Tuesday, September 25, 2007

Di Sore Hari Itu...Di dalam TPA itu


14 November 2006

Yesi, yang satu ini cukup pendiam dan penurut. Sifatnya yang baik menjadi lengkap dengan kebiasaannya yang suka membantu teman lainnya. Otaknya yang cerdas juga terlihat ketika pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan berhasil dijawab olehnya.

Retty dan renny dua orang kembar ini juga cerdas, terlihat dari kuis yang diberikan hanya mereka berdua yang mendapat menjawab soal lebih banyak, masing-masing benar 4 dan 5 soal, sedang yang lainnya ada juga yang tidak bisa menjawab dari 10 pertanyaan pada kuis tersebut.

Azis, umurnya yang lebih tua dari yang lainnya menjadikan dia merasa lebih tau akan materi yang disampaikan, walau sebenarnya tidak seperti itu keadaannya.

Hadli, sedikit lebih muda dari Azis tetapi dia lebih bijak dari yang lainnya, pemahamannya pun lebih, atas berbagai materi yang disampaikan, jiwa pemimpinnya pun lebih terlihat, tak heran kalau dia yang sering ditunjuk untuk memimpin shalat Ashar dan lainnya.

Masih banyak lagi yang lainnnya, dengan berbagai sifatnya yang unik. Anak-anak tempat TPA saya mengajar ini memang baru tumbuh berkembang, tapi dari berbagai sifat yang ada itu saya yakini adalah hasil bentukan dari ajaran keluarga, lingkungan dan pendidikan yang dia terima.

Annisa misalnya, suatu saat dia curhat

ke saya, walau tanpa malu didengar teman-temannya yang duduk disebelahnya. Dia bercerita tentang senangnya perasaannya karena ada yang menaksirnya di suatu acara keluarga, walau sebenarnya dari cerita yang dia sampaikan, saya menangkap bahwa dia hanya terlalu GR (apa ya singkatannya-red) kar
ena ada yang memerhatikannya. Dia juga bercerita tentang rasa sakit hatinya diejek oleh temannya dengan suatu hal yang tidak masuk akal, kemudian saya pun memberi jawaban yang mudah-mudahan dimengerti olehnya. Tetapi ceritanya terus berlanjut tentang rasa sakit hatinya walau saya sudah menutup pembicaraan, kadang inilah kebiasaan anak kecil, akhirnya saya pun memberikan jawaban yang berulang-ulang bahwa orang yang sabar akan di sayang oleh Allah.

Yang lainnya lagi beragam, ada yang layaknya seorang pencinta gravity yang melukis ditembok-tembok, bedanya dia menggambar di setiap halaman belakang bukunya yang kosong bahkan di belakang tasnya atau di lembar laporan hapalannya. Ada juga yang pembohong, yang saya maksud pembohong ini

adalah pembohong tulen, benar-benar kental pembohongnya, bahkan mendekati licik, walau sudah ketahuan kebohongannya maka dia akan berlanjut ke kebohongan selanjutnya, ketahuan lagi bohong lagi, sampai saya hanya bisa tersenyum padanya. Sifatnya yang pembohong saya lihat dari ketidakterimaannya akan kelebihan orang lain, dia akan terus berbohong sampai dia menjadi lebih hebat dari yang lainnya. Masih banyak lagi yang lain.

Karakter mereka terbentuk dari apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka pahami. Kecerdasan mereka mempengaruhi, daya tangkap mereka tentunya berbeda, tapi yang lebih mempengaruhi lagi adalah

lingkungan tempat mereka biasa beradaptasi. Orang tua adalah kunci terakhir bagaimana karakter anak bisa terbentuk. Sebaik apapun keadaan tempat mereka tinggal tapi kalau orang tua tidak bisa memprotectnya atau memberi arahan tentang mana yang benar dan yang salah, tentunya si anak akan terus mengikuti nalurinya sebagai anak kecil. Kalau kata teman saya, seperti air mengalir, apa yang bisa diikuti akan diikuti oleh anak kecil. Melihat tontonan di televisi tentang smackdown, ramailah seisi kelas membicarakan hal itu, mendengar lelaki buaya darat yang dialunkan, terbentuklah di otak mereka bahwa semua lelaki adalah buaya darat, bahkan kata-kata jablai pun serasa lumrah untuk disebutkan oleh seorang anak kecil. Itu baru dari televisi,
bagaimana kalau dari teman sekolahnya, atau lainnya. Sebaliknya sejelek apapun keadaan tempat mereka tinggal, maka orang tua lah yang bertanggung jawab atas terbentuknya karakter anak akan menjadi baik atau buruk.

Analisa saya ini hanya berdasarkan pengamatan saya dari berbagai anak yang saya perhatikan termasuk dari diri saya yang dibesarkan oleh keluarga saya.

Lepas dari itu semua. Wah rasanya bagaimana menghadapi anak kecil. Mudah tapi sulit, sulit tapi mudah. Pokoknya dibuat mudah sajalah. Karena kenikmatan yang tiada tara ketika selesai menghadapi mereka. Setelah memikirkan tugas, kewajiban, menggapai cita-cita yang tidak kesampaian, mengejar target

yang setinggi langit, menjadikan diri kita merasa kerdil, tua dan tak bernyali, kemudian menghadapi jiwa-jiwa lugu, polos, ada tangis, canda, tawa, keriangan, walau kadang semrawutan. Rasanya jiwa ini seperti bangkit dari kubur, terlahir kembali untuk menggapai masa depan yang mungkin masih panjang, menanam benih pencerdasan untuk menciptakan generasi yang lebih segar, bersih dan bertanggung jawab. Akh, rasanya menjadi berat lagi tanggung jawab ini setelah semua ini diketik, jadi teringat ucapan Hasan Al-Banna, bahwa seandainya beliau bisa mendakwahkan setiap bayi yang lahir di muka bumi ini, maka akan beliau lakukan. Benar adanya kata-kata beliau bahwa kewajiban kita ini lebih banyak dari waktu yang kita miliki.
Tapi itulah Allah dengan keMahaBesaranNya menciptakan manusia dengan kemampuannya masing-masing. Dari situlah ukhuwah (persaudaraan) tercipta, dari situlah khairu ummah (umat terbaik) terbentuk. Allahu Akbar !!!

Anda paham dua kalimat terakhir saya dan hubungannya dengan cerita saya di atas, kalau paham, maka tujuan hidup kita memang sama.

****

25 September 2007

Ya, tujuan yang saya maksud adalah kebangkitan Islam, terbentuknya kekhilafahan. Apa pun gerakan dakwah Anda, pasti itu tujuannya. Tentunya dengan mengharap keridhaan Allah swt. Lalu siapa yang mengawali kebangkitan itu? Generasi Muda !

Hampir setahun sudah. Kondisi TPA juga berubah, ada anak yang sudah keluar, ada anak yang baru masuk. Tetapi Gurunya semakin berkurang, semakin kritis, berdampak juga pada kehadiran murid-murid.

Saya cari sana-cari sini, jarang juga yang mau jadi guru TPA, ada yang datang dan ada yang pergi. Mereka punya kesibukan dan rutinitasnya masing-masing. Ada yang tidak sesuai jadwalnya, ada yang memang berat melangkahkan kakinya.

             Tetapi mungkin memang tujuan mereka tidak sama dengan saya. Mereka masih belum memahami sepenuhnya apa yang diucapkan Hasan Al Banna di atas. Terlebih, menjadi guru TPA, sifatnya sukarela, tidak digaji, paling diberi sedikit insentif. Tapi apalah artinya itu, jika yang dituju kebangkitan ummat, ummat yang terbaik, khairu ummah.

Lalu dimana mereka yang katanya mengharapkan kebangkitan ummat, dimana mereka yang mau terciptanya kekhilafahan. Mana mungkin bisa tercipta, tanpa membentuk generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan ummat.

            Pengkaderan tidak hanya dilakukan pada anak-anak SMA, pada mahasiswa di kampus, tapi pengkaderan di lakukan sejak dini, sejak anak itu dilahirkan kalau perlu, dan memang itu yang dimaksud Hasan Al Banna, kalau perlu lagi, sejak masa kehamilan.

Pada akhirnya, yang ingin saya tanyakan "Apakah Anda mau mengajar TPA di tempat ini?"

INgatlah, hanya ada 3 hal yang masih terbawa ketika kita mati, harta yang diamalkan, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh. Insya Allah dengan mengajar TPA ini, Anda akan memiliki ilmu yang bermanfaat, yang pahalanya akan terus berlipat.

Saya maklum bagi Anda yang punya kesibukan atau letak rumah yang jauh, walau itu tidak ada artinya. Maka saya mengharapkan bagi mereka yang masih menganggur, atau rumahnya dekat dengan lokasi TPA, sisihkan 3 jam saja di sore hari untuk mengajar anak-anak. Tidak perlu setiap hari, mungkin bisanya 1 minggu 3 kali, atau 1 minggu 1 kali pun itu pasti akan dihargai sekali. Sekarang, ada dua hal yang bisa Anda lakukan menghubungi saya atau Tyan (tee_yan615@yahoo.com) sekarang juga, atau Anda tetap berpikir dengan penuh pertimbangan sampai setan disegala penjuru tubuh Anda menguasai Anda, sehingga Anda melewatkan kesempatan untuk mencetak agent of change berikutnya.


Burn Your Self !!

Wednesday, September 12, 2007

Please Help Me!!

minta tolong ya
"maafin ya kalau ada salah!! aduh, takut keburu mati. barangkali kita mati duluan pas bulan Ramadhan. Mungkin ini momen yang tepat juga untuk saling memaafkan. Masuki Ramadhan dengan hati yang suci. Jalani Puasa Tingkatkan Taqwa !!"