Tuesday, June 29, 2010

Amal Salih dan Calon Istri

Barangkali tulisan ini tidak berguna buat siapapun, tapi sangat berguna buat saya. Karena biasanya dengan tulisan ini, ada perasaan yang ingin saya luapkan entah kepada siapa, ada pikiran yang ingin ditata agar tak kusut terurai burai, ada motivasi yang ingin didapat ketika makna berhasil terikat dan diresapi. Ya, Mengikat Makna! Begitulah Pak Hernowo mengistilahkannya yang beliau jadikan sebagai judul bukunya. Dan beginilah Mengikat Makna yang kadang saya lakukan,,,,

Teringat saat I’tikaf di Ramadhan pertama sejak lulus kuliah, kulontarkan pertanyaan kepada seorang sahabat, yang sudah saya kenal sejak masuk kuliah, 2003 silam. Seorang sahabat yang sangat konsisten menjalankan ibadahnya. Prinsip hidupnya kuat, sejalan dengan apa yang saya yakini, yang membuat saya selalu nyaman jika berbicara dengannya. Hanya satu hal yang saya heran, ketika dia lulus kuliah dan langsung mendapat pekerjaan dengan gaji yang cukup besar untuk seorang freshgraduate, yaitu masih juga belum yakin untuk menggenapkan setengah diennya.

 “Kurang apa lagi coba? Antum anak pertama, penghasilan cukup besar! Masih takut apa lagi? kita yakin kok, ada Allah yang selalu bersama kita.” Agak sulit sepertinya dia menjawab, karena memang tidak ada jawabannya menurut saya. Belum lagi umurnya yang 2 tahun lebih tua dari saya dan terus beranjak tak kenal kompromi. Hanya satu saja katanya, yaitu karena menunggu restu orang tua. Ah, itu sih hanya tinggal menunggu waktu saja menurut saya, dan tinggal bagaimana dia mau berusaha untuk meyakinkan orang tuanya.

Waktu terus berjalan, sedangkan rutinitas saja yang hanya dijalaninya dari Senin sampai Jumat. Kecuali Sabtu dan Minggu yang biasa disibukkan dengan kerja dan amal nyata untuk segenggam bekal di akhirat. Hingga disuatu pagi, “Akhi, kok ane sekarang kurang semangat ya untuk kerja?” begitulah kurang lebih bunyi sms yang saya terima darinya. Untuk kesekiankalinya saya mendapat kesempatan untuk mendampratnya (memotivasinya-red).

“Akh, makanya nikah! Biar ada alasan yang kuat untuk menyemangati antum kerja.  Biar penghasilan yang antum dapat dengan bekerja tidak hanya untuk orang tua saja, atau hanya untuk memberikan infaq dan sedekah sebagai amal jariah, atau hanya untuk ditabung saja sehingga kurang manfaatnya. Tetapi juga untuk menafkahi keluarga dengan beban dan nilai pahalanya tersendiri. Biar juga dengan menikah nanti ada anak dan istri yang menanti sepulang kerja sehingga memberi motivasi tersendiri.” kurang lebih demikian balasan saya, berharap bisa memberi motivasi kepadanya

Hah, senang saya rasanya. Tidak lama kemudian dia begitu siap untuk menikah, dan berta’aruf dengan akhwat idamannya seperti yang pernah dia utarakan saat I’tikaf waktu itu. “Pokoknya calonnya harus cantik, dan pinter, salah satunya anak UI!” jawabnya dengan pasti. Kini, dia pun mendapatkannya, dan saya yakin, inilah balasan atas amal shalih yang konsisten dia lakukan.

Jadi teringat, ketika Umar bin Khattab ra seketika mengingingkan bidadari di surga sesuai pikirannya, maka saat itu juga Allah mengabulkan keinginannya [1]. Saya tidak bermaksud menyamakan sahabat saya ini dengan sahabat Rasulullah saw. Tetapi memang begitulah orang-orang shalih menerima balasannya.[2]

Terus kamu kapan nyusul? Haha, akan indah pada waktunya.





[1] Pada saat Rasulullah isra-mi’raj, beliau diperlihatkan keindahan surga dan kedahsyatan neraka. Di surga, Rasulullah melihat sekumpulan bidadari yang bercanda dan bercengkerama, namun hanya satu bidadari yang berbeda. Ia tampak sangat pemalu dan menyendiri dari teman-temannya. Rasulullah pun bertanya kepada Jibril, “siapa bidadari itu?”. Dan dijawab Jibril, “itu adalah bidadari untuk sahabatmu Umar bin Khattab. Ketika ia membaca ayat tentang keindahan surga, ia menginginkan dalam pikirannya, bidadari untuknya berkulit hitam manis, berdahi lebar, memiliki mata berwarna biru di atasnya dan merah di bawahnya.  Karena sahabatmu itu selalu segera melaksanakan perintah Allah, maka Allah segera menciptakan bidadari yang sesuai dengan pikirannya”

[2]“;tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan;”(QS.Saba’:37)

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus :9)  [670]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.An-Nahl:97)                 [839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Dan banyak lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.