“Hei, apa kabar?”, kaget aku disapanya. Sudah telat datang ke nikahan orang, celingak-celinguk ke kanan ke kiri tak ada yang dikenal, eeh atasan lamaku menegurku dari belakang.
“Baik Bu. Ibu gimana?”
Mulailah berbasa-basi menghangatkan pembicaraan. Datar! Membicarakan pekerjaan baru yang kugeluti sampai diajak kembali bergabung ke perusahaannya lagi. Tapi yang paling mengagetkan pertanyaannya yang satu ini.
“Kamu jadi nikah sama yang dulu?”. Upss, masih ingat saja dia. Mau jawab apa saya?
“Tidak jadi Bu, sudah pisah.”, jawabku tersenyum berharap pembicaraan segera berakhir.
“Wah kurang cinta kamu ya?”
Aku tersentak, “ya nggak gitu juga Bu”, jawabku tetap dengan senyumku.
Dia kembali menyentakku, “atau kamunya juga kurang gigih kali perjuangannya?”
“ya sudah kok Bu”, jawabku singkat, tentu dengan senyumku.
Padahal di dalam hati jawabku panjang, “Aku telah dipertemukan Allah dengannya, maka aku pasti berusaha mencintainya karena Allah. Tapi kemudian takdirNya tidak berakhir seperti yang diharapkan, akupun siap berpisah karenaNya”.
Pembicaraan kemudian berhasil aku giring keluar arena, mulai dari tamu undangan yang ramai dan mulai berpergian, sampai pada makanan yang bervariasi dan sudah habis tak sempat dinikmati. Dan akhirnya saudara-saudara! Aku mohon pamit pulang kepadanya.
Tetapi masih sempat saja dia menyentakku, “terus kapan kamu ngasih undangannya?”
Oalaah, “insya Allah, akan indah pada waktunya!”
[Flash Fiction]
__________________
Penulis : Ibnu Alwi
Jumlah kata : 200
Sub Tema : Keluarga, Anak, Percintaan
Kategori : Dewasa
Seri sebelumnya :
[FF] Akan Indah Pada Waktunya
Friday, February 25, 2011
Wednesday, February 02, 2011
[serial Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya?
Ini tentang hidup, teman. Kita dulu mati kemudian dihidupkan. Kita dulu tiada kemudian diadakan. Dialah Allah Sang Maha Pencipta yang mampu melakukan hal demikian. Aku, beruntung! Karena mengetahui hakikat hidup ini. Sampai pada satu titik, aku sempat kehilangan semangat hidupku ini. Bagaimana tidak, 4 perkara telah ditentukan; rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya[1]. Bagaimana tidak, semua telah ditetapkan sebelum semuanya diciptakan[2]. Semuanya sudah tertulis[3] di dalam Kitab Induk yang nyata[4]. Pena telah diangkat dan tinta telah mengering[5]. Umur kita telah ditentukan[6]. Takdir baik dan buruk siap untuk diberikan[7]. Semua bencana yang akan menimpa telah tertulis[8]. Kita, telah diciptakan beserta apa yang akan kita perbuat[9]. Segala upaya adalah kehendakNya[10]. Persis, 1% usaha kita juga karena kehendakNya! Berarti ini tidak hanya tentang 99% kehendak Allah, tetapi ini tentang 100% kehendak Allah[11].
Ini tidak adil, pikirku. Aku manusia, yang ingin banyak rezekinya, panjang umurnya, berbuat sesukanya, dan selalu bahagia. Lalu bagaimana kalau yang ditentukan bagiku adalah sebaliknya? Yang sedikit rezekinya, pendek umurnya, dan selalu sengsara. Kalau semuanya sudah ditentukan, buat apa lagi aku bersusah payah berusaha? Seperti wayang yang dimainkan dalangnya. Seperti aktor yang diatur sutradaranya. Seperti lakon di atas panggung sandiwaranya. Buat apa lagi aku beramal, jika sudah ditetapkan apakah aku akan di Surga atau di Neraka nantinya[12]?
Sempit, ternyata ini hasil dari pemahaman yang sempit, wawasan yang sempit, dan ilmu yang sempit. Ini hasil dari pemahaman agama yang setengah-setengah, pengetahuan terhadap Al-Qur’an dan Hadits yang hanya sepotong-sepotong. Dan kini, aku bersemangat dalam hidup dengan pemahaman baruku. Pemahaman lama yang terbarukan! Dan semoga ini sempat tertuliskan dan ditakdirkan demikian. Di dalam seri “1% usaha itu harus tetap 100%”
__________________________
[1] "Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya. (HR. Bukhari)
[2] Rasulullah bersabda :”Pertama kali yg diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman : “Tulislah!”. Pena bertanya : “Apa yang akan saya tulis ?”. Allah berfirman : “Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat !”. (Shahih Abu Daud)
[3] " Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al An'am [6] : 59)
[4] Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yasin (36) : 12)
[5] ”Ketahuilah bahwa seandainya umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan sesuatu yang telah dituliskan Allah bagimu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudharat bagimu niscaya mereka tidak akan dapat memberi mudharat melainkan apa yang telah dituliskan bagimu. Pena-pena telah diangkat dan telah kering lembaran-lembaran”. (Shahih Tirmidzi)
[6] “..., kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan,... “. (QS. al-An’am (6) : 60)
[7] ”Tidaklah beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap takdir yang baik atau yang buruk, hingga ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya tidak akan meleset, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan menimpanya”. (HR. Tirmidzi).
[8] “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid : 22)
[9] “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shaffaat : 96)
[10] “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan : 30)
[11] “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS.Yasin : 82).
[12] Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka". (HR. Bukhari)
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!
Ini tidak adil, pikirku. Aku manusia, yang ingin banyak rezekinya, panjang umurnya, berbuat sesukanya, dan selalu bahagia. Lalu bagaimana kalau yang ditentukan bagiku adalah sebaliknya? Yang sedikit rezekinya, pendek umurnya, dan selalu sengsara. Kalau semuanya sudah ditentukan, buat apa lagi aku bersusah payah berusaha? Seperti wayang yang dimainkan dalangnya. Seperti aktor yang diatur sutradaranya. Seperti lakon di atas panggung sandiwaranya. Buat apa lagi aku beramal, jika sudah ditetapkan apakah aku akan di Surga atau di Neraka nantinya[12]?
Sempit, ternyata ini hasil dari pemahaman yang sempit, wawasan yang sempit, dan ilmu yang sempit. Ini hasil dari pemahaman agama yang setengah-setengah, pengetahuan terhadap Al-Qur’an dan Hadits yang hanya sepotong-sepotong. Dan kini, aku bersemangat dalam hidup dengan pemahaman baruku. Pemahaman lama yang terbarukan! Dan semoga ini sempat tertuliskan dan ditakdirkan demikian. Di dalam seri “1% usaha itu harus tetap 100%”
__________________________
[1] "Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya. (HR. Bukhari)
[2] Rasulullah bersabda :”Pertama kali yg diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman : “Tulislah!”. Pena bertanya : “Apa yang akan saya tulis ?”. Allah berfirman : “Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat !”. (Shahih Abu Daud)
[3] " Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al An'am [6] : 59)
[4] Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yasin (36) : 12)
[5] ”Ketahuilah bahwa seandainya umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan sesuatu yang telah dituliskan Allah bagimu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudharat bagimu niscaya mereka tidak akan dapat memberi mudharat melainkan apa yang telah dituliskan bagimu. Pena-pena telah diangkat dan telah kering lembaran-lembaran”. (Shahih Tirmidzi)
[6] “..., kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan,... “. (QS. al-An’am (6) : 60)
[7] ”Tidaklah beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap takdir yang baik atau yang buruk, hingga ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya tidak akan meleset, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan menimpanya”. (HR. Tirmidzi).
[8] “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid : 22)
[9] “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shaffaat : 96)
[10] “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan : 30)
[11] “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS.Yasin : 82).
[12] Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka". (HR. Bukhari)
Seri sebelumnya :
- [seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!
Subscribe to:
Comments (Atom)