Saturday, December 30, 2006

Pagi itu hujan dan Aku menangis

Cerita fiksi pertama yang kubuat, mudah-mudahan semakin memantapkan kualitas penulisanku , tentunya dengan kritik dan saran dari teman-teman. Terima kasih telah membacanya.

Pagi itu hujan dan Aku menangis

Pagi itu hujan. Jam menunjukkan pukul 06.30, seperti biasa kuliah hari ini akan dimulai pukul 08.00. Aku pun menyiapkan keperluan kuliah, dan memasukannya ke dalam tas. Kamarku berada di lantai atas yang bersebelahan dengan kamar kakak. Tiba-tiba ada teriakan dari bawah.

"Imaaan, anterin adeknya ke sekolah!", terdengar suara Bapakku. Ah, tak biasa kumemanggilnya 'Ayah'.

Aku terhenyak, tersentak, satu hal
yang paling tak kusuka diperintahkan kepadaku. Aku terdiam, bermaksud mengacuhkan. Tak lama kemudian terdengar bunyi alarm mobil yang menandakan pintu mobil tak terkunci lagi, sekaligus memperingatkanku bahwa perintah itu sungguh-sungguh.

"Imaaan, cepet dong, udah telat nih!", suara itu terdengar lagi.

"Iya sebentar...", aku gigit geraham ini kencang-kencang, menyimpan api dalam sekam. Tak terbayangkan. Sambil kuberjalan menyusuri tangga ke bawah. Kuraih kunci mobil itu. Kunyalakan mesin. Mereka sudah siap di dalam mobil, pagar sudah terbuka. Kuacuhkan semua perkataan Bapakku, tetapi tetap kudengar.

"Anterin Dede dulu terus Oci, baru Bapak."

Dengan perlahan kukeluarkan mobil yang berisi empat orang itu. Terdengar tumbukan-tumbukan hujan yang terjatuh ke atas mobil yang kukendarai.

Jalan itu begitu lancar, seperti biasa hujan menjadi penghambat bagi sebagian orang yang tidak memiliki mobil untuk berangkat ke sekolah, ke kantor, ke tempat kerjanya masing-masing. Padahal hujan itu menjadi berkah bagi sebagian orang yang mulai kekeringan karena musim kemarau.

***

Di sore itu, "Mah, beli Ovaltine dong....", saat itu aku berumur 5 tahun mungkin dan sedang disuapi makan di halaman rumah.

"Susu yang kemarin minta dibeli nggak diminum, nanti yang ini juga
nggak diminum lagi?", Ibuku ini biasa kupanggil 'Mamah'.

Aku berusaha meyakinkan, tapi kusadari raut mukaku tak begitu meyakinkan. Dalam hati kecilku pun membenarkan apa yang ditanyakan oleh Ibuku, jangan-jangan aku tidak akan suka dengan susu ini, jadi tak seperti biasa, kali ini aku tak menangis walau apa yang kuminta tidak dikasih.

Di siang itu, "Imaan, tidur siang dong!", dengan lembut Ibuku berharap.

Aku sebenarnya malas untuk tidur siang, tetapi karena tidak ada teman bermain saat itu, aku teringat ranjang yang baru dibeli (bukan tempat tidur-red). "Tapi pake ranjang yang itu ya Mah?". Pastinya aku memiliki tempat tidur sendiri, dan ranjang itu dibeli untuk saudara yang datang dan menginap.

Ibuku mengiakan dan menyiapkan ranjang itu agar aku tidur siang, "Tidur ya, Mamah berangkat ngajar dulu."

Bayangan itu masih teringat, tak terlepas. Aku memang dekat dengan Ibuku, tak sedekat dengan Bapakku, jadi tak teringat banyak memoriku bersama Bapak. Tak sedetil kejadian aku mengingat dengan Ibuku. Dengan Bapakku, aku teringat ketika memperbaiki lemari bersama, membakar sate dipojokkan belakang rumah, membuat pagar kebun samping rumah. Aku ingat kejadian itu, tapi tak kuingat percakapan yang terjadi. Sedangkan dengan Ibuku, aku teringat ketika aku pulang dari shalat tarawih bersama teman-teman di masjid dan dengan bangganya aku mengatakan bahwa aku shalat sampai selesai. Aku teringat ketika aku mencontohkan bahwa aku sudah bisa shalat sendiri dan ketika Ibuku meminta aku untuk menunjukkan bagaimana cara shalat
dua rakaat sampai dengan empat rakaat. Aku teringat ketika kami bersepakat agar aku tak lagi diantarkan lagi ke sekolah TK dengan Omku sebagai gantinya yang mengantarkan.

Sampai suatu saat kuteringat, Bapakku mengeluarkan air mata. Dia tak menangis, tapi mata itu cukup basah terlihat olehku. Tentu saja aku tak mengerti. Pagi itu aku terbangun dan disekitarku orang-orang sedang menangis, sepupuku, tetehku, tetapi kakakku tidak, jadi aku pun tak menangis.

"Man, kesini dulu yuk...", kakakku pun diajak oleh tetehku ke dalam suatu ruangan yang kutahu disitu ada Ibuku yang terbaring. Ada Bapakku di dalam kamar itu, aku disuruh mengucapkan sesuatu. Tentu aku tak mengerti, awalnya kakakku yang di suruh, kemudian aku.

"Cium Mamah, Man! Bilang nanti Iman nggak nakal lagi, nggak suka berantem ama kakak, jadi anak yang soleh!", Bapakku menuntunku mengucapkan hal itu.

Aduh, aku tak mengerti, benar-benar tak mengerti. Kulihat orang disekitar mengeluarkan air mata, dan kulihat Ibu ku memucat. Aku tak tahu mengapa harusku katakan itu, jadi kuucapkan dengan terbata, dan aku pun menciumnya.

Kemudian aku disuruh keluar dengan kakakku, tetehku yang tadi menuntun. Tak berapa lama, suara itu semakin banyak terdengar. Ya, suara tangis itu, tak hanya tetehku yang menangis, bahkan dari orang-orang yang tak kukenal. Aku tak menangis karena tak tahu kenapa aku harus menangis. Bahkan ketika tak sengaja teteh kumenangis dan menjambak rambutku pun aku tak menangis, dan hanya mengatakan "aduh", padahal biasanya jambakan seperti itu akan membuat aku menangis histeris. Ya, aku tak menangis sampai aku sadar ada yang dimandikan disana, dishalati, dan dikuburkan, aku pun tetap tak menangis. Walau aku tahu ada Ibuku di dalamnya.

***

Kuputuskan untuk masuk jalan tol setelah melewati fly over Tanjung Barat dan keluar di pintu tol Cilandak. Dede sudah diantar dan kali ini Oci yang akan diantar. Jam menunjukkan pukul 07.00, menandakan Oci sudah telat. Bapakku terus mengeluarkan basa-basinya, walau tetap kuacuhkan tetapi tetap kudengar.

"Ocii..." Bapakku menasehati, "lain kali bangunnya pagi-pagi biar nggak telat begini. Biar nanti kak Iman bisa nganterin."

Kali ini aku tak tahan
untuk mengeluarkan kata-kata, terlalu kelewat manja menurutku.

"Memang seharusnya nggak usah dianterin."

Oo, memang terlalu pendek pemikiranku saat itu dan terlalu cepat kata-kata itu keluar pada waktu yang tak tepat.

"Ya udah Oci, besok-besok nggak usah dianterin lagi, kamu jalan sendiri aja...." suara itu cukup keras tapi tertahan, agak parau, dan pandangan matanya sangat berubah akibat perkataanku. Bapak ku menangis. "Bapak kira sudah berhasil ngajarin kalian selama ini, ternyata...." tangisan itu ingin meledak sepertinya tapi masih tertahan.

Aku pun menatapnya dengan keheranan, perkataan apa yang baru aku keluarkan sampai membuat Bapak ku menangis. Terang saja aku ikut menangis.

Untunglah jalan itu sudah sering ku lalui, sehingga mobil yang kukendarai tetap stabil walau aku tidak fokus menyupir.

"Dia kan masih darah daging Bapak!?!" tangisan itu masih tertahan

Perkataanku tadi sebenarnya hanya ingin mennyentil sedikit, bahwa adikku itu telalu dimanja. Ibu yang sudah melayaninya tiap hari, menyiapkan bajunya, menyiapkan sepatunya, membuatkannya susu, dan lain sebagainya, sampai tak tega aku melihat raut wajahnya, tapi malah dia seperti itu, yang malas-malasan, acuh, dan tak ada perubahan yang berarti dari hari ke harinya. Dulu aku meminta pensil karena memang patah, meminta sabun untuk mandi, atau meminta uang untuk membeli buku, itu susahnya minta ampun. Sekarang adikku meminta handphone saja sudah seperti meminta permen. Dulu aku dan kakakku berjalan kaki pergi ke sekolah, sekarang dengan jarak yang sama adik-adikku harus diantar oleh ojeg, jika tidak ada harus aku yang mengantarkannya.

"Jadi kamu dendam sekarang?"

Salah persepsi rupanya Bapakku ini. Tangisnya pun mereda setelah kukeraskan lagi tangisku. Tak ada sedikit pun dendam atas perkataanku di dalam mobil itu. Aku hanya ingin memberikan gambaran perbedaan didikan yang kami dapat dan hasil yang diperoleh. Aku tak berpikir panjang dengan segala sudut pandang yang ada. Aku hanyalah aku yang melihat dari sisiku. Sampai semuanya pun mereda juga di dalam mobil itu. Baru kusadari bahwa tangisan Bapakku mereda karena mengalah, bukan karena tangisan itu benar-benar mereda dari dalam hatinya. Baru kusadari perkataaan-perkataan itu yang awalnya kuanggap salah persepsi,
"Dia kan masih darah daging Bapak!?!", dan "Jadi kamu dendam sekarang?". Perkataan itu merubah cara pandangku sampai pada klimaksnya.

Oci sudah diantar dan Bapakku juga sudah, dengan nasihat-nasihatnya disepanjang jalan. Aku kembali ke rumah, memarkir mobil, mengambil tas kuliahku, dan berangkat ke kampus dengan sepeda motorku. Tetapi apa daya, aku telat untuk jam pertama kuliahku.

__________________________________________________