Tuesday, April 08, 2008

Manusia itu Unik ya...(yang setuju ngacung...!)

Hari ini hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun usiamu, bahagialah selalu. Halah kok  malah nyanyi.

Hari ini, ya hari ini, hari Senin tepatnya. Sekali lagi saya mendapat pelajaran bahwa manusia itu unik, manusia yang tidak akan, tidak pernah, tidak mungkin bahkan, sama dengan manusia yang lain. Manusia yang memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Agak berlebihan sepertinya untuk memulai tulisan ini. Harap dimaklumi karena saya sudah sangat amat begitu terpesona dengan manusia yang diciptakan ini. Mari dimulai dari para sahabat, ada Abdurrahman bin Auf, ada Umar bin Khattab, ada Ali bin Abi Thalib, ada Bilal bin Rabah, duhai mereka adalah pribadi-pribadi yang khas. Ada yang kaya, ada yang pemarah, ada yang pintar dengan ilmunya, ada yang kita kenal sebagai seorang budak yang beriman. Duhai Allah, Maha Suci Engkau yang menciptakan semua ini, yang kalau mau diurai satu persatu, mungkin tak akan cukup umur kita untuk melakukannya. Dan akhirnya Kau satukan mereka dengan keimanan.

Pelajaran pertama hari ini, jangan melihat orang dari luarnya saja. Ya iyalah..masa ya iya dong.. Mungkin pelajaran yang amat sederhana bagi Anda, tidak ada yang istimewa, dan tidak perlu dilebih-lebihkan sebegitunya. Tapi kenyataannya masih terlalu banyak orang yang terjebak dengan hal ini. Sehingga timbul barisan orang-orang sakit hati, yang merasa kecewa dengan orang yang diharapkannya. Selama ini saya berhasil membuat topeng yang begitu tebal disetiap tulisan saya, serasa saya seperti seorang alim yang tiada bandingannya. Selama ini saya berhasil menjadi seorang pujangga impian yang menjadi rebutan dengan membuat syair-syair puisi. (Halah...gak banget sih tulisannya, tapi baca ajalah ya) Dan kemudian ada yang merasa, saya harus seperti apa yang saya tuliskan, saya harus seperti apa yang saya ajarkan. Padahal saya dengan umur yang masih ingusan ini, saya yang masih anak kemarin sore, pun masih sedang belajar menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Mengais-ngais ilmu dari setiap proses kehidupan yang sedang dijalani. Dengan temperamen, kondisi tubuh, suasana hati bahkan tingkat keimanan yang tidak mungkin selalu dalam keadaan yang baik, kadang di bawah, kadang juga di tengah. Saya bukan manusia sempurna, yang akan selalu sama antara ucapan dan perbuatan, antara essai-essai dan tingkah laku, antara kosa kata di tulisan dan tutur kata yang diucapkan. Saya masih seorang manusia yang perlu terus diperbaiki, ditegur, dinasehati. Saya masih seorang pria yang kadang tak terkendali kondisi jiwanya. Toh akhirnya janganlah kecewa dengan apa yang saya katakan dan kemudian tidak ada dalam perilaku saya. Dan juga seperti Anda melihat orang lain, jangan melihat orang dari luarnya saja, karena belum tentu dia buruk atau baik seperti apa yang tampak di luarnya saja, barangkali ada penghalang yang menutupi salah satu mata Anda. Tau apa yang menarik dari hal ini, coba baca kisah di bawah ini.

Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.
Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air
wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan. Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.
Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini
sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin 'Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari di rumahnya. Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.
Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai
saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam. Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surge tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS:AsySyu'araa [26]: 87).

Saya yakin Anda punya sejumlah hikmah yang bisa diambil dari kisah ini, tapi coba simak satu hal yag  berkaitan dengan pelajaran pertama saya, ternyata apa yang terlihat dari Abu Umamah dari luar terlihat biasa saja, tetapi Abu Umamah mempunyai kebiasan yang tidak terlihat sebelum tidurnya yang akhirnya disebut calon penghuni surga.

Pelajaran kedua, manusia itu berubah. People can be change, kata-kata yang saya ambil dari sebuah film beberapa tahun lalu. Tapi ternyata masih relevan sampai sekarang, dan saya yakin sampai akhir jaman. Sekali lagi pelajaran ini pun terkesan sederhana, sampai orang-orang lupa, orang baik itu tidak akan selamanya baik dan orang buruk itu tidak selamanya akan buruk.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda, Maka demi Allah, yang tiada tuhan yang haq disembah melainkan Dia, sesungguhnya seseorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia mengerjakan perbuatan ahli neraka, maka ia masuk kedalamnya. Dan sesungguhnya salah seorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia masuk ke dalamnya” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Ini adalah contoh ekstrim dari perubahan keimanan seorang manusia. Kita pasti pernah berucap, “Dulu orang itu gak begini ya, kok sekarang begitu sih?”. Dari sini kita bisa menyimpulkan, seringkali kita berbangga dengan perubahan orang yang menjadi baik, tetapi seringkali kita terlalu sempit hatinya untuk kecewa apabila ada orang yang berubah menjadi buruk tingkah lakunya, tutur katanya atau apapun itu. Lucunya, yang berubah itu orang tapi yang sakit hatinya kok kita ya, seharusnya kita mencari solusi agar orang itu menjadi baik kembali. Bukan begitu bukan.

Pelajaran yang ketiga, bisa karena biasa, atau terampil karena biasa. Pelajaran sederhana lagi kan !  Ada seorang guru tahsin mengatakan, yang membedakan antara orang yang baik bacaan Al-Qurannya dengan yang terbata-bata bacaan Al-Qurannya hanya pada sering atau tidaknya oang itu membaca Al-Quran. Awalnya saya pikir yang membedakannya adalah pahalanya atau tingkat keimanannya tapi tenyata tidak. Diantara kedua-duanya ternyata mendapat pahala yang tidak jauh berbeda, dan guru itu mengungkapkan yang lain, yaitu bisa karena biasa. Ada orang yang ternyata jago main futsal, Anda tau kenapa, karena sering main futsal. Ada orang yang pintar berbicara di depan orang banyak, Anda tau juga kenapa. Ada orang yang pintar membuat pantun, karena memang terbiasa membuat pantun. Dan akhirnya orang terampil karena biasa.

 Begitu hebatnya manusia menguasai bidangnya, yang seakan dialah yang paling pintar sedunia ketika ada orang lain yang tidak mengusai bidang itu. Permasalahan lainnya adalah ketika transfer ilmu itu tidak diterapkan, dan hanya merasa kecewa dengan orang yang tidak mengerti akan bidang yang ditanyakan. Contoh ekstrimnya ketika ada seorang yang menanyakan bagaimana menyalakan komputer, “Masa sih gini aja gak tau?”. Padahal dia itu lebih tau bahwa orang yang menanyakan perihal menyalakan komputer itu baru saja datang dari kampung yang listrik saja belum masuk, apalagi komputer.

Dan semua pelajaran ini teramat begitu sederhana sampai Anda akan berpikir,”kok sebegitunya sih, biasa aja kaliii!?”. Halah... manusia.

9 comments:

Habibi Yusuf Sarjono said...

Begitu menyentuh.....

Pemikir Ulung said...

setuju! sesuai dengan judul site multiply ku "Manusia Itu Unik, Aku Salah Satunya" hehe

Habibi Yusuf Sarjono said...

Potonya aja udah ngacung. hehe :))

Nafi' Ikhsani said...

Setujuuu...!!!
*ngacung

rakhma prefer ma said...

ah.. panjang sekaliiii..
ngacung aja deh..!

Ibnu Alwi said...

minimal baca haditsnya aja yang saya kutip, karena itu lebih bermanfaat dari pada baca tulisan saya.
jzk

farah zu said...

kata temen2 fakultas saya, 'SETIAP manusia itu unik'. kata temen fakultas saya yg lain, 'unik itu kan bahasa halusnya aneh'
maka bahagialah orang-orang yang dianggap aneh. anti konformitas
(duh, ga nyambung sama tulisannya ya??)
ujung2nya saya ngacung kok (ya iya lah, masa ya iya dong?! Bukan begitu??)

Nahar Rasjidi said...

sudah sering dengar hadits-nya tetapi ternyata koq sulit mempraktekkanya, he he he. tidak mengherankan yang bisa diganjar syurga

niken putri said...

tulisan firman diatas bener2 menyentuh keadaan nix sekarang.
tau ga, kerana nix harus naik sepeda, jadi beberapa kali harus pakai celana (kulot lebar), tetapi tetep aja ada yang komentar..
lha, menurut nix daripada uang habis ditengah bulan, mending naik sepeda..
komentar orang kdg2 menusuk, dan kita juga jadi berpikir, apa iya kita lagi "turun" imannya..
semoga kita tidak mengerjakan perbuatan ahli neraka, apapun kata komentar orang.. semoga kita tidak jadi sombong karena kedalaman ilmu kita..