Saturday, July 31, 2010

Hadiri MABIT & Bedah Buku 'Berbagi Pengalaman Menjadi Hafizh Al-Qur'an'

Start:     Jul 31, '10 8:00p
End:     Aug 1, '10 06:00a
Location:     Masjid Raya At-Taqwa. Pasar Minggu
Hadiri MABIT
1.Palestina Terkini bersama Ust. DR. Muqoddam Kholil, MA (KNRP)
2.Bedah Buku 'Berbagi Pengalaman Menjadi Hafizh Al-Qur'an'
bersama Ust. Hartanto,Lc. Al-Hafizh dan Ust. Fadlyl Usman Baharun.
3.Imam Qiyamullail : Ust. Khairul Anwar,M.Ag. Al-Hafizh.
...Sabtu-Ahad, 31 Juli - 1 Agustus 2010,
Pk.20.00-05.00,
Masjid Raya At-Taqwa. Pasar Minggu

Monday, July 19, 2010

Wanita yang baik tidak selalu untuk laki-laki yang baik, masa sih?

Kadang sulit untuk memulai sebuah tulisan, bahkan juga untuk mengakhirinya. Biasanya selesai dulu tulisannya saya buat, baru judul kemudian saya putuskan. Tetapi kali ini saya memulai tulisan ini dari judulnya. Karena memang ada pertanyaan yang menarik, apa iya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik? Kalau kita lihat di Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 26 memang disebutkan demikian.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”

Tetapi coba lihat konteksnya, di dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid 6 Pustaka Imam Syafii halaman 32 dijelaskan bahwa yang dimaksud laki-laki yang baik dalam ayat ini adalah Rasulullah saw sebagai manusia yang paling baik sedangkan wanita yang baiknya adalah ‘Aisyah ra sebagai isteri Rasulullah saw. ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam pun menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah “ Wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Wanita yang baik hanya layak bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya patut bagi wanita yang baik.”

Perhatikan ! ‘Hanya pantas’, ‘hanya cocok’, ‘hanya layak’, ‘hanya patut’, ini tidak berarti wanita yang baik ‘pasti’ akan mendapat laki-laki yang baik atau sebaliknya. Mau bukti? Pasti semua kenal dengan Fir’aun. “….Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Ad Dukhaan:31). Bahkan dengan beraninya, “(Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi".” (QS. An Naazi´aat : 24).

Tapi coba perhatikan isterinya !

“Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahrim : 11)

Ternyata terbukti, seorang wanita yang baik belum tentu mendapat laki-laki yang baik, lalu perhatikan lagi contoh ini !

Perhatikan bagaimana istri Nabi Luth dibinasakan, “Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS.Al-A’raaf:83). Waw, seorang Nabi mendapatkan istri yang demikian ! Tidak hanya Nabi Luth yang dapat istri seperti itu, tapi juga Nabi Nuh !

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". “ (QS. At-Tahrim : 10)

Ternyata terbukti, seorang laki-laki yang baik belum tentu mendapat wanita yang baik !!

Shalih atau tidaknya seseorang, baik atau tidaknya diri kita, itu urusan kita kepada Allah (“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (Muttafaqun ‘alaihi).) Tetapi jika kita mendapat pasangan yang tidak baik maka sangat mungkin itu adalah ujian dari Allah swt.

Di dalam Al-Qur’an pun disebutkan “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara ISTERI-ISTERIMU dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun : 14)

Juga di dalam Al-Qur’an surat Ali 'Imran ayat 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: WANITA-WANITA, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”

Maka sangat baiklah jika kita berdoa “"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqaan : 74)

Hmmm, menarik bukan? Bahkan di sekitar kita juga banyak contoh yang bisa kita saksikan. Ada wanita shalihah, malah mendapat laki-laki bermasalah. Ada laki-laki yang rajin ibadah, malah sering dikihianati wanita yang banyak berulah. Siapa menyangka, banyak orang beribadah berujung pada kekecewaan. Karena mereka mempunyai tujuan, orientasi, motivasi, atau niat yang salah; Shalat Dhuha agar menjadi kaya, sedekah agar mendapat gaji berlipat atau jadi orang shalih agar mendapat istri/suami shalih. Padahal setiap shalatnya kita selalu bersumpah, dengan doa iftitah “inna shalati wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahirabbil'alamin (Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam). Dan dijelaskan bahwa “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” (H.R. Bukhori no:01 dan Muslim no:1907)

Ini artinya, segala amal ibadah haruslah diniatkan hanya kepada Allah swt. sehingga mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt. Allah menjanjikan balasan itu, tapi tidak selalu semua balasan akan kita terima di dunia ini. Orang-orang yang kecewa itu karena hanya berharap pada balasan yang langsung dia dapat di dunia.

Jadi, kalau mau rajin ibadah, ya beribadahlah karena Allah swt. Kalau mau menjadi orang shalih, ya jadilah orang shalih karena Allah swt. Kita tidak akan MERUGI apalagi KECEWA jika segala sesuatu dikerjakan dengan ‘IKHLAS hanya karena Allah swt’, bukan karena wanita yang ingin dinikahi, atau dunia yang ingin dimiliki.

Pasti semua tahu, beginilah orang-orang shalih menerima balasannya.

“;tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan;”(QS.Saba’:37)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus :9)
[670]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.An-Nahl:97)
[839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
Dan banyak lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Tuesday, July 13, 2010

Tentang Shalat Tepat Waktu

Dari Yahya bin Yazid al-Hanafi berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar. Anas menjawab: "Adalah Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat." (HR Muslim)... See More

Artinya: Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai penduduk Mekkah janganlah kalian mengqashar shalat kurang dari 4 burd dari Mekah ke Asfaan." (HR.at-Tabrani, ad-Daruqutni, hadits mauquf)

Penjelasan detailnya silahkan baca di sini
http://www.mail-archive.com/buletin@usahamulia.net/msg00016.html

coba perhatikan dalil-dalil ini.

“…sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Qs. An-Nisa’: 103)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dia berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, ‘Sholat pada waktunya.’ Aku bertanya, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.” Abdullah bin Masud berkata, ‘Semua itu diceritakan kepadaku oleh Rasulullah SAW dan seandainya aku meminta tambahan niscaya beliau akan menambah untukku.’ (HR. al-Bukhori, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasai)

Dari Ummu Farwah ra, - dia termasuk wanita yang membaiat Nabi SAW – dia berkata, Nabi SAW ditanya, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Sholat di awal waktunya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

“Aku mendengar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sesungguhnya antara seorang lelaki dan kemusyrikan serta kekufuran ialah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim-116)

Dari Ummu Aiman radhiyallahu ’anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Jangan kamu tinggalkan sholat DENGAN SENGAJA. Karena sesungguhnya barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja maka sungguh lepaslah darinya perlindungan Allah ta’aala dan RasulNYa.”(HR Ahmad-26098)

Ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata: “Barangsiapa ingin bertemu Allah ta’aala esok hari sebagai seorang muslim, maka ia harus menjaga benar-benar sholat pada waktunya ketika terdengar suara adzan. Maka sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala telah mensyari’atkan (mengajarkan) kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beberapa Sunnatul Huda (perilaku berdasarkan hidayah/petunjuk) dan menjaga sholat itu termasuk dari Sunnatul Huda. Andaikan kamu sholat di rumah sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti kamu tersesat.” (HR Muslim-1046)

Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim-1046).

silahkan baca lebih lengkap disini
http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/cetak/disiplin-sholat-lima-waktu

memang ada perdebatan antar para ulama tentang shalat di awal waktu dan di akhir waktu (bukan di luar waktunya).

Dari Jabir bin Abdillah r.a, bahwa Rasulullah saw. kedatangan Malaikat Jibril a.s., dan berkata, “Bangun lalu shalatlah”, maka Rasulullah shalat zhuhur ketika matahari bergeser ke arah barat. Kemudian Jibril a.s. datang kembali di waktu ashar dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Maka Rasulullah saw. shalat ashar ketika bayangan benda sudah sama dengan aslinya. Kemudian Jibril a.s. mendatanginya di waktu maghrib ketika matahari terbenam, kemudian mendatanginya ketika isya’ dan mengatakan bangun dan shalatlah. Rasulullah shalat isya’ ketika telah hilang rona merah. Lalu Jibril mendatanginya waktu fajar ketika fajar sudah menyingsing. Keesokan harinya Jibril datang waktu zhuhur dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah shalat zhuhur ketika bayangan benda telah sama dengan aslinya. Lalu Jibril mendatanginya waktu ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah saw. shalat ashar ketika bayangan benda telah dua kali benda aslinya. Jibril a.s. mendatanginya waktu maghrib di waktu yang sama dengan kemarin, tidak berubah. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu isya’ ketika sudah berlalu separuh malam, atau sepertiga malam, lalu Rasulullah shalat isya’. Kemudian Jibril mendatanginya ketika sudah sangat terang, dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Maka Rasulullah shalat fajar. Kemudian Jibril a.s. berkata, “Antara dua waktu itulah waktu shalat.” (Ahmad, An-Nasa’i dan Tirmidzi. Bukhari mengomentari hadits ini, “Inilah hadits yang paling shahih tentang waktu shalat.”)

dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa Rasulullah saw. bersabada, “Waktu zhuhur itu ketika matahari telah bergeser sampai bayangan seseorang sama dengan tingginya, selama belum datang waktu ashar; dan waktu ashar itu selama matahari belum menguning; waktu maghrib selama belum hilang awan merah; waktu isya’ hingga tengah malam; dan waktu shubuh dari sejak terbit fajar sehingga terbit matahari.” (Muslim)

silahkan baca lebih lengkapnya disini
http://www.dakwatuna.com/wap/index-wap2.php?p=1389

biar bagaimanapun shalat di akhir waktu itu diperbolehkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. dan jauh lebih baik shalat di awal waktu.

Abu Dzar radhiyallahu `anhu, dia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, kemudian mu’adzin hendak adzan Zhuhur. Melihat hal itu Nabi shallallahu `alaihi wa sallam berkata, “Tunda dulu sampai cuaca agak dingin.” Ia pun menaati perintah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Setelah menunggu ia hendak adzan kembali, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Tenang, biar agak dingin dahulu.” Hingga kami melihat bayangan itu sudah condong, beliau pun bersabda, “Sesungguhnya panasnya siang hari termasuk hembusan panas neraka Jahannam. Maka apabila siang hari sangat panas, tundalah shalat Zhuhur hingga agak dingin.

penjelasan lebih bagus ada disini
http://muslimah.or.id/fiqh-muslimah/dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

sedangkan shalat di akhir waktu lebih tidak disukai, bahkan banyak yang mengecam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu`anhu dia mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabada (yang artinya), “Itulah shalat orang munafik. Dia duduk menunggu matahari, sampai matahari telah berada diantara dua tanduk setan, baru mengerjakan shalat empat rakaat, tidak mengingat Allah di dalam shalatnya kecuali sedikit.” (HR. Muslim)

coba perhatikan lagi hadits ini

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.' Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, 'Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?', ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)'. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata: 'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama'ah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu'. (HR.Bukhari & Muslim)...

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa mendengar panggilan adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, ter-kecuali karena udzur (yang dibenarkan dalam agama)'. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)

Dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di dalamnya.
(HR. Muslim)

bukankah adzan itu dikumandangkan tepat pada waktu shalat tiba?

dan bukankah shalat berjamaah yang dimaksud hadits di atas itu adalah berjamaah di masjid pada waktu shalat tiba?

tentu berjamaah di masjid tidak menjadi kewajiban bagi para wanita.

Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian. (HR. Ahmad dan Abu Daud, hadits shahih)

Jika salah seorang dari kalian (wanita) menghadiri mesjid maka janganlah menyentuh wangi-wangian. (HR. Muslim)

Shalat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya lebih utama daripada di bagian tengah rumahnya dan shalatnya di kamar (pribadi)-nya lebih utama daripada (ruangan lain) di rumahnya. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim)

Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) dari rumahnya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, hadits shahih)

penjelasan lebih lengkap ada disini
http://aboen.or.id/sholat-berjamaah.asp

dan perhatikan pahala orang yang shalat tepat waktu.

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Seandainya orang-orang mengetahui pahala menyambut adzan dan shaf awal (barisan pertama dekat imam), kemudian untuk mendapatkannya harus melalui undian, tentu mereka mau mengadakan undian itu. Andaikata mereka mengetahui pahala berlomba berangkat salat, niscaya mereka akan cepat-cepat mendatanginya. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan salat Isya’ dan Shubuh, tentu mereka akan segera mendatangi keduanya berjama’ah), walaupun dengan merangkak.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Barangsiapa membersihkan diri di rumahnya, kemudian berjalan ke sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan satu fardhu, maka langkahnya yang sebelah menurunkan dosa dan yang lain menaikkan derajat.”(HR.Muslim)...

Dari Ubay bin Ka’ab ra., ia berkata: “Ada seorang lelaki dari sahabat Anshar yang saya ketahui tidak ada seorang pun yang rumahnya lebih jauh dari masjid daripada rumahnya. Tetapi ia tidak pernah terlambat salat. Pernah dikatakan kepadanya: “Kalau saja kamu membeli seekor keledai yang dapat kamu kendarai dalam kegelapan dan pada hari yang sangat panas.” Dia menjawab: “Tidaklah menggembirakan seandainya rumahku berada di samping masjid. Sungguh, aku menginginkan dituliskan jalanku menuju masjid dan kepulanganku kembali kepada keluargaku.” Rasulullah saw. bersabda: “Allah telah mengumpulkan untukmu semua itu (pahala berjalan berangkat dan kembali).” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kutunjukkan kepada kalian apa yang menyebabkan Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab: Tentu, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu yang tidak disukai dan memperbanyak langkah ke masjid, serta menunggu salat sesudah salat (sebelumnya). Maka inilah yang dinamakan kewaspadaan dalam memelihara perintah Allah. Hal inilah yang disebut arribaath (ikatan).” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: “Barangsiapa merasa senang apabila bertemu Allah Ta’ala besok (pada hari kiamat) dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia memelihara salat pada waktunya, ketik mendengar suara azan. Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada Nabi Muhammad saw. jalan-jalan petunjuk. Seandainya kalian melakukan salat itu di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjamaah, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi, pasti kalian sesat. Aku benar-benar melihat di antara kita tidak ada yang meninggalkan salat jamaah, kecuali orang-orang munafik yang benar-benar munafik. Sungguh pernah terjadi seorang lelaki diantar ke masjid, ia terhuyung-huyung di antara dua orang, sampai ia diberdirikan dalam shaf (barisan salat).” (HR. Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dikatakan: “Rasulullah saw. telah mengajarkan jalan-jalan petunjuk yakni salat di masjid yang terdengar azannya.

Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang salat Isya' dengan berjamaah, seolah-olah ia mengerjakan salat setengah malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh dengan berjamaah seolah-olah ia mengerjakan salat semalam suntuk.” (HR. Muslim)

Dan di dalam riwayat Turmudzi ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mengerjakan salat Isya' dengan berjamaah, maka ia dianggap mengerjakan salat setengah malam, dan barangsiapa mengerjakan salat Isya' dan Subuh dengan berjamaah, maka ia dianggap mengerjakan salat semalam suntuk.” (HR. Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya manusia mengetahui keutamaan salat Isya' dan Subuh tentu mereka mendatangi keduanya (berjamaah), walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada salat yang lebih berat bagi orang-orang munafik melebihi salat Subuh dan Isya'. Seandainya mereka mengetahui keutamaan kedua salat itu, niscaya mereka mendatangi keduanya (berjamaah), walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan yang pertama kali dihisab pada seseorang nanti di hari kiamat adalah salat. pabila salatnya bagus, maka berbahagia dan beruntunglah ia, tetapi apabila salatnya rusak maka menyesal dan merugilah ia. Apabila di dalam salat fardhunya terdapat suatu kekurangan, maka Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku ini mengerjakan salat sunnat sehingga kekurangan salat fardhunya dapat disempurnakan dengannya.” Kemudian setelah salat itu dihisab barulah amal-amal perbuatan yang lainnya dihisab.” (HR. Turmudzi)

semua hadits ini saya ambil dari buku Riyadhud Shalihin
silahkan kalau mau download
http://www.scribd.com/doc/17567827/Riyadhus-Shalihin-Indonesia-Edition