jika berbicara dengannya. Hanya satu hal yang saya heran, ketika dia lulus kuliah dan langsung mendapat pekerjaan dengan gaji yang cukup besar untuk seorang freshgraduate, yaitu masih juga belum yakin untuk menggenapkan setengah diennya.

 “Kurang apa lagi coba? Antum anak pertama, penghasilan cukup besar! Masih takut apa lagi? kita yakin kok, ada Allah yang selalu bersama kita.” Agak sulit sepertinya dia menjawab, karena memang tidak ada jawabannya menurut saya. Belum lagi umurnya yang 2 tahun lebih tua dari saya dan terus beranjak tak kenal kompromi. Hanya satu saja katanya, yaitu karena menunggu restu orang tua. Ah, itu sih hanya tinggal menunggu waktu saja menurut saya, dan tinggal bagaimana dia mau berusaha untuk meyakinkan orang tuanya.

Waktu terus berjalan, sedangkan rutinitas saja yang hanya dijalaninya dari Senin sampai Jumat. Kecuali Sabtu dan Minggu yang biasa disibukkan dengan kerja dan amal nyata untuk segenggam bekal di akhirat. Hingga disuatu pagi, “Akhi, kok ane sekarang kurang semangat ya untuk kerja?” begitulah kurang lebih bunyi sms yang saya terima darinya. Untuk kesekiankalinya saya mendapat kesempatan untuk mendampratnya (memotivasinya-red).

“Akh, makanya nikah! Biar ada alasan yang kuat untuk menyemangati antum kerja.  Biar penghasilan yang antum dapat dengan bekerja tidak hanya untuk orang tua saja, atau hanya untuk memberikan infaq dan sedekah sebagai amal jariah, atau hanya untuk ditabung saja sehingga kurang manfaatnya. Tetapi juga untuk menafkahi keluarga dengan beban dan nilai pahalanya tersendiri. Biar juga dengan menikah nanti ada anak dan istri yang menanti sepulang kerja sehingga memberi motivasi tersendiri.” kurang lebih demikian balasan saya, berharap bisa memberi motivasi kepadanya

Hah, senang saya rasanya. Tidak lama kemudian dia begitu siap untuk menikah, dan berta’aruf dengan akhwat idamannya seperti yang pernah dia utarakan saat I’tikaf waktu itu. “Pokoknya calonnya harus cantik, dan pinter, salah satunya anak UI!” jawabnya dengan pasti. Kini, dia pun mendapatkannya, dan saya yakin, inilah balasan atas amal shalih yang konsisten dia lakukan.

Jadi teringat, ketika Umar bin Khattab ra seketika mengingingkan bidadari di surga sesuai pikirannya, maka saat itu juga Allah mengabulkan keinginannya [1]. Saya tidak bermaksud menyamakan sahabat saya ini dengan sahabat Rasulullah saw. Tetapi memang begitulah orang-orang shalih menerima balasannya.[2]

Terus kamu kapan nyusul? Haha, akan indah pada waktunya.





[1] Pada saat Rasulullah isra-mi’raj, beliau diperlihatkan keindahan surga dan kedahsyatan neraka. Di surga, Rasulullah melihat sekumpulan bidadari yang bercanda dan bercengkerama, namun hanya satu bidadari yang berbeda. Ia tampak sangat pemalu dan menyendiri dari teman-temannya. Rasulullah pun bertanya kepada Jibril, “siapa bidadari itu?”. Dan dijawab Jibril, “itu adalah bidadari untuk sahabatmu Umar bin Khattab. Ketika ia membaca ayat tentang keindahan surga, ia menginginkan dalam pikirannya, bidadari untuknya berkulit hitam manis, berdahi lebar, memiliki mata berwarna biru di atasnya dan merah di bawahnya.  Karena sahabatmu itu selalu segera melaksanakan perintah Allah, maka Allah segera menciptakan bidadari yang sesuai dengan pikirannya”

[2]“;tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan;”(QS.Saba’:37)

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus :9)  [670]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.An-Nahl:97)                 [839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Dan banyak lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. 

Sunday, June 13, 2010

Undangan utk gabung ke PH Jejaring Sosial Islami

Assalamualaikum.wr.wb.,

Alhamdullilah, anda telah diundang oleh Firmansyah Alwi untuk gabung ke PencerahanHati.com - Jejaring Sosial Islami. Silahkan langsung klik di

http://www.pencerahanhati.com/signup.php?signup_referer=IbnuAlwi

Di Jejaring Sosial Islami PH, anda dapat mengakses ribuan blog Islami, pertanyaan seputar Islam dengan jawabannya. Terlebih itu, anda dapat lakukan semua hal yang dapat anda lakukan di Jejaring Sosial Internasional lainnya, seperti membuat Grup, Fan Page, Upload & Tagging foto bahkan anda dapat upload dokumen Islami anda yang akan dikonversikan otomatis langsung menjadi e-book di profile anda.

----------------------------------------


Jazakalah Khairan Katsirra.

Wassalamualaikum.wr.wb.,
Jejaring Sosial Islami PencerahanHati.com

Tuesday, May 25, 2010

Wisdom, Inspiration, & Training >> "Hidupkan hidup dengan Islam"






















Wisdom, Inspiration, & Training
"Hidupkan hidup dengan Islam"

Date: Sunday, June 6, 2010
Time: 8:00am - 6:00pm
Location: Ruang Pertemuan, SMK 57 Jakarta
Street: Jl. Taman Margasatwa No.38 B Jatipadang - Pasar Minggu Jakarta Selatan
http://www.smkn57jkt.net/page_det.php?pg=kontak

Pembicara
1. Ust. Reza M Syarif (Penulis Buku Life Excellent)
2. Ust. Hardiansyah

Untuk pendaftaran
Ketik: WIT_Nama_Tanggal Lahir_Kelurahan Tempat Tinggal
Kirim SMS ke 08569862845

Join Facebook
http://www.facebook.com/event.php?eid=127296343950432