Kegagalan Tiada Batas ?!
Waktu itu jam 10.30-12.30 di GK. 302 Gedung PAF Fakultas Teknik Universitas Indonesia tanggal 2 Juni 2005, saya mengikuti ujian Geologi Teknik & Properti Tanah. Awal kalimat yang cukup panjang yang biasa saya gunakan, yang bahkan dengan satu kalimat awalan ini, habis sudah satu cerita telah saya limpahkan ke dalam tulisan. Ya, saya ingin bercerita. Tapi mungkin saat ini saya mencoba berlatih untuk bisa menceritakannya dengan lebih baik.
Awalnya saya hanya ingin merapikan kertas-kertas yang bertumpuk di bawah meja komputer. Kebetulan saya sedang mencari lembar-lembar Mata Kuliah Geologi Teknik & Properti Tanah yang pernah saya ambil, karena semester ini saya akan mengulang mata kuliah tersebut, jadi barangkali lembar-lembar tersebut masih bisa digunakan kembali, terutama lembar-lembar soal ujian tengah semester (UTS) dan ujian tengah semester (UAS). Ketika saya menemukan lembar soal UAS, ada tulisan yang menarik perhatian saya, dan tentunya itu tulisan saya. Tulisan yang saya ingat, saya tulis ketika ujian tengah berlangsung. Tulisan itu membuat saya ingin membolak-balikkan seluruh lembar soal tersebut.
(hari ini aku gagal dalam menjalani hidup
tapi esok.............liat saja)
Kata-kata ini yang sedang terus terpatri pada hari-hari saya belakangan ini, karena kegagalan yang saya alami terus terjadi di hari-hari yang saya lalui. Kegagalan yang mungkin akan merusak masa depan saya. Kegagalan yang kadang tak terlihat, tapi dampaknya sedemikian besarnya. Kegagalan yang tak tahu kenapa terus terulang dan kata-kata tersebut yang terulang. Yang kadang sedikit membuat diri ini menjadi semangat kembali untuk memulai hari esok.
Yang menarik kata-kata tersebut sudah pernah terucap hampir hampir setahun yang lalu, dan sesuatu yang terlihat, tetap saja...
Saya teringat, waktu itu tidak hanya kata-kata itu saja yang saya tulis, saya bolak-balikkan lembar pertama dan benar saja, sebuah puisi saya pernah tulis.
Waktu itu tak tahu lagi apa yang harus saya tulis di lembar jawaban, karena otak saya benar-benar sudah kosong untuk mengarang dan yang tertulis, hanya tulisan ulang soal ujian tersebut. Akhirnya saya tulislah puisi ini.
perubahan terjadi pada orang yang mau merubahnya
karena kehidupan terjadi pada orang yang mau hidup
karena tulisan ini ada pada orang yang mau menulisnya
waktu masih panjang
untuk melakukan perubahan
tak ada yang terlambat
kalau menyikapi dengan tepat
hadapilah
karena hidup untuk dihadapi
ingat!!! ingat!!!!
makan itu... untuk hidup
bukan hidupmu untuk makan
hidupmu adalah untuk kehidupan selanjutnya
jangan lengah
jangan lemah
waspadalah
Ya, itulah yang tertulis. Puisi. Yang ketika saya membaca terasa sekali semangatnya. Waktu itu saya ingat, ketika ujian telah usai dan wajah-wajah teman saya yang seakan sedih tapi saya tahu itu topeng, dan ada teman yang berkata ”Firman ini selalu ceria orangnya...... gimana tadi ujiannya??”. Saya tahu, teman saya yang satu ini, kurang berhasil ujiannya. Wajah kesedihannya bukan topeng, tapi dia ikut ceria melihat keceriaan saya. Keceriaan yang saya dapat karena saya yakin seperti yang tertulis dalam puisi tersebut. Waktu masih panjang untuk melakukan perubahan, tak ada yang terlambat kalau menyikapi dengan tepat. Saya yakin dengan hal itu, artinya tak patut kalau saya harus bersedih, istilahnya sudah jatuh terimpa tangga pula, kalau saya ikut bersedih. Maka saya perlihatkan puisi saya itu kepadanya, dan dia bertambah keceriaannya karena tertawa riangnya saya lihat, disebabkan keheranannya sambil menanyakan kapan puisi itu saya buat. Dia tertawa ketika saya mengatakan bahwa puisi itu saya buat ketika saya tidak dapat mengerjakan soal ujian.
Saya juga memperlihatkan kepadanya puisi kedua yang saya buat di lembar kedua soal ujian.
orang yang merugi dalam hidup ini ialah
orang yang gagal kemudian
dia tidak menyesal atas
KEGAGALANNYA
orang yang beruntung dalam hidup ini ialah
bukan orang yang tidak pernah mengalami
kegagalan
tetapi
orang yang beruntung dalam hidup ini ialah
orang yang gagal, kemudian
dia menyesal, dan
berusaha untuk terus memperbaiki
kegagalannya
Kurang lebih seperti itulah susunannya. Kami berdua pun semakin yakin dan menampakkan wajah keseriusan setelah membacanya.
Ironis, karena sampai saat ini hal tersebut masih terus terulang. Seperti yang saya katakan di atas, kegagalan itu masih terus terjadi. Entah sampai kapan. Padahal teman-teman saya yang lain sudah melejit melangit. Sedang saya masih seperti ini-ini saja. Minimal saya menang dalam menjaga diri saya untuk terus bangkit dari kegagalan walau saya masih terus gagal. Mungkin karena kuncinya saya belum dapat, sehingga permasalahan yang ada di dalam lemari belum saya lihat dan saya pecahkan. Berarti ada agenda kedua yang harus saya lakukan dalam kehidupan ini, yaitu mencari permasalahan sekaligus solusinya setelah kegagalan saya dapat. Wallahu ’alam bishawab.
25 Januari 2006 11:32 pm
fire
No comments:
Post a Comment