Thursday, September 28, 2006

Bedah Buku "Misteri Shalat SUbuh"

Start:     Sep 29, '06 09:30a
Location:     Lobi FTUI
Bedah Buku "Misteri Shalat SUbuh"
Diadakan oleh Rohis Sipil FTUI
Jumat, 29 September 2006
09.30-selesai
@ Lobi FTUI
bersama Ust. Faturrahman

Friday, September 22, 2006

MArhaban Ya RaMadhan

maaf-maaf kalo ada salah kata ya..


itu aja....

bersihkan hati
jernihkan pikiran
sucikan jiwa
masuki Ramadhan dengan fresh dan segar (apa bedanya ya...)
jadikan Ramadhan tahun ini bulan yang penuh kemenangan (maksudnya? (^_^))
chayoo....


Thursday, September 21, 2006

Dunia ini Sempit

Dunia ini memang sempit. Saya memiliki teman di kampus, tahun lalu dia lulus menjadi sarjana dan kini bekerja di Bappenas. Suatu saat saya mengantarkan kakek saya ke RS Mata Aini di setiabudi, pulangnya kami singgah di Masjid Sunda Kelapa di bilangan Menteng untuk shalat Dzuhur. Sebelum pulang kami menyempatkan ke warung makan di sekitar masjid untuk makan siang. Dicarilah warung makan yang kira-kira kosong, dan mempunyai menu makanan yang sesuai, karena siang itu tentunya adalah jam istirahat orang-orang kerja. Akhirnya kami dapatkan warung makan yang agak pojok ke dalam agak sepi dan letak yang memang kurang strategis. Tak terbayang, setelah memesan makanan dan menunggu makanan dihidangkan, teman saya yang sudah lulus itu muncul juga untuk makan siang. Cukup lama tidak bertemu, di warung pojok ini baru ketemu.

Dunia ini memang sempit

Suatu hari di Masjid UI selesai shalat Dzuhur saya bertemu dengan seorang teman saya seangkatan saat di SMU dulu. Setelah 3 tahun tak bertemu, di masjid ini baru ketemu, dia sedang menunggu temannya yang sedang shalat Dzuhur. Seminggu kemudian, tanpa direncanakan saya dengan keluarga singgah di sebuah fast food di Cilandak, tanpa melihat ke kanan kiri kami duduk di bangku dan melahap makanan yang kami pesan. Setelah makanan habis saya lahap, saya menolehkan wajah ke kiri, dan ternyata saya ketemu lagi dengan teman saya itu. Kami saling tertawa, karena setelah cukup lama kami makan, baru disadari kami duduk bersebelahan.

Dunia ini memang sempit

Bulan ini saya mengikuti program tahsin di sebuah lembaga di daerah Condet untuk memperbaiki bacaan Al-qur’an saya. Baru 6 kali pertemuan, kami bersama murid yang lain sudah cukup akrab dengan pengajar kami. Beliau sempat menceritakan masa jahiliyahnya, yang kemudian hijrah dan menyukai belajar Al-Qur’an. Beliau juga sempat menceritakan saudara kembarnya yang perjalanan hidupnya hampir sama dengan beliau.

Bulan Ramadhan semakin dekat, kami pun diliburkan dan akan dilanjutkan setelah bulan Ramadhan berakhir. Dan tadi malam saya mengikuti Tarhib Ramadhan di sebuah lembaga Qur’an lainnya, yang dilanjutkan dengan mabit. Setelah materi selesai disampaikan oleh seorang ustadz, kami pun bersiap untuk tidur. Mulai lah kami mengkrabkan diri dengan yang lainnya sambil membagi kelompok untuk bergantian bertugas jaga malam. Salah seorang ada yang menghampiri saya yang sedang berbicara dengan teman yang lain, dan menjulurkan tangan untuk bersalaman. Aha, beliau pengajar yang mengajari saya tahsin, tetapi setelah saya perhatikan ada perbedaan di wajahnya. Dia lebih putih dan berjerawat. Saya ingat, dia pasti saudara kembarnya. Akhirnya saya beranikan diri untuk menegurnya, dan ternyata benar. Beliau adalah ustadz Wahyono saudara kembar ustadz Wahyudi yang mengajari saya baca Al-Qur’an.

Dunia ini memang sempit.

Apakah semua itu kebetulan? Apakah semua itu takdir? Yang paling pasti semua itu ada pelajarannya. Ya, hikmah dari semua kejadian yang ada. Dunia ini begitu sempit sebenarnya Allah ciptakan. Dan tidak selayaknya bagi kita untuk sombong. Karena di dalam dunia yang sempit ini ternyata masih ada berjuta-juta orang yang belum kita kenal dan masih banyak ilmu yang belum kita miliki. Begitu besar Allah Yang Menciptakan dengan firman-firmanNya, walau dunia yang sempit ini didiami oleh berjuta-juta orang, kemudian dunia ini disatukan dengan planet-planet yang lain dan dipadukan dengan seluruh jagad raya ini, maka sepasang bola mata yang kita miliki ini ternyata masih bisa melihat sekuntum bunga mawar merah dibelahan langit jagad raya ini. Subhaanallah.

Ar-Rahman : 37, artinya : “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.”

view image

H-3

Ya h-3 sebelum Ramadhan tiba. Terasa sekali sejak Kau tandai bulan itu dengan gerhana, Kau tandai masyarakat ini dengan nisfu sya’ban. Masyarakat yang lebih banyak mewajibkan sunnah, dan mensunnahkan kewajiban. Terasa sekali, bulan itu penuh. Bulan itu bulat. Ku ikuti terus bulan itu ketika ku berjalan ke masjid untuk shalat Subuh. Bulan itu semakin menghilang, bulan setengah, bulan sabit, dan semakin menghilang. Langit itu mencerahkan wajahnya sehingga bisa ku tatap bulan itu dengan mata telanjang. Langit itu tak lagi mendung walau sehari sebelumnya hujan telah datang.

Ku gapai fajar menyingsing pun dengan cerahnya. Matahari itu bulat, dan menampakkan kebulatannya, lagi-lagi dengan mata telanjang. Gairah fotografer ku menggeliat, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Hanya kamera saku yang ku punya.

H-3, semakin menyakinkan. Matahari tetap membulat, dan bulan itu semakin menghilang, dan mungkin sampai awal bulan yang agung itu. Awal bulan Ramadhan. Ku ingin menggapianya sehingga bisa ku tatap lagi bulan yang semakin hari semakin menampakkan giginya, walau matahari tak lagi menampakkan kebulatannya.

Ya Allah, hiasilah hatiku dengan cintaku kepada Ramadhan Mu, seperti cintanya para Rasul dan sahabatnya mencintai bulan Ramadhan itu.

Dan bangkitkanlah semangat saudaraku untuk bangun shalat Subuh ke masjid dan menatap bulan yang muncul dan menghilang, dan menatap fajar yang menyingsing, dengan atau tanpa kebulatannya.

Dan tampakanlah kepada kami kebangkitan Islam di wajah kami, agar kami semakin rindu untuk bertemu dengan Mu. Amin