Saturday, April 12, 2008

Hunting Kuburan Nyok!!




Tanggal 28 Maret 2008, saya main-main ke kuburan di kober pasar minggu, hunting kuburan. Menyimak apa yang menarik di sana. Refleksi kehidupan menghadapi kematian. Mendobrak diri agar terhindar dari kesia-siaan. Menyiapkan mental menghadapi kematian.

Ah...saudaraku kadang saya bingung sendiri ketika ada seseorang yang umurnya jauh lebih tua dari saya kemudian saya bertanya tentang umurnya, “saya sudah kepala 3,”jawabnya, “tahun depan saya sudah pensiun dek,” jawab yang lain lagi. Ada lagi, “Wah, saya sudah 65 tahun, Alhamdulillah masih sehat gini.”. Kemudian saya berpikir lagi, sampai tidak saya menggapai umur sekian itu? atau kalaupun sampai, bagaimana ya saya menjalani hidup ini? apakah masih taat kepadaNya? Atau saya sudah terbawa arus cinta dunia? Wah, kadang saya kesal ketika ada orang yang mengatakan, “jalani aja hidup ini, tidak usah terlalu dipikirin.” Waw, hidup tidak usah dipikirin? Akhirnya toh saya mengerti, orang-orang seperti ini mempunyai jiwa, kepribadian dan tujuan hidup yang berbeda dengan saya.

Tanggal 29 Maret 2008, tepat di depan rumah saya, tetangga saya meninggal dunia. Seorang janda yang masih tinggal bersama orang tuanya meninggalkan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Paling besar pun belum sekolah, yang kecil masih bisa dihitung dengan bulan, lupa tepatnya. Yang menarik ketika ada orang berkomentar, “wah, baru kemaren jalan-jalan sore di depan,”. Kemudian ketika saya pulang dari shalat Dzuhur ada yang berkata kepada temannya, “oh, yang biasa jalan bareng ama kita itu kan.”. Ada lagi, “perasaan baru kemaren ngeliat dia gendong anaknya,”. Haha...terus terang saya lucu mendengar cerita ini, terlebih ketika ibu-ibu berkerumun di dekat rumah saya, dan membicarakan sesuatu hal yang menghebohkan, mereka lupa seakan kematian itu harus minta izin dulu untuk mengambil nyawa seseorang dan kemudian orang itu bisa mengabari kematiannya sendiri kepada kerabat dekatnya, padahal tidak, kematian tidak akan memundurkan atau memajukan waktunya, dia lebih dekat dari pada pungguk kita sendiri. Janda ini memang masih muda, meninggal karena penyakit tipes.

Wah, Tuhan, saya ingin meminta sesuatu padaMu. “Matikan aku dalam keadaan husnul khotimah. Jangan kau matikan aku dengan berbagai firasat orang di dekatku. Matikan aku secara mendadak tanpa diduga-duga. Matikan aku mungkin saat aku sedang duduk bekumpul dengan keluarga, kemudian kena angin duduk mungkin. Atau sedang sujud kehadapanMu, atau sedang tidur menanti fajarMu. Matikan aku tanpa penyakit. Matikan aku agar kematianku bisa menjadi pintu hidayah bagi yang lain. Biar mereka sadar, biar semua tahu, bahwa kematian memang tidak bisa diperkirakan, bahwa kematian memang harus dipersiapkan, bahwa kematian tidak menunggu manusia untuk bertobat dulu dari dosa-dosanya.”

Tanggal 13 April 2008, tetangga saya yang lain berjarak ± 100 meter dari rumah saya pun juga meninggal. Seorang istri yang giat membantu tentangganya yang lain. Tidak sedikit yang datang melayat ke rumahnya karena jasa-jasanya yang akan selalu diingat warga. Seorang istri yang meninggal karena ‘kecapean’ sehabis membantu masak-masak dihajatan tetangganya yang lain. Waw, belum sebulan sudah ada dua kematian yang menarik. Kapan giliran kita yang akan dijemput?

9 comments:

mirza rio said...

nice!!!

rakhma prefer ma said...

*ngga ngerti jg maksud I, II, III.. ??*

"Elly Lubis" Elly Lubis" Elly Lubis" said...

wa inna insya Allahu bikum laahiquun...

:: iRa izZati :: ^_^ said...

mungkin makamnya ditumpuk gitu..
pernah tau c ada makam yg kaya gitu..
biasanya kluarga dekat..

Ibnu Alwi said...

ada ya yang kayak gitu
wah gimana tuh hukumnya.....

:: iRa izZati :: ^_^ said...

ada..
mungkin alesannya karena gada lahan lagi bwat makam..
klo hukumnya wallahu'alam..kurang tau juga saya..

Amanda Pattisahusiwa said...

bukannya kalau di baqi' juga seperti itu ya, maksudnya satu lobang bisa jadi untuk beberapa mayyit?
efisien juga sepertinya, hemat lahan.. :D
Beside, walau satu lobang, "kehidupan kubur nya" berbedalah pastinya..

Ibnu Alwi said...

wah ga tau ya...ga deh kayaknya...

Rida Ariyati said...

Refleksi kehidupan .. bahwa setiap yang hidup pasti akan mati .. pelajaran bagi kita2 yang hidup untuk mempersiapkan kematian dengan sebaik2nya