Wednesday, October 29, 2008

inikah jawaban Tuhan?

“Ya Allah bingung nih saya harus gimana?”, ba’da dzuhur tadi saya mengadu. Minta pun bingung, kata-kata susaaaaah banget keluarnya. Takut salah minta. Kepala ini saya angguk-anggukan layaknya orang stress. Mungkin orang akan merasa aneh melihatnya. Ujung-ujungnya minta yang terbaik. Minta petunjuk. Kalaupun tidak dikabulkan permintaan yang saya minta, saya minta dikasih tau secepatnya hikmah yang bisa saya ambil. Masjid itupun saya tinggalkan.

Tidak disangka seorang yang berjas santai. Mengenakan batik. Berkacamata. Tidak terlihat seperti sosok orang alim yang berpakaian putih-putih, memakai sorban, dan kopiah. Tetapi justru kata-katanya membolak-balikkan hampir seluruh paradigma berpikir saya. Beberapa ayat dikeluarkan. Beberapa hadits disebutkan. Beberapa hikmah dia ceritakan selama menjalani hidupnya. Inikah jawaban atas doa yang saya minta? Entahlah. Sesaat saya menjadi tenang dan kemudian resah kembali. Permasalahannya adalah ada jawaban yang saya temukan pada perkataannya. Tetapi orang ini memiliki tingkat pemahaman tentang kehidupan yang bagus sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, hanya saja amalannya dalam menjalankan ibadah wajib bisa dibilang jelek (cukup berat saya mengatakan amalannya ’biasa’ saja). Biar keresahan ini yang menuntun saya kembali ke jalan yang Allah ridhai.

Hidup ini pilihan ? Rasanya, harus ada pengecualian.....

Tuesday, October 28, 2008

Bergabung dengan saya di Twitter

Rating:★★★★★
Category:Other
To find out more about Twitter, visit the link below:

http://twitter.com/i/76e86a274277b9c9600e3ae8e2b57fd8585d4a62

Thanks,
-The Twitter Team

About Twitter

Twitter is a unique approach to communication and networking based on the simple concept of status. What are you doing? What are your friends doing—right now? With Twitter, you may answer this question over SMS, IM, or the Web and the responses are shared between contacts.

This message was sent by a Twitter user who entered your email address. If you'd prefer not to receive emails when other people invite you to Twitter, click here:
http://twitter.com/i/optout/ab0358c1e95856747c081679ec6c52cf28f210bf

Saturday, October 04, 2008

tentang kecelakaan itu...

Jumat, tanggal 29 Agustus 2008, tepat pukul 10.30 WIB saya menyelesaikan interview di PT.KOJO, Gedung Wisma Pondok Indah. Hari itu adalah hari wisuda saya, rencananya pukul 15.30 di Balairung UI. Rencananya pula saya lebih dulu ke UI untuk foto-foto bersama teman-teman, baru kemudian keluarga saya akan menyusul untuk menghadiri wisuda saya yang hanya’formalitas’ itu.

“Mah, iman pergi dulu. Nanti pulang lagi ambil mobil.”, sambil saya cium tangan Ibu saya lalu saya raih tas di atas meja. Jam 9 pagi itu saya terburu-buru agar tidak terlambat untuk interview. Alhasil karena lupa menutup tas, hampir semua isi tas jatuh berserakan di lantai.

“Hati-hati man, jangan buru-buru!”. Ibuku menasehati seperti biasanya, begitu pula saat kunaiki sepeda motor ku, “Jangan ngebut, hati-hati naik motornya.”

Tapi apa mau dikata, saya sudah telat, pukul 09.30 saya sudah sampai di gedung Wisma Pondok Indah

Selesai interview entah kenapa, di parkiran Wisma Pondok Indah itu hati saya senang sekali. Entah karena merasa sukses melewati interview itu atau karena saya akan di wisuda hari ini. Tepatnya bukan karena wisudanya, tapi karena momentum wisuda inilah saya berhasil membuat Bapak saya pulang cepat, Ibu saya tidak kerja, kakak saya izin kerja dan adik laki-laki saya pulang dari asrama, sedang dua adik saya lagi pulang dari sekolahnya. Setelah bertahun-tahun, saya berhasil mengumpulkan mereka untuk foto bersama, rencananya di Balairung UI sebelum wisuda. Keluar dari parkiran itu jalan raya terlihat lenggang dan saya bisa lenggang kangkung menaiki motor dengan kecepatan yang maksimal sambil bershalawat dengan berteriak. Entahlah, itulah ekspresi keriangan saya di atas motor. Kalau Anda ingin meluapkan perasaan dengan menaiki puncak gunung dan berteriak di sana, kalau saya tidak, saya punya motor. Hehe.

Saat sampai TB Simatupang saya terdiam, berpikir untuk tidak terburu-buru pulang ke rumah, mengambil mobil, dan shalat Jumat di MUI mengingat waktu yang sudah tidak memungkinkan. Saya berencana ulang untuk pergi bersama keluarga saja dari rumah pukul 13.30. Tapi saya usahakan saat itu untuk cepat sampai di rumah, barangkali rencana awal masih bisa dikerjar. So, kecepatan motor masih maksimal, entahlah berapa kecepatan saya waktu itu. Yang pasti ada 3 motor termasuk saya yang berkecepatan sama seperti saya.

Setelah melewati Citos tinggal 1 motor lagi yang berkecepatan sama seperti motor saya. Motor itu dinaiki oleh 2 orang berada di sisi kanan jalan. Sedang saya ada di belakangnya di sisi kiri jalan sehingga saya bisa memperhatikan motor itu. Kurang lebih 10 meter sebelum gerbang Balai Kerajinan tepatnya di seberang gedung Tripatra, kondisi jalan sedikit berkelok ke kiri sepertinya yang membuat motor itu ke tengah jalan, masih dengan kecepatan yang sama, juga saya masih dengan kecepatan yang sama. Tapi apa daya, ada lubang yang ditutup tidak sempurna. Motor itu menghindari lubang itu dengan tiba-tiba ke sisi kiri jalan yang akan saya lewati, sayangnya tanpa dengan kecepatan yang sama. Dan akhirnya dengan tiba-tiba melambatnya motor itu tentu saya bisa menabraknya karena kecepatan kami berbeda. Maka saya berusaha mengerem motor saya agar tidak menabraknya. Tapi semua yang serba mendadak ini tidak menghasilkan sesuatu yang baik, takdir sudah tertulis, usaha saya tidak berguna saat itu. Motor saya tidak stabil dan mulai miring ke kiri. Saya yakin akan jatuh. Kondisi trotoar lebih tinggi, agar saya tidak terjatuh di jalan dan terlindas kendaraan lain terus kepala saya bisa terbentur trotoar, lebih baik saya sedikit melompat ke atas trotoar. Ternyata ada pohon kecil yang memang sudah pasrah menerima saya menghantamnya. Perut sebelah kiri saya terhantam pohon kecil ini.

 

jalan agak berkelok (lihat garis tengah jalannya, klik untuk zoom)

posisi lubang dan pohon

lubang yang harus dihindari

pohon kecil yang setia menanti (terlihat motor baru saja menghindari lubang)

 

Saat itu saya mati rasa seketika, tidak sampai sedetik kemudian saya merasakan perut saya sakiiiit sekali. Ooh ini ya sakratul maut, “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah”. Eh selesai mengucapkannya ternyata saya belum mati. Aduuh, sakiiiit sekali. Saya mencoba menatap ke atas, ternyata sudah banyak orang mengitari saya. Saya kembali memejamkan mata sambil menahan rasa sakit tak terhingga.

Saya kira saya akan menjadi episode selanjutnya yang akan mati sebelum bulan Ramadhan, seperti Harry Elektro’03. Beliau yang saya kenal memang orang baik, mungkin tidak akan merasakan nikmatnya bulan Ramadhan, tapi itu lebih baik selagi masih muda, dosa belum menumpuk karena tergerus oleh arus dunia yang akan memasukkan kita ke jurang neraka. Apalagi di dunia konstruksi yang begitu dahsyatnya dan belum banyak tersentuh KPK. Tapi saat saya berpikir apa saya akan masuk surga kalau mati sekarang? Waduuuh, istighfar saya sejadi-jadinya.

“kenapa tuh pak, kok bisa jatuh?”

“kasih minum tuh!”

Banyak orang berkomentar dan bertanya-tanya.

“diangkat aja pak, angkat ke pos satpam!”

Nah lho, pos satpam dipikiran saya saat itu sempit dan sumpek. Wah, jangan sampai saya diangkat ke sana.

“diangkat ya mas?”, seseorang menanyakan kepada saya.

“jangan dulu pak, di sini aja dulu.”jawab saya sambil meringis kesakitan.

“wah, patah kali tuh tulangnya.”

“bawa ke rumah sakit aja.”, komentar yang lain lagi.

“ke rumah sakit aja ya mas, ke fatmawati?”, tanya seseorang lagi.

Saya pun mengiakan, dan saya diangkat ke dalam taksi. Awalnya saya berusaha bangkit, barangkali ini hanya sugesti dan rasa sakit akan berkurang seperti biasanya saya terjatuh dari motor. Tapi kali ini berbeda, saya merasa benar-benar ada yang patah. Saya hanya menekuk badan saya seperti kucing tidur dan tidak berani bergerak lagi. Rasa sakit tak terhingga pun masih saya rasakan walau sudah di dalam taksi di atas kursi empuknya. Dua orang mengantar saya, satu satpam dan satu lagi berpakaian biasa.

Sampai di UGD, tak lama dokter menghampiri dan kemudian menyuruh suster untuk memasang oksigen dan infus, siksaan pertama di mulai. Jarum suntik pertama dimasukkan di lengan saya, untung tidak terlalu terasa sakit, karena rasa sakit di perut lebih hebat dari pada suntikkan jarum itu. Pak satpam yang tadi mulai sibuk menghubungi keluarga saya.

“Mas kakaknya nih nelepon?”

“Iman, ini bener iman?”, kakak saya waswas di ujung telepon.

“Iya bener.”

“Iman, gak papa?”

“Iya, gak papa. Kasih tau bapaknya pelan-pelan ya!”, saya khawatir keluarga di rumah terlalu resah. Bagaimana tidak, mereka sedang bersiap untuk hadir ke wisuda saya, malah mendengar saya di UGD.

Tiba-tiba ada seseorang yang telepon.

“Firmannya lagi di UGD Fatmawati!”,  kira-kira pak satpam itu menjawab demikian dan menyerahkan HP ke saya, “Ada temennya nih yang nelepon.”

Saya liat ternyata yang menelepon teman saya, tanpa saya jawab saya kembalikan lagi telepon itu sambil memberi isyarat jangan kasih tahu saya di sini.

“Firmannya lagi di kamar mandi, udah dulu ya.”, kira-kira seperti itu jawabannya sambil mematikan HP. Kemudian saya melarangnya untuk menerima telepon kecuali dari kakak saya.

Kebetulan saya sering ke UGD, saya tahu kondisi UGD tidak boleh dimasuki oleh penjenguk. Maka saya tidak mau kabar kecelakan saya diketahui oleh teman-teman. Apalagi mereka semua sedang kumpul-kumpul di acara wisuda. Pasti kabar akan cepat menyebar, kalau sudah begitu pasti UGD akan penuh, dan banyak suster yang ngomel-ngomel. Saya hanya menghindari hal itu. Tapi apa mau dikata, kabar saya pun diketahui teman-teman. Penuhlah malam itu di UGD oleh teman-teman dan berulangkali suster dan satpam di UGD tersebut menegur kami. Tapi terima kasih, sudah datang menjenguk dan mendoakan saya di lorong rumah sakit itu.

Jam 12 kurang, Bapak dan adik saya tiba. Setelah mengurus administrasi, saya suruh mereka untuk shalat Jumat dulu. Sebelum mereka datang, saya sendirian dan ditanyakan oleh suster dimana keluarganya. Saya pun sempat dibolak-balik badan saya di ruang rontgen bahkan disuruh duduk, padahal rasa sakit masih tak terkira, tapi toh saya bisa melakukannya walau tidak sampai 10 detik. Kemudian Ua’ saya dan anaknya datang, rencana mereka juga mau menghadiri wisuda saya, tetapi akhirnya datang ke rumah sakit.

Penyiksaan kemudian berlanjut, setelah berkali-kali ditanyakan oleh suster, saya belum kencing juga, kemaluan saya akhirnya dipasang kateter. Untung yang memasangkannya seorang pria. Wuiih, saudara-saudara, sakitnyaaaa. Ngiluuuu. Luar biasa. Maaf ya, saya kasih liat gambar ilustrasinya.

kateter

Dan ternyata kencing yang keluar memang disertai dengan darah.

Penyiksaan selanjutnya datang. Katanya sih untuk mengeluarkan kotoran dari isi lambung. Ini yang paling berat. Saya tidak berani banyak gerak dan bicara karena hal ini. Bahkan 6 kali saya muntah hebat karena enegnya. Seorang suster datang membawa selang dan mengukur panjangnya dari hidung sampai perut. Kemudian tanpa instruksi yang jelas, selang yang diameternya dua kali lipat diameter kateter itu dimasukkan melalui hidung sampai ke lambung.

“Tunggu, saya mau minum dulu!”, tetapi tetap saja selang itu dimasukkan ke dalam hidung saya.

Aduh sulit saya mengungkapkan sakitnya, sampai saya menaikkan pinggul saya berkali-kali dan menghentakkan kaki saya. Untung ada yang memegang kaki saya. Saya seperti kambing yang sedang disembelih lehernya.

 “Tarik napas dalam-dalam mas.”, saya dibimbing agar selangnya bisa masuk

Dan akhirnya selang itu lancar masuk sampai ke lambung, setelah terhambat di kerongkongan.

bayangkan kalau selang itu masuk ke kerongkongan Anda

 

Coba lah Anda bayangkan sendiri, kalau selang itu masuk melalui hidung Anda ke dalam lambung. Dan memang 1 botol lebih cairan yang keluar lewat selang itu, belum lagi bersamaan dengan muntah yang keluar lewat mulut. Warnanya pun bervariasi, hitam, hijau, dan coklat kemerahan, terakhir cairan yang keluar sudah bening.

Tidak lama kemudian saya di rontgen lagi. Alhamdulillah dari semua hasil rontgen tidak ada patah tulang. Tetapi karena ada darah di kencing saya maka saya akan di USG. Baru tengah malam saya di USG. Hasilnya pun nihil, tidak ada luka dalam. Analisa yang mungkin adalah ada iritasi di ginjal karena benturan saat kecelakaan. Tetapi tidak sampai menyebabkan luka yang berarti sehingga tidak perlu dilakukan operasi. Saya pikir, ini baru iritasi, bagaimana kalau ada luka dalam beneran? Bagaimana rasa sakitnya? Allahu Akbar Yang Menciptakan tubuh ini dengan sempurna.

 

syukur tidak mengenai tulang, tapi mengenai perut sebelah kanan saya. akibatnya ginjal kanan saya luka.

 

Dari siang sampai malam saya di UGD, dari kecelakaan sampai saat itu pula lah saya tidak tidur dan masih dalam keadaan sadar, tidak pingsan. Di ruang UGD itu malaikat Izrail sepertinya sempat mampir, karena ada yang meninggal juga karena kecelakaan motor. Ada juga yang masuk dengan berlumuran darah di kepalanya juga karena kecelakaan, hal yang sama dilakukan kepadanya, dipasangi kateter dan selang dari hidungnya. Orang tuanya sempat meminta dicabut selang itu karena tidak tega melihat anaknya muntah, tapi dokter tidak mau ambil resiko. Jika orang tuanya tetap meminta dicabut, maka harus menandatangani surat pernyataan bahwa dokter tidak bertanggung jawab apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Saya pun sempat meminta selangnya dicabut saja. Bagaimana tidak, rasa sakit diperut seperti hilang begitu saja karena beralih ke rasa sesak di dada akibat ada selang dari hidung sampai lambung saya. Belum lagi rasa eneg yang tidak terkira, kalau sudah sampai puncak, maka pasti saya akan muntah dengan hebat. Tetapi karena tidak mau ambil resiko akhirnya saya pasrah, 4 hari selang itu ada di tubuh saya, begitu juga dengan kateternya.

Takut ada pencemaran di dalam tubuh saya maka darah saya selalu diperiksa. Selama hampir 5 hari di rumah sakit mungkin tidak kurang dari 10 kali tangan kiri saya ditusuk untuk diambil darahnya. Saya yang biasanya tidak mau disuntik kalau ke dokter, saat itu hanya pasrah merasakan tangan saya ditusuk-tusuk jarum, apalagi kalau tusukan pertama tidak mengenai pembuluh darah. Waduuh...

Dan ternyata saudara-saudara, kita ini memang pantas disebut manusia yang penuh dengan dosa karena sering khilaf disana-disini. Apalagi yang namanya syukur nikmat. Terutama pada hal-hal yang mubah. Seperti melihat, menulis, berjalan, mendengar, yang kalau nikmat itu tidak diberikan sehari saja. Wah, rasanya seperti mau kiamat dunia. Saat itu saya tidak boleh makan dan minum supaya darahnya tidak tercemar saat mau diperiksa. Jadi makanan hanya lewat infus saja. Kalau puasa cuma sehari aja mungkin masih bisa menahan rasa haus dan lapar di tenggorokan, tapi saya hampir tiga hari tidak boleh makan dan minum. Saat bibir kering, hanya diolesi oleh madu dan air, seringkali saya curi-curi untuk memasukkan ke dalam mulut, bukan setetes atau dua tetes tapi sejilat atau dua jilatan, itupun rasanya sudah luar biasa. Ketika senin sore saya sudah boleh makan, wah rasanya luaar biasa.

Selasa siang 2/09 saya sudah pulang ke rumah. Yang jenguk datang silih berganti, bahkan ketika saya sudah naik taksi sampai Tanjung Barat ternyata ada yang menelepon dari seorang teman yang sudah sampai di rumah sakit untuk menjenguk saya. Akhirnya dia menyusul ke rumah. Hari Sabtunya 30/08 Didit Ahmad Sipil ’99 pun sempet menjenguk. Saat itu saya tidak bisa bicara, karena masih ada selang di tubuh saya. Jadi dia hanya berbicara dengan ibu saya. Dan ternyata dia yang mendahului saya minggu depannya.

Musibah merupakan ujian untuk orang yang beriman dan adzab untuk orang yang bermaksiat kepada Allah. Bagi saya musibah yang satu ini adalah teguran. Barangkali ada yang pernah mengutuk saya di jalan, atau saya mendzalimi pengendara lain atau bahkan pejalan kaki. Bisa jadi teguran ini karena kurangnya rasa syukur saya terhadap fasilitas yang saya miliki. Saya beristighfar akan hal itu. Tapi saya juga menganggapnya sekaligus ujian buat saya. Allah ingin melihat apakah saya bersabar atau tidak melewati musibah itu. Bukankah orang beriman itu akan bersyukur jika diberi nikmat dan bersabar jika mendapat musibah. Saya bersyukur rata-rata penjenguk saya orang-orang yang shaleh yang mengingatkan demikian. Ada sms-sms yang terus mendoakan, ada teman-teman yang mendoakan di lorong rumah sakit, ada kiai yang juga datang mendoakan, bahkan ada orang Turki yang datang dengan seteko air minum yang sudah dibacakan 125 Yasin. Nah lho.. Alhamdulillah saya hanya bergantung pada Allah.

Ini merupakan momen yang luar biasa buat saya, banyak hikmah di dalamnya, banyak perubahan yang diakibatkannya. Dan mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran juga buat yang lain.

Dan setelah bertahun-tahun, jadi juga foto keluarganya.

 

 

http://fireman0410syah.multiply.com/photos/album/70/Foto_Keluarga_dan_Wisuda

Foto Keluarga dan Wisuda