Saturday, May 26, 2007

Wanita seperti Barang....

Cerpen yang ketiga, saran dan kritiknya ya....



Wanita seperti Barang....


Gila! Ari memang sudah gila. Bayangkan saja, sebulan dia tidak kelihatan batang hidungnya, sekalinya ketemu mengungkapkan hal yang tidak-tidak. Dia menganggap wanita seperti barang!!

”Iya Nu, ternyata wanita seperti barang.”

Berpikir seribu kali katanya untuk mengungkapkan hal ini. Walau pernyataan ini kuanggap gila, tapi dia menjelaskan dengan sangat masuk akal sekali.

”Ku kira kau menghilang untuk mencari pencerahan, evaluasi diri dan akan membuat gebrakan baru di kampus ini.” ujarku setelah dia mengungkapkan hal yang cukup gila itu.

Ibnu....ibnu...kamu ini, aku tidak menghilang, kita aja yang jarang ketemu.”

Memang benar apa yang dia bilang, kami jarang ketemu dalam sebulan ini. Beberapa kali ku lihat dia, tetapi tidak seperti biasa bergabung dengan teman-teman di kantin. Seperti terburu-buru, itu yang ku lihat seringkali.

Kok bisa sih kamu bilang seperti itu, Ri.”

”Kamu kan pernah tanya, apa perbedaan antara laki-laki dan ikhwan, nah dari situlah aku menganalisis.”

Aku memang pernah menanyakan itu, karena aku juga pernah ditanyakan demikian oleh seorang teman. Aku hanya ingin tau bagaimana pendapat Ari tentang laki-laki dan ikhwan. Ternyata jawabannya sama dengan jawaban awamku di awal. Antara laki-laki dan ikhwan tidak ada bedanya, yang berbeda hanya di penggunaan bahasa. Toh, ikhwan dalam bahasa Arab artinya adalah saudara laki-laki di dalam bahasa Indonesia.

Beda Nu, sebenarnya dalam bahasa juga berbeda, tapi yang paling mendasar bukan itu.” kata temanku saat itu mencoba berteka-teki.

Apa?”, aku bertanya lebih lanjut.

Ikhwan itu kalau melihat wanita atau akhwat sudah mengerti bahwa dia harus ’menundukkan pandangan’, sedangkan laki-laki kalau melihat wanita atau akhwat.......”

Dia tidak melanjutkan jawabannya, dan seakan menyuruh aku yang meneruskan jawabannya karena menganggap aku sudah tau jawabannya, dan memang aku sudah mengerti jawaban selanjutnya. Aku yakin Anda pun mengerti lanjutan jawabannya.

Aku pun menjelaskan jawaban itu ke Ari saat itu dan dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

”Begitu juga dengan wanita Nu, karena pertanyaan waktu itulah aku menganggap wanita itu seperti barang.”

Maksud kamu?”, aku penasaran dibuatnya.

Barang itu ada yang bernilai mahal dan ada yang bernilai murah. Barang yang mahal itu ada yang dijual mahal, ada juga yang dijual murah. Begitu juga barang yang murah, ada yang dijual mahal tetapi juga ada yang dijual murah. Sudah murah, murahan pula. Nah begitu juga dengan wanita, sama dengan barang.”

Wah, kamu ini benar-benar kacau Ri. Di jamin kamu pasti akan menerima cercaan dan makian dari para wanita kalau kamu mengatakan hal ini kepada mereka.”

Aku memang tak habis pikir dengan pikirannya itu, dia menganggap wanita seperti barang. Barang yang mahal dan yang murah. Katanya yang membedakan antara keduanya hanya satu, yang berjilbab dan yang tidak berjilbab. Yang berjilbab bernilai mahal dan yang tidak berjilbab bernilai murah.

Coba Nu kamu pikirin. Tuhan Yang Menciptakan kita ingin membedakan antara orang yang beriman dan yang kafir dengan shalat. Tuhan juga ingin membedakan antara laki-laki yang benar-benar beriman dan yang munafik dengan shalat Isya dan Subuh berjamaah. Walau banyak faktor lainnya”, dia berhenti sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam, ”Tuhan juga ingin membedakan wanita yang benar-benar beriman dan yang munafik Nu. Ya dengan menutup aurat itu, ya dalam hal ini berjilbab. Bahkan perintah itu ada dalam Al-Quran. Tuhan juga bermaksud memuliakan para wanita itu dengan menutup aurat itu, tetapi malah mereka membuka auratnya dengan berbagai alasan. Sekarang siapa yang bernilai mahal, yang menjadi mulia karena berjilbab untuk menutup auratnya sehingga leher, kepala, tangan dan kakinya begitu mahal untuk dilihat ATAU yang tetap membuka auratnya bahkan bermaksud memamerkannya?”, suaranya agak meninggi ketika bertanya.

Ah, tidak begitu juga Ri. Yang berjilbab kadang lebih buruk sifat dan perilakunya daripada yang tidak berjilbab”, aku coba menyangkalnya walau aku juga membenarkan apa yang sudah diperintahkan dalam Al-Quran itu.

Itulah dari awal sudah kujelaskan tentang barang. Ada barang yang murah dan murahan, ya wanita yang tidak berjilbab itu, membuka auratnya bahkan memang berniat untuk diperhatikan orang, disaksikan orang, agar dianggap cantik, atau seksi. Aku dengar sendiri kesaksian mereka. Coba lihat iklan Putri Indonesia! Brand imagenya ’Semua mata tertuju padamu’. Maksudnya apa tuh? Serasa ingin diperlihatkan dirinya di segala penjuru dunia. Apa tidak murahan dirinya itu? Ada juga sih yang tidak menyatakan untuk dianggap seperti itu, tapi dari perilakunya, dari cara berpakaiannya, sudah terlihat. Bahkan ada pakaian yang dinamakan you can see. Dulu orang yang memakai itu dianggap tabu tapi sekarang sudah dianggap biasa. Jadi sudah murah, murahan pula. Mending cuma ingin diliatin doang, ada juga yang diam aja dipegang-pegang, bahkan ingin dipegang-pegang! Tau tidak? Ada juga yang minta dicium itu dianggap lumrah. Apa tidak murahan yang seperti itu? Jelaslah. Satu ciri yang kulihat ketika tak sengaja ku tatap wanita seperti ini dan dia tertarik akan kita, dia akan menatap kamu balik seakan dia mengatakan ’Halo Cowo!’”, tersenyum sinis dia kulihat dan begitu semangatnya dia menjelaskan seakan dia ingin ungkapkan semuanya kepadaku, ”Terus ada barang yang murah dan dijual mahal. Nah, mungkin inilah yang kamu maksud Nu, wanita tidak berjilbab tapi sifat dan perilakunya lebih baik dari yang tidak berjilbab”, kembali dia menarik nafasnya dalam-dalam, ”Wanita seperti ini sudah ku jelaskan tadi, seharusnya dia mengikuti syariat yang sudah ditetapkan oleh Tuhan Yang Menciptakannya, dan yang dia yakini sebagai Tuhannya. Memang ada bahkan banyak orang yang tidak berjilbab tetapi dia begitu menjaga harga dirinya, dia begitu sopan dan santunnya. Tetapi mengapa dia tidak ingin menjadi mulia dengan menutup auratnya? Bahkan sampai pada tingkat mengikuti perintah Tuhannya untuk menutup aurat? Wanita seperti ini menjadi bernilai murah tentunya, walau masih juga menjual mahal. Di Indonesia cukup banyak wanita yang sadar bahwa dia harus berjilbab, tapi karena berbagai alasan, dari alasan keluarga sampai alasan pekerjaan, akhirnya dia mengurungkan niat untuk berjilbab. Belum siap kata mereka. Padahal apa sih arti semua lingkungan di sekitarnya kalau sampai perintah Tuhan dia langgar?”

Orang ini, kasar kata-katanya, tapi memang baik maksudnya. Aku terus mendengarkan kata-katanya dengan mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. Walau masih ada yang mengganjal dalam pikiran ku.

Nah, ada juga yang bernilai mahal tetapi dijual murah. Yaaa....jadi murahan juga akhirnya. Perilakunya seringkali lebih buruk dari yang tidak berjilbab. Wanita seperti ini yang dijadikan alasan juga oleh para wanita tidak berjilbab dengan mengatakan, ’Lihat tuh...apa pantas berjilbab tapi perilakunya seperti itu? Tidak malu apa dengan jilbabnya?’, padahal menurut ku, biar bagaimanapun wanita berjilbab minimal sudah memenuhi syariat yang sudah ditentukan. Jadi yang sudah berjilbab minimal dosanya sudah tinggal dari perilakunya saja yang perlu diperbaiki, sedang yang tidak berjilbab....dosanya akan mengalir terus ketika dia berada diantara laki-laki yang bukan muhrimnya karena tidak menutup auratnya sehingga terlihat lak-laki.”

Apa itu jadi dosa wanita Ri, sedang yang melihat adalah laki-laki?”

Dua-duanya Nu, kalau laki-lakinya terus memandangi wanita tersebut! Dan ini adalah hakikat....”, dengan sigap dia mengeluarkan Al-Qur’an dan terjemahannya dari dalam tas, satu halaman sudah dia beri tanda ”di dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31. ’Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’”, dia membaca dengan artikulasi yang jelas dan mantap, terkesima aku dibuatnya.

”Bagaimana dengan keluargamu?”

Terperanjat dia langsung menatapku dalam-dalam, ”Aku katakan hal yang sama kepada Ibuku, dan dia memakai jilbab. Kukatakan pula kepada kakakku, dan dia melakukan hal yang sama. Alhamdulillah. Tugas kamu dan tugas kita semua hanya menyampaikan, hidayah datangnya hanya dari Allah. Adikku yang belum. Mungkin karena masih SMP. Pikirannya masih belum dewasa. Selain itu karena tidak dibiasakan dari kecil. Semuanya memang perlu proses, tidak boleh main paksa. Tapi jangan sampai dilupakan begitu saja. Terus doanya jangan lupa mintalah kepada Allah.”

Bagaimana dengan bernilai yang mahal tapi menjual mahal Ri?”

Bernilai mahal dari segala sisi Nu. Allah memuliakannya sebagai wanita yang beriman yang mengikuti perintah-Nya. Dalam An-Nisa ayat 124 ’Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.’ Dalam hal duniawi sudah jelas siapa yang menghargai tubuhnya dan siapa yang tidak. Tentunya mereka yang memamerkan tubuhnya lah yang tidak menghargai tubuhnya. Ada lagi alasan dari wanita yang tidak berjilbab, kalau dia tidak kelihatan kecantikannya maka dia akan sulit dapat jodoh. Padahal Allah sudah menjanjikan di dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 26, wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)... Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)’. Terus kurang apa lagi? Mereka semua bernilai mahal karena memenuhi perintah Allah dan menghargai tubuhnya. Sedang yang kumaksud menjual mahal karena mereka berperilaku layaknya seorang wanita yang beriman nan mulia, yang tidak memanfaatkan jilbab dan pakaiannya untuk mencari dunia. Mereka percaya akan janji-janji Allah, bahwa jodoh itu sudah ditentukan, sehingga mereka berperilaku dengan baik dan santun. Satu ciri jika tak sengaja kamu saling tatap dengannya, mereka akan menundukkan pandangannya seakan dia mengatakan ’jangan kau tatap wajahku, setan akan mengganggumu sampai kau terjerumus dalam jebakannya’. Dahsyat bukan? Dia bernilai mahal karena jilbabnya, dan menjual mahal dengan perilakunya.”

”Kamu mungkin benar Ri. Tapi janganlah kamu sebut wanita itu seperti barang!”

Kalau tidak begitu siapa yang mau mendengarkan pendapatku ini. Aku juga tidak tahu harus mengumpamakannya seperti apa. Terlalu sederhana menurutku kalau hanya disebut akhwat atau bukan. Yang paling penting kita terus berusaha menyampaikan. Dengan trik-trik tertentu mudah-mudahan hal ini tersampaikan kepada mereka yang belum sadar. Kalau hidayah sih cuma datang dari Allah aja. Tetapi ingat Nu, kalau ada orang yang mendapat hidayah melalui kita maka itu lebih baik bagi kita daripada dunia dan seisinya. Aku tahu kamu suka menulis, mungkin kau bisa tuliskan hal ini untuk disampaikan melalui majalah, koran, buletin, atau internet. Coba kamu bayangkan, semakin cepat dan banyak kau sebarkan, semakin cepat dan banyak orang mendapat hidayah melaluimu. Insya Allah. Tunggu apa lagi??”

 
http://fireman0410syah.blogs.friendster.com/firmansyah/
http://fire-burnyourself.blogspot.com/

3 comments:

Rachmat Waluyo said...

Belum baca semua man, baru baca sekilas. Tapi kayaknya di kalimat di atas, nt ada yg salah ketik atau ane yg salah tangkep. Mungkin maksudnya "Perilakunya seringkali lebih buruk dari yang tidak berjilbab...."
Insya Allah nanti ane baca ulang lagi.

-Tetaplah menulis karena kita tidak bisa hidup selamanya di dunia.-

Ibnu Alwi said...

iya benar homepagenya sudah ane ganti

Ibnu Alwi said...

bener banget seharusnya seperti itu...jzk