Kepalanya pun tertembak. Puluhan pasang mata terbelalak tak lebih dari satu detik mengarah kepadanya. Sang istri pun berteriak histeris dan menangis memeluk tubuhnya. Para ajudan dengan cepat berusaha mengeluarkan senjatanya dari balik jasnya. Akan tetapi para tentara kita lebih cepat bertindak, samarannya sebagai Pasukan Pengaman Presiden dan pendamping para menteri, dengan sigap sambil menodongkan senjatanya, salah satu dari mereka berucap, ”Letakkan senjata, atau kami tembak!”
Mereka pun meletakkan senjatanya.
Tiga detik terasa begitu lama, para wartawan sudah diperintahkan untuk tidak mengambil gambar dan diperintahkan untuk meletakkan alat-alat yang mereka bawa. Di luar sana senjata yang dimiliki oleh bule-bule itu sudah dilucuti. Termasuk senjata yang dimiliki oleh agen-agen CIA dan FBI, dari yang mendampingi Presiden Amerika Serikat George W Bush di Bogor sampai yang berjaga di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta.
”Kalian diberi kesempatan untuk membawa mayat presiden kalian, kalian akan dibimbing oleh tentara kami sampai di pesawat kalian di Bandara Halim” ujar Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin langsung pembunuhan itu. Dua buah peluru bersarang di kepala tamu negara itu. Tamu negara dari negara adidaya yang menjemput mautnya.
Sampai tulisan ini diketik belum jelas alasan pembunuhan tersebut. Yang pasti semuanya sudah direncanakan dengan baik. Dari rencana kunjungan Bush ke Indonesia, pertemuan di Konferensi Tingkat Tinggi APEC, Vietnam, sampai pada persiapan keamanan kedatangan Bush di Bogor. Tak ada ucapan dan teriakan kecuali dari sang istri presiden. Bagai sebuah panggung nyata tak terlihat seperti sebuah laga atau akting, melainkan sikap dingin yang spontan dari para penerima tamu tanpa ketegangan seperti yang telah direncanakan.
Presiden Bush terbunuh oleh seorang kepala negara, disaksikan oleh ratusan wartawan asing dan lokal, mayatnya pun diangkut oleh para ajudannya. Sampai ketika dinaikkan ke atas helikopter Sikorsky "Black Hawk" Marine One, salah seorang ajudan karena terburu-burunya menaiki helikopter, kepalanya terbentur pintu, dan ....
”Bush sudah terbunuh?”, tiba-tiba dia bangun dari tidurnya.
”Heh tidur melulu, pake ngigo lagi, si Bush mau nyampe tuh! Kita harus siap-siap!”. Koki yang asli Betawi ini menegur temannya yang tertidur yang bermimpi bahwa Presiden Amerika Serikat George W Bush telah terbunuh. Mereka bersama koki-koki yang lainnya mulai sibuk menyiapkan makanan yang telah dimasak beberapa jam yang lalu.
”Aduh, maaf saya tertidur.”
Tentulah mana mungkin semudah itu presiden dari negara adidaya itu terbunuh. Bayangkan sebelum presiden itu menginjakkan kakinya di bumi Indonesia saja, sudah ada sejumlah manuver yang dilakuakan helikopter milik Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) untuk mengamankan landasan di Bandara Halim Perdanakusuma. Sampai Kepala Dinas Operasi Lanud Halim Perdanakusuma, Kolonel Gutomo memastikan pada hari 'H' dan jam 'J' semua kegiatan dapat berjalan lancar. Apalagi kedatangan Bush ke Indonesia dikawal oleh satu kapal induk dari Armada Tujuh AS yang bermarkas di Sasaebo, Jepang, USS Essex, dua helikopter Black Hawk, empat pesawat siluman dan satu pesawat peringatan dini (AWACS) yang akan dioperasikan oleh personel TNI.
Segala persiapan untuk pengamanan dilakukan termasuk sweeping terhadap pengunjuk rasa penentang kedatangan Presiden AS George W Bush. Kemudian Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat juga menurunkan 700 personil untuk membersihkan rute jalan tol menuju wilayah Bogor. Bahkan kemungkinan bergeraknya jaringan teroris sudah dipantau jauh-jauh hari. Di Bogor sendiri, pengamanan dilakukan sampai batas ring 3 beradius 7 kilometer. Memang Dahsyat!
”Kita sudah menyiapkan ini lebih dari sebulan. Jangan sampai gagal! Jagalah kesehatanmu. Kamu sudah terlihat pucat. Jangan sampai orang-orang mulai curiga dengan kita”
”Ya, sejak zat ini ditanam ditubuhku, aku mengalami gangguan pencernaan.”
”Bertahanlah! Kita pasti akan melakukannya dengan baik. Mari kita lanjutkan pekerjaan kita.”
Tidak seperti yang diduga, Presiden Bush datang di sore hari. Bahkan sebagian pengunjuk rasa yang sudah berhasil masuk ke ring 2, sedikit demi sedikit membubarkan diri. Walau masih banyak yang bertahan di ring 3.
Sore itu turun hujan, Bush tiba bersama istrinya disambut hangat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istri. Tanpa ada basa basi menaiki tangga Istana menuju pintu, dan didalamnya sudah menunggu para menteri dan beberapa pengusaha beserta tamu undangan yang siap menyambut. Memasuki ruangan, Yudhoyono memperkenalkan para menterinya kepada Bush, mereka menyalami Bush dengan hangat termasuk di dalamnya Yohanes Surya yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang Olimpiade Fisika Internasional.
Setelah semua diperkenalkan, Yudhoyono kembali membimbing Bush ke dalam suatu ruangan untuk jamuan. Di sana sudah tersedia masakan-masakan yang sesuai dengan lidah semua peserta dalam pertemuan itu, termasuk lidahnya Presiden Bush. Para pelayan sudah untuk melayani.
Tiba-tiba ada langkah-langkah kaki yang tidak diharapkan. Pasukan Pengaman Presiden yang memang dari sebelumnya sudah siaga, merangsek pelan menuju langkah tersebut.
”Berhenti!”, suara itu begitu pelan bermaksud tidak mengganggu jamuan yang sedang berlangsung.
”Saya hanya ingin bersalaman dengan Pak SBY dan Pak Bush.”, suara itu cukup keras sampai terdengar oleh Bush. Yudhoyono pun menjelaskan apa yang terjadi. Dengan inisiatif, Bush menerima koki itu. Hal ini benar-benar menyita perhatian seisi ruangan.
Koki itu dipanggil oleh Yudhoyono, dan sang koki berjalan menuju Yudhoyono dan Bush setelah seluruh tubuhnya diperiksa oleh Pasukan Pengaman Presiden.
”Sore, Pak! Akhirnya saya bertemu juga dengan Bapak.”, tubuh sang koki ini membungkuk sebungkuk-bungkuknya sambil menyium tangan Yudhoyono.
”Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?”, tanya Yudhoyono.
”Tidak Pak, saya hanya lupa makan karena menunggu saat-saat ini.”, kata-katanya tegas dan senyum begitu lebar. Suasana yang beberapa saat hening kembali ramai.
Tangan Yudhoyono dilepaskan, dan kini menyalami Bush.
”Mister..”, tubuhnya membungkuk. Dengan suara terbata sambil tetap menyalami Bush, ”I am can not speak English, but I.......hate......you.., Sir!!”.
Seisi ruangan tiba-tiba hening, dan “Duaaar….”. Dua presiden negara besar tewas di dalam sebuah istana. Ledakan itu begitu DAHSYAT.
**************
Cerita fiksi kedua yang kubuat, kritik dan sarannya ditunggu ya....
dan
Cerita fiksi pertama yang kubuat, Pagi itu hujan dan Aku menangis