Friday, November 17, 2006

Ada yang mau beli rumah?

http://jual-jualan.blogspot.com/
lokasi strategis nih...

SAya PAcaran....?!?

Saya pacaran…?!?

“Elu ga pacaran Man ?”
Kaget juga dia menanyakan hal itu, kemudian saya menjawab sekenanya, yang ada di pikiran saya saat itu, tetapi setelah saya pikir-pikir memang itulah jawaban saya yang sebenarnya, saat itu.
“Gua masih dihidupin orang, masa’ mau ngidupin orang. Elu masih disekolahin, masih dikasih jajan, masih minta makan ama orang tua, tapi udah mau ngasih makan orang, mau ngasih jajan orang, lucu kan...Pacaran cuma ngabisin uang doang.”
”Ga semua kali Man, ga semua cewe kayak gitu...buktinya gua ga kayak gitu...”
Jreng..eng..ing..eng..saya dan mungkin pembaca sekalian mengerti maksud arah pernyataan perempuan ini. Tetapi saya tidak bermaksud ge-er untuk hal ini. Saya pun tetap menjawab seadanya.
”Ya ga lucu kan kalo pacaran cuma ngobrol doang, cuma ketemuan doang, curhat-curhatan, pasti dong pergi kemana, jalan kemana, makan bareng dimana gitu. Ga enak kan kalo gua ga bayarin ongkosnya, gua beliin makanan dan minumannya. Kalo emang ada cewe yang ga begitu, perasaan gua tetep aja ga enak dong kalo gua ga beliin dan ongkosin.”
Sebelumnya dia sudah mengatakan kalau saja tidak semua perempuan mau dibayarin makanannya atau diongkosin, termasuk dia, sedang dia sendiri pernah dipelorotin oleh pacarnya untuk membayar makanan yang dipesan berdua. (kacian ya..ga cuman sekali men-red)
Tahun 2002 dialog di atas terjadi dan itulah saya dengan pendapat saya dan perasaan saya tentang pacaran. Andai isi kantong saya saat itu tidak setebal seperti sekarang ini, mungkin saya sudah menjadi playboy kelas kakap.
Kisah berlanjut, pertengahan tahun 2003 saya lulus SMA dan pendapat saya tentang pacaran masih sama. Tetapi saya laki-laki normal, dengan naluri lelakinya. Lirik sana, lirik sini, menaksir seseorang, pasti ada. Bohong, kalau Anda para lelaki tidak pernah seperti ini. Hanya modal tidak tahu malu saja yang membuat saya bisa pacaran saat itu.
Pernah suatu kali saudara sepupu saya yang sudah menikah menanyakan, ”Sudah punya pacar, Man”
”Belum,” lho kok belum, mau punya dong, ”nanti saja kalau sudah nikah baru pacaran.” oooh.
Ternyata saudara saya ini salah paham, ”Jangan dengerin omongan kakak mu ini.” kebetulan ada adik saya di sebelah saya. Dia menganggap bahwa saya akan main perempuan nanti sesudah nikah, sudah punya istri tetapi tetap pacaran dengan perempuan lain. Tentulah yang saya maksudkan tidak seperti itu. Yang saya maksudkan adalah perbuatan pacaran yang biasa dilakukan orang-orang sebelum menikah, akan saya lakukan setelah menikah, tentunya dengan istri saya. Sayang, belum sempat saya menjelaskan, dia sudah berlalu pergi.
Masuk kuliah, ekonomi meningkat, maju mundur saya untuk pacaran, dekat dengan beberapa perempuan, menganggu perasaan juga. Tak tahulah apa yang terjadi jika keasyikan saya untuk mengenal lebih jauh tentang Islam terhenti saat itu. Ilmu bertambah, pengetahuan bertambah, pendapat saya tentang pacaran pun tidak hanya sebatas ngongkosin dan bayarin, tetapi lebih dari itu. Teman-teman yang tetap saling menjaga, saling menasehati, dan lingkungan yang kondusif juga membuat saya terhindar dari kata-kata ’pacaran’.
Saya temukanlah sepotong ayat,
”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’:32)
Hilanglah semua cara agar bagaimana tetap pacaran tetapi tidak melanggar syariat agama. Karena hal ini tidak mungkin, istilah pacaran Islami, juga tidak mungkin. Wong yang dilarang itu bukan saja zinanya, tetapi hal-hal yang mendekati zina juga dilarang. Mau seperti apapun tindakan kita dalam menjaga hubungan dengan perempuan, kalau sudah mengarah pada perbuatan mendekati zina, dosa hukumnya. Titik. Jangankan perbuatan, baru memandang saja, sudah masuk kategori zina mata.
Jadilah saya seorang high quality jomblo sejati. Tentunya tetap memerlukan penjagaan dari teman-teman. Karena kalau tidak, bisa kebablasan.
Suatu saat saya akan punya kekasih bukan hanya pacar, dan tidak hanya satu tetapi empat*) bahkan bisa saja lebih. Insya Allah

*) http://firmansyah-alwi.blogspot.com/2006/01/aku-dan-4-kekasihku.html?m=1

Thursday, November 16, 2006

PERSONAL BREAKHTRU WITH FIRE WALKING

Start:     Nov 27, '06
Location:     Dengerin aja rekamannya
Sebuah acara yang dikemas untuk mengubah pandangan dan paradigma kita...
http://fireman0410syah.multiply.com/music/item/13

Wednesday, November 15, 2006

Aduhai.....aduh CAntiknya...

Aduhai, aduhai, berulangkali hati ini mengatakan aduhai.

Dulu, ceritanya dulu nih, saat saya SD sedikit sekali teman perempuan saya yang cantik. Bisa dihitung pakai jari tangan kiri lah, tidak perlu pakai tangan kanan, bahkan kalau ada satu pun sudah syukur. Sekarang mata memandang ke kanan, ke kiri, bahkan tidak bermaksud memandang saja, ada saja yang melintas di depan mata perempuan-perempuan cantik berkeliaran. Mang kenapa ?

(sebenarnya saya bingung bahasa Indonesia baku sekarang ini apa, “mengapa” atau “kenapa” yang benar? Begitu juga “dulu”, setahu saya yang benar adalah “Dahulu” dan “Mengapa”, tetapi karena masyarakat biasa menggunakan “dulu” dan “kenapa”, jadi saya gunakan kata-kata ini sajalah)

Kenapa ya, ehmmm karena mereka cantik.

Sang cantik ini benar-benar cantiknya, sampai-sampai seperti baru melihat bidadari-bidadari yang sedang tersesat di bumi. Dalam sebuah dialog imajiner saya bercakap-cakap,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu dan menggaulimu?”

“Oh tentu, mari kita cari tempat yang cocok untuk kita berdua.”

Setelah puas dengan bidadari ini, aku pun melihat bidadari lain yang tentu tak sengaja ku melihat, kemudian ku menyampaikan hasrat,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Ohh, aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh menggauliku apalagi belum ku kenal seperti kamu.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

Sang bidadari pun menganggukkan kepalanya, dan aku pun bisa mengenalinya lebih dalam lagi, sehingga bisa ku rayu dirinya untuk ku cumbu, dan ku gauli, kemudian ku tinggalkan setelah ku puas dengannya.

Aku pun bertemu kembali dengan bidadari yang lain yang tak kalah cantiknya, kemudian aku mengajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Enak saja, aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh mencumbu dan menggauliku apalagi belum ku kenal seperti kamu.”

“Aku ingin mengenal engkau, cantik. Boleh kah itu?”

“Oh tentu.”

Aku pun mengenalnya lebih jauh dan aku berhasil meraba dan mencumbunya tetapi ia menolak ketika aku ingin gauli, setelah aku bosan mencumbunya, aku tinggalkan dia. Kali ini ku dapati seorang bidadari yang lebih cantik dari yang lainnya, aku pun mengajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Aku ini punya kehormatan, tak sembarang orang boleh meraba dn mencumbuiku apalagi menggauliku lebih-lebih engkau belum ku kenal.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Boleh aja sih.”

Akhirnya aku mengenalinya lebih jauh, tetapi aku hanya berhasil merabanya saja walau awalnya hanya tangannya saja yang mau diraba, dia menolak ketika ku ajak untuk bercumbu apalagi ku gauli. Aku pun cepat bosan dengannya dan ku tinggalkan dia, sebenarnya sulit untuk melepaskannya, karena dia lebih cantik dari yang lainnya. Tapi aku yakin masih banyak bidadari yang lebih cantik darinya.

Benar adanya, ku temui bidadari yang lebih cantik lagi, dan aku ajukan pertanyaan yang sama,

“Wahai bidadari betapa cantiknya engkau, bolehkah aku meraba, mencumbumu, dan menggaulimu?”

“Tak semudah itu orang boleh merabaku apalagi mencumbu dan menggauliku, aku sendiri belum mengenal engkau wahai pemuda. Aku ini punya harga diri dan kehormatan.”

“Kalau begitu bolehkah aku mengenal engkau lebih jauh, cantik?”

“Oh tentu.”

Aku pun mengenalnya lebih jauh, tetapi sayang, jangankan merabanya, memegang tangannya saja dia menolak, apalagi untuk kucumbu dan kugauli. Akh, rasanya ingin kembali saja aku ke bidadari pertama yang kutemui, karena aku ini punya nafsu dan harus ku lampiaskan, dan akalku hanya mampu mengelebui bidadari kedua yang kutemui untuk ku gauli. Aku tidak menyalahkan engkau wahai para bidadari karena kecantikanmu, mungkin saja nafsu ku tidak terlalu besar untuk menggaulimu kalau saja kau tak menjajakan tubuhmu, kau tak memperlihatkan kecantikanmu kecuali pada orang yang kau kehendaki. Bohong, bohong besar kalau aku menyukaimu tanpa bernafsu padamu. Karena yang kau perlihatkan adalah tubuhmu yang aduhai, bukan hatimu yang sejuk dan perasaan yang lembut, serta imanmu yang kokoh. Aku, aku adalah lelaki, yang pantang menyerah memikatmu wahai sang cantik (kok kayak lagu ya-red), karena aku punya nafsu terhadapmu yang mengumbar nafsu. Selagi engkau mengumbar nafsu, maka tak akan berhenti aku gunakan akalku untuk melampiaskan nafsuku terhadapmu.

Sungguh saya geli sekaligus takut membaca dialog ini. Kejadian dan dialog di atas tentu hanya bisa saya dapat di surga kelak, Insya Allah, apabila saya bertemu dengan para bidadari di sana. Tetapi dialog ini benar-benar lepas dan gamblang, sesuai yang terjadi dengan kenyataan yang ada sekarang ini dan benar-benar ada. Makanya saya benar-benar takut akan pandangan mata saya ini yang di kanan dan kiri saya selalu ada perempuan pengumbar nafsu dan semakin primitif yang setiap saat selalu menyempitkan pakaiannya.

Lain hal kalau kita sama-sama sadar dan menggunakan akal kita, perempuan menggunakan akalnya, dan laki-laki menggunakan akalnya. Mudah, dan masuk diakal. Para perempuan harus mengerti bahwa mereka lah pembangkit hawa nafsu laki-laki, jadi jangan mengumbar aurat, tutuplah aurat itu. Para lelaki juga harus mengerti akan bahaya zina, dosa besar hukumnya, berarti harus dijauhi, jangan didekati, perbanyak aktivitas, perbanyak dzikir, shalat, dan puasa. Insya Allah itu akan mengendalikan nafsu para lelaki.

Semuanya harus seimbang. Ada perempuan yang menutup aurat, tetapi lelaki tidak menggunakan akalnya, habislah perempuan itu diperkosa. Ada laki-laki rajin shalat dan puasa, tetapi si perempuan terus mengumbar aurat bahkan terus mempercantik diri dan mempersempit baju kemudian seolah-olah menawarkan diri (walau tidak sebenarnya), tergodalah laki-laki, jadilah mereka berzina. Dua-duanya jadi sama-sama berdosa.

Sungguh benar adanya, di dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Sungguh beruntung orang yan mengharapkan surga dan menghindari neraka karena di dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dan dalam An-Nisa ayat 124. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Mudah-mudahan kita akan bertemu di surga kelak. Amin

http://fireman0410.blogspot.com/2006/06/wanita.html

Saturday, November 11, 2006

Rubah PAradigmamu!!!!!

paradigma
ya paradigma, kerangka berpikir, frame berpikir, sudut pandang, cara pandang, metafora, atau apalah itu namanya, tapi biasa saya menyebutnya paradigma.
ya paradigma, harus kita arahkan pada arah yang selalu  positif
tindakan kita, sikap kita, gerakan kita, yang menuju tujuan kita, harus mempunyai paradigma yang jelas, yang positif.
"belajar di teknik sipil itu susah"
jelas itu sebuah paradigma yang salah yang selalu ditanamkan oleh para senior kepada juniornya, jelas itu harus dirubah.
"buktinya jarang yang lulus cepet 4 tahun"
itulah sebuah paradigma yang dibentuk, sehingga membuat seseorang yang kuliah di teknik sipil merasa wajar-wajar saja kalau lulus lebih dari 4 tahun.
anda menangkap maksud saya???
orang yang kuliah di kedokteran mengatakan, di kedokteran itu susah...
orang yang kuliah di fakultas ekonomi mengatakan,di fakultas ekonomi  itu susah...
orang yang susah berada di suatu tempat mengatakan,di tempat ini susah...
paradigma itu terbentuk, tanpa melihat sudut pandang yang lain dengan cara pandang yang berbeda, dan membentuk frame berpikir yang kreatif.
belajar bahasa inggris itu susah
sebuah paradigma
lalu bagaimana merubah paradigma itu sendiri ???
memang tidak semua paradigma atau cara berpikir kita itu harus dirubah, tapi coba lihat gambaran di atas, apakah harus dipertahankan paradigma seperti itu.
dan paradigma yang harus dirubah adalah paradigma negatif.
kata temen saya, "saya perfectionis"
tidak masalah, asal bisa dikendalikan pandangan itu pada dirinya, sehingga menimbulkan disiplin diri membentuk sebuah kepribadian yang berkarakter, jangan sampai menimbulkan kesombongan yang membuat orang tak suka padanya
kata teman saya yang lain, "saya ini pelupa"
apa iya terus berdiam diri menjadi pelupa. itu negatif, ya harus dirubah.
merubah paradigma, ya merubah cara berpikir, merubah sudut pandang terhadap sesuatu dengan cara pandang yang berbeda, merubah sebuah kebiasaan, dengan melakukan kebiasaan yang lain yang lebih menarik dan tentunya positif. merubah tingkah laku, sikap atau tindakan kita menjadi lebih baik, sesuai dengan perrubahan paradigma yang kita inginkan.
masih belum mengerti maksud saya??
cobalah sebutkan paradigma anda yang negatif, dan perlu dirubah, saya akan rubah.....
tentunya dengan bantuan anda dan Allah tentunya....
insya Allah