“Apa tidak ada perempuan yang lain?”, tanyanya dengan penuh harap.
Aku hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi aku lupa bahwa bangsa ini masih hidup di dalam semangat kesukuannya. Sudah kubaca buku “Personality Plus” karya Florence Littauer. Bahkan sudah kuikuti seminar “The World Personality Mastery” yang dibawakan oleh James Gwee. Tetapi tidak pernah aku temui pelajaran tentang kepribadian yang dilihat dari sukunya berasal.
“Tidak apa bergaul dengan mereka, berorganisasi atau berbisnis dengan mereka. Tetapi bukan untuk dijadikan keluarga Nak!”, lanjutnya.
Aku bernegosiasi. Kubaca buku “Agar Siapa Saja Mau Berdamai Dengan Anda” karya David J. Lieberman. Namun tak sanggup aku mematahkan cara berpikir Bapakku yang sudah terbentuk beku selama puluhan tahun dari pengalaman-pengalaman yang dia dengar atau bahkan yang dia alami sendiri tentang orang-orang di suku itu.
“Terserah jika kamu mau tetap menikahinya”, jawabnya berat.
Ijinnya bukan berarti restunya. Begitu yang terlihat dari wajahnya. Aku hanya takut tidak mendapat ridha dari Tuhanku. Kuputuskan untuk menunda segalanya.
“Akan indah pada waktunya”, pikirku.
__________________
Penulis : Ibnu Alwi
Jumlah kata : 200
Sub Tema : Keluarga, Anak, Percintaan
Kategori : Dewasa
__________________
FF ini diikutkan dalam lomba disini
23 comments:
wah.. bacaan yang banyak pun tak ampuh mendapatkan ridho orang tua ya..
situasi nya saya demen.:))
haha..iya nih mba..
kira-kira menang ga nih mba?
saya gak tau selera juri..:))
saya aja nulis Ff kemaren itu juga gak yakin.. tapi tak ada salahnya mencoba..
niatkan untuk latihan.. menang atau kalah itu hikmah dari proses menulisnya..:)
setuju...:)
bagus. :)
masih sering main ke K.com, Mas?
wah, hampir ga pernah
langsung saya copas disana deh..
haa..sepinter2nya anak, tetep lebih pinter orangtua ternyata
anak kan harus patuh..hehe
karakteristik kebanyakan orang tua : konservatif
waah kereen banget dan kebetulan aku ngalamin persis kayak gini dan sy ppun pilih ridhonya biar indah pd waktunya..eh tyt bener dpt yg aku inginkan dan sesuai juga keinginan ortu....
hm.... yang jelas lebih keren dari punya saya :)
wuuii..buku-buku bacaaannya bikin minder..
ridho ortu memang yg lbh utama, meski alasan mrk kadang susah diterima logika.
kan itu terjemahan semua mba...
untung aja cuma 200 kata, kalo nggak, dikeluarin tuh semua judul buku.
ga mau kalah ya,
orang bilang keren itu, belum tentu karena tulisannya bagus atau karena ceritanya bagus, tapi bisa jadi karena orang itu pernah ngalamin cerita itu.
klop deh
doakan saya juga demikian ya mba...:)
hanya karena mereka sayang thd anaknya kok.
ini ga selalu..
kalo ini harus..
oalah, salah baca comment,
maklum mas, lg stress...hahaha
yup konservatif...
kalo diskusi sama ortu terasa banget ada ketimpangan pemahaman tentang hal yg di bahas di sini
ayahnya kolerik, anaknya melankolis...
;)
salam kenal pak...
salah ketik
maksudnya lebih "pinter" orangtua ternyata..hehe
jd bukan dlm artian intelektual tok :p
4WI lebih tau apa yg tbaik untuk qta.
Kadang apa yg qta inginkan belum tentu baik buat qta..
yakinkanlah smua perjalanan ne adalah jalan menuju kebaikan yg 4WI pilih.
Ikhlaskan semua keadaan ini,, pasti semua akan indah pada waktu nya.
Post a Comment