Tuesday, June 29, 2010

Perusahanku, Perusahaanmu,,,,,

Semua perusahaan ada kekurangan dan kelebihannya. Perusahaan sehebat apapun yang Anda kenal pasti ada kekurangannya sekecil apapun itu. Begitu juga perusahaan tempat saya bekerja, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya, PT. Relife Realty Indonesia dengan semangat Green Development-nya tidak hanya fokus pada pengembangan budaya perusahaan maupun pegawainya yang bersifat duniawi saja, tetapi juga yang bersifat ukhrawi (spiritual)[1]. Sangat terasa ketika dilakukan rapat mingguan pada hari Senin, maka rapat akan dimulai dengan tilawatil Qur’an lalu kemudian pembacaan Kitab Al-Wafi (Syarah Hadits Arbain). Tidaklah mudah untuk membangun budaya spiritual seperti ini, kalau bukan dari semangat setiap pegawainya untuk tetap mengisi jiwanya dengan siraman ruhani. Saling mengingatkan untuk menjalankan shalat berjamaah juga sangat terasa,pun kegelisahaan yang amat sangat apabila ketika rapat masih juga belum selesai sedang adzan mulai berkumandang. Dan tidak asing lagi, jika setiap pagi di salah satu sudut kantor ada saja yang menunaikan shalat Dhuha sebelum memulai aktifitas bekerja.

“Berkah!”, kata seorang mandor baja yang menjadi supplier di salah satu proyek perumahaan kami, yang sudah mendaftarkan dirinya untuk pergi haji dalam waktu dekat ini. “Untung saya sedikit disini, tapi berkah. Tidak seperti ditempat lain. Tidak perlu tipu sana, tipu sini, terpaksa menipu karena sering didzalimi developer.” Rasa puas dia utarakan atas kerjasamanya dengan perusahaan ini.

Begitu juga ketika saya tanyakan kepada salah satu mandor yang biasa mengerjakan infrastruktur jalan. “Apa enaknya kerja di Relife dibanding di developer lain sebelumnya?”

“Kalau di sini orangnya jujur-jujur pak, saya gak ada beban pak, gak perlu bohong”, katanya.

“Bohong bagaimana?”, tanya saya lagi.

Ternyata di tempat dia bekerja sebelumnya, dia harus menandatangani opname tagihan dari proyek ke Kantor Pusat atas volume pekerjaan yang dia lakukan. Hanya saja volume tersebut sudah tidak sesuai lagi karena sudah di markup Site Manager (SM)proyeknya. Misal galian saluran jalan yang dia kerjakan sepanjang 1000 m, lebar 70cm, kedalaman 1 m. Berarti volumenya adalah 700 m3. Sedangkan volume yang ditulis oleh SM-nya di dalam laporan dan harus ditandatangani olehnya adalah 960 m3 dengan panjang 300 m, lebar 80 cm, dan kedalaman 1,2 m. Berarti ada selisih 260 m3 dikalikan dengan Rp. 30.000,-/m3, total yang didapatkan SM-nya Rp. 7.800.000,-. Itu baru galiannya. Belum buangan tanahnya, buis betonnya, atau pekerjaan yang lainnya yang volume yang di-mark-up-nya tidaklah kecil. Atau bisa juga yang di mark-up adalah harga satuannya.

“Minimal tuh pak, selesai proyek, SM-nya bisa beli mobil atau bangun kontrakan!” gemasnya.

“Lho kan, bukan Bapak yang dirugikan?”

“Iya betul, tapi saya harus ikut bohong menandatangani laporan opname-nya. Jadi beban buat saya”, bantahnya.

Betul juga,  pikir saya. Memang SM-nya sendiri yang pernah cerita langsung kepada saya. Ketika sedang membicarakan struktur organisasi, karena ada pengembangan perusahaan untuk bersiap menjadi lebih besar lagi.

“Di sini tuh pak, kita butuh Quantity Surveyor. Yang bertugas untuk mengevaluasi volume material yang akan digunakan. Sehingga antara rencana dan realisasi di lapangan bisa ketauan selisihnya. Sekarang nih, saya bisa aja cepet kaya. Karena tidak ada orang pusat yang mengecek material yang saya gunakan. Saya bisa aja mengumpulkan material-material sisa lalu kemudian saya jual. Atau menambahkan volume pekerjaan di lapangan, walau tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan. Atau menambahkan harga satuan, bersengkokol dengan supliernya agar selisihnya bisa langsung masuk kantong saya.”

Tetapi hal tersebut tidak dilakukannya. “karena ada Iman aja yang bentengin saya!” tegasnya[2].

Inilah nilai kejujuran yang saya rasakan dari para pegawai di perusahaan ini dan usaha manajemen untuk tetap menjaga budaya ini. Di perusahaan ini sangat terbuka untuk saling memperbaiki dan melengkapi. Jika salah ya dikatakan salah untuk segera diperbaiki, jika ada masukan segera disampaikan untuk saling melengkapi. Sangat dinamis, perubahannya sangat cepat untuk berkembang, yang tidak siap tidak akan kuat berada di dalamnya. Saya sendiri sebelum masuk perusahaan ini, diam-diam sudah mengamati sejak perusahaan ini mulai dibangun dari nol.

Di bidang saya sendiri, Quality Control, sangat berbeda dengan yang ada di developer lain. Contohnya, seperti yang diceritakan oleh Manajer Logistik saya saat dia bekerja diperusahaan sebelumnya.

“Biasanya nih, kalau ada QC yang datang ceklist untuk mengontrol kualitas rumah yang selesai dibangun kontraktor. Itu QC-nya gak akan lama kontrolnya, karena langsung di service dengan minuman segar atau makanan yang lezat, bahkan amplop yang memang sudah disiapkan oleh kontraktornya. Kalau QC-nya lagi butuh nih, dia baru agak lamaan ceklistnnya sampai nemuin kesalahan yang cukup besar. Sehingga kontraktor mau gak mau, memberikan isi amplop yang lebih besar lagi. Walau begitu kontraktor diuntungkan karena tidak perlu mengerjakan ulang pekerjaan yang salah tadi.”

Wah, pantas saja kalau kualitas di perumahan lain jadi buruk,yang bahkan di pegang oleh developer ternama sekalipun. Walau saya yakin tidak semua developer demikian.

Ini baru berbicara di bidang Developer Perumahan. Bagaimana pekerjaan di bidang Anda? Apalagi Anda yang sebagai PNS. Pernahkah Anda membayangkan jika semua perusahaan dengan setiap pegawai-pegawainya memiliki kualitas spiritual yang tinggi yang sadar akan Yang Maha Melihat[3] dan malaikat yang mengawasi[4]? Maka tidak akan ada suap menyuap, tidak akan ada yang namanya korupsi. Maka sangat mungkin, jika Khairu Ummah akan terbentuk.[5] Dan sangat mungkin jika umat Muslim ini akan memimpin peradaban dunia ini sebagai Khalifah fil Ardh[6]. Dan semuanya dimulai dari Anda![7] Karena surga adalah balasannya.[8]



 



 

[1] “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan[714].” (QS. Huud:16)   [714]. Maksudnya: apa yang mereka usahakan di dunia itu tidak ada pahalanya di akhirat.

[2] “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah:6-8)

[3] “…Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS.Al-Anfaal:72)

[4] “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),” (QS. Al Infithaar:10-11)

[5] “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (QS.Ali ‘Imran: 110)

[6] “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi…..” (QS. Faathir:39)

[7] “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.At-Taubah:105)

[8] “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan,” (QS.Al-Infithaar:14)








 

Amal Salih dan Calon Istri

Barangkali tulisan ini tidak berguna buat siapapun, tapi sangat berguna buat saya. Karena biasanya dengan tulisan ini, ada perasaan yang ingin saya luapkan entah kepada siapa, ada pikiran yang ingin ditata agar tak kusut terurai burai, ada motivasi yang ingin didapat ketika makna berhasil terikat dan diresapi. Ya, Mengikat Makna! Begitulah Pak Hernowo mengistilahkannya yang beliau jadikan sebagai judul bukunya. Dan beginilah Mengikat Makna yang kadang saya lakukan,,,,

Teringat saat I’tikaf di Ramadhan pertama sejak lulus kuliah, kulontarkan pertanyaan kepada seorang sahabat, yang sudah saya kenal sejak masuk kuliah, 2003 silam. Seorang sahabat yang sangat konsisten menjalankan ibadahnya. Prinsip hidupnya kuat, sejalan dengan apa yang saya yakini, yang membuat saya selalu nyaman jika berbicara dengannya. Hanya satu hal yang saya heran, ketika dia lulus kuliah dan langsung mendapat pekerjaan dengan gaji yang cukup besar untuk seorang freshgraduate, yaitu masih juga belum yakin untuk menggenapkan setengah diennya.

 “Kurang apa lagi coba? Antum anak pertama, penghasilan cukup besar! Masih takut apa lagi? kita yakin kok, ada Allah yang selalu bersama kita.” Agak sulit sepertinya dia menjawab, karena memang tidak ada jawabannya menurut saya. Belum lagi umurnya yang 2 tahun lebih tua dari saya dan terus beranjak tak kenal kompromi. Hanya satu saja katanya, yaitu karena menunggu restu orang tua. Ah, itu sih hanya tinggal menunggu waktu saja menurut saya, dan tinggal bagaimana dia mau berusaha untuk meyakinkan orang tuanya.

Waktu terus berjalan, sedangkan rutinitas saja yang hanya dijalaninya dari Senin sampai Jumat. Kecuali Sabtu dan Minggu yang biasa disibukkan dengan kerja dan amal nyata untuk segenggam bekal di akhirat. Hingga disuatu pagi, “Akhi, kok ane sekarang kurang semangat ya untuk kerja?” begitulah kurang lebih bunyi sms yang saya terima darinya. Untuk kesekiankalinya saya mendapat kesempatan untuk mendampratnya (memotivasinya-red).

“Akh, makanya nikah! Biar ada alasan yang kuat untuk menyemangati antum kerja.  Biar penghasilan yang antum dapat dengan bekerja tidak hanya untuk orang tua saja, atau hanya untuk memberikan infaq dan sedekah sebagai amal jariah, atau hanya untuk ditabung saja sehingga kurang manfaatnya. Tetapi juga untuk menafkahi keluarga dengan beban dan nilai pahalanya tersendiri. Biar juga dengan menikah nanti ada anak dan istri yang menanti sepulang kerja sehingga memberi motivasi tersendiri.” kurang lebih demikian balasan saya, berharap bisa memberi motivasi kepadanya

Hah, senang saya rasanya. Tidak lama kemudian dia begitu siap untuk menikah, dan berta’aruf dengan akhwat idamannya seperti yang pernah dia utarakan saat I’tikaf waktu itu. “Pokoknya calonnya harus cantik, dan pinter, salah satunya anak UI!” jawabnya dengan pasti. Kini, dia pun mendapatkannya, dan saya yakin, inilah balasan atas amal shalih yang konsisten dia lakukan.

Jadi teringat, ketika Umar bin Khattab ra seketika mengingingkan bidadari di surga sesuai pikirannya, maka saat itu juga Allah mengabulkan keinginannya [1]. Saya tidak bermaksud menyamakan sahabat saya ini dengan sahabat Rasulullah saw. Tetapi memang begitulah orang-orang shalih menerima balasannya.[2]

Terus kamu kapan nyusul? Haha, akan indah pada waktunya.





[1] Pada saat Rasulullah isra-mi’raj, beliau diperlihatkan keindahan surga dan kedahsyatan neraka. Di surga, Rasulullah melihat sekumpulan bidadari yang bercanda dan bercengkerama, namun hanya satu bidadari yang berbeda. Ia tampak sangat pemalu dan menyendiri dari teman-temannya. Rasulullah pun bertanya kepada Jibril, “siapa bidadari itu?”. Dan dijawab Jibril, “itu adalah bidadari untuk sahabatmu Umar bin Khattab. Ketika ia membaca ayat tentang keindahan surga, ia menginginkan dalam pikirannya, bidadari untuknya berkulit hitam manis, berdahi lebar, memiliki mata berwarna biru di atasnya dan merah di bawahnya.  Karena sahabatmu itu selalu segera melaksanakan perintah Allah, maka Allah segera menciptakan bidadari yang sesuai dengan pikirannya”

[2]“;tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan;”(QS.Saba’:37)

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus :9)  [670]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.An-Nahl:97)                 [839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Dan banyak lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. 

Sunday, June 13, 2010

Undangan utk gabung ke PH Jejaring Sosial Islami

Assalamualaikum.wr.wb.,

Alhamdullilah, anda telah diundang oleh Firmansyah Alwi untuk gabung ke PencerahanHati.com - Jejaring Sosial Islami. Silahkan langsung klik di

http://www.pencerahanhati.com/signup.php?signup_referer=IbnuAlwi

Di Jejaring Sosial Islami PH, anda dapat mengakses ribuan blog Islami, pertanyaan seputar Islam dengan jawabannya. Terlebih itu, anda dapat lakukan semua hal yang dapat anda lakukan di Jejaring Sosial Internasional lainnya, seperti membuat Grup, Fan Page, Upload & Tagging foto bahkan anda dapat upload dokumen Islami anda yang akan dikonversikan otomatis langsung menjadi e-book di profile anda.

----------------------------------------


Jazakalah Khairan Katsirra.

Wassalamualaikum.wr.wb.,
Jejaring Sosial Islami PencerahanHati.com