Wednesday, November 15, 2006

Aduhai.....aduh CAntiknya...

Aduhai, aduhai, berulangkali hati ini mengatakan aduhai.

Dulu, ceritanya dulu nih, saat saya SD sedikit sekali teman perempuan saya yang cantik. Bisa dihitung pakai jari tangan kiri lah, tidak perlu pakai tangan kanan, bahkan kalau ada satu pun sudah syukur. Sekarang mata memandang ke kanan, ke kiri, bahkan tidak bermaksud memandang saja, ada saja yang melintas di depan mata perempuan-perempuan cantik berkeliaran. Mang kenapa ?

(sebenarnya saya bingung bahasa Indonesia baku sekarang ini apa, “mengapa” atau “kenapa” yang benar? Begitu juga “dulu”, setahu saya yang benar adalah “Dahulu” dan “Mengapa”, tetapi karena masyarakat biasa menggunakan “dulu” dan “kenapa”, jadi saya gunakan kata-kata ini sajalah)

Kenapa ya, ehmmm karena mereka cantik.

Sang cantik ini benar-benar cantiknya, sampai-sampai seperti baru melihat bidadari-bidadari yang sedang tersesat di bumi. Dalam sebuah dialog imajiner saya bercakap-cakap,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu dan menggaulimu?”

“Oh tentu, mari kita cari tempat yang cocok untuk kita berdua.”

Setelah puas dengan bidadari ini, aku pun melihat bidadari lain yang tentu tak sengaja ku melihat, kemudian ku menyampaikan hasrat,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Ohh, aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh menggauliku apalagi belum ku kenal seperti kamu.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

Sang bidadari pun menganggukkan kepalanya, dan aku pun bisa mengenalinya lebih dalam lagi, sehingga bisa ku rayu dirinya untuk ku cumbu, dan ku gauli, kemudian ku tinggalkan setelah ku puas dengannya.

Aku pun bertemu kembali dengan bidadari yang lain yang tak kalah cantiknya, kemudian aku mengajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Enak saja, aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh mencumbu dan menggauliku apalagi belum ku kenal seperti kamu.”

“Aku ingin mengenal engkau, cantik. Boleh kah itu?”

“Oh tentu.”

Aku pun mengenalnya lebih jauh dan aku berhasil meraba dan mencumbunya tetapi ia menolak ketika aku ingin gauli, setelah aku bosan mencumbunya, aku tinggalkan dia. Kali ini ku dapati seorang bidadari yang lebih cantik dari yang lainnya, aku pun mengajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh meraba dn mencumbuiku apalagi menggauliku lebih-lebih engkau belum ku kenal.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Boleh aja sih.”

Akhirnya aku mengenalinya lebih jauh, tetapi aku hanya berhasil merabanya saja walau awalnya hanya tangannya saja yang mau diraba, dia menolak ketika ku ajak untuk bercumbu apalagi ku gauli. Aku pun cepat bosan dengannya dan ku tinggalkan dia, sebenarnya sulit untuk melepaskannya, karena dia lebih cantik dari yang lainnya. Tapi aku yakin masih banyak bidadari yang lebih cantik darinya.

Benar adanya, ku temui bidadari yang lebih cantik lagi, dan aku ajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Tak semudah itu orang boleh merabaku apalagi mencumbu dan menggauliku, aku sendiri belum mengenal engkau wahai pemuda. Aku ini punya harga diri dan kehormatan.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Oh tentu.”

Aku pun mengenalnya lebih jauh, tetapi sayang, jangankan merabanya, memegang tangannya saja dia menolak, apalagi untuk kucumbu dan kugauli. Akh, rasanya ingin kembali saja aku ke bidadari pertama yang kutemui, karena aku ini punya nafsu dan harus ku lampiaskan, dan akalku hanya mampu mengelebui bidadari kedua yang kutemui untuk ku gauli. Aku tidak menyalahkan engkau wahai para bidadari karena kecantikanmu, mungkin saja nafsu ku tidak terlalu besar untuk menggaulimu kalau saja kau tak menjajakan tubuhmu, kau tak memperlihatkan kecantikanmu kecuali pada orang yang kau kehendaki. Bohong, bohong besar kalau aku menyukaimu tanpa bernafsu padamu. Karena yang kau perlihatkan adalah tubuhmu yang aduhai, bukan hatimu yang sejuk dan perasaan yang lembut, serta imanmu yang kokoh. Aku, aku adalah lelaki, yang pantang menyerah memikatmu wahai sang cantik (kok kayak lagu ya-red), karena aku punya nafsu terhadapmu yang mengumbar nafsu. Selagi engkau mengumbar nafsu, maka tak akan berhenti aku gunakan akalku untuk melampiaskan nafsuku terhadapmu.

Sungguh saya geli sekaligus takut membaca dialog ini. Kejadian dan dialog di atas tentu hanya bisa saya dapat di surga kelak, Insya Allah, apabila saya bertemu dengan para bidadari di sana. Tetapi dialog ini benar-benar lepas dan gamblang, sesuai yang terjadi dengan kenyataan yang ada sekarang ini dan benar-benar ada. Makanya saya benar-benar takut akan pandangan mata saya ini yang di kanan dan kiri saya selalu ada perempuan pengumbar nafsu dan semakin primitif yang setiap saat selalu menyempitkan pakaiannya.

Lain hal kalau kita sama-sama sadar dan menggunakan akal kita, perempuan menggunakan akalnya, dan laki-laki menggunakan akalnya. Mudah, dan masuk diakal. Para perempuan harus mengerti bahwa mereka lah pembangkit hawa nafsu laki-laki, jadi jangan mengumbar aurat, tutuplah aurat itu. Para lelaki juga harus mengerti akan bahaya zina, dosa besar hukumnya, berarti harus dijauhi, jangan didekati, perbanyak aktivitas, perbanyak dzikir, shalat, dan puasa. Insya Allah itu akan mengendalikan nafsu para lelaki.

Semuanya harus seimbang. Ada perempuan yang menutup aurat, tetapi lelaki tidak menggunakan akalnya, habislah perempuan itu diperkosa. Ada laki-laki rajin shalat dan puasa, tetapi si perempuan terus mengumbar aurat bahkan terus mempercantik diri dan mempersempit baju kemudian seolah-olah menawarkan diri (walau tidak sebenarnya), tergodalah laki-laki, jadilah mereka berzina. Dua-duanya jadi sama-sama berdosa.

Sungguh benar adanya, di dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Sungguh beruntung orang yan mengharapkan surga dan menghindari neraka karena di dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dan dalam An-Nisa ayat 124. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Mudah-mudahan kita akan bertemu di surga kelak. Amin

http://fireman0410.blogspot.com/2006/06/wanita.html

6 comments:

Rifki Asmat Hasan said...

susah yah jaga pandangan sekarang ini????

ratu karitasurya said...

Mudah2an aku bisa jadi Bidadari bermata jeli maksudnya jeli melihat mana laki-laki yang buaya darat mana laki-laki yang beriman, serta bisa menjaga diri bak bunga mawar dalam sebuah taman yang indah...Amiin Bravo nih buat artikelnya, bagus buat para Adam, cocok untuk kaum hawa...(boleh di-copy yah)

Ibnu Alwi said...

boleh-boleh

ratu karitasurya said...

Bravo buat artikelnya:-) bagus buat para Adam, Cocok untuk kaum hawa, mudah2an aku bisa jadi bidadari yang bermata jeli maksudnya jeli untuk ngebedain mana Laki2 BD (Ups!) dan mana laki2 yang beriman, bertaqwa dan beramal sholeh...serta bisa menjaga diri bak mawar di tengah taman indah. (Boleh di-copy yah artikelnya)

ratu karitasurya said...

Kalo cuma jaga pandangan doang sih gampang... Bang Jampang tinggal beli kacamata hitam aja atau kalo murah tinggal 'merem' ajah.. tapi jaga nafsu itu yang susah..! walaupun mata dah ditutup tapi kalo nafsunya masih melonjak2 nah itu yang repot jadi gimana ya sebaiknya? walaupun ada wanita cantik dan dia bisa menjaga harga dirinya tapi kalo orang lain ga bisa menjaga nafsunya (maksudnya ke si wanita itu) yah kumaha? jadi mesti balik ke pribadi masing2 tul ga sih? sory kalo salah...

Ibnu Alwi said...

bener banget
makanya dalam tulisan di atas
Para lelaki juga harus mengerti akan bahaya zina, dosa besar hukumnya, berarti harus dijauhi, jangan didekati, perbanyak aktivitas, perbanyak dzikir, shalat, dan puasa. Insya Allah itu akan mengendalikan nafsu para lelaki.