Thursday, March 31, 2011

Ketika bersenang-senang bernilai pahala :)

Teringat kisah Sahabat ketika Hanzhalah ra bertemu dengan Abu Bakar ra,

"Wahai Abu Bakr, Hanzhalah telah munafik."

Jelas, saat itu Abu Bakar bingung dengan klaim Hanzhalah tentang kemunafikannya. Hanzhalah pun menjelaskan kenapa demikian, "Ketika kami berada di sisi Rasulullah saw, beliau mengingatkan kami surga dan neraka hingga seakan-akan mata melihatnya. Namun setelah itu, saya pulang menemui keluargaku, dan saya pun tertawa dan bermain-main bersama anak dan isteriku."

Waw, beginilah mereka, para Sahabat Rasulullah yang sangat menjaga keimanannya. Untuk sekedar tertawa dan bermain bersama keluarga saja sangat diperhatikannya, agar tidak melalaikan keimanannya. Abu Bakar pun merasakan hal yang sama sehingga mereka berdua menemui Rasulullah saw.

Beliau pun bersabda, "Wahai Hanzhalah, sekiranya saat kalian berada di rumah-rumah kalian, sebagaimana saat kalian berada di sisiku, niscaya malaikat akan menyalami kalian. Dan saat kalian berada di rumah atau di jalan, maka (ingatlah sewaktu) waktu."[1]

Inilah manusia dengan fitrahnya. Kita bukan malaikat, yang ketika diperintahkan bersujud oleh Allah maka akan bersujud selamanya perintah itu berlangsung, tanpa ada rasa jenuh. Kita ini manusia, yang Allah juga tau kita ini manusia, yang juga butuh kesenangan. Maka ada hal-hal yang wajib sehingga Allah perintahkan, ada hal-hal yang haram sehingga Allah larang, dan ada hal-hal yang mubah sehingga Allah bolehkan.

Kita akan berdosa ketika meninggalkan yang wajib dan mengerjakan yang haram, dan akan mendapat pahala jika mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Namun yang wajib jika dilakukan secara berlebihan bisa menyebabkan kita berdosa. Contohnya, jika kita diperintahkan untuk shalat Magrib 3 rakaat, ya jangan ditambah menjadi 4 rakaat. Bid’ah namanya[2].

Hal yang mubah bisa bernilai pahala tetapi jika berlebihan akan membuat kita dekat dengan dosa[3]. Tertawa atau bersenda gurau dengan dengan keluarga atau teman adalah sesuatu yang mubah karena membuat kita terhindar dari kejenuhan, tetapi jangan dilakukan berlebihan sehingga mematikan hati dan pikiran[4] atau bahkan jatuh ke jurang neraka[5].

Nah ada juga saat ketika bersenang-senang bisa bernilai pahala. Yaitu saat bersetubuh dengan pasangannya yang sudah halal dengan akad nikah[6]. Mau?

Terus kamu kapan Man? Langsung aja deh bertanya sendiri, sebelum ditanya duluan. Jawabnya, “Insya Allah, akan indah pada waktunya!” :)



[1] Hanzhalah berkata; Suatu ketika, kami berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menyebutkan tentang surga dan neraka, hingga seolah-olah mata melihatnya. Setelah itu saya beranjak pulang menemui keluargaku, dan saat itu aku pun tertawa bersama isteri dan anakku. Kemudian aku teringat, akan perasaanku saat berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu aku keluar dan berjumpa dengan Abu Bakr. Aku pun berkata, "Wahai Abu Bakr, Hanzhalah telah munafik." Ia bertanya, "Kenapa bisa begitu?" saya berkata, "Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau mengingatkan kami surga dan neraka hingga seakan-akan mata melihatnya. Namun setelah itu, saya pulang menemui keluargaku, dan saya pun tertawa dan bermain-main bersama anak dan isteriku." Abu Bakar berkata, "Sesungguhnya kami juga melakukan hal yang demikian." Maka aku pun menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menuturkan hal itu pada beliau. Beliau bersabda: "Wahai Hanzhalah, sekiranya saat kalian berada di rumah-rumah kalian, sebagaimana saat kalian berada di sisiku, niscaya malaikat akan menyalami kalian. Dan saat kalian berada di rumah atau di jalan, maka (ingatlah sewaktu) waktu." (HR. Ahmad)

[2] “Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ad-Darimy)

[3] Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.( QS. Al Isra’ (17): 27)

[4] "Berhati-hatilah dengan banyak tertawa sebab ia menyebabkan hati menjadi mati" (HR. Shohih Al Jami)

[5] Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66].

[6] Rasulullah SAW bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Friday, February 25, 2011

[FF] Akan Indah Pada Waktunya 2

“Hei, apa kabar?”, kaget aku disapanya. Sudah telat datang ke nikahan orang, celingak-celinguk ke kanan ke kiri tak ada yang dikenal, eeh atasan lamaku menegurku dari belakang.

“Baik Bu. Ibu gimana?”

Mulailah berbasa-basi menghangatkan pembicaraan. Datar! Membicarakan pekerjaan baru yang kugeluti sampai diajak kembali bergabung ke perusahaannya lagi. Tapi yang  paling mengagetkan pertanyaannya yang satu ini.

“Kamu jadi nikah sama yang dulu?”. Upss, masih ingat saja dia. Mau jawab apa saya?

“Tidak jadi Bu, sudah pisah.”, jawabku tersenyum berharap pembicaraan segera berakhir.

“Wah kurang cinta kamu ya?”

Aku tersentak, “ya nggak gitu juga Bu”, jawabku tetap dengan senyumku.

Dia kembali menyentakku, “atau kamunya juga kurang gigih kali perjuangannya?”

“ya sudah kok Bu”, jawabku singkat, tentu dengan senyumku.

Padahal di dalam hati jawabku panjang, “Aku telah dipertemukan Allah dengannya, maka aku pasti berusaha mencintainya karena Allah. Tapi kemudian takdirNya tidak berakhir seperti yang diharapkan, akupun siap berpisah karenaNya”.

Pembicaraan kemudian berhasil aku giring keluar arena, mulai dari tamu undangan yang ramai dan mulai berpergian, sampai pada makanan yang bervariasi dan sudah habis tak sempat dinikmati. Dan akhirnya saudara-saudara! Aku mohon pamit pulang kepadanya.
Tetapi masih sempat saja dia menyentakku, “terus kapan kamu ngasih undangannya?”

Oalaah, “insya Allah, akan indah pada waktunya!”


[Flash Fiction]
__________________
Penulis        : Ibnu Alwi
Jumlah kata : 200
Sub Tema    : Keluarga, Anak, Percintaan
Kategori       : Dewasa


Seri sebelumnya :
[FF] Akan Indah Pada Waktunya

Wednesday, February 02, 2011

[serial Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya?

Ini tentang hidup, teman. Kita dulu mati kemudian dihidupkan. Kita dulu tiada kemudian diadakan. Dialah Allah Sang Maha Pencipta yang mampu melakukan hal demikian. Aku, beruntung! Karena mengetahui hakikat hidup ini. Sampai pada satu titik, aku sempat kehilangan semangat hidupku ini. Bagaimana tidak, 4 perkara telah ditentukan; rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya[1]. Bagaimana tidak, semua telah ditetapkan sebelum semuanya diciptakan[2]. Semuanya sudah tertulis[3] di dalam Kitab Induk yang nyata[4]. Pena telah diangkat dan tinta telah mengering[5]. Umur kita telah ditentukan[6]. Takdir baik dan buruk siap untuk diberikan[7]. Semua bencana yang akan menimpa telah tertulis[8]. Kita, telah diciptakan beserta apa yang akan kita perbuat[9]. Segala upaya adalah kehendakNya[10]. Persis, 1% usaha kita juga karena kehendakNya! Berarti ini tidak hanya tentang 99% kehendak Allah, tetapi ini tentang 100% kehendak Allah[11].
Ini tidak adil, pikirku. Aku manusia, yang ingin banyak rezekinya, panjang umurnya, berbuat sesukanya, dan selalu bahagia. Lalu bagaimana kalau yang ditentukan bagiku adalah sebaliknya? Yang sedikit rezekinya, pendek umurnya, dan selalu sengsara. Kalau semuanya sudah ditentukan, buat apa lagi aku bersusah payah berusaha? Seperti wayang yang dimainkan dalangnya. Seperti aktor yang diatur sutradaranya. Seperti lakon di atas panggung sandiwaranya. Buat apa lagi aku beramal, jika sudah ditetapkan apakah aku akan di Surga atau di Neraka nantinya[12]?
Sempit, ternyata ini hasil dari pemahaman yang sempit, wawasan yang sempit, dan ilmu yang sempit. Ini hasil dari pemahaman agama yang setengah-setengah, pengetahuan terhadap Al-Qur’an dan Hadits yang hanya sepotong-sepotong. Dan kini, aku bersemangat dalam hidup dengan pemahaman baruku. Pemahaman lama yang terbarukan! Dan semoga ini sempat tertuliskan dan ditakdirkan demikian. Di dalam seri “1% usaha itu harus tetap 100%”



__________________________
[1] "Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya. (HR. Bukhari)
[2] Rasulullah bersabda :”Pertama kali yg diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman : “Tulislah!”. Pena bertanya : “Apa yang akan saya tulis ?”. Allah berfirman : “Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat !”. (Shahih Abu Daud)
[3] " Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al An'am [6] : 59)
[4] Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yasin (36) : 12)
[5] ”Ketahuilah bahwa seandainya umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan sesuatu yang telah dituliskan Allah bagimu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudharat bagimu niscaya mereka tidak akan dapat memberi mudharat melainkan apa yang telah dituliskan bagimu. Pena-pena telah diangkat dan telah kering lembaran-lembaran”. (Shahih Tirmidzi)
[6] “..., kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan,... “. (QS. al-An’am (6) : 60)
[7] ”Tidaklah beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap takdir yang baik atau yang buruk, hingga ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya tidak akan meleset, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan menimpanya”. (HR. Tirmidzi).
[8] “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid : 22)
[9] “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shaffaat : 96)
[10] “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan : 30)
[11] “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS.Yasin : 82).
[12] Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka". (HR. Bukhari)

Seri sebelumnya :
- [seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!

Tuesday, January 18, 2011

[seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!

Ini tentang hidup, teman. Jangan heran jika ada penjahat dan para ahli maksiat, bukannya di azab tetapi malah bisa menikmati hidup yang nikmat. Sekaliber Umar ra pun pernah menangis dalam keraguan melihat raja Persia dan raja Romawi berada dalam kemegahan sedang Rasulullah tidur beralaskan tikar.[1][2]
“Apakah engkau dalam keraguan?”, tanya Rasulullah kepada Umar ra.
“Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan mereka di dalam kehidupan dunia?”, lanjut Rasulullah[3].
Persis, 1% usaha kita sangat ditentukan oleh 99% kehendak Allah swt. Orang kafirpun, asal dia mau usaha, dia juga akan memperoleh kesenangan hidup di dunia.[4] Padahal usaha itu hanya bernilai 1%.
Lalu Anda? Di saat shalat sudah malas ke masjid, atau adzan sudah tak terasa terdengar lagi. Di saat Al-Qur’an hanya dijadikan pajangan, atau mungkin hanya dibaca di bulan Ramadhan saja. Di saat pandangan mata sudah tak terjaga, dan lisan sudah bersilat dusta. Di saat tangan berbuat maksiat dan kaki menuntun ke arahnya. Tetapi malah kenikmatan dunia mudah di dapat atau kesenangan lainnya datang silih berganti, tanpa derita dan tanpa kekecewaan. Dan Anda mau mengatakan “Tuhanku telah memuliakanku[5]”. Jangan terlalu bangga dulu apalagi malah menjadi sombong! Berhati-hatilah! Belum tentu karena 1% usaha Anda yang sudah luar biasa atau karena doa-doa Anda telah dikabulkan. Bisa jadi, 99% kehendak Allah sedang meluaskan rezeki Anda[6], sampai Anda tertipu dengan kesenangan kehidupan dunia![7]
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan–baik golongan ini maupun golongan itu–Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (QS. al-Isra’ (17) : 18-21)

_____________________________
[1] Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)
[2] Dalam riwayat lain disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Maka bercucuranlah air mataku.” Melihat hal itu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?” Aku menjawab, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih mulia daripada mereka, –pent.) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.” (HR. Muslim no. 3675)
[3] Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik- baik) mereka di dalam kehidupan dunia?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)
[4] “Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada mereka dikatakan, ‘Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa haq dan karena kalian berbuat kefasikan’.” (QS. Al-Ahqaf: 20)
[5] Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” (QS. al-Fajr (89) : 14)

[6] Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. ar-Ra’d (13) : 26)
[7] Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. al-Hadid (57) : 20)

Seri sebelumnya :
- [seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya ?