Tuesday, March 02, 2010

Oleh-oleh dari Ciwidey [HQ]




OST- Sebelum Kau Bosan
by Iwan Fals

mau ngalahin video klip ST12-KebesaranMu
http://www.youtube.com/watch?v=o2l8KVyX9zQ
http://www.youtube.com/watch?v=tkLV75jXqFA

(Untuk para Da'i) Sebuah Dialog Selepas Malam ...




Jama'ah dakwah ini adalah jam'ah manusia.
Didalamnya berkumpul semua potensi manusiawi.
Didalamnya berkumpul semua kebaikannya;
sekaligus juga keburukannya.

"Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat tenyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murobbinya disuatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murobbi setelah sesaat termenung. "Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja.." jawab mad'u itu.
Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murobbi mencoba memberi opsi.

"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang?
Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad'u.

Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. "Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. ia hanya mengangguk.

"Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murobbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesugukkan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; "Cukup Akhi,Cukup. Ana sadar. Maafkan ana… Ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan…."

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janjiNya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murobbi yang semakin dihormatinya.

Sang murobbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah." Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah Ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar. "Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah dimuka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah. "Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya. "Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murobbi.
"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk Qiyammul lail malam itu. Sang murobbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya. Malam itu, sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari anda, pendengar… Wallahu a'lam.

Al Izzah No. 07/Th.4/1-31 Agt 2004M


diiringi oleh musik
Only Human by Susumu Ueda dan
Konayuki by Susumu Ueda

http://fireman0410syah.multiply.com/music/item/1/Sebuah_Dialog_Selepas_Malam

(mohon maaf-pemuatan fotonya tanpa ijin pemiliknya)

Monday, March 01, 2010

Benarkah Hidup ini pilihan ?!




http://fireman0410syah.multiply.com/music/item/3/Benarkah_Hidup_ini_pilihan
“Kalau aku memilih, lebih baik aku tetap buta. Di dalam kegelapan ini aku lebih banyak mendapatkan pencerahan.”
Kata-kata ini terucap dari seorang pemeran utama dalam sebuah sinetron. Lalu bagaimana dengan kau yang dikaruniai penglihatan? Akankah kau harus buta untuk mendapatkan pencerahan? Masihkah kau belum mendapatkan karuniaNya, nikmatNya dan anugerahNya? Masihkah kau belum syukuri juga?
Ternyata benar adanya bahwa orang itu lebih banyak berhasil diberikan ujian dengan kesulitan yang menyengsarakan dari pada dengan kesenangan dan kenikmatan yang melupakan. Ini baru satu anggota tubuh yang diperhitungkan, bagaimana dengan yang lainnya. Telinga kita, mulut kita, tangan kita, atau kaki kita. Perlukah Allah mengambil pendengaranmu agar kau tak mendengar sesuatu selain Firman-FirmanNya? Perlukah Allah menjadikanmu bisu agar kau tidak lagi berkata yang seharusnya tidak kau katakan? Perlukah dilumpuhkan kakimu agar tak lagi kau melangkah ke tempat yang tidak Allah suka?
Apakah harus diambil satu persatu dari dalam tubuh kita agar kita bisa merasakan nikmat Allah, agar kau yakin bahwa kau tidak ada apa-apanya kecuali tanpa adanya pemberian dari Allah? Masih berapa banyak pertanyaan lagi agar kau sadar bahwa dirimu tidak ada apa-apanya.
Dua hari yang lalu saya tertidur di suatu tempat yang agak berdebu, ketika terbangun tenggorokan saya sudah begitu gatalnya seperti ada yang mengganjal. Saya alergi debu. Saya terken flu. Tidur pun sulit. Keesokan paginya bangun dengan keresahan. Tubuh ini menjadi resah hanya karena debu. Maha Suci Allah Yang Menciptakan debu. Debu yang berterbangan di udara. Debu yang masuk ke dalam tubuh saya.
Ibu seorang teman saya terkena tumor. Tumor itu membesar di otak, tepatnya dibelakang mata dan ada saraf mata yang terjepit karena pertumbuhan tumor itu sehingga salah satu matanya tidak berfungsi lagi. Sebelum menyerang saraf mata yang satu lagi, tumor itu segera diangkat. Saya yakin Anda tahu, kalau biaya operasinya tidak murah.
Ada juga seorang teman saya yang mempunyai kelebihan. Kelebihan harta yang membuatnya kelebihan makan sehingga dia mengalami kelebihan berat badan. Yang hebatnya dalam satu hari dua bungkus rokok selalu dihabisinya. Hasilnya dadanya suka sesak. Setelah diperiksa dokter ternyata terjadi gejala penyempitan pembuluh darah yang berhubungan langsung dengan jantungnya. Ada lagi seorang penulis, memiliki penyakit Talasemia yang harus transfusi darah secara rutin seumur hidupnya. Bayangkan !!
Ok. Silakan kau memejamkan mata, mendongak ke atas dan kau lihat dalam kegelapan itu, apabila kau yang mengalami berbagai penyakit di atas. Apakah kau harus mengalami semua itu, baru kau akan menyadari betapa lemahnya kita, betapa tiada dayanya diri kita? Betapa tubuh ini hanya seonggok mayat yang diberi nyawa oleh Allah.
Lalu mau kau bawa kemana tubuh mu? Hanya untuk dimasukan ke liang lahat?
Ya..bayangkanlah lagi ketika kau dalam kuburan. Apa yang kau lihat? Bayangkan ketika wajahmu sebegitu pucatnya dimasukkan ke dalam liang lahat. Bayangkan ketika binatang-binatang mulai melucuti kulitmu, menghabisi dagingmu, dan menjilati tulangmu. Hanya untuk itu kah kau hidup?
Wahai teman….
Masih ada surga disana. Tak mau kah menggapainya? Hidup abadi didalamnya? Apakah kau hanya akan menangisi dunia yang sudah pasti kau tinggalkan? Kau sudah tahu dunia itu fana. Hanya untuk itu kah kau hidup?
Kurang apa lagi? Kita diciptakan di dunia ini bukan tanpa apa-apa. Ada makhluk hidup lainnya, tumbuhan, hewan, air dan udara. Kita diberikan pegangan hidup berupa Alquran dan Hadist. Sekian banyak Rasul telah diturunkan. Lalu apa lagi?
Hanya perasaan sajakah yang kau ikuti?
“Ah, ga sreg nie…”
“Terlalu banyak aturan !!”
Sampai disitukah perasaan mu? Benarkah kau tidak mau hidup kekal? Melewati ujian-ujian yang ada di dunia ini dengan mengambil hikmahnya, mensyukuri nikmatNya, dan bermunajat kepadaNya? Tak maukah nikmat yang kekal di surga kelak?
Aduhai….
Wahai malam yang berganti siang
Andai saja aku bisa mengendalikan tubuh ku ini hanya untuk ku seorang
Maka tak akan ku tatap dunia
Maka tak akan ku lepaskan diriku sedikitpun dari hadapanMu
Namun aku hanya seonggok tubuh yang tak berdaya
Yang hanya mendapatkan kekuatan dariMu
Yang ada karena Engkau ada
Yang tiada karena tak Kau butuhkan
Maka berikanlah aku kekuatan
Untuk menguatkan imanku kepadaMu
Memudahkan ku mendapatkan fajarMu
Merasakan sentuhan bisikanMu
Menikmati setiap teguranMu
Dan untuk menjauhkan ku dari setiap larangan Mu
Agar aku tetap berada di jalur Mu
Ya Allah
Aku sangat berharap dengan penuh simpuh

Amin

diiringi oleh musik
Anata ga Oshiete Kure Tamono by Susumu Euda dan
Only Human by Susumu Euda

(mohon maaf-pemuatan fotonya tanpa ijin pemiliknya)