Tuesday, December 28, 2010

[seri Kehidupan] 1% dan 99%

Ini tentang hidup teman. Kadang kita ada di atas, kadang kita ada di bawah. Jika kita menyusuri jalan di siang hari, akan kita temui berjuta-juta manusia dengan segala usahanya untuk mencari nafkah. Ada yang jadi pegawai, ada yang jadi pengusaha. Ada yang lebih suka mandiri, ada yang mau tidak mau menjual harga diri. Ada yang memungut sampah di jalan, juga ada yang memungut uang pungli di persimpangan. Ada yang memungut bayaran di meja kasir, juga ada yang memungut uang di balik meja kerjanya. Ada yang berbicara di seminar-seminar, juga ada yang berbicara sebagai penghubung antara mafia pajak, mafia hukum, mafia kepolisian, dan mafia-mafia lainnya. Ada yang berputus asa, juga ada yang bersemangat mengejar cita-citanya. Ada yang menghalalkan segala cara, juga ada yang menjadikan bekerjanya sebagai sarana ibadahnya. Anda, di posisi yang mana teman?
Banyak di antara kita yang tidak menyukai pekerjaan yang sedang kita jalani, padahal banyak di luar sana sedang mencari pekerjaan dengan jerih payahnya. Saat kita asyik dengan suasana kerja yang sedang kita jalani, sering kali kita lupa bahwa kita harus mensyukurinya. Yakinlah, apa yang kita miliki saat ini hanyalah 1% dari hasil usaha yang kita lakukan. Sedangkan 99%nya adalah pemberian Allah kepada kita. Percayalah, seringkali 1%nya itu menjadi penentu apakah Allah akan memberikan 99%nya lagi kepada kita. Nilai 1% ini relatif, kadang bisa jadi 0%. Karena Allah Maha berkehendak. Karena Allah ingin mengajarkan kepada kita, ini lho Tuhanmu yang memiliki segalanya, yang kamu harus bersyukur atas semua itu. Kamu tidak akan memiliki apa-apa jika Tuhanmu ini tidak mau memberi apa-apa ke kamu.
Di antara kita ada yang baru selesai kontrak kerjanya. Di antara kita ada yang baru mendapat beasiswa full untuk S2nya. Di antara kita ada yang masih tetap dengan semangat pengusahanya. Di antara kita ada yang sudah berpindah-pindah tempat kerjanya. Juga di antara kita, masih ada yang bertanya-tanya, ke depan saya akan tetap kerja di sini atau mencari pekerjaan yang penghasilannya lebih besar? Jarang, di antara kita yang berpikir, apa yang terbaik yang bisa saya berikan untuk perusahaan tempat kerja saya ini? Tetapi yang terpenting, semoga di antara kita sudah memulai berpikir untuk bekerja bervisikan akhirat!

Seri sebelumnya :
- [seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!
- [seri Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya ?

Friday, December 17, 2010

[seri Kehidupan] Ikhtiar dan Tawakal

Seorang Direktur sebuah konsultan yang kini sudah bergelar Profesor, bercerita kepada saya tentang timnya yang gagal memenangkan sebuah tender, hanya karena sebuah kesalahan kecil sekali. Beliau sangat bijak dalam menasehati timnya yang cukup frustasi seakan dunia ini sudah kiamat.
“Coba perhatikan pohon itu, lihatlah daun-daunnya! Apakah daun itu yang menginginkan menjadi daun? Coba perhatikan lagi, daun-daunnya ada yang tumbuh bersamaan, tapi ada yang gugur terlebih dahulu. Ada yang menguning terlebih dahulu kemudian gugur. Ada yang masih hijau tapi dia sudah gugur. Apakah itu kemauan daun itu? Tentu tidak, itu ketetapan yang sudah dibuat. Kita seperti daun itu. Semuanya sudah ada Yang Mengatur. Hanya saja manusia diberi akal, tidak seperti makhluk yang lainnya.”, begitu nasehatnya.
Sebuah nasehat yang tak akan terlupakan. Inilah salah satu bentuk tawakal yang luar biasa. Introspeksi untuk melakukan perbaikan atas kesalahan yang dibuat memang tetap harus dilakukan. Tetapi menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, Yang Mengatur segalanya, membuat diri kita lebih sabar dan ikhlas, untuk lebih menerima apapun hasil yang kita dapatkan dari usaha yang kita lakukan.
Namun ada kata kunci yang menarik, bahwa kita ini manusia yang diberi akal, tidak seperti tumbuhan atau binatang. Kalau daun tadi tidak bisa memilih apakah dia mau berguguran atau tidak, tetapi manusia masih bisa memilih mau menjadi orang yang gagal seterusnya atau tidak. Akal kita diberi kewenangan itu untuk memilih.
Memang ada ketetapan atau takdir yang tidak bisa kita kompromikan, seberapa besar apapun usaha yang kita lakukan untuk merubahnya, karena Allah berkehendak disitu. Namun banyak sekali ketetapan dibuat dengan peluang-peluang, dimana salah satu peluangnya adalah usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita inginkan, juga karena Allah berkehendak disitu.
Jika mau kaya maka harus kerja, padahal berapa banyak orang bekerja bertahun-tahun tetapi tidak kaya-kaya. Jika mau pintar maka belajar dengan tekun, padahal ada orang yang tidak belajar dengan tekun tetapi bisa sangat pintar sekali, dia jenius!
Kita tidak tau saat dimana kita harus menerima sepenuhnya ketetapan yang telah ditentukan. Kita tidak tau saat dimana kita diberi ketetapan yang memiliki peluang-peluang untuk kita lakukan perubahan disitu. Namun inilah ikhtiar! Allah memberi nilai tersendiri untuk sebuah ikhtiar. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”[1].
Jadi berikhtiarlah, jika ingin memiliki anak yang shalih maka nikahi istri/suami yang shalih. Berikhtiarlah, jika ingin memiliki ilmu yang bermanfaat maka belajarlah, banyak membaca dan sering mendatangi majelis ilmu. Berikhtiarlah, jika ingin banyak sedekah jariah maka harus mempunyai harta yang disedekahkan.[2]
Akhir dari cerita Direktur Konsultan di atas, tidak sampai 1 bulan dari gagalnya tender tersebut, akhirnya perusahaan konsultan tersebut memenangkan sebuah tender dengan nilai proyek 2 kali lipat dari nilai tender yang gagal tersebut. Jadilah maka jadilah. [3]
__________________________________
[1] QS. Ar Ra'd : 11
[2] "Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." (HR. Muslim)
[3] QS. Al Baqarah : 117

Seri selanjutnya :
- [seri Kehidupan] 1% dan 99%
- [seri Kehidupan] Ketika bangga dengan 1% usaha!
- [seri Kehidupan] 99% itu adalah kehendakNya ?