Tuesday, September 22, 2009
Thursday, September 17, 2009
Cinta Edisi # 4 Proposal Cinta a.k.a Proposal Menikah
Bismillahirrahmannirrahim.
Siapa sih yang tidak mau menikah? Hanya orang yang tidak normal saja yang tidak mau menikah. Permasalahannya banyak orang yang belum juga menikah karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang mempengaruhinya atau pikiran negatif yang ada di otaknya. Belum siap mental lha, belum mapan, masih ada kakak yang belum menikah, atau orang tua yang melarang dengan berbagai pertimbangannya.
Ilmu! seandainya kita paham ilmunya, pikiran negatif di atas seharusnya bisa dihilangkan. Bahkan seharusnya orang tua bisa memberi solusi bagi anaknya yang ingin menikah. Karena menikah adalah solusi bagi kerusakan moral yang pasti terjadi akibat pergaulan bebas tanpa batas, tanpa memperdulikan ajaran-ajaran agama.
Contoh saja keluarga di foto ini. Yang dilakukan Bapak Nanyar, sebutlah demikian namanya, masih lebih baik untuk menikah dibandingkan dia harus menahan hawa nafsunya atau melakukan zina. Walaupun kondisi ekonominya sangat terbatas, tapi apa yang dia lakukan terhadap istrinya sudah dihalalkan oleh Allah swt. Pertanyaannya, apa keluarga yang seperti ini yang akan memenuhi setiap sudut bangsa Indonesia? Sedang orang-orang yang pantas melahirkan bibit-bibit yang unggul tidak juga menikah dan melahirkan anak-anaknya? Bapak ini hanya bekerja sebagai pemulung, sehari hanya dapat Rp 15.000,- bahkan kalau lagi sepi tidak dapat apa-apa. Setiap hari membawa gerobak pulang pergi jalan kaki Lenteng Agung-Kalibata. Tapi tidak takut untuk punya anak dan mampu menafkahi 6 orang anaknya. Anda? Punya gaji 2 juta, 3 juta atau bahkan lebih. Apa lagi yang ditunggu?
Zina dilarang, nikah dihalalkan. Rezeki sudah dijamin, bahkan setiap binatang melata di dunia sudah dijamin rezekinya. Lalu ketika ingin menikah terbentur dengan izin orang tua dengan berbagai pertimbangannya, pasti ada solusinya.
Salah satu kisah inspiratif dari sahabat kita yang menulis sebuah Proposal Nikah. Kalau kita ketik keyword ‘Proposal Nikah’ di Google, maka akan banyak sekali hasilnya. Banyak yang mencontoh sahabat kita ini, dan berhasil mendapat izin orang tua. Termasuk saya yang terinspirasi untuk membuat hal yang sama, bedanya saya tidak mau copy-paste tapi benar-benar buatan saya sendiri untuk disesuaikan dengan kondisi saya, dan merupakan intisari dari lebih 10 buku yang saya baca tentang nikah.
*************
Bismillahirrahmannirrahim.
Assalamualaikum wr. Wb.
PENDAHULUAN
Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan kepada Iman (nama panggilan di rumah) untuk menuliskan proposal ini. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan kepada Mamah dan Bapak untuk membaca proposal ini.
Shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. Semoga kita sekeluarga akan menjadi pengikutnya yang setia hingga ajal datang.
Dari judul di atas sudah dapat diketahui bahwa proposal ini tentang keinginan Iman untuk menikah. Kenapa sih namanya proposal? Karena ingin menandakan keseriusan Iman akan hal ini. Sebenarnya sudah lama proposal ini ingin Iman sampaikan. Terutama sejak mau lulus kuliah. Waktu itu Iman sudah selesai sidang skripsi dan dinyatakan lulus, lalu kemudian Iman ingin menyampaikan poposal ini. Tapi ternyata Iman juga harus tau diri, masa sih belum punya penghasilan sudah mau menikah. Akhirnya Iman hanya bisa berdoa dengan doa yang pendek sekali tapi sangat padat isinya, “Ya Allah, mudahkanlah saya untuk menikah!”. Selang tidak terlalu lama, akhirnya Iman dapat pekerjaan padahal belum di wisuda, sesuatu yang tidak diduga, Alhamdulillah.
Lalu kemudian Iman mau menyampaikan proposal ini saat setelah wisuda. Tapi malah mengalami kecelakaan, akhirnya Iman tunda sampai Lebaran. Sayangnya saat Iman minta izin sama Kakak, walau Kakak sudah mengizinkan tapi sepertinya Kakak agak tidak rela. Jadinya Iman tunda lagi. Ternyata Iman salah paham, setelah sebulan Iman bicara sama Kakak, ternyata Kakak bukan tidak setuju kalau Iman menikah duluan, tapi hanya merasa kehilangan kalau adiknya yang selama lebih dari 20 tahun tinggal bersama, harus tinggal bersama orang lain. Intinya Kakak sudah rela, dia bilang, “Masa sih Kakak melarang orang yang mau menyempurnakan setengah agamanya (menikah)?”
Nah sekarang Iman memberanikan diri meminta izin kepada Mamah dan Bapak untuk menyegerakan menikah. Kenapa sih harus disegerakan? Insya Allah di bawah ini penjelasannya
LATAR BELAKANG & TUJUAN
Segera dan tergesa-gesa sangatlah berbeda. Kalau menyegerakan sesuatu berarti ada hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan manfaat dengan perencanaan yang matang. Sedangkan kalau tergesa-gesa, seperti melakukan sesuatu tanpa perencanaan bahkan tanpa ada manfaat yang didapat.
Dalam hal ini Iman mau menyegerakan menikah. Bukan tanpa alasan dan tiba-tiba. Tapi sudah direncanakan bahkan jauh saat Iman sedang kuliah. Berikut alasan-alasannya :
1. Mengikuti perintah Allah dan RasulNya.
Sebuah puisi :
Aku dan 4 Kekasihku
Aku sedang termangu
Duduk dan melamun
Berharap mencintai cinta
Dalam hayal yang nyata
Ku ingin mencintai Tuhanku
Ku ingin mencintai Nabiku
Ku ingin mencintai orang tuaku
Tapi ku ingin mencintai tulang rusukku yang menghilang
Namun hatiku hanya satu
Hidup dalam dunia yang terus maju
Bagaimana cintaku bisa menjadi satu
Jika aku ingin mencintai 4 kekasihku
Akhirnya ku mencari rumus cinta
Dengan belajar matematika
Dengan belajar etika
Didalam dunia yang fana
Sampai ku putuskan
Hatiku yang satu
Hanya untuk Tuhanku yang satu
Yang Maha Kasih sayang kepadaku
Dan tetap kucintai Nabiku
Untuk menyempurakan cintaku kepada Tuhanku
Karena beliau adalah utusan Tuhanku
Dan beliau adalah kekasih Tuhanku
Dan tetap kucintai orang tuaku
Untuk menyempurakan cintaku kepada Tuhanku
Karena ridha mereka adalah ridha Tuhanku
Dan doa mereka adalah hadiah Tuhanku
Dan tetap ku cintai tulang rusukku yang menghilang
Untuk menyempurakan cintaku kepada Tuhanku
Karena dia diciptakan Tuhanku dari tulang rusukku
Dan dia yang menjaga diriku agar tetap mencintai Tuhanku
Puisi di atas sudah lama Iman buat, waktu masih kuliah tahun 2004. Waktu itu Iman sedang bingung, karena banyak teman-teman Iman sudah punya pacar. Iman berpikir bagaimana hakikatnya kalau kita mencintai seseorang padahal cinta kita kepada Allah harus merupakan cinta yang utuh? Akhirnya Iman menemukan hakikat cinta tersebut. Bahwa cinta itu memang hanya kepada Allah swt, sedangkan kita mencintai Nabi, Orangtua, Istri, Anak dan lainnya hanyalah untuk menambah kecintaan kita kepada Allah swt. Dan jadilah puisi tersebut. Oleh karena itu proposal menikah ini adalah tanda cinta Iman kepada orangtua, agar Iman bisa menikah dengan izin yang tulus dan ikhlas dari Mamah dan Bapak, sehingga Allah meridhai pernikahan Iman.
Lalu kemudian kenapa akhirnya memilih menikah dari pada pacaran sebenarnya hanyalah semata untuk mengikuti perintah Allah dan RasulNya, agar mendapat cinta dan ridhaNya.
” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, " (QS. An Nuur (24) : 32)
"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah,." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah,". (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku!" (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
“Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah.” (HR Thabrani).
”Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain.” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
”Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya’la dan Thabrani).
Bukankah sudah sangat jelas perintah Allah dan RasulNya ini?
2. Memilih taman yang indah, jalan yang diridhai Allah swt
Iman juga sama seperti laki-laki lain yang normal yang suka terhadap wanita. Punya hasrat yang juga ingin disalurkan. Sedangkan Allah melarang orang untuk pacaran. “Janganlah kamu dekati zina!”, begitu kata Allah. Pacaran memang bukan tindakan berzina, tapi zaman ini sudah edan, hampir dipastikan orang yang berpacaran itu pasti pernah berciuman. Jelas hal ini dilarang agama. Walau ada yang mengaku tidak pernah berciuman, itupun hanya segelintir orang. Tapi kalau hal ini dianggap lumrah, maka lama kelamaan zina bisa dianggap lumrah.
Awalnya berdua-duaan dianggap lumrah, padahal "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad). Kemudian pegang-pegangan tangan atau ciuman dianggap lumrah, padahal "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi). Lalu kemudian ada orang yang hamil di luar nikah bisa dianggap lumrah. Sekarang sudah banyak contohnya.
Nah, Allah melarang sesuatu tapi memberikan alternatif/jalan lain sebagai solusinya. Allah melarang mendekati zina, tapi menghendaki hambaNya untuk menikah. Bahkan diberi pahala dan karuniaNya pula.
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
Mencintai seseorang seperti menciptakan taman-taman. Hanya saja, ada orang yang mengisi taman-taman itu dengan tumpukan sampah. Katanya cinta tapi pacaran, ujungnya bisa jadi zina. Sedangkan ada taman-taman yang lebih indah yang diridhai Allah swt, yaitu menyalurkan cinta dengan menikah. Lalu bukankah lebih baik Iman memilih taman yang indah itu?
3. Menundukkan pandangan, Menjaga kemaluan, Menjaga kerhormatan, dan Menjauhkan diri dari yang haram.
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah, karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa adalah benteng baginya". (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
“Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani)
"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. Pemuda yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram." (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
“Siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya." (HR.Thabrani).
Iman sudah merasa siap untuk menikah karena Iman merasa sudah memiliki kemampuan untuk ini, agar dapat menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, menjaga kehormatan, dan menjauhkan diri dari yang haram, walau insya Allah puasa Senin-Kamis akan tetap Iman jaga. Mudah-mudahan dengan ini Iman akan selalu mendapat pertolongan Allah.
4. Menyempurnakan separuh agama.
Siapapun ingin menyempurnakan separuh agamanya, kalau hal ini bisa dilakukan segera, kenapa harus ditunda-tunda?
”Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
5. Mengejar pahala dan karunia Allah.
Ini yang menarik, berniat menjaga kehormatan dengan menyalurkan hasrat biologisnya pada tempat yang dihalalkan justru malah mendapat pahala. Dan Allah menjanjikan karunia dan rezekiNya. Jika miskin, Allah akan mengkayakan dengan karuniaNya.
“Sahabat bertanya ‘Wahai Rasulullah, apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?’ Beliau menjawab : ‘Bukankah jika disalurkan pada yang haram, dia berdosa?, maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala?” (HR. Muslim)
Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu” (HR. Hakim dan Abu Dawud).
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
6. Ingin Merasa Tentram
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Rum: 21)
Iman perlu tempat untuk mencurahkan perasaan, isi hati, atau permasalahan yang dialami sehari-hari kepada seseorang. Banyak orang pacaran untuk memenuhi hal ini, tapi sayangnya bisa kebablasan. Padahal nikah sudah dihalalkan, dan akan merasa tentram jika isi hati dicurahkan kepada isteri.
Demikianlah alasan-alasan Iman untuk menikah. Didalamnya terdapat hikmah dan kebaikan. Tujuannya menggapai ridha Allah. Seperti yang Iman tuliskan dalam puisi di atas tadi, Iman juga mengharap ridha dari Mamah dan Bapak juga. Untuk itu Iman minta izin. Sedangkan Kakak, Kakak sendiri sudah mengizinkan untuk didahului. Insya Allah logika berpikir Kakak lebih tinggi dari perasaannya. Iman harap Mamah dan Bapak juga begitu. Jangan percaya dengan mitos-mitos Jawa, dan dalam Islam pun tidak ada ajaran seperti itu; yang harus mendahulukan kakak perempuan daripada adiknya untuk menikah. Mudah-mudahan Allah swt memberikan hidayah dan kelapangan dada untuk kita sekeluarga. Amin.
TANYA JAWAB
1. Siapa calon istrinya?
Kalau dibilang calonnya belum ada, tidak juga. Kalau dibilang calonnya sudah ada, ya tidak juga. Intinya Iman minta izin dulu sama Mamah dan Bapak. Kalau Iman sudah diizinkan untuk menikah, baru akan Iman pastikan calonnya. Insya Allah sudah banyak yang menunggu. Kalau wanita yang satu tidak mau Iman pinang (Iman ajak untuk menikah), pasti sudah ada wanita lain yang lebih baik sedang menunggu dipinang. Masalahnya Iman butuh keikhlasan dan ridha dari Mamah dan Bapak untuk membolehkan Iman menikah, kalau sudah begitu insya Allah doa Mamah dan Bapak akan membawa Iman kepada calon Istri yang barakah. Dan nanti kalau sudah ada calonnya akan Iman kenalkan kepada Mamah dan Bapak.
Allah dan RasulNya banyak menggambarkan istri yang barakah seperti apa.
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) (Qs.AnNuur(24):26).
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.” (HR.Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
Rasulullah bersabda, ”Jauhilah khadraa’ ad-diman.” Para sahabat bertanya, ”Apakah khadraa’ ad-diman itu ?” Beliua bersabda, ”Wanita cantik dari keluarga yang buruk” (HR. Ad-Dailami dan AdDaruquthni)
”Carilah istri yang masih perawan. Sebab, rahim mereka lebih subur, mulut mereka lebih lembut, tipu dayanya lebih sedikit, dan lebih ridha menerima penghasilan yang sedikit.” (HR.Ibnu Majah dan AthThabrani)
“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud).
Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya. Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An-Nisa`: 34)
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda tatkala beliau ditanya tentang wanita yang paling baik: "Wanita yang taat jika disuruh, menyenangkan jika dilihat, serta yang menjaga dirinya dan harta suaminya". (HR. Imam Ahmad).
”Setelah ketakwaan, tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang laki-laki daripada istri salehah. Jika dia melihat istrinya, istrinya itu menyenangkannya; jika dia menyuruh, istrinya itu mematuhinya; jika dia memberi, istrinya itu berterima kasih; dan jika dia pergi, istrinya itu menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi).
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta/tahtanya mungkin saja harta/tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).
Jadi jelas wanita yang akan Iman nikahi, tidak harus cantik dan montok, kaya dan tinggi kedudukannya, tapi harus baik agamanya. Syukur-syukur dapat semuanya. Yang Iman lakukan sekarang terus mendekatkan diri kepada Allah, berusaha menjadi manusia yang terbaik disisi Allah. Karena Iman akan menagih janji Allah, “wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik,” begitu firmanNya. Iman juga berharap dari wanita yang Iman nikahi akan melahirkan anak-anak yang shalih. Karena Rasulullah bersabda, ”Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari).
Cermatlah dalam memilih istri yang akan menerima nuthfah-mu (sperma), sebab sifat orang tua sangat berpengaruh pada anak.” (HR. Ibnu Majah)
Tentunya mencari calon istri harus dengan cara yang ahsan/baik dan disyariatkan. Tidak dengan pacaran yang justru akan menjerumuskan. Salah satunya dengan ta’aruf/kenalan.
Ketika Mughirah bin Syu'bah berkeinginan untuk menikahi seorang wanita, Nabi Saw. bersabda kepadanya, "Pergilah untuk melihat wanita itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jaminan bagi kelangsungan hubunganmu berdua". Dia melaksanakannya, lalu menikahinya. Di kemudian hari ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan wanita tersebut. (HR Ibnu Majah, An-Nasa'i dan At-Tirmidzi).
Ta’aruf disini lebih kepada perkenalan terhadap diri masing-masing secara lebih mendalam ditemani oleh mahramnya masing-masing.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR.Ahmad).
Wanita yang akan Iman ajak ta’aruf tentunya wanita yang sudah siap menikah. Sehingga ketika ta’aruf itu sudah merasa cocok satu sama lain, maka Iman akan mengenalkan wanita tersebut kepada Mamah dan Bapak. Insya Allah apa yang menjadi pilihan Iman nantinya tidak akan mengecewakan Mamah dan Bapak berdua. Kalau Mamah dan Bapak setuju dengan wanita tersebut, maka Iman akan meminta izin ke orang tuanya untuk menikahi anaknya. Kalau orang tuanya setuju berarti tinggal di khitbah/pinang. Yang menjadi catatan disini adalah, calon mempelai wanita bukanlah mahram Iman (haram untuk berduaan dan disentuh) sampai akad nikah telah dilaksanakan. Oleh karena itu Iman berharap sebelum bulan Februari 2009 Iman sudah menikah. Alasan paling mendasar adalah saat Iman sudah mendapat calon maka harus cepat disegerakan untuk akad nikah, supaya tidak terjadi hal-hal yang kurang baik. Seperti berdua-duaan atau bahkan melakukan lebih dari itu. Kalau sudah akad nikah sih, terserah mau melakukan apa saja.
Mudah-mudahan ini bisa berlangsung cepat dan lancar. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita, memberkahi keluarga ini, dan memberkahi keluarga Iman kelak.
2. Apa aja yang sudah disiapkan?
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah, ". (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Dari awal Iman berniat untuk menikah, Iman sudah berpikir untuk menyiapkan segalanya. Sampai Iman memutuskan untuk menikah di umur 23, berarti di umur 23 itu Iman sudah harus mampu dan bertanggung jawab kalau akhirnya menikah. Yang pertama Iman siapkan Ilmu, tidak sedikit buku tentang pernikahan yang Iman baca, juga ulasan tentang pasca nikah yaitu kehidupan berkeluarga. Iman rasa, dasarnya sudah cukup Iman miliki, selebihnya nasihat Mamah dan Bapak tetap Iman butuhkan. Selain itu sudah hampir setahun ini Iman juga sudah banyak bertanya kepada orang lain, yang baru menikah maupun yang sudah lama membina rumah tangga.
Yang kedua Mental, karena pasti ada ketakutan-ketakutan kalau saja ada kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi setelah pernikahan. Alhamdulillah seiring bertambahnya ilmu, semakin kuat juga mental tersebut. Apalagi janji-janji Allah begitu menentramkan.
Terakhir Materi, mungkin tidak seperti Bapak yang menikah sudah punya rumah, sudah mapan. Kalau Iman menunggu untuk punya rumah dulu, untuk mapan dulu, rasanya Iman tidak sanggup. Lagipula Iman sudah siap dengan apa yang Iman miliki sekarang. Bapak mendidik Iman untuk rajin belajar, karena memang ternyata ilmu sangat penting untuk dimiliki daripada harta. Bapak selalu membiayai pendidikan Iman sampai sarjana, untuk ngaji di TPA, kursus-kursus dan berbagai pelatihan, sehingga dengan modal ilmu yang Iman dapat tersebut, insya Allah Iman bisa mendapatkan rezeki yang halal dan cepat. Bapak mewarisi ilmu kepada Iman, bukan harta, dan Iman mensyukuri itu. Dan dengan penghasilan yang Iman dapat sekarang insya Allah Iman yakin untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Apalagi Allah sudah menjanjikan karunia yang banyak jika kita menikah.
Akhirnya Iman serahkan semuanya kepada Allah, setelah Iman siap untuk menikah, Iman memperbanyak istikharah ketika i’tikaf disepuluh hari terakhir di bulan puasa kemarin.
"Jika salah seorang di antara kalian sudah berniat melakukan suatu perkara, maka hendaknya dia melakukan sholat 2 raka'at yang bukan sholat wajib, setelah sholat hendaknya dia berdo'a, "Ya Allah, saya beristikhoroh kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan saya meminta kemampuan kepad-Mu dengan kemampuan-Mu, dan saya meminta keutamaan-Mu yang Maha Agung. Karena sesungguhnya Engkaulah yang menakdirkan dan saya tidak menakdirkan, Engkau Maha Mengetahui sedang saya tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku untuk agamaku, untuk kehidupanku, dan untuk akhir perkaraku -atau beliau berkata, "untuk perkaraku cepat atau lambat"- maka takdirkanlah hal itu untukku, permudahlah untukku, kemudian berkahilah aku di dalamnya". Jabir berkata, "Kemudian dia menyebutkan keperluannya". (HR. Bukhari)
Maka sekarang tinggal keridhaan dari Mamah dan Bapak.
3. Tentang Akad, Mahar, & Resepsi?
Dalam buku Pengantin Islam, karya Dr. Abdullah Nashih’ulwan, akad nikah ialah menghalalkannya “bersenang-senang” antara dua pihak, istri dan suami secara syar’i untuk mendapatkan ketenangan jiwa, melahirkan keturunan yang shalih, bekerja sama membangun keluarga, dan mendidik anak. Seperti yang sudah kita ketahui akad ini tidak sah, kecuali dengan ijab qabul. Ketika akad nikah ini pula ada mahar yang diserahkan.
"Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Begitulah Allah mensyariatkan. Tetapi Iman berdoa agar mendapat wanita yang barakah yang murah maharnya, karena Rasulullah bersabda ;
"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah, adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya."
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih).
Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad).
Dan mudah-mudahan Iman bisa mendapat calon mertua yang tidak mempersulit masalah mahar ini.
Rasulullah Saw. bersabda, "Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, niscaya akan kamu dapati barakahnya. Karena dengan meringankan mahar mereka dan memberi jalan mudah untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah kemalangan yang akan menimpa wanita (yang dalam perwalian)mu jika kamu memberatkan maharnya dan mempersulit pernikahannya dan itu dapat menyebabkan akhlaknya menjadi buruk."
"Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan).
Iman sendiri tidak punya apa-apa untuk mahar ini. Menurut M. Fauzhil Adhim di dalam bukunya Kado Pernikahan untuk Istriku, mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki yang meminangnya. Maka dengan sedikit hapalan Al-Qur’an, Iman ingin menyatakan kesungguhan Iman. Iman berharap dengan mahar ini, keluarga yang Iman bentuk nanti mempunyai landasan akidah yang kuat.
Wanita tidak menjual dirinya dengan mahar, walau begitu mahar merupakan hak mempelai wanita yang tidak boleh ditawar oleh laki-laki untuk menghargai pinangannya.
Maka jika memang calon istri nanti meminta mahar lebih dari itu insya Allah Iman akan usahakan semampu Iman.
Kemudian tentang akad dan resepsi/walimah.
"Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi yang perlu diingat bahwa diawal Iman sudah mengatakan bahwa Iman menikah salah satunya untuk mendapat ridha Allah dan menjauhkan diri dari yang haram. Maka cukup tidak layak jika pada prosesi pernikahan, saat akad maupun walimahan, malah menjauhkan kita dari ridha Allah swt.
Oleh karena itu ada yang perlu dijaga di dalam prosesi pernikahan tersebut. Yang pertama, menghindari kemaksiatan dengan menjaga pandangan atau bersentuhan yang bukan muhrimnya sehingga perlu ada pemisahan jalur antara laki-laki dan perempuan (tidak bercampur baur).
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. AnNuur:30-31)
"Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Yang kedua, menghindari perbuatan mubazir atau pemborosan biaya dan berlebihan dalam hidangan.
“… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya mubadzir itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS.Al-Israa:26-27)
Yang terakhir, diusahakan untuk mengundang kaum fakir miskin.
“Makanan terburuk adalah makanan pada walimah yang dikhususkan bagi orang-orang kaya dan menyisihkan orang-orang miskin. Orang yang tidak memenuhi undangan walimah, dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari)
Mudah-mudahan dengan niatan ini Iman bisa mengawali kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah.
4. Setelah menikah?
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah tentang kehidupan pasca menikah. Iman berharap Iman sudah bisa mandiri dan menjadi pemimpin di keluarga sendiri. Dan Istri bisa taat kepada suami.
“Sampaikanlah kepada wanita yang kamu jumpai, bahwa taat kepada suami, dan mengakui haknya, itu sama dengan (pahala) jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melaksanakannya.” (HR. Thabrani)
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An-Nisa`: 34)
Sehingga Iman berharap tidak ada lagi intervensi dari pihak orang tua dan mertua, tapi pastinya Iman sebagai pasangan baru masih perlu nasihat-nasihat dari para orang tua yang sudah menjalani kehidupan keluarga bertahun-tahun lamanya termasuk Mamah dan Bapak.
Rasulullah Saw. bersabda, "Terlaknatlah orang yang membebankan semua kebutuhannya kepada orang lain."
"Ibadah itu ada tujuh puluh bagian, yang paling utama adalah mencari (rezeki) yang halal."
Rasulullah Saw. juga bersabda: "Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban shalat."
Pada hadis yang lain, Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak seorang pun makan makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari hasil kerja tangannya (sendiri)." (HR Bukhari).
Rasulullah Saw. juga bersabda: "Orang yang minta-minta padahal tidak begitu menghajatkan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api." (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya).
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis shahih, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Selalu minta-minta itu dilakukan oleh oleh seseorang di antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging." (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw. juga bersabda: "Barangsiapa merasa lelah karena bekerja sehari suntuk untuk mencari rezeki yang halal, niscaya diampuni segala dosanya."
PADA AKHIRNYA
Maka pernikahan ini adalah pintu gerbang selanjutnya yang pasti akan Iman lewati. Iman sudah melewati saat-saat masuk perguruan tinggi, Iman sudah melewati saat-saat lulus dari kuliah dan masuk ke dunia kerja, sekarang Iman akan melewati saat-saat Iman harus membentuk keluarga sendiri. Secara sabar dan bertahap Iman lalui, mendapat penghasilan dulu, mencari ilmu, dan mempersiapkan mental, lalu kemudian meminta izin kepada Kakak. Sekarang Kakak sudah mengizinkan untuk didahului, Iman tinggal menunggu izin dari Mamah dan Bapak. Tapi Iman yakin Mamah dan Bapak dengan segala keterbukaan jiwanya, kelapangan dadanya, dan keikhlasan hatinya pasti mengizinkan Iman untuk menikah. Mudah-mudahan Mamah dan Bapak melancarkan semuanya ini. Dengan izin Allah pula semuanya bisa terlaksana dan semoga Iman bisa menggapai pernikahan yang barakah.
Iman rasa demikian proposal ini dibuat, agar bisa menjadi pertimbangan untuk Mamah dan Bapak. Yang benar datangnya pasti dari Allah swt, yang salah pasti karena kesalahan Iman pribadi. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah dan tidak berkenan di hati. Semoga Allah memberikan hidayah dan rahmatNya bagi kita semua. Amin.
Wassalamualaikum wr. wb.
Anakmu tercinta,
******************
Tulisan ini saya berikan ke orang tua saya pagi-pagi hari Minggu tanggal 7 Desember 2008 saat mengantar ke bandara waktu mau ke Bima, NTB untuk menyampaikan kurban dari Yayasan Turki. Karena baru pulang Selasa malamnya, hari Rabu pagi saya mendapat jawabannya. Bahkan sampai dipanggil Kiayi segala ke rumah untuk ceramah tentang nikah. Alhamdulillah saya sudah diizinkan menikah. Tetapi kemudian takdir tidak berbicara demikian. Manusia berencana, Allah yang menentukan. Sedang Allah menentukan jalan yang lain. Sepertinya Allah ingin saya merasakan apa yang pernah saya tuliskan di bawah ini.
Bermimpilah selagi mimpi itu memotivasi Anda untuk maju, bermimpilah selagi mimpi itu gratis ga perlu bayar. Mimpi jangan yang kecil-kecil, tapi yang besar-besar. Kalau perlu “unrealistic”. Mimpi Anda akan menjadi target Anda. Target Anda akan mengarahkan jalan hidup Anda. Ingat Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu tidak mau merubahnya. Tapi ingat juga takdir Allah, ketika kita sudah mengusahakan sebegitu besar upaya untuk menggapai mimpi itu, kita juga harus sudah bersiap untuk menerima hasil yang kita dapatkan. Karena semuanya yang menentukan itu Allah. Dan “takdir itu sebelum terjadi” adalah kolaborasi “apa yang kita lakukan” dengan apa yang telah Allah putuskan di Lauh Mahfuz sana. Dan INGAT, apa-apa yang baik menurut pandangan kita, belum tentu itu sebenarnya baik bagi kita. Begitu juga sebaliknya, apa-apa yang buruk menurut pandangan kita, belum tentu itu sebenarnya buruk bagi kita. Itulah “hikmah”. Jadi jelas, konsep “jalani aja apa adanya” itu salah. Yang benar adalah, tentukan tujuan, lakukan proses dengan baik, benar, dan tepat, kemudian terima hasilnya, dan ambil hikmahnya. Itulah KEHIDUPAN.
Rupanya target menikah di umur 23 tidak dikehendaki oleh Allah swt. Semoga saya bisa mengambil hikmahnya. Dan saya berharap tulisan ini bisa memotivasi Anda untuk menikah. Jangan sampai akhwat-akhwatnya keburu menua..:)
Wallahu’alam bishawab
(Barakallah buat yang sedang ta'aruf dan yang sudah mau melamar, juga yang sudah mau naik ke pelaminan)
Siapa sih yang tidak mau menikah? Hanya orang yang tidak normal saja yang tidak mau menikah. Permasalahannya banyak orang yang belum juga menikah karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang mempengaruhinya atau pikiran negatif yang ada di otaknya. Belum siap mental lha, belum mapan, masih ada kakak yang belum menikah, atau orang tua yang melarang dengan berbagai pertimbangannya.
Ilmu! seandainya kita paham ilmunya, pikiran negatif di atas seharusnya bisa dihilangkan. Bahkan seharusnya orang tua bisa memberi solusi bagi anaknya yang ingin menikah. Karena menikah adalah solusi bagi kerusakan moral yang pasti terjadi akibat pergaulan bebas tanpa batas, tanpa memperdulikan ajaran-ajaran agama.
Contoh saja keluarga di foto ini. Yang dilakukan Bapak Nanyar, sebutlah demikian namanya, masih lebih baik untuk menikah dibandingkan dia harus menahan hawa nafsunya atau melakukan zina. Walaupun kondisi ekonominya sangat terbatas, tapi apa yang dia lakukan terhadap istrinya sudah dihalalkan oleh Allah swt. Pertanyaannya, apa keluarga yang seperti ini yang akan memenuhi setiap sudut bangsa Indonesia? Sedang orang-orang yang pantas melahirkan bibit-bibit yang unggul tidak juga menikah dan melahirkan anak-anaknya? Bapak ini hanya bekerja sebagai pemulung, sehari hanya dapat Rp 15.000,- bahkan kalau lagi sepi tidak dapat apa-apa. Setiap hari membawa gerobak pulang pergi jalan kaki Lenteng Agung-Kalibata. Tapi tidak takut untuk punya anak dan mampu menafkahi 6 orang anaknya. Anda? Punya gaji 2 juta, 3 juta atau bahkan lebih. Apa lagi yang ditunggu?Zina dilarang, nikah dihalalkan. Rezeki sudah dijamin, bahkan setiap binatang melata di dunia sudah dijamin rezekinya. Lalu ketika ingin menikah terbentur dengan izin orang tua dengan berbagai pertimbangannya, pasti ada solusinya.
Salah satu kisah inspiratif dari sahabat kita yang menulis sebuah Proposal Nikah. Kalau kita ketik keyword ‘Proposal Nikah’ di Google, maka akan banyak sekali hasilnya. Banyak yang mencontoh sahabat kita ini, dan berhasil mendapat izin orang tua. Termasuk saya yang terinspirasi untuk membuat hal yang sama, bedanya saya tidak mau copy-paste tapi benar-benar buatan saya sendiri untuk disesuaikan dengan kondisi saya, dan merupakan intisari dari lebih 10 buku yang saya baca tentang nikah.
*************
Untuk Mamah dan Bapak tercinta,
PROPOSAL MENIKAH
Bismillahirrahmannirrahim.
Assalamualaikum wr. Wb.
PENDAHULUAN
Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan kepada Iman (nama panggilan di rumah) untuk menuliskan proposal ini. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan kepada Mamah dan Bapak untuk membaca proposal ini.
Shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. Semoga kita sekeluarga akan menjadi pengikutnya yang setia hingga ajal datang.
Dari judul di atas sudah dapat diketahui bahwa proposal ini tentang keinginan Iman untuk menikah. Kenapa sih namanya proposal? Karena ingin menandakan keseriusan Iman akan hal ini. Sebenarnya sudah lama proposal ini ingin Iman sampaikan. Terutama sejak mau lulus kuliah. Waktu itu Iman sudah selesai sidang skripsi dan dinyatakan lulus, lalu kemudian Iman ingin menyampaikan poposal ini. Tapi ternyata Iman juga harus tau diri, masa sih belum punya penghasilan sudah mau menikah. Akhirnya Iman hanya bisa berdoa dengan doa yang pendek sekali tapi sangat padat isinya, “Ya Allah, mudahkanlah saya untuk menikah!”. Selang tidak terlalu lama, akhirnya Iman dapat pekerjaan padahal belum di wisuda, sesuatu yang tidak diduga, Alhamdulillah.
Lalu kemudian Iman mau menyampaikan proposal ini saat setelah wisuda. Tapi malah mengalami kecelakaan, akhirnya Iman tunda sampai Lebaran. Sayangnya saat Iman minta izin sama Kakak, walau Kakak sudah mengizinkan tapi sepertinya Kakak agak tidak rela. Jadinya Iman tunda lagi. Ternyata Iman salah paham, setelah sebulan Iman bicara sama Kakak, ternyata Kakak bukan tidak setuju kalau Iman menikah duluan, tapi hanya merasa kehilangan kalau adiknya yang selama lebih dari 20 tahun tinggal bersama, harus tinggal bersama orang lain. Intinya Kakak sudah rela, dia bilang, “Masa sih Kakak melarang orang yang mau menyempurnakan setengah agamanya (menikah)?”
Nah sekarang Iman memberanikan diri meminta izin kepada Mamah dan Bapak untuk menyegerakan menikah. Kenapa sih harus disegerakan? Insya Allah di bawah ini penjelasannya
LATAR BELAKANG & TUJUAN
Segera dan tergesa-gesa sangatlah berbeda. Kalau menyegerakan sesuatu berarti ada hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan manfaat dengan perencanaan yang matang. Sedangkan kalau tergesa-gesa, seperti melakukan sesuatu tanpa perencanaan bahkan tanpa ada manfaat yang didapat.
Dalam hal ini Iman mau menyegerakan menikah. Bukan tanpa alasan dan tiba-tiba. Tapi sudah direncanakan bahkan jauh saat Iman sedang kuliah. Berikut alasan-alasannya :
1. Mengikuti perintah Allah dan RasulNya.
Sebuah puisi :
Aku dan 4 Kekasihku
Aku sedang termangu
Duduk dan melamun
Berharap mencintai cinta
Dalam hayal yang nyata
Ku ingin mencintai Tuhanku
Ku ingin mencintai Nabiku
Ku ingin mencintai orang tuaku
Tapi ku ingin mencintai tulang rusukku yang menghilang
Namun hatiku hanya satu
Hidup dalam dunia yang terus maju
Bagaimana cintaku bisa menjadi satu
Jika aku ingin mencintai 4 kekasihku
Akhirnya ku mencari rumus cinta
Dengan belajar matematika
Dengan belajar etika
Didalam dunia yang fana
Sampai ku putuskan
Hatiku yang satu
Hanya untuk Tuhanku yang satu
Yang Maha Kasih sayang kepadaku
Dan tetap kucintai Nabiku
Untuk menyempurakan cintaku kepada Tuhanku
Karena beliau adalah utusan Tuhanku
Dan beliau adalah kekasih Tuhanku
Dan tetap kucintai orang tuaku
Untuk menyempurakan cintaku kepada Tuhanku
Karena ridha mereka adalah ridha Tuhanku
Dan doa mereka adalah hadiah Tuhanku
Dan tetap ku cintai tulang rusukku yang menghilang
Untuk menyempurakan cintaku kepada Tuhanku
Karena dia diciptakan Tuhanku dari tulang rusukku
Dan dia yang menjaga diriku agar tetap mencintai Tuhanku
Puisi di atas sudah lama Iman buat, waktu masih kuliah tahun 2004. Waktu itu Iman sedang bingung, karena banyak teman-teman Iman sudah punya pacar. Iman berpikir bagaimana hakikatnya kalau kita mencintai seseorang padahal cinta kita kepada Allah harus merupakan cinta yang utuh? Akhirnya Iman menemukan hakikat cinta tersebut. Bahwa cinta itu memang hanya kepada Allah swt, sedangkan kita mencintai Nabi, Orangtua, Istri, Anak dan lainnya hanyalah untuk menambah kecintaan kita kepada Allah swt. Dan jadilah puisi tersebut. Oleh karena itu proposal menikah ini adalah tanda cinta Iman kepada orangtua, agar Iman bisa menikah dengan izin yang tulus dan ikhlas dari Mamah dan Bapak, sehingga Allah meridhai pernikahan Iman.
Lalu kemudian kenapa akhirnya memilih menikah dari pada pacaran sebenarnya hanyalah semata untuk mengikuti perintah Allah dan RasulNya, agar mendapat cinta dan ridhaNya.
” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, " (QS. An Nuur (24) : 32)
"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah,." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah,". (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku!" (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
“Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah.” (HR Thabrani).
”Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain.” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
”Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya’la dan Thabrani).
Bukankah sudah sangat jelas perintah Allah dan RasulNya ini?
2. Memilih taman yang indah, jalan yang diridhai Allah swt
Iman juga sama seperti laki-laki lain yang normal yang suka terhadap wanita. Punya hasrat yang juga ingin disalurkan. Sedangkan Allah melarang orang untuk pacaran. “Janganlah kamu dekati zina!”, begitu kata Allah. Pacaran memang bukan tindakan berzina, tapi zaman ini sudah edan, hampir dipastikan orang yang berpacaran itu pasti pernah berciuman. Jelas hal ini dilarang agama. Walau ada yang mengaku tidak pernah berciuman, itupun hanya segelintir orang. Tapi kalau hal ini dianggap lumrah, maka lama kelamaan zina bisa dianggap lumrah.
Awalnya berdua-duaan dianggap lumrah, padahal "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad). Kemudian pegang-pegangan tangan atau ciuman dianggap lumrah, padahal "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi). Lalu kemudian ada orang yang hamil di luar nikah bisa dianggap lumrah. Sekarang sudah banyak contohnya.
Nah, Allah melarang sesuatu tapi memberikan alternatif/jalan lain sebagai solusinya. Allah melarang mendekati zina, tapi menghendaki hambaNya untuk menikah. Bahkan diberi pahala dan karuniaNya pula.
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
Mencintai seseorang seperti menciptakan taman-taman. Hanya saja, ada orang yang mengisi taman-taman itu dengan tumpukan sampah. Katanya cinta tapi pacaran, ujungnya bisa jadi zina. Sedangkan ada taman-taman yang lebih indah yang diridhai Allah swt, yaitu menyalurkan cinta dengan menikah. Lalu bukankah lebih baik Iman memilih taman yang indah itu?
3. Menundukkan pandangan, Menjaga kemaluan, Menjaga kerhormatan, dan Menjauhkan diri dari yang haram.
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah, karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa adalah benteng baginya". (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
“Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani)
"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. Pemuda yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram." (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
“Siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya." (HR.Thabrani).
Iman sudah merasa siap untuk menikah karena Iman merasa sudah memiliki kemampuan untuk ini, agar dapat menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, menjaga kehormatan, dan menjauhkan diri dari yang haram, walau insya Allah puasa Senin-Kamis akan tetap Iman jaga. Mudah-mudahan dengan ini Iman akan selalu mendapat pertolongan Allah.
4. Menyempurnakan separuh agama.
Siapapun ingin menyempurnakan separuh agamanya, kalau hal ini bisa dilakukan segera, kenapa harus ditunda-tunda?
”Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
5. Mengejar pahala dan karunia Allah.
Ini yang menarik, berniat menjaga kehormatan dengan menyalurkan hasrat biologisnya pada tempat yang dihalalkan justru malah mendapat pahala. Dan Allah menjanjikan karunia dan rezekiNya. Jika miskin, Allah akan mengkayakan dengan karuniaNya.
“Sahabat bertanya ‘Wahai Rasulullah, apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?’ Beliau menjawab : ‘Bukankah jika disalurkan pada yang haram, dia berdosa?, maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala?” (HR. Muslim)
Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu” (HR. Hakim dan Abu Dawud).
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
6. Ingin Merasa Tentram
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Rum: 21)
Iman perlu tempat untuk mencurahkan perasaan, isi hati, atau permasalahan yang dialami sehari-hari kepada seseorang. Banyak orang pacaran untuk memenuhi hal ini, tapi sayangnya bisa kebablasan. Padahal nikah sudah dihalalkan, dan akan merasa tentram jika isi hati dicurahkan kepada isteri.
Demikianlah alasan-alasan Iman untuk menikah. Didalamnya terdapat hikmah dan kebaikan. Tujuannya menggapai ridha Allah. Seperti yang Iman tuliskan dalam puisi di atas tadi, Iman juga mengharap ridha dari Mamah dan Bapak juga. Untuk itu Iman minta izin. Sedangkan Kakak, Kakak sendiri sudah mengizinkan untuk didahului. Insya Allah logika berpikir Kakak lebih tinggi dari perasaannya. Iman harap Mamah dan Bapak juga begitu. Jangan percaya dengan mitos-mitos Jawa, dan dalam Islam pun tidak ada ajaran seperti itu; yang harus mendahulukan kakak perempuan daripada adiknya untuk menikah. Mudah-mudahan Allah swt memberikan hidayah dan kelapangan dada untuk kita sekeluarga. Amin.
TANYA JAWAB
1. Siapa calon istrinya?
Kalau dibilang calonnya belum ada, tidak juga. Kalau dibilang calonnya sudah ada, ya tidak juga. Intinya Iman minta izin dulu sama Mamah dan Bapak. Kalau Iman sudah diizinkan untuk menikah, baru akan Iman pastikan calonnya. Insya Allah sudah banyak yang menunggu. Kalau wanita yang satu tidak mau Iman pinang (Iman ajak untuk menikah), pasti sudah ada wanita lain yang lebih baik sedang menunggu dipinang. Masalahnya Iman butuh keikhlasan dan ridha dari Mamah dan Bapak untuk membolehkan Iman menikah, kalau sudah begitu insya Allah doa Mamah dan Bapak akan membawa Iman kepada calon Istri yang barakah. Dan nanti kalau sudah ada calonnya akan Iman kenalkan kepada Mamah dan Bapak.
Allah dan RasulNya banyak menggambarkan istri yang barakah seperti apa.
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) (Qs.AnNuur(24):26).
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.” (HR.Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
Rasulullah bersabda, ”Jauhilah khadraa’ ad-diman.” Para sahabat bertanya, ”Apakah khadraa’ ad-diman itu ?” Beliua bersabda, ”Wanita cantik dari keluarga yang buruk” (HR. Ad-Dailami dan AdDaruquthni)
”Carilah istri yang masih perawan. Sebab, rahim mereka lebih subur, mulut mereka lebih lembut, tipu dayanya lebih sedikit, dan lebih ridha menerima penghasilan yang sedikit.” (HR.Ibnu Majah dan AthThabrani)
“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud).
Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya. Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An-Nisa`: 34)
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda tatkala beliau ditanya tentang wanita yang paling baik: "Wanita yang taat jika disuruh, menyenangkan jika dilihat, serta yang menjaga dirinya dan harta suaminya". (HR. Imam Ahmad).
”Setelah ketakwaan, tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang laki-laki daripada istri salehah. Jika dia melihat istrinya, istrinya itu menyenangkannya; jika dia menyuruh, istrinya itu mematuhinya; jika dia memberi, istrinya itu berterima kasih; dan jika dia pergi, istrinya itu menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi).
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta/tahtanya mungkin saja harta/tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).
Jadi jelas wanita yang akan Iman nikahi, tidak harus cantik dan montok, kaya dan tinggi kedudukannya, tapi harus baik agamanya. Syukur-syukur dapat semuanya. Yang Iman lakukan sekarang terus mendekatkan diri kepada Allah, berusaha menjadi manusia yang terbaik disisi Allah. Karena Iman akan menagih janji Allah, “wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik,” begitu firmanNya. Iman juga berharap dari wanita yang Iman nikahi akan melahirkan anak-anak yang shalih. Karena Rasulullah bersabda, ”Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari).
Cermatlah dalam memilih istri yang akan menerima nuthfah-mu (sperma), sebab sifat orang tua sangat berpengaruh pada anak.” (HR. Ibnu Majah)
Tentunya mencari calon istri harus dengan cara yang ahsan/baik dan disyariatkan. Tidak dengan pacaran yang justru akan menjerumuskan. Salah satunya dengan ta’aruf/kenalan.
Ketika Mughirah bin Syu'bah berkeinginan untuk menikahi seorang wanita, Nabi Saw. bersabda kepadanya, "Pergilah untuk melihat wanita itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jaminan bagi kelangsungan hubunganmu berdua". Dia melaksanakannya, lalu menikahinya. Di kemudian hari ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan wanita tersebut. (HR Ibnu Majah, An-Nasa'i dan At-Tirmidzi).
Ta’aruf disini lebih kepada perkenalan terhadap diri masing-masing secara lebih mendalam ditemani oleh mahramnya masing-masing.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR.Ahmad).
Wanita yang akan Iman ajak ta’aruf tentunya wanita yang sudah siap menikah. Sehingga ketika ta’aruf itu sudah merasa cocok satu sama lain, maka Iman akan mengenalkan wanita tersebut kepada Mamah dan Bapak. Insya Allah apa yang menjadi pilihan Iman nantinya tidak akan mengecewakan Mamah dan Bapak berdua. Kalau Mamah dan Bapak setuju dengan wanita tersebut, maka Iman akan meminta izin ke orang tuanya untuk menikahi anaknya. Kalau orang tuanya setuju berarti tinggal di khitbah/pinang. Yang menjadi catatan disini adalah, calon mempelai wanita bukanlah mahram Iman (haram untuk berduaan dan disentuh) sampai akad nikah telah dilaksanakan. Oleh karena itu Iman berharap sebelum bulan Februari 2009 Iman sudah menikah. Alasan paling mendasar adalah saat Iman sudah mendapat calon maka harus cepat disegerakan untuk akad nikah, supaya tidak terjadi hal-hal yang kurang baik. Seperti berdua-duaan atau bahkan melakukan lebih dari itu. Kalau sudah akad nikah sih, terserah mau melakukan apa saja.
Mudah-mudahan ini bisa berlangsung cepat dan lancar. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita, memberkahi keluarga ini, dan memberkahi keluarga Iman kelak.
2. Apa aja yang sudah disiapkan?
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah, ". (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Dari awal Iman berniat untuk menikah, Iman sudah berpikir untuk menyiapkan segalanya. Sampai Iman memutuskan untuk menikah di umur 23, berarti di umur 23 itu Iman sudah harus mampu dan bertanggung jawab kalau akhirnya menikah. Yang pertama Iman siapkan Ilmu, tidak sedikit buku tentang pernikahan yang Iman baca, juga ulasan tentang pasca nikah yaitu kehidupan berkeluarga. Iman rasa, dasarnya sudah cukup Iman miliki, selebihnya nasihat Mamah dan Bapak tetap Iman butuhkan. Selain itu sudah hampir setahun ini Iman juga sudah banyak bertanya kepada orang lain, yang baru menikah maupun yang sudah lama membina rumah tangga.
Yang kedua Mental, karena pasti ada ketakutan-ketakutan kalau saja ada kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi setelah pernikahan. Alhamdulillah seiring bertambahnya ilmu, semakin kuat juga mental tersebut. Apalagi janji-janji Allah begitu menentramkan.
Terakhir Materi, mungkin tidak seperti Bapak yang menikah sudah punya rumah, sudah mapan. Kalau Iman menunggu untuk punya rumah dulu, untuk mapan dulu, rasanya Iman tidak sanggup. Lagipula Iman sudah siap dengan apa yang Iman miliki sekarang. Bapak mendidik Iman untuk rajin belajar, karena memang ternyata ilmu sangat penting untuk dimiliki daripada harta. Bapak selalu membiayai pendidikan Iman sampai sarjana, untuk ngaji di TPA, kursus-kursus dan berbagai pelatihan, sehingga dengan modal ilmu yang Iman dapat tersebut, insya Allah Iman bisa mendapatkan rezeki yang halal dan cepat. Bapak mewarisi ilmu kepada Iman, bukan harta, dan Iman mensyukuri itu. Dan dengan penghasilan yang Iman dapat sekarang insya Allah Iman yakin untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Apalagi Allah sudah menjanjikan karunia yang banyak jika kita menikah.
Akhirnya Iman serahkan semuanya kepada Allah, setelah Iman siap untuk menikah, Iman memperbanyak istikharah ketika i’tikaf disepuluh hari terakhir di bulan puasa kemarin.
"Jika salah seorang di antara kalian sudah berniat melakukan suatu perkara, maka hendaknya dia melakukan sholat 2 raka'at yang bukan sholat wajib, setelah sholat hendaknya dia berdo'a, "Ya Allah, saya beristikhoroh kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan saya meminta kemampuan kepad-Mu dengan kemampuan-Mu, dan saya meminta keutamaan-Mu yang Maha Agung. Karena sesungguhnya Engkaulah yang menakdirkan dan saya tidak menakdirkan, Engkau Maha Mengetahui sedang saya tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku untuk agamaku, untuk kehidupanku, dan untuk akhir perkaraku -atau beliau berkata, "untuk perkaraku cepat atau lambat"- maka takdirkanlah hal itu untukku, permudahlah untukku, kemudian berkahilah aku di dalamnya". Jabir berkata, "Kemudian dia menyebutkan keperluannya". (HR. Bukhari)
Maka sekarang tinggal keridhaan dari Mamah dan Bapak.
3. Tentang Akad, Mahar, & Resepsi?
Dalam buku Pengantin Islam, karya Dr. Abdullah Nashih’ulwan, akad nikah ialah menghalalkannya “bersenang-senang” antara dua pihak, istri dan suami secara syar’i untuk mendapatkan ketenangan jiwa, melahirkan keturunan yang shalih, bekerja sama membangun keluarga, dan mendidik anak. Seperti yang sudah kita ketahui akad ini tidak sah, kecuali dengan ijab qabul. Ketika akad nikah ini pula ada mahar yang diserahkan.
"Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Begitulah Allah mensyariatkan. Tetapi Iman berdoa agar mendapat wanita yang barakah yang murah maharnya, karena Rasulullah bersabda ;
"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah, adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya."
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih).
Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad).
Dan mudah-mudahan Iman bisa mendapat calon mertua yang tidak mempersulit masalah mahar ini.
Rasulullah Saw. bersabda, "Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, niscaya akan kamu dapati barakahnya. Karena dengan meringankan mahar mereka dan memberi jalan mudah untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah kemalangan yang akan menimpa wanita (yang dalam perwalian)mu jika kamu memberatkan maharnya dan mempersulit pernikahannya dan itu dapat menyebabkan akhlaknya menjadi buruk."
"Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan).
Iman sendiri tidak punya apa-apa untuk mahar ini. Menurut M. Fauzhil Adhim di dalam bukunya Kado Pernikahan untuk Istriku, mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki yang meminangnya. Maka dengan sedikit hapalan Al-Qur’an, Iman ingin menyatakan kesungguhan Iman. Iman berharap dengan mahar ini, keluarga yang Iman bentuk nanti mempunyai landasan akidah yang kuat.
Wanita tidak menjual dirinya dengan mahar, walau begitu mahar merupakan hak mempelai wanita yang tidak boleh ditawar oleh laki-laki untuk menghargai pinangannya.
Maka jika memang calon istri nanti meminta mahar lebih dari itu insya Allah Iman akan usahakan semampu Iman.
Kemudian tentang akad dan resepsi/walimah.
"Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi yang perlu diingat bahwa diawal Iman sudah mengatakan bahwa Iman menikah salah satunya untuk mendapat ridha Allah dan menjauhkan diri dari yang haram. Maka cukup tidak layak jika pada prosesi pernikahan, saat akad maupun walimahan, malah menjauhkan kita dari ridha Allah swt.
Oleh karena itu ada yang perlu dijaga di dalam prosesi pernikahan tersebut. Yang pertama, menghindari kemaksiatan dengan menjaga pandangan atau bersentuhan yang bukan muhrimnya sehingga perlu ada pemisahan jalur antara laki-laki dan perempuan (tidak bercampur baur).
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. AnNuur:30-31)
"Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Yang kedua, menghindari perbuatan mubazir atau pemborosan biaya dan berlebihan dalam hidangan.
“… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya mubadzir itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS.Al-Israa:26-27)
Yang terakhir, diusahakan untuk mengundang kaum fakir miskin.
“Makanan terburuk adalah makanan pada walimah yang dikhususkan bagi orang-orang kaya dan menyisihkan orang-orang miskin. Orang yang tidak memenuhi undangan walimah, dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari)
Mudah-mudahan dengan niatan ini Iman bisa mengawali kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah.
4. Setelah menikah?
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah tentang kehidupan pasca menikah. Iman berharap Iman sudah bisa mandiri dan menjadi pemimpin di keluarga sendiri. Dan Istri bisa taat kepada suami.
“Sampaikanlah kepada wanita yang kamu jumpai, bahwa taat kepada suami, dan mengakui haknya, itu sama dengan (pahala) jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melaksanakannya.” (HR. Thabrani)
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An-Nisa`: 34)
Sehingga Iman berharap tidak ada lagi intervensi dari pihak orang tua dan mertua, tapi pastinya Iman sebagai pasangan baru masih perlu nasihat-nasihat dari para orang tua yang sudah menjalani kehidupan keluarga bertahun-tahun lamanya termasuk Mamah dan Bapak.
Rasulullah Saw. bersabda, "Terlaknatlah orang yang membebankan semua kebutuhannya kepada orang lain."
"Ibadah itu ada tujuh puluh bagian, yang paling utama adalah mencari (rezeki) yang halal."
Rasulullah Saw. juga bersabda: "Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban shalat."
Pada hadis yang lain, Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak seorang pun makan makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari hasil kerja tangannya (sendiri)." (HR Bukhari).
Rasulullah Saw. juga bersabda: "Orang yang minta-minta padahal tidak begitu menghajatkan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api." (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya).
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis shahih, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Selalu minta-minta itu dilakukan oleh oleh seseorang di antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging." (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw. juga bersabda: "Barangsiapa merasa lelah karena bekerja sehari suntuk untuk mencari rezeki yang halal, niscaya diampuni segala dosanya."
PADA AKHIRNYA
Maka pernikahan ini adalah pintu gerbang selanjutnya yang pasti akan Iman lewati. Iman sudah melewati saat-saat masuk perguruan tinggi, Iman sudah melewati saat-saat lulus dari kuliah dan masuk ke dunia kerja, sekarang Iman akan melewati saat-saat Iman harus membentuk keluarga sendiri. Secara sabar dan bertahap Iman lalui, mendapat penghasilan dulu, mencari ilmu, dan mempersiapkan mental, lalu kemudian meminta izin kepada Kakak. Sekarang Kakak sudah mengizinkan untuk didahului, Iman tinggal menunggu izin dari Mamah dan Bapak. Tapi Iman yakin Mamah dan Bapak dengan segala keterbukaan jiwanya, kelapangan dadanya, dan keikhlasan hatinya pasti mengizinkan Iman untuk menikah. Mudah-mudahan Mamah dan Bapak melancarkan semuanya ini. Dengan izin Allah pula semuanya bisa terlaksana dan semoga Iman bisa menggapai pernikahan yang barakah.
Iman rasa demikian proposal ini dibuat, agar bisa menjadi pertimbangan untuk Mamah dan Bapak. Yang benar datangnya pasti dari Allah swt, yang salah pasti karena kesalahan Iman pribadi. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah dan tidak berkenan di hati. Semoga Allah memberikan hidayah dan rahmatNya bagi kita semua. Amin.
Wassalamualaikum wr. wb.
Anakmu tercinta,
******************
Tulisan ini saya berikan ke orang tua saya pagi-pagi hari Minggu tanggal 7 Desember 2008 saat mengantar ke bandara waktu mau ke Bima, NTB untuk menyampaikan kurban dari Yayasan Turki. Karena baru pulang Selasa malamnya, hari Rabu pagi saya mendapat jawabannya. Bahkan sampai dipanggil Kiayi segala ke rumah untuk ceramah tentang nikah. Alhamdulillah saya sudah diizinkan menikah. Tetapi kemudian takdir tidak berbicara demikian. Manusia berencana, Allah yang menentukan. Sedang Allah menentukan jalan yang lain. Sepertinya Allah ingin saya merasakan apa yang pernah saya tuliskan di bawah ini.
Bermimpilah selagi mimpi itu memotivasi Anda untuk maju, bermimpilah selagi mimpi itu gratis ga perlu bayar. Mimpi jangan yang kecil-kecil, tapi yang besar-besar. Kalau perlu “unrealistic”. Mimpi Anda akan menjadi target Anda. Target Anda akan mengarahkan jalan hidup Anda. Ingat Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu tidak mau merubahnya. Tapi ingat juga takdir Allah, ketika kita sudah mengusahakan sebegitu besar upaya untuk menggapai mimpi itu, kita juga harus sudah bersiap untuk menerima hasil yang kita dapatkan. Karena semuanya yang menentukan itu Allah. Dan “takdir itu sebelum terjadi” adalah kolaborasi “apa yang kita lakukan” dengan apa yang telah Allah putuskan di Lauh Mahfuz sana. Dan INGAT, apa-apa yang baik menurut pandangan kita, belum tentu itu sebenarnya baik bagi kita. Begitu juga sebaliknya, apa-apa yang buruk menurut pandangan kita, belum tentu itu sebenarnya buruk bagi kita. Itulah “hikmah”. Jadi jelas, konsep “jalani aja apa adanya” itu salah. Yang benar adalah, tentukan tujuan, lakukan proses dengan baik, benar, dan tepat, kemudian terima hasilnya, dan ambil hikmahnya. Itulah KEHIDUPAN.
Rupanya target menikah di umur 23 tidak dikehendaki oleh Allah swt. Semoga saya bisa mengambil hikmahnya. Dan saya berharap tulisan ini bisa memotivasi Anda untuk menikah. Jangan sampai akhwat-akhwatnya keburu menua..:)
Wallahu’alam bishawab
(Barakallah buat yang sedang ta'aruf dan yang sudah mau melamar, juga yang sudah mau naik ke pelaminan)
Gara-gara Kartu Nama,,
Saya pernah buat kartu nama ini sampai lebih dari 100 buah. Anggaplah hayalan, tapi kalau kata seorang motivator, ini namanya membuat afirmasi positif untuk diri sendiri, agar selalu bersemangat mengejar impian sampai impian itu tercapai.
Tapi gara-gara kartu nama ini, ada seseorang yang sms ke saya, “asw. Ini bang firmansyah ya?”’ kurang lebih seperti itu isi sms ke saya.
“iya, ini siapa?”, jawab saya datar.
“kamu belum kenal aku. tadi shalat tarawih ga?”, jiaaaaah gedubrak. Ini orang ditanya siapa, malah tanya tarawih atau tidak. Tidak jelas.
Akhirnya saya tanya untuk yang kedua kali, “emang ini siapa?”
Tiba-tiba dia langsung menelepon tapi saya tidak angkat. Lalu saya sms, “Sms aja, jangan nelepon. Lagi di masjid soalnya”
“abang, aku mau kasih tau tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa. aku serius”
“???”
“ih, serius. Kamu ga baca sms aku ya”
“tidak menjawab. Mang ini siapa sih?”
“aku punya kartu nama kamu, dari nenek aku. Aku mau jelasin, tapi boleh nelpon sebentar ga bang?”
“ga boleh, lagi di masjid, lagi rame.”
“oh ya udah, nanti aku telepon kalo udah di rumah ya?”
“ga pulang, sampe lebaran.”
“emang ngapain sih?”
“lagi I’tikaf. Siapa sih ni?”
“aku mau jelasin, gimana kalo kamu keluar masjid, sebentar aja?”
“ga bisa, lagi ngaji.”
Mungkin ada 5 menit dia tidak sms lagi, saya kira sudah malas dia tapi ternyata masih berlanjut. “btw, kamu tadi tarawih dimana?”.
Jiaaah malah nanya tarawih dimana lagi. “siapa sih ni? Kalau mau kenalan yang jelas, kasih tau namanya, kuliah dimana? Terus dapet kartu namanya dari mana?”
Lalu dia kasih tau namanya, kuliahnya dimana, termasuk dari mana dapet kartu namanya. Ternyata dia mendapat kartu nama itu dari orang tua saya.
“kartu namanya yang warna apa?”, tanya saya.
“emang kartu namanya punya banyak ya, yang aku punya warna orange, tapi kamu jangan cerita ke orang tau kamu ya, aku gak enak ama nenek aku. Janji ya.”
Sebenernya dari awal sms, saya sudah ilfeel sama dia. Soalnya dari gaya tulisan smsnya saja sudah aneh, “piE km j9n crT k oRtu km ia, aq 9k naK ma nNEk aq. Janji ia..”.
Untung saya rada gaul (huweek:=p), jadi bisa baca tulisan model gini, terus saya translate ke tulisan ini. Selain itu penasaran juga, mau apa sih ini orang. Karena kadang ada juga teman yang suka ngerjain, mengaku sebagai teman lama lha, pencari pria, homoseksual, atau mengaku sebagai heteroseksual segala. Untung nih iman masih mantab, kalau tidak , habis saya di kerjain. Tapi kalau yang satu ini sepertinya jujur karena dia tidak takut untuk menelepon sehingga ketauan suaranya. Cuma ada yang aneh rasanya.
“abang, umurnya berapa sih?”, dari tadi tidak jelas nih, kadang memanggil ‘kamu’, kadang ‘abang’.
“emang kamu umur berapa? Kok bisa nenek kamu dapet kartu nama saya?”, bales saya.
“kayaknya kita mau dijodohin deh, katanya kamu baru putus ya….aku umurnya 23, abang berapa?”
Nah lho, mau dijodohin??!?? Sama orang kayak begini. No way !!!
Langsung aja saya bales, “sama kok, jadi ga usah panggil abang, kecuali kalau mau beli bakso”
“aku emang childish orangnya, jadi semua aku panggil abang. Udah dulu ya aku mau bobo.”
“oh ya udah. Terus kalau memang mau temenan silahkan, kalau perlu add aja facebook saya. Tapi kalau mau jadi pacar, ga bisa. Saya sudah mau nikah.” Haha, kunci mati, tekel, langsung TKO dia. Skak mati, istilahnya kalau main catur. Siapa sih laki-laki yang tidak mau menikah, kalau tanggal kan masih bisa ditentukan kapan saja.
Tapi masih lanjut dia, tidak bisa dibohongi! “oh gitu, kapan nikahnya? Selamat ya…”
“oh, nanti juga nenek kamu dapet kabarnya. Udah, tidur sana. Saya juga mau tidur.”
Alhamdulillah, sampai sekarang dia tidak sms-sms lagi. Pengalaman menarik….:)
Tapi gara-gara kartu nama ini, ada seseorang yang sms ke saya, “asw. Ini bang firmansyah ya?”’ kurang lebih seperti itu isi sms ke saya.
“iya, ini siapa?”, jawab saya datar.
“kamu belum kenal aku. tadi shalat tarawih ga?”, jiaaaaah gedubrak. Ini orang ditanya siapa, malah tanya tarawih atau tidak. Tidak jelas.
Akhirnya saya tanya untuk yang kedua kali, “emang ini siapa?”
Tiba-tiba dia langsung menelepon tapi saya tidak angkat. Lalu saya sms, “Sms aja, jangan nelepon. Lagi di masjid soalnya”
“abang, aku mau kasih tau tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa. aku serius”
“???”
“ih, serius. Kamu ga baca sms aku ya”
“tidak menjawab. Mang ini siapa sih?”
“aku punya kartu nama kamu, dari nenek aku. Aku mau jelasin, tapi boleh nelpon sebentar ga bang?”
“ga boleh, lagi di masjid, lagi rame.”
“oh ya udah, nanti aku telepon kalo udah di rumah ya?”
“ga pulang, sampe lebaran.”
“emang ngapain sih?”
“lagi I’tikaf. Siapa sih ni?”
“aku mau jelasin, gimana kalo kamu keluar masjid, sebentar aja?”
“ga bisa, lagi ngaji.”
Mungkin ada 5 menit dia tidak sms lagi, saya kira sudah malas dia tapi ternyata masih berlanjut. “btw, kamu tadi tarawih dimana?”.
Jiaaah malah nanya tarawih dimana lagi. “siapa sih ni? Kalau mau kenalan yang jelas, kasih tau namanya, kuliah dimana? Terus dapet kartu namanya dari mana?”
Lalu dia kasih tau namanya, kuliahnya dimana, termasuk dari mana dapet kartu namanya. Ternyata dia mendapat kartu nama itu dari orang tua saya.
“kartu namanya yang warna apa?”, tanya saya.
“emang kartu namanya punya banyak ya, yang aku punya warna orange, tapi kamu jangan cerita ke orang tau kamu ya, aku gak enak ama nenek aku. Janji ya.”
Sebenernya dari awal sms, saya sudah ilfeel sama dia. Soalnya dari gaya tulisan smsnya saja sudah aneh, “piE km j9n crT k oRtu km ia, aq 9k naK ma nNEk aq. Janji ia..”.
Untung saya rada gaul (huweek:=p), jadi bisa baca tulisan model gini, terus saya translate ke tulisan ini. Selain itu penasaran juga, mau apa sih ini orang. Karena kadang ada juga teman yang suka ngerjain, mengaku sebagai teman lama lha, pencari pria, homoseksual, atau mengaku sebagai heteroseksual segala. Untung nih iman masih mantab, kalau tidak , habis saya di kerjain. Tapi kalau yang satu ini sepertinya jujur karena dia tidak takut untuk menelepon sehingga ketauan suaranya. Cuma ada yang aneh rasanya.
“abang, umurnya berapa sih?”, dari tadi tidak jelas nih, kadang memanggil ‘kamu’, kadang ‘abang’.
“emang kamu umur berapa? Kok bisa nenek kamu dapet kartu nama saya?”, bales saya.
“kayaknya kita mau dijodohin deh, katanya kamu baru putus ya….aku umurnya 23, abang berapa?”
Nah lho, mau dijodohin??!?? Sama orang kayak begini. No way !!!
Langsung aja saya bales, “sama kok, jadi ga usah panggil abang, kecuali kalau mau beli bakso”
“aku emang childish orangnya, jadi semua aku panggil abang. Udah dulu ya aku mau bobo.”
“oh ya udah. Terus kalau memang mau temenan silahkan, kalau perlu add aja facebook saya. Tapi kalau mau jadi pacar, ga bisa. Saya sudah mau nikah.” Haha, kunci mati, tekel, langsung TKO dia. Skak mati, istilahnya kalau main catur. Siapa sih laki-laki yang tidak mau menikah, kalau tanggal kan masih bisa ditentukan kapan saja.
Tapi masih lanjut dia, tidak bisa dibohongi! “oh gitu, kapan nikahnya? Selamat ya…”
“oh, nanti juga nenek kamu dapet kabarnya. Udah, tidur sana. Saya juga mau tidur.”
Alhamdulillah, sampai sekarang dia tidak sms-sms lagi. Pengalaman menarik….:)
Wednesday, September 02, 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)
