“Hei, apa kabar?”, kaget aku disapanya. Sudah telat datang ke nikahan orang, celingak-celinguk ke kanan ke kiri tak ada yang dikenal, eeh atasan lamaku menegurku dari belakang.
“Baik Bu. Ibu gimana?”
Mulailah berbasa-basi menghangatkan pembicaraan. Datar! Membicarakan pekerjaan baru yang kugeluti sampai diajak kembali bergabung ke perusahaannya lagi. Tapi yang paling mengagetkan pertanyaannya yang satu ini.
“Kamu jadi nikah sama yang dulu?”. Upss, masih ingat saja dia. Mau jawab apa saya?
“Tidak jadi Bu, sudah pisah.”, jawabku tersenyum berharap pembicaraan segera berakhir.
“Wah kurang cinta kamu ya?”
Aku tersentak, “ya nggak gitu juga Bu”, jawabku tetap dengan senyumku.
Dia kembali menyentakku, “atau kamunya juga kurang gigih kali perjuangannya?”
“ya sudah kok Bu”, jawabku singkat, tentu dengan senyumku.
Padahal di dalam hati jawabku panjang, “Aku telah dipertemukan Allah dengannya, maka aku pasti berusaha mencintainya karena Allah. Tapi kemudian takdirNya tidak berakhir seperti yang diharapkan, akupun siap berpisah karenaNya”.
Pembicaraan kemudian berhasil aku giring keluar arena, mulai dari tamu undangan yang ramai dan mulai berpergian, sampai pada makanan yang bervariasi dan sudah habis tak sempat dinikmati. Dan akhirnya saudara-saudara! Aku mohon pamit pulang kepadanya.
Tetapi masih sempat saja dia menyentakku, “terus kapan kamu ngasih undangannya?”
Oalaah, “insya Allah, akan indah pada waktunya!”
[Flash Fiction]
__________________
Penulis : Ibnu Alwi
Jumlah kata : 200
Sub Tema : Keluarga, Anak, Percintaan
Kategori : Dewasa
Seri sebelumnya :
[FF] Akan Indah Pada Waktunya
No comments:
Post a Comment