“Coba perhatikan pohon itu, lihatlah daun-daunnya! Apakah daun itu yang menginginkan menjadi daun? Coba perhatikan lagi, daun-daunnya ada yang tumbuh bersamaan, tapi ada yang gugur terlebih dahulu. Ada yang menguning terlebih dahulu kemudian gugur. Ada yang masih hijau tapi dia sudah gugur. Apakah itu kemauan daun itu? Tentu tidak, itu ketetapan yang sudah dibuat. Kita seperti daun itu. Semuanya sudah ada Yang Mengatur. Hanya saja manusia diberi akal, tidak seperti makhluk yang lainnya.”, begitu nasehatnya.
Sebuah nasehat yang tak akan terlupakan. Inilah salah satu bentuk tawakal yang luar biasa. Introspeksi untuk melakukan perbaikan atas kesalahan yang dibuat memang tetap harus dilakukan. Tetapi menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, Yang Mengatur segalanya, membuat diri kita lebih sabar dan ikhlas, untuk lebih menerima apapun hasil yang kita dapatkan dari usaha yang kita lakukan.
Namun ada kata kunci yang menarik, bahwa kita ini manusia yang diberi akal, tidak seperti tumbuhan atau binatang. Kalau daun tadi tidak bisa memilih apakah dia mau berguguran atau tidak, tetapi manusia masih bisa memilih mau menjadi orang yang gagal seterusnya atau tidak. Akal kita diberi kewenangan itu untuk memilih.
Memang ada ketetapan atau takdir yang tidak bisa kita kompromikan, seberapa besar apapun usaha yang kita lakukan untuk merubahnya, karena Allah berkehendak disitu. Namun banyak sekali ketetapan dibuat dengan peluang-peluang, dimana salah satu peluangnya adalah usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita inginkan, juga karena Allah berkehendak disitu.
Jika mau kaya maka harus kerja, padahal berapa banyak orang bekerja bertahun-tahun tetapi tidak kaya-kaya. Jika mau pintar maka belajar dengan tekun, padahal ada orang yang tidak belajar dengan tekun tetapi bisa sangat pintar sekali, dia jenius!
Kita tidak tau saat dimana kita harus menerima sepenuhnya ketetapan yang telah ditentukan. Kita tidak tau saat dimana kita diberi ketetapan yang memiliki peluang-peluang untuk kita lakukan perubahan disitu. Namun inilah ikhtiar! Allah memberi nilai tersendiri untuk sebuah ikhtiar. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”[1].
Jadi berikhtiarlah, jika ingin memiliki anak yang shalih maka nikahi istri/suami yang shalih. Berikhtiarlah, jika ingin memiliki ilmu yang bermanfaat maka belajarlah, banyak membaca dan sering mendatangi majelis ilmu. Berikhtiarlah, jika ingin banyak sedekah jariah maka harus mempunyai harta yang disedekahkan.[2]
Akhir dari cerita Direktur Konsultan di atas, tidak sampai 1 bulan dari gagalnya tender tersebut, akhirnya perusahaan konsultan tersebut memenangkan sebuah tender dengan nilai proyek 2 kali lipat dari nilai tender yang gagal tersebut. Jadilah maka jadilah. [3]
__________________________________
[1] QS. Ar Ra'd : 11
[2] "Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." (HR. Muslim)
[3] QS. Al Baqarah : 117
Seri selanjutnya :
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!
- [seri Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya ?
2 comments:
Tetap semangat, ganbatte:-)
ma kasih :)
Post a Comment