Thursday, October 14, 2010

[FF] Akan Indah Pada Waktunya

“Nak, dengarkanlah Bapak!”, suaranya begitu berat dikeluarkannya. Tumor yang tumbuh di pita suaranya membuat dia harus berusaha lebih keras untuk berbicara. Perangpun tak terhindarkan. Batinku bergejolak. Antara perasaan dan logika, antara ketaatanku kepada orang tua dengan prinsip agama yang kuyakini.

“Apa tidak ada perempuan yang lain?”, tanyanya dengan penuh harap.

Aku hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi aku lupa bahwa bangsa ini masih hidup di dalam semangat kesukuannya. Sudah kubaca buku “Personality Plus” karya Florence Littauer. Bahkan sudah kuikuti seminar “The World Personality Mastery” yang dibawakan oleh James Gwee. Tetapi tidak pernah aku temui pelajaran tentang kepribadian yang dilihat dari sukunya berasal.

“Tidak apa bergaul dengan mereka, berorganisasi atau berbisnis dengan mereka. Tetapi bukan untuk dijadikan keluarga Nak!”, lanjutnya.

Aku bernegosiasi. Kubaca buku “Agar Siapa Saja Mau Berdamai Dengan Anda” karya David J. Lieberman. Namun tak sanggup aku mematahkan cara berpikir Bapakku yang sudah terbentuk beku selama puluhan tahun dari pengalaman-pengalaman yang dia dengar atau bahkan yang dia alami sendiri tentang orang-orang di suku itu.

“Terserah jika kamu mau tetap menikahinya”, jawabnya berat.

Ijinnya bukan berarti restunya. Begitu yang terlihat dari wajahnya. Aku hanya takut tidak mendapat ridha dari Tuhanku. Kuputuskan untuk menunda segalanya.

“Akan indah pada waktunya”, pikirku.


__________________
Penulis        : Ibnu Alwi
Jumlah kata : 200
Sub Tema    : Keluarga, Anak, Percintaan
Kategori       : Dewasa

__________________
FF ini diikutkan dalam lomba disini


Photobucket

23 comments:

  1. wah.. bacaan yang banyak pun tak ampuh mendapatkan ridho orang tua ya..

    situasi nya saya demen.:))

    ReplyDelete
  2. saya gak tau selera juri..:))

    saya aja nulis Ff kemaren itu juga gak yakin.. tapi tak ada salahnya mencoba..

    niatkan untuk latihan.. menang atau kalah itu hikmah dari proses menulisnya..:)

    ReplyDelete
  3. wah, hampir ga pernah
    langsung saya copas disana deh..

    ReplyDelete
  4. haa..sepinter2nya anak, tetep lebih pinter orangtua ternyata
    anak kan harus patuh..hehe

    ReplyDelete
  5. karakteristik kebanyakan orang tua : konservatif

    ReplyDelete
  6. waah kereen banget dan kebetulan aku ngalamin persis kayak gini dan sy ppun pilih ridhonya biar indah pd waktunya..eh tyt bener dpt yg aku inginkan dan sesuai juga keinginan ortu....

    ReplyDelete
  7. hm.... yang jelas lebih keren dari punya saya :)

    ReplyDelete
  8. wuuii..buku-buku bacaaannya bikin minder..

    ridho ortu memang yg lbh utama, meski alasan mrk kadang susah diterima logika.

    ReplyDelete
  9. kan itu terjemahan semua mba...
    untung aja cuma 200 kata, kalo nggak, dikeluarin tuh semua judul buku.

    ReplyDelete
  10. ga mau kalah ya,
    orang bilang keren itu, belum tentu karena tulisannya bagus atau karena ceritanya bagus, tapi bisa jadi karena orang itu pernah ngalamin cerita itu.

    ReplyDelete
  11. klop deh
    doakan saya juga demikian ya mba...:)

    ReplyDelete
  12. hanya karena mereka sayang thd anaknya kok.

    ReplyDelete
  13. oalah, salah baca comment,
    maklum mas, lg stress...hahaha

    ReplyDelete
  14. yup konservatif...
    kalo diskusi sama ortu terasa banget ada ketimpangan pemahaman tentang hal yg di bahas di sini

    ReplyDelete
  15. ayahnya kolerik, anaknya melankolis...

    ;)

    salam kenal pak...

    ReplyDelete
  16. salah ketik
    maksudnya lebih "pinter" orangtua ternyata..hehe
    jd bukan dlm artian intelektual tok :p

    ReplyDelete
  17. 4WI lebih tau apa yg tbaik untuk qta.
    Kadang apa yg qta inginkan belum tentu baik buat qta..
    yakinkanlah smua perjalanan ne adalah jalan menuju kebaikan yg 4WI pilih.
    Ikhlaskan semua keadaan ini,, pasti semua akan indah pada waktu nya.

    ReplyDelete