Saturday, December 30, 2006

Pagi itu hujan dan Aku menangis

Cerita fiksi pertama yang kubuat, mudah-mudahan semakin memantapkan kualitas penulisanku , tentunya dengan kritik dan saran dari teman-teman. Terima kasih telah membacanya.

Pagi itu hujan dan Aku menangis

Pagi itu hujan. Jam menunjukkan pukul 06.30, seperti biasa kuliah hari ini akan dimulai pukul 08.00. Aku pun menyiapkan keperluan kuliah, dan memasukannya ke dalam tas. Kamarku berada di lantai atas yang bersebelahan dengan kamar kakak. Tiba-tiba ada teriakan dari bawah.

"Imaaan, anterin adeknya ke sekolah!", terdengar suara Bapakku. Ah, tak biasa kumemanggilnya 'Ayah'.

Aku terhenyak, tersentak, satu hal
yang paling tak kusuka diperintahkan kepadaku. Aku terdiam, bermaksud mengacuhkan. Tak lama kemudian terdengar bunyi alarm mobil yang menandakan pintu mobil tak terkunci lagi, sekaligus memperingatkanku bahwa perintah itu sungguh-sungguh.

"Imaaan, cepet dong, udah telat nih!", suara itu terdengar lagi.

"Iya sebentar...", aku gigit geraham ini kencang-kencang, menyimpan api dalam sekam. Tak terbayangkan. Sambil kuberjalan menyusuri tangga ke bawah. Kuraih kunci mobil itu. Kunyalakan mesin. Mereka sudah siap di dalam mobil, pagar sudah terbuka. Kuacuhkan semua perkataan Bapakku, tetapi tetap kudengar.

"Anterin Dede dulu terus Oci, baru Bapak."

Dengan perlahan kukeluarkan mobil yang berisi empat orang itu. Terdengar tumbukan-tumbukan hujan yang terjatuh ke atas mobil yang kukendarai.

Jalan itu begitu lancar, seperti biasa hujan menjadi penghambat bagi sebagian orang yang tidak memiliki mobil untuk berangkat ke sekolah, ke kantor, ke tempat kerjanya masing-masing. Padahal hujan itu menjadi berkah bagi sebagian orang yang mulai kekeringan karena musim kemarau.

***

Di sore itu, "Mah, beli Ovaltine dong....", saat itu aku berumur 5 tahun mungkin dan sedang disuapi makan di halaman rumah.

"Susu yang kemarin minta dibeli nggak diminum, nanti yang ini juga
nggak diminum lagi?", Ibuku ini biasa kupanggil 'Mamah'.

Aku berusaha meyakinkan, tapi kusadari raut mukaku tak begitu meyakinkan. Dalam hati kecilku pun membenarkan apa yang ditanyakan oleh Ibuku, jangan-jangan aku tidak akan suka dengan susu ini, jadi tak seperti biasa, kali ini aku tak menangis walau apa yang kuminta tidak dikasih.

Di siang itu, "Imaan, tidur siang dong!", dengan lembut Ibuku berharap.

Aku sebenarnya malas untuk tidur siang, tetapi karena tidak ada teman bermain saat itu, aku teringat ranjang yang baru dibeli (bukan tempat tidur-red). "Tapi pake ranjang yang itu ya Mah?". Pastinya aku memiliki tempat tidur sendiri, dan ranjang itu dibeli untuk saudara yang datang dan menginap.

Ibuku mengiakan dan menyiapkan ranjang itu agar aku tidur siang, "Tidur ya, Mamah berangkat ngajar dulu."

Bayangan itu masih teringat, tak terlepas. Aku memang dekat dengan Ibuku, tak sedekat dengan Bapakku, jadi tak teringat banyak memoriku bersama Bapak. Tak sedetil kejadian aku mengingat dengan Ibuku. Dengan Bapakku, aku teringat ketika memperbaiki lemari bersama, membakar sate dipojokkan belakang rumah, membuat pagar kebun samping rumah. Aku ingat kejadian itu, tapi tak kuingat percakapan yang terjadi. Sedangkan dengan Ibuku, aku teringat ketika aku pulang dari shalat tarawih bersama teman-teman di masjid dan dengan bangganya aku mengatakan bahwa aku shalat sampai selesai. Aku teringat ketika aku mencontohkan bahwa aku sudah bisa shalat sendiri dan ketika Ibuku meminta aku untuk menunjukkan bagaimana cara shalat
dua rakaat sampai dengan empat rakaat. Aku teringat ketika kami bersepakat agar aku tak lagi diantarkan lagi ke sekolah TK dengan Omku sebagai gantinya yang mengantarkan.

Sampai suatu saat kuteringat, Bapakku mengeluarkan air mata. Dia tak menangis, tapi mata itu cukup basah terlihat olehku. Tentu saja aku tak mengerti. Pagi itu aku terbangun dan disekitarku orang-orang sedang menangis, sepupuku, tetehku, tetapi kakakku tidak, jadi aku pun tak menangis.

"Man, kesini dulu yuk...", kakakku pun diajak oleh tetehku ke dalam suatu ruangan yang kutahu disitu ada Ibuku yang terbaring. Ada Bapakku di dalam kamar itu, aku disuruh mengucapkan sesuatu. Tentu aku tak mengerti, awalnya kakakku yang di suruh, kemudian aku.

"Cium Mamah, Man! Bilang nanti Iman nggak nakal lagi, nggak suka berantem ama kakak, jadi anak yang soleh!", Bapakku menuntunku mengucapkan hal itu.

Aduh, aku tak mengerti, benar-benar tak mengerti. Kulihat orang disekitar mengeluarkan air mata, dan kulihat Ibu ku memucat. Aku tak tahu mengapa harusku katakan itu, jadi kuucapkan dengan terbata, dan aku pun menciumnya.

Kemudian aku disuruh keluar dengan kakakku, tetehku yang tadi menuntun. Tak berapa lama, suara itu semakin banyak terdengar. Ya, suara tangis itu, tak hanya tetehku yang menangis, bahkan dari orang-orang yang tak kukenal. Aku tak menangis karena tak tahu kenapa aku harus menangis. Bahkan ketika tak sengaja teteh kumenangis dan menjambak rambutku pun aku tak menangis, dan hanya mengatakan "aduh", padahal biasanya jambakan seperti itu akan membuat aku menangis histeris. Ya, aku tak menangis sampai aku sadar ada yang dimandikan disana, dishalati, dan dikuburkan, aku pun tetap tak menangis. Walau aku tahu ada Ibuku di dalamnya.

***

Kuputuskan untuk masuk jalan tol setelah melewati fly over Tanjung Barat dan keluar di pintu tol Cilandak. Dede sudah diantar dan kali ini Oci yang akan diantar. Jam menunjukkan pukul 07.00, menandakan Oci sudah telat. Bapakku terus mengeluarkan basa-basinya, walau tetap kuacuhkan tetapi tetap kudengar.

"Ocii..." Bapakku menasehati, "lain kali bangunnya pagi-pagi biar nggak telat begini. Biar nanti kak Iman bisa nganterin."

Kali ini aku tak tahan
untuk mengeluarkan kata-kata, terlalu kelewat manja menurutku.

"Memang seharusnya nggak usah dianterin."

Oo, memang terlalu pendek pemikiranku saat itu dan terlalu cepat kata-kata itu keluar pada waktu yang tak tepat.

"Ya udah Oci, besok-besok nggak usah dianterin lagi, kamu jalan sendiri aja...." suara itu cukup keras tapi tertahan, agak parau, dan pandangan matanya sangat berubah akibat perkataanku. Bapak ku menangis. "Bapak kira sudah berhasil ngajarin kalian selama ini, ternyata...." tangisan itu ingin meledak sepertinya tapi masih tertahan.

Aku pun menatapnya dengan keheranan, perkataan apa yang baru aku keluarkan sampai membuat Bapak ku menangis. Terang saja aku ikut menangis.

Untunglah jalan itu sudah sering ku lalui, sehingga mobil yang kukendarai tetap stabil walau aku tidak fokus menyupir.

"Dia kan masih darah daging Bapak!?!" tangisan itu masih tertahan

Perkataanku tadi sebenarnya hanya ingin mennyentil sedikit, bahwa adikku itu telalu dimanja. Ibu yang sudah melayaninya tiap hari, menyiapkan bajunya, menyiapkan sepatunya, membuatkannya susu, dan lain sebagainya, sampai tak tega aku melihat raut wajahnya, tapi malah dia seperti itu, yang malas-malasan, acuh, dan tak ada perubahan yang berarti dari hari ke harinya. Dulu aku meminta pensil karena memang patah, meminta sabun untuk mandi, atau meminta uang untuk membeli buku, itu susahnya minta ampun. Sekarang adikku meminta handphone saja sudah seperti meminta permen. Dulu aku dan kakakku berjalan kaki pergi ke sekolah, sekarang dengan jarak yang sama adik-adikku harus diantar oleh ojeg, jika tidak ada harus aku yang mengantarkannya.

"Jadi kamu dendam sekarang?"

Salah persepsi rupanya Bapakku ini. Tangisnya pun mereda setelah kukeraskan lagi tangisku. Tak ada sedikit pun dendam atas perkataanku di dalam mobil itu. Aku hanya ingin memberikan gambaran perbedaan didikan yang kami dapat dan hasil yang diperoleh. Aku tak berpikir panjang dengan segala sudut pandang yang ada. Aku hanyalah aku yang melihat dari sisiku. Sampai semuanya pun mereda juga di dalam mobil itu. Baru kusadari bahwa tangisan Bapakku mereda karena mengalah, bukan karena tangisan itu benar-benar mereda dari dalam hatinya. Baru kusadari perkataaan-perkataan itu yang awalnya kuanggap salah persepsi,
"Dia kan masih darah daging Bapak!?!", dan "Jadi kamu dendam sekarang?". Perkataan itu merubah cara pandangku sampai pada klimaksnya.

Oci sudah diantar dan Bapakku juga sudah, dengan nasihat-nasihatnya disepanjang jalan. Aku kembali ke rumah, memarkir mobil, mengambil tas kuliahku, dan berangkat ke kampus dengan sepeda motorku. Tetapi apa daya, aku telat untuk jam pertama kuliahku.

__________________________________________________

Friday, November 17, 2006

Ada yang mau beli rumah?

http://jual-jualan.blogspot.com/
lokasi strategis nih...

SAya PAcaran....?!?

Saya pacaran…?!?

“Elu ga pacaran Man ?”
Kaget juga dia menanyakan hal itu, kemudian saya menjawab sekenanya, yang ada di pikiran saya saat itu, tetapi setelah saya pikir-pikir memang itulah jawaban saya yang sebenarnya, saat itu.
“Gua masih dihidupin orang, masa’ mau ngidupin orang. Elu masih disekolahin, masih dikasih jajan, masih minta makan ama orang tua, tapi udah mau ngasih makan orang, mau ngasih jajan orang, lucu kan...Pacaran cuma ngabisin uang doang.”
”Ga semua kali Man, ga semua cewe kayak gitu...buktinya gua ga kayak gitu...”
Jreng..eng..ing..eng..saya dan mungkin pembaca sekalian mengerti maksud arah pernyataan perempuan ini. Tetapi saya tidak bermaksud ge-er untuk hal ini. Saya pun tetap menjawab seadanya.
”Ya ga lucu kan kalo pacaran cuma ngobrol doang, cuma ketemuan doang, curhat-curhatan, pasti dong pergi kemana, jalan kemana, makan bareng dimana gitu. Ga enak kan kalo gua ga bayarin ongkosnya, gua beliin makanan dan minumannya. Kalo emang ada cewe yang ga begitu, perasaan gua tetep aja ga enak dong kalo gua ga beliin dan ongkosin.”
Sebelumnya dia sudah mengatakan kalau saja tidak semua perempuan mau dibayarin makanannya atau diongkosin, termasuk dia, sedang dia sendiri pernah dipelorotin oleh pacarnya untuk membayar makanan yang dipesan berdua. (kacian ya..ga cuman sekali men-red)
Tahun 2002 dialog di atas terjadi dan itulah saya dengan pendapat saya dan perasaan saya tentang pacaran. Andai isi kantong saya saat itu tidak setebal seperti sekarang ini, mungkin saya sudah menjadi playboy kelas kakap.
Kisah berlanjut, pertengahan tahun 2003 saya lulus SMA dan pendapat saya tentang pacaran masih sama. Tetapi saya laki-laki normal, dengan naluri lelakinya. Lirik sana, lirik sini, menaksir seseorang, pasti ada. Bohong, kalau Anda para lelaki tidak pernah seperti ini. Hanya modal tidak tahu malu saja yang membuat saya bisa pacaran saat itu.
Pernah suatu kali saudara sepupu saya yang sudah menikah menanyakan, ”Sudah punya pacar, Man”
”Belum,” lho kok belum, mau punya dong, ”nanti saja kalau sudah nikah baru pacaran.” oooh.
Ternyata saudara saya ini salah paham, ”Jangan dengerin omongan kakak mu ini.” kebetulan ada adik saya di sebelah saya. Dia menganggap bahwa saya akan main perempuan nanti sesudah nikah, sudah punya istri tetapi tetap pacaran dengan perempuan lain. Tentulah yang saya maksudkan tidak seperti itu. Yang saya maksudkan adalah perbuatan pacaran yang biasa dilakukan orang-orang sebelum menikah, akan saya lakukan setelah menikah, tentunya dengan istri saya. Sayang, belum sempat saya menjelaskan, dia sudah berlalu pergi.
Masuk kuliah, ekonomi meningkat, maju mundur saya untuk pacaran, dekat dengan beberapa perempuan, menganggu perasaan juga. Tak tahulah apa yang terjadi jika keasyikan saya untuk mengenal lebih jauh tentang Islam terhenti saat itu. Ilmu bertambah, pengetahuan bertambah, pendapat saya tentang pacaran pun tidak hanya sebatas ngongkosin dan bayarin, tetapi lebih dari itu. Teman-teman yang tetap saling menjaga, saling menasehati, dan lingkungan yang kondusif juga membuat saya terhindar dari kata-kata ’pacaran’.
Saya temukanlah sepotong ayat,
”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’:32)
Hilanglah semua cara agar bagaimana tetap pacaran tetapi tidak melanggar syariat agama. Karena hal ini tidak mungkin, istilah pacaran Islami, juga tidak mungkin. Wong yang dilarang itu bukan saja zinanya, tetapi hal-hal yang mendekati zina juga dilarang. Mau seperti apapun tindakan kita dalam menjaga hubungan dengan perempuan, kalau sudah mengarah pada perbuatan mendekati zina, dosa hukumnya. Titik. Jangankan perbuatan, baru memandang saja, sudah masuk kategori zina mata.
Jadilah saya seorang high quality jomblo sejati. Tentunya tetap memerlukan penjagaan dari teman-teman. Karena kalau tidak, bisa kebablasan.
Suatu saat saya akan punya kekasih bukan hanya pacar, dan tidak hanya satu tetapi empat*) bahkan bisa saja lebih. Insya Allah

*) http://firmansyah-alwi.blogspot.com/2006/01/aku-dan-4-kekasihku.html?m=1

Thursday, November 16, 2006

PERSONAL BREAKHTRU WITH FIRE WALKING

Start:     Nov 27, '06
Location:     Dengerin aja rekamannya
Sebuah acara yang dikemas untuk mengubah pandangan dan paradigma kita...
http://fireman0410syah.multiply.com/music/item/13

Wednesday, November 15, 2006

Aduhai.....aduh CAntiknya...

Aduhai, aduhai, berulangkali hati ini mengatakan aduhai.

Dulu, ceritanya dulu nih, saat saya SD sedikit sekali teman perempuan saya yang cantik. Bisa dihitung pakai jari tangan kiri lah, tidak perlu pakai tangan kanan, bahkan kalau ada satu pun sudah syukur. Sekarang mata memandang ke kanan, ke kiri, bahkan tidak bermaksud memandang saja, ada saja yang melintas di depan mata perempuan-perempuan cantik berkeliaran. Mang kenapa ?

(sebenarnya saya bingung bahasa Indonesia baku sekarang ini apa, “mengapa” atau “kenapa” yang benar? Begitu juga “dulu”, setahu saya yang benar adalah “Dahulu” dan “Mengapa”, tetapi karena masyarakat biasa menggunakan “dulu” dan “kenapa”, jadi saya gunakan kata-kata ini sajalah)

Kenapa ya, ehmmm karena mereka cantik.

Sang cantik ini benar-benar cantiknya, sampai-sampai seperti baru melihat bidadari-bidadari yang sedang tersesat di bumi. Dalam sebuah dialog imajiner saya bercakap-cakap,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu dan menggaulimu?”

“Oh tentu, mari kita cari tempat yang cocok untuk kita berdua.”

Setelah puas dengan bidadari ini, aku pun melihat bidadari lain yang tentu tak sengaja ku melihat, kemudian ku menyampaikan hasrat,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Ohh, aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh menggauliku apalagi belum ku kenal seperti kamu.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

Sang bidadari pun menganggukkan kepalanya, dan aku pun bisa mengenalinya lebih dalam lagi, sehingga bisa ku rayu dirinya untuk ku cumbu, dan ku gauli, kemudian ku tinggalkan setelah ku puas dengannya.

Aku pun bertemu kembali dengan bidadari yang lain yang tak kalah cantiknya, kemudian aku mengajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Enak saja, aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh mencumbu dan menggauliku apalagi belum ku kenal seperti kamu.”

“Aku ingin mengenal engkau, cantik. Boleh kah itu?”

“Oh tentu.”

Aku pun mengenalnya lebih jauh dan aku berhasil meraba dan mencumbunya tetapi ia menolak ketika aku ingin gauli, setelah aku bosan mencumbunya, aku tinggalkan dia. Kali ini ku dapati seorang bidadari yang lebih cantik dari yang lainnya, aku pun mengajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh meraba dn mencumbuiku apalagi menggauliku lebih-lebih engkau belum ku kenal.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Boleh aja sih.”

Akhirnya aku mengenalinya lebih jauh, tetapi aku hanya berhasil merabanya saja walau awalnya hanya tangannya saja yang mau diraba, dia menolak ketika ku ajak untuk bercumbu apalagi ku gauli. Aku pun cepat bosan dengannya dan ku tinggalkan dia, sebenarnya sulit untuk melepaskannya, karena dia lebih cantik dari yang lainnya. Tapi aku yakin masih banyak bidadari yang lebih cantik darinya.

Benar adanya, ku temui bidadari yang lebih cantik lagi, dan aku ajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Tak semudah itu orang boleh merabaku apalagi mencumbu dan menggauliku, aku sendiri belum mengenal engkau wahai pemuda. Aku ini punya harga diri dan kehormatan.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Oh tentu.”

Aku pun mengenalnya lebih jauh, tetapi sayang, jangankan merabanya, memegang tangannya saja dia menolak, apalagi untuk kucumbu dan kugauli. Akh, rasanya ingin kembali saja aku ke bidadari pertama yang kutemui, karena aku ini punya nafsu dan harus ku lampiaskan, dan akalku hanya mampu mengelebui bidadari kedua yang kutemui untuk ku gauli. Aku tidak menyalahkan engkau wahai para bidadari karena kecantikanmu, mungkin saja nafsu ku tidak terlalu besar untuk menggaulimu kalau saja kau tak menjajakan tubuhmu, kau tak memperlihatkan kecantikanmu kecuali pada orang yang kau kehendaki. Bohong, bohong besar kalau aku menyukaimu tanpa bernafsu padamu. Karena yang kau perlihatkan adalah tubuhmu yang aduhai, bukan hatimu yang sejuk dan perasaan yang lembut, serta imanmu yang kokoh. Aku, aku adalah lelaki, yang pantang menyerah memikatmu wahai sang cantik (kok kayak lagu ya-red), karena aku punya nafsu terhadapmu yang mengumbar nafsu. Selagi engkau mengumbar nafsu, maka tak akan berhenti aku gunakan akalku untuk melampiaskan nafsuku terhadapmu.

Sungguh saya geli sekaligus takut membaca dialog ini. Kejadian dan dialog di atas tentu hanya bisa saya dapat di surga kelak, Insya Allah, apabila saya bertemu dengan para bidadari di sana. Tetapi dialog ini benar-benar lepas dan gamblang, sesuai yang terjadi dengan kenyataan yang ada sekarang ini dan benar-benar ada. Makanya saya benar-benar takut akan pandangan mata saya ini yang di kanan dan kiri saya selalu ada perempuan pengumbar nafsu dan semakin primitif yang setiap saat selalu menyempitkan pakaiannya.

Lain hal kalau kita sama-sama sadar dan menggunakan akal kita, perempuan menggunakan akalnya, dan laki-laki menggunakan akalnya. Mudah, dan masuk diakal. Para perempuan harus mengerti bahwa mereka lah pembangkit hawa nafsu laki-laki, jadi jangan mengumbar aurat, tutuplah aurat itu. Para lelaki juga harus mengerti akan bahaya zina, dosa besar hukumnya, berarti harus dijauhi, jangan didekati, perbanyak aktivitas, perbanyak dzikir, shalat, dan puasa. Insya Allah itu akan mengendalikan nafsu para lelaki.

Semuanya harus seimbang. Ada perempuan yang menutup aurat, tetapi lelaki tidak menggunakan akalnya, habislah perempuan itu diperkosa. Ada laki-laki rajin shalat dan puasa, tetapi si perempuan terus mengumbar aurat bahkan terus mempercantik diri dan mempersempit baju kemudian seolah-olah menawarkan diri (walau tidak sebenarnya), tergodalah laki-laki, jadilah mereka berzina. Dua-duanya jadi sama-sama berdosa.

Sungguh benar adanya, di dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Sungguh beruntung orang yan mengharapkan surga dan menghindari neraka karena di dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dan dalam An-Nisa ayat 124. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Mudah-mudahan kita akan bertemu di surga kelak. Amin

http://fireman0410.blogspot.com/2006/06/wanita.html

Saturday, November 11, 2006

Rubah PAradigmamu!!!!!

paradigma
ya paradigma, kerangka berpikir, frame berpikir, sudut pandang, cara pandang, metafora, atau apalah itu namanya, tapi biasa saya menyebutnya paradigma.
ya paradigma, harus kita arahkan pada arah yang selalu  positif
tindakan kita, sikap kita, gerakan kita, yang menuju tujuan kita, harus mempunyai paradigma yang jelas, yang positif.
"belajar di teknik sipil itu susah"
jelas itu sebuah paradigma yang salah yang selalu ditanamkan oleh para senior kepada juniornya, jelas itu harus dirubah.
"buktinya jarang yang lulus cepet 4 tahun"
itulah sebuah paradigma yang dibentuk, sehingga membuat seseorang yang kuliah di teknik sipil merasa wajar-wajar saja kalau lulus lebih dari 4 tahun.
anda menangkap maksud saya???
orang yang kuliah di kedokteran mengatakan, di kedokteran itu susah...
orang yang kuliah di fakultas ekonomi mengatakan,di fakultas ekonomi  itu susah...
orang yang susah berada di suatu tempat mengatakan,di tempat ini susah...
paradigma itu terbentuk, tanpa melihat sudut pandang yang lain dengan cara pandang yang berbeda, dan membentuk frame berpikir yang kreatif.
belajar bahasa inggris itu susah
sebuah paradigma
lalu bagaimana merubah paradigma itu sendiri ???
memang tidak semua paradigma atau cara berpikir kita itu harus dirubah, tapi coba lihat gambaran di atas, apakah harus dipertahankan paradigma seperti itu.
dan paradigma yang harus dirubah adalah paradigma negatif.
kata temen saya, "saya perfectionis"
tidak masalah, asal bisa dikendalikan pandangan itu pada dirinya, sehingga menimbulkan disiplin diri membentuk sebuah kepribadian yang berkarakter, jangan sampai menimbulkan kesombongan yang membuat orang tak suka padanya
kata teman saya yang lain, "saya ini pelupa"
apa iya terus berdiam diri menjadi pelupa. itu negatif, ya harus dirubah.
merubah paradigma, ya merubah cara berpikir, merubah sudut pandang terhadap sesuatu dengan cara pandang yang berbeda, merubah sebuah kebiasaan, dengan melakukan kebiasaan yang lain yang lebih menarik dan tentunya positif. merubah tingkah laku, sikap atau tindakan kita menjadi lebih baik, sesuai dengan perrubahan paradigma yang kita inginkan.
masih belum mengerti maksud saya??
cobalah sebutkan paradigma anda yang negatif, dan perlu dirubah, saya akan rubah.....
tentunya dengan bantuan anda dan Allah tentunya....
insya Allah

Friday, October 20, 2006

Hati ini telah membatu.......Mohon maaf lahir batin



hati ini telah membatu



jika kita masuki ramadhan ini dengan penuh harap



dan keluar ramadhan ini dengan penuh suka cita



seandainya saja tak begitu banyak kemenangan yang kita gapai
di bulan ramadhan



sedangkan ramadhan bersisa beberapa hari



bulan dimana pahala kebaikan dilipatgandakan



bulan dimana pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup
serta setan dibelenggu



sedangkan ramadhan masih setahun lagi



itupun kalau kita tidak mati



 



hati ini telah membatu



jika ada kesalahan yang kita perbuat



dan tak ada kata maaf yang diucapkan



serta tak ada pintu maaf yang dibuka



 



mohon maaf lahir dan batin



minal aidzin walfaidzin



Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H



 

Thursday, September 28, 2006

Bedah Buku "Misteri Shalat SUbuh"

Start:     Sep 29, '06 09:30a
Location:     Lobi FTUI
Bedah Buku "Misteri Shalat SUbuh"
Diadakan oleh Rohis Sipil FTUI
Jumat, 29 September 2006
09.30-selesai
@ Lobi FTUI
bersama Ust. Faturrahman

Friday, September 22, 2006

MArhaban Ya RaMadhan

maaf-maaf kalo ada salah kata ya..


itu aja....

bersihkan hati
jernihkan pikiran
sucikan jiwa
masuki Ramadhan dengan fresh dan segar (apa bedanya ya...)
jadikan Ramadhan tahun ini bulan yang penuh kemenangan (maksudnya? (^_^))
chayoo....


Thursday, September 21, 2006

Dunia ini Sempit

Dunia ini memang sempit. Saya memiliki teman di kampus, tahun lalu dia lulus menjadi sarjana dan kini bekerja di Bappenas. Suatu saat saya mengantarkan kakek saya ke RS Mata Aini di setiabudi, pulangnya kami singgah di Masjid Sunda Kelapa di bilangan Menteng untuk shalat Dzuhur. Sebelum pulang kami menyempatkan ke warung makan di sekitar masjid untuk makan siang. Dicarilah warung makan yang kira-kira kosong, dan mempunyai menu makanan yang sesuai, karena siang itu tentunya adalah jam istirahat orang-orang kerja. Akhirnya kami dapatkan warung makan yang agak pojok ke dalam agak sepi dan letak yang memang kurang strategis. Tak terbayang, setelah memesan makanan dan menunggu makanan dihidangkan, teman saya yang sudah lulus itu muncul juga untuk makan siang. Cukup lama tidak bertemu, di warung pojok ini baru ketemu.

Dunia ini memang sempit

Suatu hari di Masjid UI selesai shalat Dzuhur saya bertemu dengan seorang teman saya seangkatan saat di SMU dulu. Setelah 3 tahun tak bertemu, di masjid ini baru ketemu, dia sedang menunggu temannya yang sedang shalat Dzuhur. Seminggu kemudian, tanpa direncanakan saya dengan keluarga singgah di sebuah fast food di Cilandak, tanpa melihat ke kanan kiri kami duduk di bangku dan melahap makanan yang kami pesan. Setelah makanan habis saya lahap, saya menolehkan wajah ke kiri, dan ternyata saya ketemu lagi dengan teman saya itu. Kami saling tertawa, karena setelah cukup lama kami makan, baru disadari kami duduk bersebelahan.

Dunia ini memang sempit

Bulan ini saya mengikuti program tahsin di sebuah lembaga di daerah Condet untuk memperbaiki bacaan Al-qur’an saya. Baru 6 kali pertemuan, kami bersama murid yang lain sudah cukup akrab dengan pengajar kami. Beliau sempat menceritakan masa jahiliyahnya, yang kemudian hijrah dan menyukai belajar Al-Qur’an. Beliau juga sempat menceritakan saudara kembarnya yang perjalanan hidupnya hampir sama dengan beliau.

Bulan Ramadhan semakin dekat, kami pun diliburkan dan akan dilanjutkan setelah bulan Ramadhan berakhir. Dan tadi malam saya mengikuti Tarhib Ramadhan di sebuah lembaga Qur’an lainnya, yang dilanjutkan dengan mabit. Setelah materi selesai disampaikan oleh seorang ustadz, kami pun bersiap untuk tidur. Mulai lah kami mengkrabkan diri dengan yang lainnya sambil membagi kelompok untuk bergantian bertugas jaga malam. Salah seorang ada yang menghampiri saya yang sedang berbicara dengan teman yang lain, dan menjulurkan tangan untuk bersalaman. Aha, beliau pengajar yang mengajari saya tahsin, tetapi setelah saya perhatikan ada perbedaan di wajahnya. Dia lebih putih dan berjerawat. Saya ingat, dia pasti saudara kembarnya. Akhirnya saya beranikan diri untuk menegurnya, dan ternyata benar. Beliau adalah ustadz Wahyono saudara kembar ustadz Wahyudi yang mengajari saya baca Al-Qur’an.

Dunia ini memang sempit.

Apakah semua itu kebetulan? Apakah semua itu takdir? Yang paling pasti semua itu ada pelajarannya. Ya, hikmah dari semua kejadian yang ada. Dunia ini begitu sempit sebenarnya Allah ciptakan. Dan tidak selayaknya bagi kita untuk sombong. Karena di dalam dunia yang sempit ini ternyata masih ada berjuta-juta orang yang belum kita kenal dan masih banyak ilmu yang belum kita miliki. Begitu besar Allah Yang Menciptakan dengan firman-firmanNya, walau dunia yang sempit ini didiami oleh berjuta-juta orang, kemudian dunia ini disatukan dengan planet-planet yang lain dan dipadukan dengan seluruh jagad raya ini, maka sepasang bola mata yang kita miliki ini ternyata masih bisa melihat sekuntum bunga mawar merah dibelahan langit jagad raya ini. Subhaanallah.

Ar-Rahman : 37, artinya : “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.”

view image

H-3

Ya h-3 sebelum Ramadhan tiba. Terasa sekali sejak Kau tandai bulan itu dengan gerhana, Kau tandai masyarakat ini dengan nisfu sya’ban. Masyarakat yang lebih banyak mewajibkan sunnah, dan mensunnahkan kewajiban. Terasa sekali, bulan itu penuh. Bulan itu bulat. Ku ikuti terus bulan itu ketika ku berjalan ke masjid untuk shalat Subuh. Bulan itu semakin menghilang, bulan setengah, bulan sabit, dan semakin menghilang. Langit itu mencerahkan wajahnya sehingga bisa ku tatap bulan itu dengan mata telanjang. Langit itu tak lagi mendung walau sehari sebelumnya hujan telah datang.

Ku gapai fajar menyingsing pun dengan cerahnya. Matahari itu bulat, dan menampakkan kebulatannya, lagi-lagi dengan mata telanjang. Gairah fotografer ku menggeliat, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Hanya kamera saku yang ku punya.

H-3, semakin menyakinkan. Matahari tetap membulat, dan bulan itu semakin menghilang, dan mungkin sampai awal bulan yang agung itu. Awal bulan Ramadhan. Ku ingin menggapianya sehingga bisa ku tatap lagi bulan yang semakin hari semakin menampakkan giginya, walau matahari tak lagi menampakkan kebulatannya.

Ya Allah, hiasilah hatiku dengan cintaku kepada Ramadhan Mu, seperti cintanya para Rasul dan sahabatnya mencintai bulan Ramadhan itu.

Dan bangkitkanlah semangat saudaraku untuk bangun shalat Subuh ke masjid dan menatap bulan yang muncul dan menghilang, dan menatap fajar yang menyingsing, dengan atau tanpa kebulatannya.

Dan tampakanlah kepada kami kebangkitan Islam di wajah kami, agar kami semakin rindu untuk bertemu dengan Mu. Amin

Friday, August 25, 2006

Penurunan Bendera 17 Agustus 2006




Penurunan Bendera Merah Putih oleh PASKIBRAKA 2006 di Walikota Jakarta Selatan

Pengibaran Bendera 17 Agustus 2006


kok ada bapak-bapak ya

Pengibaran Bendera Merah Putih oleh PASKIBRAKA 2006 di Walikota Jakarta Selatan

Monday, July 03, 2006

Orang-orang merokok


Sendi
mau ke Perancis nih orang..
dapet beasiswa

merokok
kenikmatan sesaat
fana
merusak
masih ada surga tauuu...

Bintang Laut




Bintang itu terang
Bintang itu gelap
Bintang itu bulat
Bintang berjari lima
Bintang yang menyinari
Bintang yang disinari
Bintang mengudara
Bintang di laut
Bintang-bintang di langit
Bintang laut di laut

With My Friend




kenangan bersama teman
semoga bersama lagi di surga
Amin

Thursday, June 29, 2006

Kisah Nyata "One Litre of Tears"_4




Kisah Nyata "One Litre of Tears"_3




Kisah Nyata "One Litre of Tears"_2




Kisah Nyata "One Litre of Tears"_1




Trial 1 Litre of Tears_11 (Final)




Trial "One Litre of Tears" Extended




film ini diambil dari kisah nyata...
hanya untuk diambil hikmahnya..

Fenomena "One Litre of Tears"

“Film ini bagus, Man. Nonton deh!! Gua jamin pasti lu nangis”

“Ah, mana mungkin. Gua bukan tipe orang yang suka nangis kalau lagi nonton. Apalagi kalau udah dikasih tau bakal nangis.”

One Litre of Tears, judul film yang ditawarkan teman saya.

“ Judulnya aja begini, Man”, tegasnya

Saya tidak terlalu bisa bahasa Inggris, sehingga judul itu tidak saya pahami maksudnya. Baru saya tahu artinya ketika saya membuka kamus di rumah.

Filmnya tentang seorang anak berusia 15 tahun yang terkena penyakit spinocerebellar degeneration, seperti gangguan sel pada otak yang dapat merusak seluruh jaringan tubuh sehingga dapat menyebabkan lumpuh total secara bertahap. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Cerita nyata yang difilmkan ini menjadi sangat dramatis ketika iringan musiknya sangat mendukung sekali sesuai judulnya.

Saya pun sempat mengacuhkan film ini beberapa hari karena film yang biasa saya tonton dan biasa teman saya tawarkan itu film aksi. Saat baru mulai menonton ternyata ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Sebelum saya lanjutkan, saya sempat mencari-cari kalau-kalau ada terjemahan bahasa Indonesianya. Pikir saya, bagaimana saya bisa menangis kalau saya tidak mengerti isi film ini. Ternyata memang tidak ada, dan karena resolusi gambar yang bagus, film Jepang pula, saya coba lanjutkan 1 episode dulu (film ini ada 11 episode) untuk menontonnya. Ternyata filmnya memang bagus, tak heran dalam 2 hari saya selesai menonton film ini, padahal 1 episodenya kurang lebih 1 jam.

Tak pelak, teman-teman seangkatan sudah banyak yang menonton film ini.

“Episode ke berapa lu nangis?”, tanya seorang teman.

Memang di episode kedua sudah membuat mata saya mendidih, dan di episode kelima dan selanjutnya mata saya selalu mengalirkan air mata. Itulah sisi melankolis dari seorang Firmansyah mungkin.(^_^)

Teramat sayang, kalau hanya tangisan yang kita dapat dari film ini, padahal pelajaran dan pengamalan amat berharga bisa kita dapat dari film ini. Tengoklah bagaimana Aya (si anak yang terkena penyakit) menghadapi penyakit ini. “Tuhan tidak adil”, katanya.

Padahal jelas..

· Al-Baqarah : 286. artinya :” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

· Ath Thalaaq : 7. artinya : “...Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Al Insyirah (94). Artinya :

1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,

2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,

3. yang memberatkan punggungmu ?

4. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,

5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,

8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

· Al- An’aam: 152. artinya : “...Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”

Posisikanlah diri kita pada diri Aya, apakah kita akan bertahan menghadapi ujian itu sedangkan Allah berulangkali menegaskan bahwa tak ada beban yang Allah berikan kepada kita kecuali sesuai kesanggupan kita. Masih kita pungkiri kah hal itu, setelah sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, dan belum tentu kita sudah mensyukurinya.

“Tapi kenapa harus saya?” kata Aya. Padahal di Alqur’an sudah dinyatakan ..

· Al-Insaan : 28. Artinya: “Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka,….”

· Al-Infithaar (82). Artinya :

6. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.

7. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,

8. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

· Al-qiyaamah : 38. artinya :” kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,

· At-Tiin : 4. Artinya : “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Saya hanya berharap kalau saja suatu saat ada sesuatu yang terjadi pada diri saya sehingga tubuh saya menjadi tidak sempurna atau mungkin nanti ketika punya anak dengan lahir dalam keadaan yang tidak seperti rata-rata bayi dilahirkan, mudah-mudahan saya akan terus tertuju kepadaNya, karena dengan lembut Allah sudah memberitahu...

· Al-Mu’minuun : 14. artinya :” Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

· Al-Mu’min : 67. Artinya :”Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpa darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”

· Al-Hajj : 5. artinya : “…maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya….”

Salah satu contoh orang yang berhasil dengan baik sekali melewati penyakit yang mirip seperti di film ini, yaitu adiknya Aa Gym dan dapat merubah salah satu cara berpikir Aa Gym sedemikian rupa sehingga seperti yang kita lihat sekarang ini.

Sebenarnya Aya di film ini sudah sangat gigih menghadapinya seperti kita lihat dalam lirik lagunya “tsuyoku mae he susume” (be strong, go forward, move ahead), tetapi sayang, hanya tertuju pada dunia, dia tidak melakukan yang seharusnya. Kita seharusnya tahu apa yang akan kita hadapi setelah mati.

· Shaad : 34. artinya :”Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.

· Fushshilat : 18. artinya:”Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman ...”

· Fushshilat : 22. aritnya:” Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.”

· Yunus : 92. artinya : “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

· Attin (95). Artinya :

5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?

8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

Itu mungkin dari seorang Aya yang terkena penyakit, yang bisa kita ambil pelajarannya. Kalau saya pribadi sebenarnya lebih iri pada kondisi keluarganya yang penuh dengan komunikasi apabila ada masalah, contohnya pada saat makan (Itadakimasu!!).

Saya bayangkan ketika Ako (adiknya Aya) bersedia tidur di atas (tempat tidurnya tingkat dengan Aya) waktu Aya sudah mulai lumpuh, saya bayangkan lagi bagaimana ibunya bersikap menghadapi penyakit anaknya.

Apakah kita harus bersikap seperti itu (bersikap baik terhadap anggota keluarga-red), setelah ada dari anggota keluarga kita yang sakit. Padahal sudah jelas, gunakanlah waktu lapang mu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu kaya sebelum jatuh miskin, gunakan waktu sehat sebelum sakit, gunakan masa hidupmu sebelum mati, agar kita tidak menyesal belakangan nanti.

Al-An’aam : 27. artinya : “ Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).”

Aduhai, “Kiranya kami dikembalikan ke dunia....”

Mau kah kau mengatakan ini di akhirat, dimana tempat penyesalannya sudah tidak ada gunanya lagi? People can be change. Perbaikilah semuanya sekarang, selagi sempat sebelum semuanya terlambat. Selagi masih di dunia, walau itu sulit, tapi kita harus yakin bisa! Saya rasa, karena itulah mengapa saya menangis, cukup pantas. Saya tidak mau menyesal. Saya harus memperbaiki kesalahan yang pernah saya perbuat. Saya harus mendesain kembali kondisi keluarga saya menjadi keluarga yang harmonis.

Masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil dalam film ini, tergantung dari kehidupan sehari-sehari teman-teman.

Pada akhirnya, kita harus semangat dalam hidup ini. Kita harus bisa memanfaatkan sesuatu yang kita punya sekarang dengan baik, yaitu dengan 5 perkara sebelum 5 perkara, gunakan waktu lapang sebelum waktu sempit, masa muda sebelum masa tua, waktu kaya sebelum jatuh miskin, gunakan waktu sehat sebelum sakit, gunakan masa hidupmu sebelum mati.

Al-‘Ashr (103). Artinya :

1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Wednesday, June 28, 2006

Benarkah hidup ini pilihan ??

“Kalau aku memilih, lebih baik aku tetap buta. Di dalam kegelapan ini aku lebih banyak mendapatkan pencerahan.” Kata-kata ini terucap...
baca selengkapnya...

_______________________________________________________________________________

fire in the blog
Friendster
Blogger
Multiply

Sunday, June 25, 2006

Mimpi yang Bermimpi

Mimpi yang Bermimpi

Dua malam terakhir ini saya bermimpi dengan sangat nyata sekali. Malam kemarin saya bermimpi tentang sebuah band punkrock Blink 182 yang.......
Saya bertemu dengan Nabi Muhammad saw, Abu Bakar As Siddiq dan Umar bin Khattab, tetapi...
baca selengkapnya...


fire in the blog
firman di FS
iman di Blogger
firmansyah di Multiply

Friday, June 23, 2006

tak seharusnya




wajah ketidakberesan hukum di Indonesia
pencuri yang belum tentu terbukti digebuki
koruptor yang jelas-jelas korupsi asyik bermimpi

Wednesday, June 21, 2006

dalam diri ini

adakah hatimu mengenal diriku?
masa bodoh
ketika pertanyaan itu terucap

lalu siapa kamu?
dan siapa aku?
yang akan menggenggam semuanya

apa yang kau maksud
jika semua sulit untuk dimengerti
kau ingin dipahami
tapi kau tidak mau memahami

yakinlah
akan ucapanmu
yang selalu terarah

My Blog klik aja
di Friendster dan di Blogger

Tuesday, June 06, 2006

Wanita

wanita..

mengapa kau begitu mempesona

dengan memakai busana

hidup dalam dunia yang fana

wanita..

mengapa kau begitu memaksa

untuk memandang mu yang fana

untuk masuk ke jurang neraka

wanita..

mengapa kau semakin primitif

setiap tahun

setiap hari

setiap jam

kau semakin membuka tubuhmu

kau semakin mengecilkan bajumu

padahal

neraka mu begitu luas

wanita..

diriku begitu muak

menatapmu berlalu lalang

bukan karena aku munafik

tapi karena aku berada disitu

dan aku mempunyai dua mata

wanita..

kenapa kau tidak menjaga dirimu

dari mata mata yang liar

kenapa kau menjual tubuhmu

secara gratis dan tidak terbayar

wanita..

tidak malukah dirimu

bahwa tubuhmu yang kau buka itu

tidak beda

layaknya paha ayam yang dipajang

untuk diperdagangkan

walau tidak laku paha ayam itu

tetapi tetap dipajang

seperti itu kah engkau wanita....

31 Maret 2005

dalam perenungan

umurku belum genap berkepala dua
namun hatiku masih mendua
untuk dunia
dan untuk akhirat
suatu hari ataupun saat ini juga
dengan goncangan yang mungkin begitu dahsyat pikirku
dalam diriku
aku terus berusaha
untuk menyatukan penduaan itu
agar hidupku tak sia-sia
tertuju pada satu tujuan
akhirat yang abadi
SURGA
dan dunia sebagai sarananya

26 September 2005

Kegagalan Tiada Batas 2

orang yang merugi dalam hidup ini ialah
orang yang gagal kemudian
dia tidak menyesal atas
KEGAGALANNYA
orang yang beruntung dalam hidup ini ialah
bukan orang yang tidak pernah mengalami
kegagalan
tetapi
orang yang beruntung dalam hidup ini ialah
orang yang gagal kemudian
dia menyesal dan
berusaha untuk terus memperbaiki
kegagalannya


25 January 2006

Kegagalan Tiada Batas

perubahan terjadi pada orang yang mau merubahnya
karena kehidupan terjadi pada orang yang mau hidup
karena tulisan ini ada pada orang yang mau menulisnya
waktu masih panjang
untuk melakukan perubahan
tak ada yang terlambat
kalau menyikapi dengan tepat
hadapilah
karena hidup untuk dihadapi
ingat!!! ingat!!!!
makan itu untuk hidup
bukan hidupmu untuk makan
hidupmu adalah untuk kehidupan selanjutnya
jangan lengah
jangan lemah
waspadalah

25 January 2006

h-3jam

di sini
ku terus menanti
dengan awal kata yang klasik
menanti
awal baru
yang seharusnya sudah ku awali kemarin
hidup yang selalu tertuju
pada satu
pada Yang Ahad
sehingga mata, mulut, telinga dan hati ini
memang benar milik Nya
sehingga bukan hanya pada 5 waktu
ke tertuju pada Nya
sehingga penglihatan, perkataan, pendengaran dan perasaan yang kumiliki
dapat menjaga ku
dapat melindungi ku
dapat mengantarkan aku
kepada Surga- Nya di akhirat kelak
aku
yang kemarin
mungkin bukan diriku yang sekarang
aku yang sekarang
sudah seharusnya menjadi lebih baik
dan aku
yang akan datang
harus menjadi manusia yang terus tertuju
kepada arah yang sempurna
kepada hidup yang diridhoi Nya
kepada perilaku yang menyenangkan yang lain
kepada ibadah yang istiqomah
sehingga ku kembali mengungkapan harapan ku
ku ingin mendapatkan Surga Mu
walau ku tahu
pahit dihadapanku
walau ku tahu
halangan di depanku
tapi ku tahu
pahitnya itu ialah kenikmatan bagi ku
halangan itu ialah ujian bagi ku
untuk menuju ke arah yang lebih sempurna
walau ku tahu
manusia tak akan sempurna

ya Allah
saat ini ku masih mendua
karena menanti awal baru
di umur ku yang berkepala dua
atau di bulan Mu yang Engkau agungkan
tapi ku terus berusaha
melawan setan yang 24 jam terus bekerja
agar ku terus tertuju padaMu
agar ku terus meraih ridho Mu
agar ku mendapat Surga Mu
menggapai janji yang kau berikan
menggapai kasih yang kau janjikan
di mulai dari yang kecil
di mulai dari saat ini
tiga jam sebelum hari ulang tahunku

03 October 2005

hmmm

waktu ini terus berjalan...

tak ku ketahui...esok atau kah nanti aku kan mati...tapi sampai sekarang...waktu banyak yang terbuang...sia-sia...

waktu ini terus berjalan...

kita harus pintar mengambil hikmah dari setiap kejadian...mengintrospeksi...mengevaluasi...dan memperbaikinya...dan kemudian kita akan menjadi manusia ke arah yang sempurna...ke arah yang di ridhoi oleh Allah swt...

waktu ini terus berjalan...

hidup ini tidak akan kembali seperti yang kita mau...tapi kita harus bisa melihat ke depan...dan membentuk kehidupan yang di depan itu seperti yang kita mau...

waktu ini terus berjalan...

Allah tak akan merubah nasib seseorang menjadi lebih baik...kalo orang itu tak mau...tak berusasaha...tak istiqomah untuk merubahnya...

waktu ini terus berjalan...

maka kita harus menjadi manusia yang terus mengingat Tuhannya..

09 November 2005